Misteri Kecantikan Gadis Tolaki

Misteri Kecantikan Gadis Tolaki
Hilangnya dian


__ADS_3

Dian seperti orang linglung saat ibunya dimasukkan ke liang lahat,ia tak menyangkan ibunya begitu cepat meninggalkannya.ia terus duduk merunduk depan gundukan tanah pekuburan ibunya yg masih basah,saat pelayat sudah pada pulang kerumahnya masing masing,Dian tetap duduk hingga hari beranjak malam,ia seperti kehilangan rasa takut berada di tempat yg sepi dan terkenal angker itu


"Dian pulang lah nak,mari ikut bersamaku", ucap seorang nenek tua berambut putih yg terpantul sinar rembulan malam nampak memiliki kecantikan yg masih nampak,meskipun wajahnya sudah keriput..


"Tidak nek,biarkan saya disini bersama ibuku", sanggah Dian dengan mata sembab karena tak henti hentinya menangis.


"Dian,saya nenekmu,mari ikut denganku", orang tua itu menarik paksa tangan Dian,Dian sendiri hendak meronta-ronta,namun dirasakan nya tangannya terasa tak memiliki tenaga lagi.


"Saya mau dibawa kemana nek?", tanya Dian saat dirasanya nenek tua itu tak membawanya pulang kerumahnya,justru membawa ya naik ke atas pegunungan yg Dian kenali tempatnya para dedemit bersemayam.


"Diam kau,jangan banyak bicara!", bentak nenek tua itu,terus memegang tangan Dian dengan erat.


Dian merasa sangat takut mendengar lolongan serigala yg mengerikan,terkadang mendengar bunyi bunyian khas daerahnya yg menurut mitos,suara siluman yg di serupa sundel bolong.


"Ya Allah,akan dibawa kemana diriku ini,kenapa nasibku begitu semalang ini,ayah,dimana kiranya dirimu,kenapa kau tak pernah mengingatku lagi,bahkan disaat ibuku meninggal dunia,kaupun tak kunjung datang", ucap Dian dalam hatinya yg bagai tersayat sayat sembilu.


Nenek tua dan Dian akhirnya tiba diatas puncak gunung setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan.


"Dian masuklah,ini rumahku yg juga akan menjadi rumahmu", ucap nenek tua itu dengan wajah yg selalu nampak bermuram durja.


"Iya nek", sahut Dian melunak,ia telah pasrah,pada apapun yg akan menimpa dirinya.


"Dian,saya ibunya kandungnya bapakmu,panggil saya nenek Saina", ucap nenek Saina memperkenalkan diri.


Dian duduk bersimpuh mendengar penuturan neneknya yang baru kali ini dilihatnya


"Bapakku kemana nek?", tanya Dian dengan suara pelan,ia masih begitu takut menghadapi wanita tua yg mengaku neneknya itu.


"Dian,makanlah dulu nak,masih panjang waktu untuk kita bicara", jawab nenek Saina,sambil menhidangkan makanan khas tolaki,yg hanya berupa sagu panggang menyerupai kaset bentuknya,yg dimakan bersama sayuran bening dan ikan rebus,terdengar sangat sederhana tapi bagi Dian,itu sudah menu istimewa.

__ADS_1


Dian nampak lahap makan,membuat nenek Saina menjadi iba melihat cucunya itu yg bernasib malang.


"Dian,maafkan nenek nak,baru sekarang menjemputmu,karena nenek tak bisa menembus pertahanan ibumu,yg sama sekali tak mau mempertemukan mu dengan bapakmu", ucap nenek Saina membuka obrolan.


"Bukannya bapak yg tak mau peduli Dian lagi nek,kata ibu,bapak sendiri yg meninggalkan Dian ", sahut Dian yg sudah merebahkan tubuhnya di bale bale bambu.


"Sudahlah Dian,tak perlu dibahas lagi tentang itu,besok kita menemui bapakmu nak,soal ibumu,biarkan ia tenang di sana", tutur nenek Saina dengan mata berbinar binar.


*************


Warga menjadi heboh,karena Dian tiba tiba dikabarkan menghilang.


"Kasian Dian,ia pasti merasa sangat terluka oleh kematian ibunya", gumam Arni yg turut andil mencari Dian.


