Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Hm?


__ADS_3

Malam itu, malam yang sangat melelahkan. Tambah lagi, aku harus mengangkat tubuh lelaki yang pingsan dihadapanku. Aku memilih ruang kelas terdekat untuk tempat menetapku sambil membawa tubuh Juna.


"Tukan kamu jadi ikutan tidur dikelas gini, salah siapa enggak sekalian nganteri kerumah sih?" Ocehku kesal setelah menatakan alas untuk tidurnya. Aku berbaring disisi lain dan terlarut dalam pikiranku sendiri.


Aku meraih hpku yang sempat kubawa. Cih, baterainya habis. Aku duduk mencari charger.


Sekilas aku melihat seseorang laki-laki seumuranku di bagian kelas lain. Wajah tampan semu imut, hidung kecil dan mata yang nampak punya pendirian kuat. Siapa? Setelah beberapa saat kupandangi ia menghilang begitu saja tanpa jejak. Mungkin aku hanya halusinasi efek stress.


Aku kembali ketempatku secepat mungkin dan mencoba mengalihkan pikiranku. Kenapa dengan anak ini? Kalo emang gak peduli ngapain bisa sampe sini? Warna apa yang dia maksut? Ah, gak jelas banget sih. Ngapain juga mikirin tu cowok!


```


Yang benar saja. Besok paginya, aku tertidur pulas diatas kasur. Tadi malem cuman mimpi ya? Horor banget kalo beneran kejadian. Matahari pagi menyengat kakiku. Aku masih tak mau membuka mata, kasur ini sangat lembut dan nyaman. Tunggu panggilan alam aja lah. Aku meringkuk tenang dalam tidur.


```


"Dasar kebo! Mau sampe kapan tidurnya?" Ujar seseorang melempar bantal tepat mengenai kepalaku. Aku reflek bangun dan terkejut.


    "Akh! Ganggu banget sih!" Gusarku belum sempurna sadar bahwa yang ada dihadapanku ini adalah Juna yang tadi malam sempat membuatku repot. "Juna?!"


    "Udah jam 7, aku berangkat dulu," ujar Juna langsung pergi dari hadapanku.


Ha? Jadi, tadi malam bukan mimpi? Akh, mending tadi aku gak usah bangun kalau emang tau kenyataannya kayak gini. desisku dalam hati.


Mataku mengedar pelan. Rumah Juna? Lumayan juga buat seumurannya. Aku beranjak dari kasur, dan aku baru sadar kalau kamar ini adalah kamar Juna. Ah, lelaki yang baik. Aku yakin dia tidur menggigil disofanya. Aku tersenyum sini keluar dari kamar.


    "Buruan mandi, bau!" Celetuk Juna menaruh sepiring sarapan dimeja. Aku hanya mengangguk sudah biasa di panggil dengan ejekan seperti itu.


    "Kok bisa disini?" "Gak usah banyak tanya, buruan siap-siap," Perintah Juna menatapku tajam. aku berdecak pelan dan mencari kamar mandi.

__ADS_1


untung wajahnya Juna agak cakep. Agak? Yah, ini sudut pandang sebagai saudara sih. Mungkin kalau orang lain yang melihat wajahnya akan tergila-gila. Karna perawakan dan tampang wajahnya sangat bagus, dan termasuk keren. Aku segera mandi dan bersiap. Selesai itu aku kembali kemeja yang tadi.


    "What? Juna gak bikinin sarapan nih? Dasara!" Kesalku tak melihat adanya makanan untukku sekalipun itu hanya sisa.


    "Bodo' Udah telat,"


Aku ngacir berangkat sekolah tanpa sarapan lagi. Cukup dengan ******* pil obat maag saat perjalanan kesekolah. Dasar, lain kali sekalian buatin sarapan apa susahnya sih?!


Kelas masih berjalan seperti biasanya.


Siska, Indy, dan Nanda menghampiriku seperti hari-hari sebelumnya. Jangan kira kalau aku tidak punya teman, hidupku sudah cukup terusik karna umurku semakin menanjak dewasa.


    "Ran, tumben telat tadi," tanya Siska dengan menata rambut gelombangnya. "Ah, banyak kejadian tadi malem. Eh, Sis, Nan, ndy. Minta alamat kalian lah." Ucapku langsung pada inti.


