Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Tau?


__ADS_3

Setelah mendiang ibuku dimakamkan. Aku tak pernah lagi muncul dihadapan keluargaku. Kalaupun iya, mentok juga ketemu sama Ayah, dan itupun canggungnya bukan main.


    Jadi aku beneran dicoret dari KK nih? Kalau iya sih. Enggak ngaruh juga sih buat kehidupanku.


Malah syukur enggak kena auman para nenek moyang yang kayak nenek gayunhg begitu.


Rumah Juna bukanlah tempat yang cukup luas. Rumah didalam sebuah perumahan kecil. Tapi mau bagaimana pun juga kalau aku menetap disini masih ada syarat untukku tinggal bersamanya. Makhluk yang wajahnya sih blasteran surga tapi sifatnya murni dari neraka!


"Kesempatan tinggal disini cuman satu pekan, kalau kamu belum ambil kerja atau apapun itu yang membuahkan duit sendiri. Harap segera tinggalkan rumah ini! Kalau sudah ada jaminan hidupmu sendiri, aku akan membiarkan nyawamu hidup disini dengan syarat. Jangan sering keluar karna ini perumahan kecil, ntar dikira yang aneh-aneh lagi sama tetangga, jangan pulang malam, tidur kita bergilir untuk disofa dan dikamar," Jelas Juna penuh penekanan, dan memberiku segelas air putih.


    "Demi hidup nih," Decakku pelan. Sofa abu-abu yang kududuki ini cukup keras, dan terlalu dingin untukku yang pecinta udara dingin.


"Kunci serep rumah ada di balik pot sebelah pintu," Tambah Juna ikut duduk disampingku dengan sedikit jauh.


    "Gimana mau buka pintu kalau jalan aja aku enggak tau," timpalku membuat raut wajah Juna bercampur kesal. Sebenarnya aku sedang bersedih, dan cowok dihadapanku ini sama sekali enggak peka!


"Ntar aku tunjukin jalan," "Buta arah akut, pol-polan juga jalan raya utama. Terus pake GPS," Potongku menunduk. Aku harus menahan ini, aku tak mau dianggap lemah lagi.


    Juna beranjak dan memasuki kamar, meninggalkanku diam disofa. Dasar cowok gak pernah peka! Aku terisak sejadi-jadinya. Aku terus bertanya pada diriku, kenapa harus aku yang melakukan itu? Aku tak pernah punya niatan seperti itu semasa hidupku. Membunuh orang? Apalagi orangtua sendiri? Udah bosen hidup ya aku?

__ADS_1


"TIdur gih, dah malem," Ucap Juna lembut padaku. Mataku bengkak, masih tak mau menunjukkan padanya.


    "Kalau enggak tidur. Besok enggak bakal dateng!" Tegas Juna padaku. Aku mengangguk menurutinya.


Apa? Aku maso?


Enggak mungkin lah! Cuman ini caranya Juna aja yang beda buat nasehatin orang.


Usai sekolah, aku langsung menghampiri Juna. Ini udah jadi kebiasaan? Aelah, baru juga hari kedua aku kesini. Memang cukup lama untuk sekedar menunggu Juna. Telingaku sempat mendengar isu kalau aku terus-terusan mengganggu Juna, mencari perhatiannya padahal dari sekolah lain, dan dibilang enggak tahu malu.


Bagus, apa ini efek Juna populer? Aku ni yang kena? Saudara cuy! Harus dijelasin detail kah?


    Saudara? Kalau mau dibilang saudara jauh sih iya. Mungkin bisa dibilang kita juga bisa nikah atau memang dari kita tak terhubung darah jarak dekat. Pikirku kesekian kalinya. Pantas, Juna enggak terima kalau kita saudara.


Alesanya apa Juna bisa gitu duluan?


Music band ini berjalan sewajarnya. Lebih tak wajar aja sama penontonnya, yang rata-rata single dan jombol akut. Nanda dan Indy pun ada disini, Dirga...Juga ada? Bodo' ngapain ngurusin tuh orang?


Dipuncak acara, kami semua merapat. Lebih tepanya para penonton.

__ADS_1


Kali ini bukanlah hal yang baik menurutku.


    "Acara ini, terang-terangan dibuka untuk remaja-remaja yang tengah berstatus jomblo ataupun single. Apa kalian sadar ada beberapa hal yang aneh? Kalau iya pisah kan diri sesuai tulisan yang ada didepan."


Ujar sipembawa acara.


Apa?


Melihat gaib, Membaca pikiran, Melihat aura, Muksa, Merasakan energi, Doppelganger, kesembuhan, Terlindungi, Memindahkan benda, Melihat masa depan, dan Netral.


Aku tidak mengerti apa ini, dan aku harus bagaimana. Aku bertanya pada Nanda dan Indy,


    "Kalian bakal kemana?" Tanyaku khawatir, " Muksa. Aku sudah mengalami ini beberapa kali," Jawab Nanda ringan. "Aku baru melihat beberapa yang gaib sih," Indy bertopang dagu dengan tangannya. Tanpa perlu dialog pun tatapan mereka sudah mengartikan kalau mereka bertanya denganku.


    "Entahlah, aku tak merasakan hal yang aneh," Jawabku seadanya.


Melihat mereka semua telah berbaris menurut itu membuatku semakin bingung, tak ada yang berbaris di bagian netral. Apa ini hanya permainan belaka? Juna pun menghilang entah kemana, dan Dirga...berbaris di melihat masa depan..? Ini gila.


"Sebuah ritual atau bagaimana? Dimana? Siapa yang menjadi ketua penyelenggaraanya?" Tanya Steven antusias kujawab dengan gelengan kepala tak memuaskan raut wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2