
Hm...Baiklah, ini malah membuat canggung. Jun tak kunjung menjawab dengan benar, sedari tadi hanya oh, pake tali mungkin. Kalau dipikir berapa kalipun gak mungkin pake tali lah! Jelas-jelas meyang gitu emang bisa pake katrol? Enggak ada alatnya juga.
Tapi kalau dipikir-pikir, ini beneran balik kerumah ni cowok? Bagus deh, gak perlu cari-cari dan gelandang enggak jelas. Aku berdeham sebentar. Rasa canggung masih sangat terasa.
"J-Juna besok beneran ke music band nih?" Aku terlalu kikuk untuk bisa memulai percakapan.
"Hm? Mau ikut?" Juna menjawa tanpa ragu. Oh, ternyata hanya aku yang merasa canggung.
Aku mengangguk cepat. Kalau soal begini aku tak ambil pusing untuk menjawab.
"Pergi sendiri gih," Juna tak mengalihkan pandangan. Aku memelas.
"Enggak mau! Gak tau jalan, gak tau dimana, gak ada yang jagaain, gak ada temen," Aku mencari berbagai alasan untuk bisa membujuknya ikut.
Enggak tau jalan? Emang aku buta arah. Meski udah dilewatin berkali-kali juga bakal lupa.
"Derita sendiri lah! Siapa yang mau peduli?" Ujar Juna mencemoohku. Aku hanya berdecak, ternyata pikiran Juna masih belum senada denganku.
"Saudara-" Aku mencari alasan lagi. "Jangan anggep kita saudara," Tegas Juna melirikku tajam.
"Terus apa?" Aku bertanya polos masih lekat menatap wajahnya dari samping.
"Pikir sendiri!" Juna menginjak gasnya membuat laju mobil semakin cepat.
Cih, Enggak saudara nih? Senajis itukah sampe enggak mau dianggep saudara? Wajahku terlihat menekuk beralih menatap jendela.
DRRT-
Tiba-tiba hpku bergetar. Nama yang tercantum itu sangat jarang menghubungiku. Kak Levi, kakak cowokku.
__ADS_1
"H-halo?" Efek sekitar 3 tahun enggak ketemu kakak sendiri jadi aneh dan canggung banget.
*"Ran, buruan balik rumah! Ibu-" *
Aku kicep, tak bisa lagi berkata-kata. Kaki tanganku bergetar hebat. Bagus, baru kemarin ditinggal udah beneran enggak ada?
"Ju-Kak Juna. B-balik sekarang," Aku tak habis pikir bisa memanggil Juna menggunakan kata kak di saat seperti ini. Juna sendiri menatapku bingung.
"Kenapa?" Juna masih sempet-sempetnya bertanya.
"Nyokap gue mati ******!" Juna tertegun mendengar bentakanku.
Aku bergetar. Ini bukan sisi dari diriku. Kenapa aku sangat marah? Kenapa aku membentak Juna? Ada yang salah, ini bukan diriku.
Juna menatapku penuh empati. Saat itu ia memang tau apa yang dirasakan aku yang dulu. Ia sudah mengetahuinya sejak awal bertemu. Masa remaja itu memang sulit dikendarlikan.
Rumahku penuh hilir kesepian, banyak orang yang medatangi rumahku mengenakan baju serba hitam. Aku langsung berlari memasuki rumah diikuti Juna, yang emang sedari tadi sudah berusaha menenangkanku. Seluruh keluarga besar kumpul, Aku dan Juna ikut tercengang. Seragam sekolah yang kita kenakan tak menjadi halangan.
Aku masih punya banyak salah dengannya, aku belum mencicipi masakan ibu untuk terakhir kalinya, aku belum menjadi anak yang baik, aku-aku bakal diapain lagi sama Ayah kalau ibu enggak ada? Aku takut, Aku sudah menangis menjadi-jadi. Tak bisa membayangkan bagaimana dulu kasih sayang ibu yang belum pernah kubalas dengan benar, ingatan tentangnya berputar bak kertas vidio berputar.
"Zeva Rani," Panggil nenekku menyuruhku menghampirinya. Aku takut bu. Aku terpaksa berdiri dan menghampiri nenek.
"Jangan berlagak enggak guna lagi!" kata nenek penuh penekanan, dan menggenggam tanganku kuat. Meski sakitnya tak seberapa aku berusaha menunjukkan ekspresi sakit, kalau tidak gitu nenek enggak bakal puas dan terus meremasku. Ia menyertku paksa untuk memasuki kamarku yang tak cukup jauh.
