
Ch.9
“ ...ber..fikir? “, ucap erik dengan wajah terlihat bingung dengan jawaban tara. Ayah dan leonhard yang mendengarnya pun juga ikut merasa bingung.
Tara yang tidak tau harus menjawab apa, secara asal mengatakannya. Luci yang ada di sebelah tara menepuk dahinya sendiri.
“ oi..ITU BUKAN JAWABAN YANG TEPAT!, KAU BAGAIMANA SIH! “,teriak luci kesal pada tara namun seperti amukan kelinci bagi ayah, leonhard, dan erik
( jangan berteriak seperti itu! Aku juga tidak tau harus menjawab apa!), batin tara. Tara mencari tau bagaimana cara untuk menjelaskan pada ayah, leonhard, dan erik.
“ a..itu..berfikir..seharusnya kita belajar mengendalikan mana terlebih dahulu dari pada yang lain (mungkin), dan..bagaimana aku bisa melakukannya, itu semua karena kalian. Aku melihat kalian menggunakan sihir tadi jadi aku berfikir untuk melakukan hal yang sama namun tidak serupa (bohong) “, ucap tara panjang lebar tanpa celah
(kau pikir dengan begitu mereka percaya? ), batin luci kesal
Ayah,leonhard, dan erik terdiam sejenak ketika taraa menjelaskannya. Raut wajah mereka tiba tiba berubah menjadi serius.
“ kau tidak berbohong tara? “, ucap ayah
“ tidak “
“ oh ya? “, ucap leonhard
“ iya “
“ beneran? “, ucap erik
“ tentu saja “, jawab tara dengan senyum canggung dan mulai berkeringat dingin.
“ hmm..”, gumam mereka bertiga dengan tatatpan curiga pada tara.
Tara hanya bisa tersenyum canggung pada mereka. Luci yang menyaksikannya hanya diam tidak peduli dengan apa yang terjadi.
“ tara, ternyata kau..”, ucap erik dengan tatapan curiganya
( ha? Apa?, apa aku ketahuan berbohong? ), batin tara berkeringat dingin
“...ternyata kau sa~ngat jenius! “, ucap erik dengan ceria
( MEREKA PERCAYA?! ), batin tara dan luci
“ he? Apa? “, ucap tara bingung
“ iya. Kau bisa mengendalikan mana secepat itu, kau sangat jenius, bahkan lebih jenius dari pada aku “
( tunggu..), batin tara
“ iya, erik benar. Mungkin kau juga lebih jenius dariku, dari ayah dan ibu juga tentunya “, ucap leonhard
__ADS_1
( tunggu sebentar ), batin tara kembali
“ hoo..benar juga “, ucap ayah
( AKU TIDAK MENGERTI! ), batin tara berteriak
Tara tidak mengerti apa yang diucapkan kakak kakaknya. Ayah yang menyadari kebingungan tara mendekati tara dan menjelaskan semuanya bahwa, kebanyakan orang bisa mengendalikan mana di usia yang menginjak tujuh sampai sepuluh tahun, bahkan ada yang bisa mengendalikan mana di usia kedewasaannya yaitu delapan belas tahun. Tara yang bisa mengendalikan mana di usia yang menginjak lima tahun adalah hal langka dalam sihir.
Ya..tidak semua orang bisa melakukannya, orang yang berhasil melakukannya di usia seperti tara hanya ada beberapa orang saja dan itu bisa dihitung dengan hitungan jari. Orang yang bisa melakukannya disebut jenius. Umumnya hal ini hanya bisa dilakukan di keluarga bangsawan kekaisaran saja. Namun karena tara bukan dari keluarga bangsawan, kasus kali ini sangat sangat jarang terjadi, mungkin ini yang pertama kali terjadi.
“ karena itu kami kagum padamu tara, kau sangat hebat “, ucap leonhard dengan senyum lembut
“ iya!, itu baru adikku “, ucap erik dengan rasa bangga, padahal yang melakukannya tara, tapi entah kenapa erik yang merasa bangga
“ kita harus merayakannya! “, ucap ayah semangat
“ ayah benar!, makan enak! “, ucap erik semangat dan leonhard yang hanya tersenyum dan mengganggukan kepalanya sekali.
Tara hanya bisa tersenyum canggung melihat mereka yang bersemangat, padahal hanya hal kecil yang dia lakukan tapi kenapa bisa keluarganya sangat bersemangat seperti ini?
“ baiklah, kita akhiri latihan hari ini dan kita mulai lagi besok, hari ini kita siapkan perayaan!“, ucap ayah semangat
“ baik!, aku ingin daging panggang! “, ucap erik girang
“ kita harus menyiapkan makanan yang disukai tara. Mau bagaimana pun, ini untuk perayaan keberhasilan tara di hari pertama latihan “
“ sudah sudah, sekarang kita masuk kedalam dan beri tau ibu tentang ini “, ucap ayah
“em..kalian duluan saja, aku masih ingin bermain disini bersama luci “, ucap tara
“ kalian bersenang senanglah, kami akan menyiapkan perayaannya “, ucap leonhard
Tara mengangguk sambil tersenyum. Mereka berjalan menuju pintu belakang rumah meninggalkan tara dan luci berduaan. Setelah melihat mereka masuk kedalam rumah dan menghilang dari pandangan, tara pun bisa leluasa bertanya pada luci.