Kali ini aku tak mau kehilangan arah lagi dan hampir mati begitu saja. Aku baru menginjak umur remaja, masak mau mati gitu aja. ya, kalaupun emang kematian tu enggak pandang umur sih. tapi apa salahnya usaha menghindar?


"Kenapa? Diusir dari rumah? Aku ketemu kak Ririn disekitar rumahku," Nanda menuliskan alamatnya dikertasku. Aku mengangguk lesu dengan tebakannya yang tepat itu. Tapi setelah mendengar nama kak Ririn disebut aku jadi enggak mood untuk membahasnya lagi.


    "Bener tuh! Aku ketahuan pacaran aja dibogem sama emak!" Kekeh mereka pecah setelah cerita singkat dari Siska.


Ah, masa remaja yang indah ini harus kulalui dengan tradisi yang sangat aneh dan tak wajar.


    "Habis pulang sekolah ayo main!" Ajak Nanda, "Aku mau sama Adimas," Ucap Siska. "Ayo!" "Ah, aku belum dapet tempat tinggal,"


Jawaban kita cukup berbeda-beda, tapi mendengar alasanku yang belum dapet tempat tinggal itu mereka menatapku heran.


    "Semalem tidur dimana?" Pertanyaan itu serentak keluar dari mulut mereka. "Kel-as?" Aku berpikir sebentar. Kalau aku beneran tidur dikelas bagaimana bisa aku sampai kamarnya Juna? Emang aku bawa Juna kerumahnya?


"Rumah Juna," Lanjutku membuat raut mereka terkejut.

__ADS_1


"Kak Juna yang dari SMA sebelah tu?" "Yang kemarin ngalahin tim basket SMA kita?" "Gila! Kak Juna ganteng banget itu ternyata punya simpenan yang kayak gini?" Pekik mereka tak mau sabar.


Hah? Kalau SMA, iya dia di SMA sebelah. Tapi kalau Juna ikut tim basket, mana kutau. Tunggu, simpenan?


"Simpenan?! Buset! Saudaranya juga, dasar!" Ujarku sedikit emosi, aku muak mendengar namanya. Dasar cowok.


Pelajaran terakhir dimulai. Ah, selesai makan siang tadi perutku jadi sangat mules. Wali kelasku masuk begitu saja. Pelajaran IPA bukannya Bu Lusi?


"Permisi sebentar. Perkenalkan, Rehabi Dirga teman baru kalian. Kesini,"


Oh, ada anak baru. Aku memalingkan pandangn tak berminat dengan yang beginian tambah lagi perutku sudah mulek-mulek ingin mengeluarkan isi didalamnya. Justru sebaliknya dengan teman-temanku, yang sangat antusias dan menantikan siapa anak baru itu.


"Sebelumnya maaf, saya terlambat," Ucap lelaki itu sanagt formal. Mataku sekilas beradu dengan tatapannya.


Bagus, tubuhku berkeringat menahan sesuatu yang sangat ingin keluar ini.


Mata penuh pendirian, hidung kecil, dan wajah tampan semu imut. Bukankah dia yang kulihat tadi malam?!


Aku sontak berdiri tertegun. Perutku mengaduk-aduk ria, keringat bercucuran menahan ini. Membuat seisi kelas menatapku heran. Pikiranku campur aduk, antara mikir ni berak mau keluar sama. Dia, beneran ada? Aku tak bisa lepas dari pikiran-pikiran aneh. Ditambah lagi dia, Dirga itu barusaja tersenyum kecil kearahku.


"Rani?" suara-suara panggilan dari beberapa teman dan juga wali kelas yang menatapku itu membuatku tersadar kalau aku cukup gila.


"M-Maaf, aku kebelet," Ucapku langsung ngacir keluar kelas menahan malu setengah mati.


Bodoh banget sih Ran! Berak lu dulu yang dipikir! Ngapain mikir tu anak sih, lagian cuman halusinasi aja dianggep beneran ada! Enggak kenal juga sok-sokan tau.


Aku terus merutuki sifat bodoh dan anehku ini.


"Jadi, apakah yang semalem itu bisa disebut halusinasi?" Steven memegang dagunya bersikeras berpikir.

__ADS_1


"Entahlah, kupikir itu nyata," Kujawab dengan setengah-setengah.


__ADS_2