"Bagaimana Arni,apa Dian sudah ditemukan?"tanya Bu Hana yg turut prihatin pada nasib malang yg menimpa keluarga Dian.


"Sampai saat ini belum ditemukan ma,teman teman sekolah pun mencarinya kemana-mana tak ditemukan juga",jawab arni dengan rasa khawatir.


"Tidak mau,jangan masukkan ular berbisa dalam rumah", tolak Arni dengan keras.


Arni dapat merasakan bahaya yg akan datang setiap saat jika dian diangkat menjadi anak oleh ibunya,karena Arni dapat menangkap kebencian dimataduan setiap kali memandangnya.


"Arni,coba bayangkan nak,jika seandainya kamu berada diposisi Dian saat ini", bujuk Hana pada anaknya yg tetap menolak keras.


"Kalau mama tetap ngotot ingin membawa Dian kesini,biar Arni yg keluar rumah!", ancam Arni pada mamanya.


Sontak Hana terdiam mendengar ancaman anaknya itu


"Lagian,mama ngapain sih mau angkat anak segala", abdi ikut nyeletuk menanggapi perdebatan yg terjadi antara mamanya dan Arni adiknya.

__ADS_1


****************


Dian duduk terpaku menatap bintang bintang yang bertaburan disampingnya duduk nenek Saina sambil mengunyah sirihnya,dari mulutnya terlontar cerita.


"Ayahmu mengalami tekanan jiwa yg sangat kuat saat bercerai dari ibumu", ucap nenek Saina.


Air mata Dian mulai menetes,.membasahi pipinya,ia yg begitu merindukan kasih sayang ayahnya sejak kecil,hanya bisa termenung saat neneknya mengajaknya melihat ayahnya yg terpasang dalam bangunan yg tak memiliki dinding.kedua kakinya terikat rantai,karena ditakutkan menyakiti masyarakat.


"Itulah ayahmu cucuku,namanya Harun", ucap nenek Saina menangis.


Nenek Saina tak mampu berlama lama melihat kondisi anaknya,karena Harun sudah tak bisa lagi diajak komunikasi.


Nenek Saina menuntun Dian .meninggalkan tempat yg tak semestinya ditempati seorang manusia itu,hatinya terasa hancur melihat ayahnya dalam keadaan menderita.


Diian membaringkan tubuhnya diatas dipan bambu dengan pikiran yg menerawang jauh.mengingat nasibnya yg selalu tak beruntung,bahkan sekarang memutuskan untuk berhenti sekolah,karena rasa malu yg tak bisa ditanggung lagi.


Lalu ia teringat Wirya yg membuatnya tergila gila,juga Arni yg telah merenggut segala galanya darinya,lalu Dian bangkit dari pembaringannya,dilihatnya neneknya sudah tidur pulas.


"Aku harus mencari jalanku sendiri nek,maafkan aku", ucap Dian pelan pelan membuka pintu gubuk yg juga terbuat dari bambu itu,ia berusaha ingin kabur meninggalkan gubuk neneknya itu.dian berlari di kegelapan malam ke arah yg ia sendiri tak tahu kemana langkahnya membawanya malam ini.


Tiba tiba langkah Dian terhenti karena kakinya tiba tiba terjerat tali yg sangat kuat dan menggantungnya diatas pohon,membuat kepalanya terjulur ke bawah


"Hahahaha,mau kemana anak nakal,kamu tidak akan pernah pergi lagi!", nenek Saina tiba tiba muncul didepan mata Saina yg membuat Saina sangat terkejut.


"Tolong lepaskan aku nek,biarkan Dian pergi", pinta Dian dengan memelas. tapi nenek Saina malah memarahinya dengan lantang..


"Dasar keras kepala,kau tahu diluar sana sangat berbahaya bagimu", tegas nenek Saina.


Nenek Saina melepaskan Dian dari tali yg menjeratnya,lalu menyeret paksa kembali ke gubuknya

__ADS_1


"Jika masih berani melawan,kamu akan mengalami nasib yg sama dengan ayahmu", ancam nenek Saina.


Akhirnya Dian hanya bisa pasrah mengikuti langkah nenek Saina kembali ke gubuknya.


__ADS_2