Misteri Kecantikan Gadis Tolaki

Misteri Kecantikan Gadis Tolaki
Jangan lihat penampilan


__ADS_3

Lama ku duduk termenung di depan makam kak Vio,satu satunya sahabat ku yg tersisa,kini telah pergi ke alam lain.ku renungi nasibku yg seolah pembawa sial.


"Mama kita pulang yuuk", rengek Arni yg mungkin sudah bosan duduk terus di pemakaman umum


Dengan langkah gontai kuajak abdi dan arni pulang kerumah orang tua kak vio,namun langkahku di cegat kedua orang tua sahabatku itu saat ku ingin memasuki rumahnya.


"Hana,jangan masuk dirumah ini,gara gara kau lah,anakku mengalami kecelakaan", ucap ibunya Vio yg tidak kusangka sangka bisa berkata begitu padaku yg sudah menganggapnya keluarga.


"Iya hana,kamu tak mau kecipratan sialmu lagi,pergilah sekarang sebelum kami bertindak kasar", tambah bapaknya Viona.


Air mataku tak kuasa kubendung lagi mendengar penuturan ibu dan bapaknya Viona,mana hari sudah mulai gelap,dimana kuharus rndapatkan angkutan umum lagi yg bisa kutumpangi ke kota.


"Ayo pergilah,jangan bengong disitu", ucap ibunya Viona dengan mendorongku hingga terjatuh.


"Mamaa!", jerit abdi melihatku jatuh tersungkur.


"Mari kita pergi dari sini ma", ucap abdi menarik tanganku.


"Maafkan Viona bu u,bila ada salah ", ucapku sebelum pergi.


"Tidak usah minta maaf lagi pembawa sial pergilah dari sini",hardik ibu Viona.


Ia menatapku penuh kebencian,membuatku Segera menuntun kedua anakku pergi menyusuri jalanan sambil melihat lihat siapa tau ada tumpangan ke kota.


"Mau kemana bu?", tiba tiba ada mobil yg singgah didekatku.


"Mau ke kota bang", sahutku.


Kulihat dalam mobil itu ada 4 lelaki dewasa yg sepertinya memperhatikanku dan kedua anakku


"Ayo naiklah,duduk didepan saja", ucap di sopir, sementara lelaki yg tadinya duduk didepan pindah ke belakang.

__ADS_1


Hatiku sedikit lega karena berhasil keluar dari desa kak Vio yg tak memberiku tempat lagi walau hanya semalam.


"Kenapa perginya sore sore begini bu?", tanya si sopir.


"Saya ada kepentingan dikota,besok pagi pagi harus kekantor ", jawabku dikit berbohong .


Mendadak mobil mogok membuatku mulai was was,karena mobilnya mogok pas ditengah tengah hutan yg sama sekali tak ada rumah atau lampu penerangan apapun.


"Wahh mobilnya mogok bu,saya baikin dulu ya", ucap si sopir.


Aku mulai gelisah tidak tenang,tak berhentinya kuperhatikan para lelaki yg jadi penumpang mobil itu dengan seksama,aku mulai menjaga jaga kemungkinan dengan pistol yg pernah diberikan almarhum kak Anwar,untuk berjaga jaga,tapi tak boleh digunakan sembarangan kecuali dalam keadaan darurat.


Mereka sepertinya tak mencurigakan,membuatku mulai berpikir positif ke mereka.


"Alhamdulillah selesai juga,maaf ya bu,sudah menunggu lama", ucap si sopir sambil mencuci tangannya dengan air yg mengalir dari pegunungan.


"Sebenarnya ibu ini mau kemana?", tanya salah satu penumpang yg kelihatan sudah agak tua.


"Kalau gitu,ibu ikut kami saja,kamipun tujuannya ke situ bu,ada lokasi yg kami mau tinjau", ucap si bapak itu.


"Terima kasih banyak kalau begitu pak", Ucapku dengan rasa yg masih takut takut


"Dari tadi kuperhatikan ibu ini sepertinya takut takut,jangan takut bu,kami dari Sulsel,kami orang baik kok bu", ucap di bapak yg ternyata orang baik,ia malah memberikan Snack Snack dan minuman untuk kedua anakku, membuatku mulai berpikiran jernih lagi


Sepanjang perjalanan kamipun terus mengobrol dengan mereka yg ternyata satu daerah dengan kak anwar,bahkan Mereka masih ada hubungan kekerabatan dengan almarhum suamiku itu


"Sabar ya bu, apa yg ditentukan Oleh yg kuasa tak bisa kita ubah", ucap bapak tua yg selalu mengajakku bicara.


Karena terus mengobrol,kamipun tiba di kota kecil yg kutinggali,yg mungkin esok kutinggalkan karena pemberhentian kerja tak bersyarat itu


"Mari mampir dulu kerumahku", ucapku pada orang orang baik Yg telah memberiku tumpangan itu

__ADS_1


"Lain kali saja bu,kami ada urusan penting", ucap si sopir yg menolak saat kuberi ongkos.


"Buat anaknya saja bu", ucapnya saat kuberikan uang itu.


Ternyata fisik tidak menjamin kebaikan seseorang,terkadang yg kita lihat penampilannya yg sedikit seram, ternyata memiliki hati nurani,seperti para lelaki yg memberiku tumpangan gratis tadi


"Semoga kalian mendapatkan pahala yg berlipat ganda", ucapku dalam hati,berdoa untuk kebaikan orang orang tadi.


Malam ini,kukemasi barang barang ku,untuk kembali ke kampung halamanku dengan rasa sedih yg mendalam, ternyata pengabdianku pada pemerintahan berakhir tanpa alasan yg kuketahui.


Esoknya ku telpon travel yg biasa nya juga menyadikan pick up untuk mengangkut barang barang ku yg cukup banyak


"Sebentar saya kesitu bu", sahut sopir carteran itu.


Tak lama kemudian datang pickup itu.untungnya ia membawa kernet Nya yg bisa membantunya mengangkut semua barang barangku.


"Bu Hana,Bu hana!", teriak pak sukur yg datang tergopoh gopoh membawa secarik kertas.


"Pak sukur kenapa?", tanyaku heran.


Pak sukur dengan napas tersengal sengal mengatur napasnya dulu,setelah itu menyerahkan secarik kertas itu.


"Bu Hana, ternyata tidak dipecat,ini kesalahpahaman saja", ucap pak sukur.


Mendengar hal itu,tidak membuatku spontan melompat gembira ataupun senang,kertas itu kumasukkan dalam tasku.


"Pak sukur, terima kasih informasinya, tapi saya tetap pulang kampung,soal dipecat atau tidaknya, kita lanjutkan ke pengadilan,bilang pada atasan kita,untuk tetap bersikap profesional dalam menjalankan tugasnya", ucapku dengan tegas.


Aku tak mau dipermainkan lagi seenaknya oleh atasanku itu,saya tetap melanjutkan keberatan ke ranah hukum.


"

__ADS_1


__ADS_2