"Rani, kamu tau kamu siapa?" Aku mengangguk polos mendengar pertanyaan itu. Kamarku sudah tidak lagi seperti dulu. Ini bukanlah kamarku.
"Kamu anak terakhir, dan kamu sebagai pembawa. Tau apa yang kau bawa?" Nenek bertanya lagi dengan tatapan menghina. Aku menunduk membiarkan diriku berdiri selagi nenek duduk dikasur ku?
"Sial- Itu yang kamu bawa. Dan kematian Yuna itu karnamu! Mau berlagak enggak guna lagi?" Penjelasan nenek belum bisa kupahami seratus persen. Kematian ibu disebabkan oleh diriku? Bagaimana mungkin?
__ADS_1
"A-apa? Nek, bukan aku yang membunuh ibu!" Tegasku tak mau kalah. Jujur, aku benci mereka. Sangat benci.
"Itu dirimu Rena! Jangan menyangkal lagi, bukti sudah jelas." Ujar nenek geram melihatku.
"Buktinya apa?" Tanyaku sudah merebakkan air mata.
"Kau lihat ini? Ini kamu yang membereskannya. Seharusnya tak ada yang mau membereskan setelah kamu pergi. Seharusnya. Tapi kamu justru kembali dan membuat ibumu jatuh sakit beberapa hari lalu mati. Itukah caramu, cucuku untuk membunuh ibunya sendiri??!!" Jelas nenek benar-benar membuatku bingung. Aku hanya menganga tak percaya. Itu beneran bukan diriku.
"Be-benarkah? Tapi aku yakin itu bukan diriku," Nenek diam menunjuk CCTV kecil yang terpasang di samping almari. CCTV yang sengaja diselipkan tanpa memberitahuku. Bukankah ini keterlaluan?! Memasang CCTV dikamar anaknya sendiri.
"Semua sudah terekam jelas Rani. Jangan menangisi kebodohanmu lagi. Pergi, jangan tunjukkan batang hidungmu pada keluarga ini. Dan jangan menangis didepan Yuna yang telah kamu bunuh sendiri," Tegas nenek beranjak meninggalkan diriku tersungkur lemah di samping kasur.
Bukan, bukan aku. Aku tak merasa melakukannya. Aku enggak kesini, aku hanya tidur... Ya, aku hanya tidur. Meski tidurku dan pindah tempatku itu memang tidak jelas dari mana. Aku terisak didalam kamarku. Rapi penataan ala diriku yang dulu. Ini ada yang aneh.
"Berdirilah- Ayo pulang," Ajak seseorang dari belakang. Sedaritadi kedua kakakku memang sudah tak peduli lagi denganku. Lalu siapa yang mengajakku pulang? Pulang? Kemana? Aku tertawa getir. Menertawakan halusinasiku sendiri. Enggak ada yang mengajak orang bodoh sepertimu Ran! Ada yang berbicara dalam diriku. Aku memang sering bermonolog meski dalam keadaan apapun.
"Nungguin berapa lama lagi? Sampe ayam bisa terbang nih?" Celetuk seseorang itu dari belakang. Aku menoleh takut-takut kalau tak ada siapa-siapa.
Juna?
"Buruan balik. Gak betah nih lihat orang nangis," Juna berujar lagi. Wajah tampan dingin itu bak malaikat yang menjemputku. Aku tak percaya ini. Dulu aku sangat anti dengan sentuhan apalagi pelukan selain pelukan hangat dari ibuku. Tapi aku reflek memeluk Juna yang tengah berujar itu. Tubuh tinggi yang mencapai 180 centimeter itu tak menjadi halangan untukku bisa memeluk bagian dadanya.
"H-hei, lepas. Sesak nih," Pelukanku sangat erat dan disambut dengan isakku yang belum mau berhenti. Aku tak tau harus bersandar lagi pada siapa. Tapi ternyata dibelakangku ada Juna yang selalu menungguku.
"A-aku takut," Bagus, diriku yang selama ini tak mau terlihat lemah sedikitpun. Kini berubah dan terlihat sangat lemah dihadapan saudara yang termasuk lawan mainku selama aku kecil.
"Ayo balik," Aku melepas pelukan itu perlahan. Ia menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari rumah. Tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang yang kita lewati karna seragam putih abu yang mencolok juga.
Sekilas aku melihat ibuku berbaring tak bernyawa. Rasa hati menyayat kalau sudah mengetahui penyebab kematiannya adalah aku.
__ADS_1
".........."
Steven tak berkata-kata. Memang awal yang membingungkan tapi ini semua mulai jelas setelah music band selesai.