
Mira yang terus berlari menghindari pukulan Fellisa yang sedang menenteng tas beratnya untuk dipukul kan kepada nya Akhirnya terpojok di sudut dinding, tidak ada lagi tempat untuk nya berlari.Fellisa tersenyum penuh kemenangan pasalnya sebentar lagi Mira teman satu bangkunya akan mendapatkan hadiah balasan akibat telah berani meledaknya.
"Fellisa, tolong jangan pukul, Aku mohon tas kamu sangat berat pasti Nanti rasanya sakit. " rengek Mira meminta simpati agar Fellisa mau melepaskan nya.
"Tidak akan Aku lepaskan ini terima," fellisa mengangkat tinggi tasnya dan siap didaratkan ke tubuh Mira yang ketakutan, tiba-tiba Mira memekik kecil menyebut sebuah nama membuat Fellisa yang hendak memukul pun ikut terhenti.
"Agam...!lirih Mira mengalihkan pandangan Fellisa dan benar saja sahabat nya jadi ikut terdiam dan kesempatan itu dibuat Mira untuk kabur.
Menyadari Mira kabur Fellisa mendengus kesal dan kekesalan nya berlipat-lipat ketika melihat Agam masih tertawa dan bercanda bersama Hana.
"Mereka bener-bener menyebalkan. " sungut Fellisa sambil kembali ke tempat duduknya.
Suasana kelas yang tadi nya ramai mendadak hening ketika Dosen sudah mulai memasuki kelas, hingga pelajaran usai, tidak ada satu murid pun yang berani melakukan kekacauan di dalam kelas meskipun itu sekedar meminjam buku catatan atau peralatan tulis hingga pelajaran berakhir.
Agam sengaja keluar kelas lebih dahulu karena dia ingin mendapatkan nomor pertama dalam. Menunggu Biss, Fellisa yang melihat Agam keluar sambil berlari dengan cepat mengikuti pasalnya Fellisa khawatir tidak memiliki tumpangan kendaraan.
"Agam tunggu, "teriak Racelia memanggil, agar Agam mau berhenti, benar saja Leo yang mendengar teriakan Fellisa langsung menghentikan langkah kakinya.
" Ada apa?"
"Kenapa kamu berlari begitu ada apa?"Aku mau menunggu Biss biar tidak menunggu lama."
"Kenapa harus menunggu Biss, bukankah tadi berangkat bareng Aku, ayo sekarang juga harus bareng Aku."
"Tidak usah Aku juga lagi ada sedikit perlu jadi tidak langsung pulang,"
__ADS_1
"Tapi, Agam,"
"Sudahlah, jangan terlalu memikirkan, Aku lagi ada urusan kali ini,"
"Aku ikut ya? "
"Untuk apa? " tanya Agam dengan menatap tajam pada wajah Fellisa bayangan masa kelam kembali menari nari dalam peluk ingatan nya."Mungkin Aku bisa mendapatkan informasi lebih banyak dari gadis ini, bukankah dia belum tau jika Aku adalah putra dari korban kebiadaban Papanya. " Gumam Agam dalam hati.
Tatapan mata Leo yang sangat tajam dan terlihat begitu serius dan intens, Fellisa meneguk ludahnya, entah mengapa tiba-tiba Fellisa memiliki rasa takut, tatapan mata Agam terlihat aneh dan mengerikan, seolah olah dirinya seorang musuh.
"Naik mobilku saja, agar kamu tidak mengeluarkan banyak ongkos,"ajak Fellisa yang kali ini tidak ditolak oleh Agam.
"Baiklah, tapi apa kau yakin? perjalanan kita Nanti akan sangat membosankan dan Aku rasa kamu akan jenuh, untuk itu lebih baik tidak usah saja, lagi pula Aku mempunyai uang untuk ongkos Naik Bisnya.
"Agam, izinkan Aku mengantarmu Aku mau mengatakan jika Aku….
"Agam, Aku ikut ya, Aku takut pulang telat Papa bisa marah Nanti, jika tau Aku pulang terlambat."ucap Hana panjang lebar sambil kedua tangan nya di satukan di depan dada.
Sementara Agam menatap Fellisa seolah olah ingin meminta persetujuan. Fellisa yang memahami maksud dari tatapan mata Agam hanya melegos, rasanya sungguh tak rela, kesempatan untuk bisa berduaan dengan Agam lagi-lagi harus gagal dan semua itu karena kehadiran Hana cewek yang entah dari mana selalu saja membuntuti Agam, seolah olah Agam milik nya, huuff… sangat menjengkelkan.
Melihat sikap Fellisa yang diam tidak memberikan jawaban dan hanya melengos saja membuat Agam mengambil keputusan sendiri.
"Baiklah, kalian tunggu disini Aku akan ambil mobilnya."Agam segera meminta kunci mobil pada Fellisa dan dengan cepat berlari ke tempat parkir.
Tidak menunggu waktu lama Agam segera membuka pintu mobil, seperti biasanya Hana memilih duduk di belakang sedangkan Fellisa dan Agam duduk di depan.
__ADS_1
Suasana hening tidak ada satupun yang memulai percakapan hanya sesekali Agam bisa melihat dari kaca spion jika sesekali Hana melempar senyum padanya. Fellisa yang memperhatikan itu sedikit kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa apa, malang dan apes nasibnya, Niat hati agar bisa berduaan kini menjadi bertiga, bahkan Fellisa merasa dia telah menjadi obat nyamuk dalam kemesraan mereka.
"Hana, dimana Rumahmu?"tanya Agam memecah keheningan.
"Lurus ke depan ada persimpangan kita belok kiri, sudah dekat kok. "
Agam segera mempercepat laju mobilnya, dia benar benar sangat terburu-buru, dalam waktu singkat mobil sudah berada di depan sebuah bangunan Rumah yang cukup bagus.
"Disinikah kamu tinggal,"
"Benar, ayo turun kita masuk, Aku akan buatkan cemilan dan minuman untuk kalian,"tawar Hana.
"Aku tunggu disini saja, biar Agam yang masuk.
" Aku, lagi buru-buru juga jadi lain kali saja Aku datang ke sini."
"Jadi bagaimana, apa kalian tidak mau mampir.
" Tidak, lain waktu saja ya! "Hana mengangguk dengan lemah, ada rasa kecewa ketika Agam tidak mau masuk, tapi apa yang dikatakan Agam mungkin benar, dia sedang buru-buru.
Diam-diam ada perasaan senang ketika Agam dengan halus menolak ajakan Hana, Diam-diam bibirnya tersenyum dan tanpa Fellisa sadari Agam melihat senyum yang tersungging di bibir Fellisa sedangkan Agam hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat Fellisa tersenyum.
Agam kembali melajukan mobilnya menembus teriknya matahari ketika itu hari masih siang, tiba-tiba Agam menghentikan mobilnya di depan seorang pedagang buku buku bekas yang biasanya ada di pinggir pinggir jalan.
Fellisa mengernyitkan dahinya dan ketika Agam hendak turun dari mobil tangan halus Fellisa menahan nya.
__ADS_1
"Kau mau apa? tanya Fellisa bingung. Awalnya Fellisa berfikir jika Agam akan membawa nya mungkin ke mall atau Restoran atau tempat tempat yang sangat indah tapi yang terjadi justru berhenti di depan pedagang di pinggir jalan.
" Kau tunggu disini Aku ada perlu sebentar, "Fellisa hanya mengangguk meskipun dia tidak paham dengan apa yang akan dilakukan Agam.