Miracle Of Love?

Miracle Of Love?
Tahan...


__ADS_3

    "Lalu apa yang membuatmu jatuh cinta?" Pria berkacamata itu mendengarkan dengan seksama.


    "Menurutku cinta itu tidak perlu ada sebuah alasan, Steven," Ungkapku santai. Pria itu bernama Steven, untuk apa aku ketempat seperti ini? Karna aku akan bertanggung jawab atas apa yang kulakukan selama ini.


    "Baiklah, lanjutkan kisahmu," Ia menyandar ke sofa abu-abu menanti kelanjutanku.


Perjalanan ini cukup lama. Kini perutku sangat sakit. Apa? Magg? Enggak lucu banget Ran. Pertahankan dirimu, jangan buat diri ini terlihat lebih memalukan.


Aku mengernyit sedikit menunduk dan reflek memegang perutku. Berusaha menunjukkan raut wajah bahwa aku baik-baik saja, aku tak ingin terlihat lemah apalagi kalau didepan cowok!


    "Turun," Perintah Juna mengelus Sena lembut. Mataku mencari dimana letak rumahnya atau tempat yang bisa disebut sebuah rumah atau kos-kosan. Tapi mataku hanya menangkap lautan yang membentang luas, ini dijembatan?


    "What?! Turun disini?" Pekikku baru sadar kalau ini dipinggir jalan atas jembatan. Bagus, dia tidak memihak hidupku. Perutku juga lagi enggak bersahabat.


    "Siapa yang mau mengantarmu? Lagipula dimana rumahmu?" Tanya Juna seakan menindasku secara tidak langsung. Gigiku gusar menggigit bibir bawah. "Buruan turun!" Paksanya lagi lebih keras.


Akh! Aku tidak mengerti apa yang ada diotaknya. Karna aku bisa dibilang anak penurut, aku memilih keluar dari mobil dalam diam. Tahan Ran. Jangan memaki,ntar karma terus berlaku padamu. Ia hanya menatapku dan menunggu punggungku pergi menjauh dari mobilnya.

__ADS_1


Ya, aku pergi dan jalan dipinggir jalan begitu saja. Tak lagi mempedulikan saudaraku itu karna Juna langsung tancap gas setelah aku sempurna turun dari mobilnya. Baru juga beberapa langkah, aku masih kuat untuk menahan sakit perut ini.


Buruan milih jalan, harus kemana? Kanan saja lah. Kalau begini aku akan menginap dirumah temanku. Tunggu, hpku ketinggalan, dan aku tidak pernah main kerumah teman. Aku terus berpikir sambil jalan entah kemana.


Besok hari senin kan? Yakin aku bolos cuman gegara nyasar nih? Enggak elit banget sih Ran.


Aku tak tau ini dimana, tapi dijalan ini. Senja terlihat sangat jelas, sesaat rasa sakit dan lelahku hilang tanpa beban. Indah, sangat indah.


Saat itu aku sangat beruntung. Bukan cinta pertama biasa, diselamatkan? Tidak juga. Aku saja baru menyadari perasaanku setelah aku harus mengakhiri rasa itu. Sangat menyedihkan.


Aku melanjutkan jalanku sambil menunduk melihat sepatu sekolahku. Hm...Tak ada yang menginginkanku? Akh, mikir apa sih? Kalau begini terus kapan kamu bakal berubah Ran??


TIIN!


    BRAAK!


Apa?

__ADS_1


Truk yang membawa beban berat, jalan searah denganku itu lepas kendali dan mendadak berbelok tepat didepanku.


    "Ada kecelakaan!"


    "Ada yang terluka?!"


    "Berhentilah!"


    "Segera panggil polisi dan ambulans!"


    "Jauhkan dari yang lain!"


      Para warga sekitar langsung turun tangan untuk membantu evakuasi sebisa mereka. Aku terduduk lemah, tak mampu berkutik. Diam dan kaku. Tak ada lagi yang bisa kulakukan. Sekarang apa? Bagaimana?


    "Nak! Bangkitlah, kau baik-baik saja?" Seorang bapak-bapak yang membantu evakuasi mencoba menyadarkanku dari lamunan. Aku hanya menatapnya kosong. Sampai tangan ini datarik paksa untuk bangkit.


Tak bisa. Kakiku sangat lemas, aku seakan tidak mengertidengan tubuhku kali ini. Ayo bangkit Ran! Tapi percuma pikiran dan tatapanku kosong. Seakan kematian bisa datang sewaktu-waktu. Ah, karna melihat senja saja aku masih bisa selamat. Benarkah dunia ini sebuah berkah?

__ADS_1


__ADS_2