
Kening Steven mengernyit bingung dan sedikit memiringkan kepalanya beberapa derajat.
"Dimana keberuntungan tentang cintamu hadir?"
Aku menoleh menyiapkan jawaban.
"Sekarang aku masih hidup dan aku harus bertanggung jawab atas ini,"
Steven sekedar mengangguk paham. Jawabanku memang tidak lebih dari cukup, tapi yakinlah bahwa keberuntungan akan hadir ketika takdir sudah menetapkan sesuatu.
"Bagaimana keadaanmu saat itu?"
Kujawab dengan tatapan mata berarti.
Dalam diamnya aku, semuanya berlalu menunjukkan sifat asli mereka yang ditujukan padaku. Mereka, keluargaku.
"Kau baik-baik saja?"
"Tenangkan dirimu, dan kembalilah ke kamar,"
Aku dibawa pulang oleh orangtuaku, setelah pihak polisi menelpon mereka. Benar, raut wajah mereka sangat khawatir. Tapi pikiran mereka yang berprinsip untuk meneruskan sejarah itu yang lebih mengkhawatirkan atau bisa dibilang, mereka tidak mau kalau aku kembali.
Kamarku yang masih nampak hidup ini tak berkomentar bahwa pemiliknya tidak kembali. Kini aku tau kenapa kamar bekas huni anak dibiarkan begitu saja. Karna mereka ingin terus mengingat bahwa anak itu sedang meriah kesuksesan tanpa mereka, dengan cara membiarkan kamar diposisi awal mereka mengusir anaknya.
Kedua kakakku telah lolos dan berhasil di kehidupan luar mereka. Sedangkan aku? Jalan aja enggak becus gimana mau hidup?
"Bagaimana bisa ini terjadi?"
"Jangan tanyakan aku! Aku akan menghubungi ibu,"
"Biarkan dia menetap disini untuk beberapa saat, dia masih anak kita,"
__ADS_1
Suara perdebatan yang terdengar remang itu berhasil memancing rasa ingin tauku. Apakah Ayah tidak mau mengurusku? Kenapa bersikeras menghukumku dengan menghubungi nenek?
Pikiranku sudah kacau ditambah perutku yang semakin menjadi-jadi. Aku menatapi rak bukuku. Besok aku sekolah, bagaimana jika saat aku kembali. Aku sudah tak diterima lagi? Kalau memangbegitu, persiapkan saja mulai sekarang. Aku berusaha beranjak menahan sakit.
"Apa kamu tidak mengkhawatirkan anakmu? Kenapa kau memaksanya pergi?"
Suara Ibu terngiang ditelingaku. Kudekatkan diri pada pintu kamar.
"Karna ini memang sudah sejarahnya, dan Rani harus di didik lebih keras. Karna anak terakhir itu 'pembawa'. Bawa dia kerumah ibu sekalian!"
Hening sesaat. Aku cukup tertegun dan tersenyum kecut. Terakhir kali aku kerumah nenek, aku tak pernah dianggap. Sekalipun dianggap mungkin akan dibilang untuk Kak Rin yang menggantikan posisiku karna banyak yang bilang dia lebih baik daripada diriku.
Baiklah! Aku juga tidak masalah kalau akan menjadi anak tengah!
Pembawa? Apaan? Pembawa sial?
Cih, kalau tau gini. Mending tidur dijalan.
Aku langsung mengemasi barang-barangku dan tak lupa mengambil obat maagku. Aku tak berminat untuk kembali meskipun aku menjadi anak jalanan sekalipun. Ayah, lain kali kalau tidak butuh anak sepertiku. Kenapa kalian tidak buat lagi dan menjadikannya anak ke-4?
Kenapa? Aku ini anak banyak tingkah, jadi ini tak ada apa-apanya.
"Ran? Ibu masuk,"
Huft, untung saja aku gerak cepat. Maafkan aku bu...
Seharusnya aku tak pernah mengatakan seperti itu. Karna itu terakhir kali aku melihat sosok ibu bagiku. Ia membelaku sampai waktu terakhirnya.
Tapi takdir berkata kalau "Anak terakhirnya lah yang membunuhnya dengan tangannya sendiri,"
Tak percaya? Rumor di sejarah itu masih tertulis tebal di buku turun temurun keluarga besarku. Namaku sudah tak lagi aman, dan sesekali dihina dan dipaksa mati.
__ADS_1
Aku langsung berlari meninggalkan rumah. Entah akan menuju kemana. Sekarang, tinggalkan rumah itu lebih baik. Aku mengunyah pil obat maag yang berasa mint. Ah, ini lebih baik.
Hm...Bagaiman jika ke sekolah? Kurasa akan aman jika tidur disana.
Sudah tengah malam. jalanan sudah mulai sepi. Aku sangat ingat ketika aku masih diperlakukan sebagai manusia' pada Juna. Katanya kalau lagi enggak mood dirumah bisa dateng kapan aja kerumahnya. Itukan dulu, sekarang dia sudah punya rumah sendiri malah enggak ngebolehin aku main. Dasar lelaki plin-plan.
Sedari tadi mobil dibelakangku enggak lewat-lewat. Dari tadi lho. Tunggu, jangan bilang ini penculikan. Aku tidak mau berakhir disini. Kupaksa kepalaku untuk menoleh dan mengawasi mobil itu. Ah, ternyata nyari parkiran. Aku kembali melanjutkan jalanku.
"Tahan,"
Apa?
Tiba-tiba seorang lelaki memelukku dari belakang, Aku tak tau siapa dia. Tapi nafasnya sangat tidak teratur, dan detak jantungnya sangat cepat.
"Siapa?" Aku berusaha mengenyahkan tangan yang melingkar dileherku.
"Maaf, aku benar-benar bodoh," Ucap lelaki itu belum mau melepas. Aku semakin gusar karna ini sangat tidak nyaman, tambah lagi aku tak tau orang ini siapa.
"Maaf?" Perlahan ia melepas pelukannya. Aku langsung melangkah menjaga jarak dan berbalik untuk mengetahui lelaki mesum ini.
Lelaki yang tadi mengusirku dari mobilnya, yang sedaritadi tenang dengan kucingnya. Kini dimataku tak ada lagi sosok itu. Juna? Benarkah ini dia? Matanya merah, berair, dan wajahnya tampak pucat.
"Juna?" Panggilku saat ia terus menatapku diam.
"Tenang, warna itu sudah pudar..." "Apa?"
Ia terjatuh pingsan, aku sesegera mungkin menangkapnya khawatir.
Apa yang terjadi denganya?
__ADS_1