
Sekarang aku bingung. Dan sempat takut kalau ini memang sebuah lelucon belaka. Pandanganku kesana-kemari mencari sosok Juna, barangkali bisa mengajaknya untuk pergi dari sini. Tapi ia tak kunjung kutemukan. Aku melihat Rangga diujung sana setelah tadi sempat manggung dan mungkin sekarang ia tengah istirahat.
"Rangga, dimana toiletnya? Aku kebelet," Ujarku berniatan untuk pergi dari sini mencoba menunjukkan raut wajah yang khawatir.
"Lah? Ada acara kebelet juga kamu?" Kekeh Rangga renyah mendengarku. Tak banyak cakap karna keramaian akan menelan suara dengan mudah.
Rangga berjalan mendahuluiku ke bagian backstage. Aku hanya mengikutinya dalam diam. Sesekali masih bisa mendengar apa yang MC bicarakan.
"....Kalian percaya ini? Sekarang siapa yang bisa menghentikan kenakalan remaja?! Dan kalian harus tau hal ini. Bahwa kalian semua terkena kutukan...bla...bla,"
Aku tak mau mendengar lagi. Itu cukup gila kalau harus ku cerna dalam otakku.
"Apa yang mereka lakukan?" Tanyaku sedikit berbisik setelah mereka menatapku penuh hina.
"Mengawasi dan mendata,Aku akan menjelaskannya nanti," Rangga menarik tanganku mendekat ketubuhnya. Aku baru sadar, kalau di backstage ini cukup banyak orang yang tengah berkutat dengan beberapa monitor dan kertas.
__ADS_1
"Jangan menjauh-" Rangga justru menarikku lebih dekat.
Aku tau kalau ia tengah was-was akan keberadaanku. Kenapa dengan diriku? Ada yang salah?
"Anu, aku enggak terlalu kebelet sih Rang," Ucapku ingin keluar saja dari sini yang malah semakin mengancam jiwaku.
"Dasar-" Decak Rangga sedikit kesal, "Maaf," Lirihku merasa bersalah.
"Hoy! Ga' Kesini! Bantu bentar," Ujar seseorang dari depan. Rangga justru segera membalik bada dan menatapku khawatir.
"Keluar duluan. Jangan hiraukan mereka. Jangan pernah percaya sama siapapun. Keluar dan temui kak Juna dibarisan melihat aura," Perintah Rangga membuatku sedikit takut karna rautnya tidak bisa tenang. Kujawab dengan anggukan lalu ia berjalan meninggalkanku.
Aku meraih hpku dan sedikit memojokkan diri ke bagian tirai penutup. Harap-harap Juna akan mengangkat telponnya.
"....Kutukan akan hilang ketika menginjak umur 20 tahun..."
__ADS_1
Samar aku mendengar suara dari MC lagi cukup jelas. Aku tak mau memikirkan hal itu lagi. Aku hanya ingin pulang itu saja.
"Ada gadis yang pemegang 2 kekuatan?" Tanya sebuah suara. Seketika membuat bulu kudukk berdiri. Kenapa? Bukan aku kan yang dimaksut?
"Gadis berkuncir kuda, bernama Zeva Rani," Tambah suara itu membuatku terjongkok. Benar, ciri khasku adalah rambutku yang terkucir. Tapi kenapa denganku? Pemegang 2 kekuatan? Aku aja enggak tau apa-apa.
Diposisi jongkokku aku mulai berpikir. Tentang bahwa semua yang ada disini terkena sebuah kutukan. Kutukan apa? Lalu kutukan berhenti saat umur menginjak 20 tahun. Ke semua remaja? Atau gimana? Terus apa yang mereka mau dengan mengawasi orang-orang itu?
"Beri pelacak untuknya!" Perintah yang kudengar itu pasti mengarah padaku. Zeva Rani, aku bergidik ketakutan. Jangan temukan aku, aku belum cukup otak untuk bisa mengetahui hal seperti ini. Disaat-saat seperti ini yang ada dipikiranku justru Juna dan Dirga? Kenapa harus dia?
"Dibalik tirai-" Jawab seseorang membuatku bergetar tak karuan.
"Bodoh-" Sebuah suara menarikku untuk berdiri dan mengikuti ke arahnya. Rambut hitam legam dan suara yang khas saat perkenalan itu terdengar kembali. Dirga?
Saat itu aku menghilang. Dan menjauh dari area music band. Aku tak mengerti tapi Dirga yang membawaku sampai sejauh ini. Seingatku yang dibarisan melihat masa depan hanya 5 sampai 4 orang, yah mungkin karna itu cukup merubah banyak hal.
__ADS_1
"Perjelas lah! Aku tidak bisa mencapai akal sehatku!" Ujar Steven kesal. Aku tersenyum sinis.
"Bukan akal sehat yang akan bermain namun ini secara takdir diluar akal sehat." Jawabku duduk tenang.