“ huft..melelahkan sekali “, ucap luci lalu berbaring di bawah pohon tadi
“ ya..kau benar, hei luci, apa yang dikatakan ayah tadi benar? “, tanya tara lalu duduk di sebelah luci yang berbaring
“ hm? Tentang si jenius itu?, iya itu semua benar “
“ apa ini juga..termasuk kemampuan dari sang emores? “, tanya tara kembali
“ iya..tentu saja, ada apa? “, jawab luci dan mengatakan pertanyaan pada tara. Raut wajah tara berubah menjadi murung. Luci bingung kenapa tara seperti itu tapi kini luci merasa bersalah padahal tidak tau apa kesalahannya. Luci bangkit merubah posisinya menjadi duduk.
“ hei, ada apa denganmu?, apa aku mengatakan hal yang menyingung perasaanmu?“, tanya luci merasa bersalah pada tara
“ tidak, ini bukan salahmu hanya saja...aku sedang berfikir, apa aku bisa melakukan peran sebagai emores? “, ucap tara dengan keraguan
__ADS_1
Mendengarnya, luci kemudian tersenyum menatap tara. Ya.. dia mengerti perasaan tara. Awalnya tara hidup dengan normal namun setelah kejadian yang menimpanya dia harus menanggung tanggung jawab besar dipundaknya sebagai emores untuk seluruh wilayah kekaisaran.
“ tentu saja kau bisa melakukannya, tara..dengar,aku sudah melihat semuanya di kehidupan masa lalumu “, ucap luci menghibur serta meyemangati tara.
Dulunya, tara adalah seorang gadis SMA yang ramah. Dia bertanggung jawab, pantang menyerah, dan baik dengan semua orang. Dia rela membantu orang lain, padahal dia saat itu juga membutuhkan bantuan mereka. Banyak orang yang menyukai tara karena kebaikannya itu, namun ada juga karena kebaikan tara, mereka malah membenci tara.
“aku tau, ini pasti berat untukmu, tapi..percayalah padaku, kau bisa menjadi emores yang tak tertandingi oleh siapapun. Dan kau tidak perlu mencemaskan hal lain karena aku akan selalu disisimu, kedepannya kau juga akan mendapatkan banyak teman “, ucap luci menghibur tara
“ ..luci. kau tau bukan kejadian sebelumnya yang menimpaku, maaf mengecewakanmu tapi...sepertinya aku akan sulit mempercayai orang lain selain diriku sendiri “, ucap tara murung
Luci terkejut dengan ucapan tara. Dia juga merasa bersalah, tidak seharusnya dia membicarakan tentang kepercayaan pada tara setelah dia dihianati oleh temannya sendiri di kehidupan sebelumnya.
“ ta-tara..maafkan aku, aku tidak seharusnya bicara seperti itu “, ucap luci menyesali perkataannya
Melihat luci seperti itu, tara juga ikut merasa bersalah pada luci. Karena tidak ingin suasana di antara mereka menjadi canggung, tara mengatakan sesuatu pada luci
“ tidak apa apa, aku juga minta maaf mengatakan hal jahat seperti itu, tapi ada satu hal yang ingin ku katakan, luci “
“ apa itu? “, tanya luci
“...aku...akan berusaha mempercayai orang lagi, kau tenang saja, aku sudah mempercayaimu sepenuhnya, jadi kau jangan khawatir tentang itu ya?, kau sudah banyak membantuku“, ucap tara dengan tekad kuat menyertainya.
Luci yang mendengarnya senang dengan apa yang barusan tara katakan. Bagaimana tidak?, tara tidak mungkin bisa melakukan semuanya sendirian. Dia harus melakukannya bersama dengan orang kepercayaannya nanti. Suatu kebersamaan tanpa adanya kepercayaan yang kuat, akan terjadi perpecahan yang dapat memisahkan mereka nantinya.
“ iya.., tapi ingat satu hal tara, kau harus percaya sepenuhnya terhadap keluargamu, mereka sangat menyayangimu”
“ aku sudah mempercayai mereka dari awal kok “, ucap tara blak blakan
“ heh?!, sejak kapan?! “, ucap luci dengan sedikit meninggikan suaranya
“ sejak awal, sebelum kau muncul dihadapanku, aku sudah mempercayai mereka “
“ ja-jadi..aku orang ke dua yang mendapatkan kepercayaanmu setelah keluargamu begitu? “
“ iya. “, jawab tara cepat. Luci memancarkan aura kecewa di sekitarnya
“ hah..aku jadi yang kedua, malangnya nasibku “, gumam luci. Tara hanya menahan tawa melihat luci syok seperti itu
“ baiklah, ayo kita kembali kedalam, mereka pasti sudah menunggu “, tara berdiri dan mengajak luci
“ baik..”, luci masih memasang wajah kecewanya.
Mereka berjalan bersama dan masuk kedalam rumah.
Selang beberapa detik ketika mereka masuk kedalam rumah, muncul aura hitam dan membentuk sosok yang abstrak di dekat pohon yang sebelumnya tara dan yang lain berada. Sosok hitam itu seperti mengawasi tara dari jauh dan menghilang setelah tara masuk kedalam rumah dengan luci.
^^^BERSAMBUNG...^^^
__ADS_1