Misteri Kecantikan Gadis Tolaki

Misteri Kecantikan Gadis Tolaki
Menuju kebenaran


__ADS_3

Hari ini,ku merasa lebih baik dari sebelumnya, perasaanku sudah lega,tapi rasa bersalah masih terus menggelayut di benakku.


Rasa yg makin ingin kulupakan makin terus menghantui pikiranku.hingga membuatku sulit berlalu dari masa kelamku.


"Bu Hana,dipanggil ke kantor sebentar", ucap salah seorang rekan kerjaku yg membuat jantungku sedikit deg degan,ada apa lagi atasan memanggilku.


Dengan perasaan yg campur aduk,akhirnya kuturuti juga panggilanku di kantor.


"Maaf,ibu mencari saya", ucapku dengan rasa takut takut menghadapi atasanku yg seorang wanita berkulit hitam dan bertubuh besar ini.


"Iya,saya mau memberikan surat pemecatan ini padamu Hana", kata atasanku ini dengan mata melotot,membuat tulang tulangku terasa luruh.


"Atas dasar apa saya dipecat Bu?", tanyaku dengan suara parau,air mataku sudah terasa ingin tumpah,tapi aku terus menahannya.


"Saya tidak tau Hana,pulanglah ke rumahmu!", ucap wanita itu dengan tegas membuatku makin penasaran


Kutuntun kedua anakku yg masih balita dengan hati yg demikian hancurnya.


"Mama jangan menangis,abdi jadi pengen ikut nangis", ucap abdi dengan rasa sedih yg nampak dimatanya yg polos.


Kupeluk abdi dan arni anakku,kutumpahkan kesedihanku yg begitu mendalam,ku merasa begitu tercampakkan di dunia ini.


segera kutelpon kak vio,satu satunya sahabat yg kumiliki yg telah kuanggap saudaraku sendiri.

__ADS_1


"Kok bisa begitu Hana,itu gak benar,ini harus diurus ke pusat", protes kak Vio.


"Sudahlah kak vio,mungkin ini sudah takdirku", ucapku mulai mengikhlaskan semua yg telah diberikan Yang kuasa.


"Tidak hana,kamu tak boleh menyerah,besok kamu harus ke propinsi bersamaku", tegas kak Vio.


Kak Vio memang memiliki beberapa kerabat yg menduduki jabatan penting di pemerintahan,karena kak vio terus ngotot, membuatku jadi mengalah,dan mau tidak mau,mengikuti anjuran kak vio.


"Baiklah kalau begitu kak Vio", sahutku


"Ya udah kalau begitu,siapkan barang barang mu,kita ketemu di kota", ucap kak Vio, memutuskan saluran telepon nya.


"Wahh asyik,kita ketemu Tante Vio lagi ", teriak abdi kegirangan.


"Iyaa,Tante Vio,pasti bawa kita jalan jalan ya kak", Celoteh Arni,tak kalah gembiranya..


Esoknya,aku bersama kedua anakku menuju kota provinsi dengan menumpang bus.sepanjang perjalanan,anganku terus melayang ke masa masaku saat bersama keluargaku di desa yg penuh kedamaian,teringat adikku yg seolah olah menari nari dipelupuk mataku.


"Kak Hana,kembali saja ke desa,tidak perlu terlalu mengejar mimpi mu yg menjauhkanmu dari kehidupanmu yg sebenarnya", ujar lani,yg terasa duduk di dekatku bercengkrama dengan penuh kasih sayang.


"Hana,pulanglah ke desa bersama kedua anak kita,hiduplah dengan tenang,kurasa tunjangan yg tiap bulan,bisa mencukupi kebutuhanmu,tidak usah berharap lebih ,jika memang rezekimu cuma segitu", Tutur kak Anwar,yg seolah olah begitu dekat denganku,hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya.


"Hana,pulanglah nak ke kampung, hiduplah dengan damai", papa tiba tiba muncul sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


kucubit lenganku yg terasa sakit, artinya aku dialam nyata, tapi kenapa,ketiga orang terkasih dihidupku yg telah pergi duluan itu terasa betul betul berada di dekatku dan mengajakku berbincang.


"Bu,kita sudah sampai", bahuku tiba tiba ada yg menepuk, membuatku seolah terbangun dari tidur.


"Aneh", gumamku


Kak Vio,rupanya telah menjemputku di terminal,kulihat wajahnya berseri seri, bersinar seperti rembulan.membuatku terkesima.


"Kak Vio", aku berlari memeluknya,tapi bayangan kak vio,tiba tiba menghilang,membuatku menjadi terkejut.


Ditengah rasa heran ku,tiba tiba ponselku berdering.


"Halo kak Vio dimana?", tanyaku.


"Iya saya bukan Vio,maaf nih dengan Hana ya?", suara lelaki itu mulai membuatku khawatir.


"Ya betul,anda siapa?", tanyaku lagi.


"Maaf,saya polisi,yg punya hp sekarang mengalami kecelakaan, tolong datang secepatnya ke sini", ucap polisi itu memberikan alamat.


Sementara aku yg demikian paniknya segera mengambil ojek menuju alamat yg tadi disebut polisi itu.


"Kak Vio", aku menyeruak ditengah kerumunan orang,kulihat kak Vio bersimbah darah

__ADS_1


"Hana,maafkan aku tak bisa menemanimu lagi", kak Vio setelah mengucapkan kata kata itu, menghembuskan nafasnya yang terakhir.


"Kak Viooook!", teriakku histeris.


__ADS_2