Monogatari No Ato

Monogatari No Ato
Ch.7


__ADS_3

Ch.7


Keesokan harinya, tara mempersiapkan diri untuk memulai latihannya dengan semangat. Setelah perdebatan panjang antara kakak kakak tara dan ayah kemarin, akhirnya sudah ditentukan siapa yang akan mengajari tara di hari pertama. Meskipun sedikit sulit untuk menentukannya, tara berhasil mendapatkan solusi terbaik.


Tara memakai baju khusus latihan yang dibuatkan oleh ibunya kemarin. Ibu tara sangat pandai membuat baju. Baju tara terbuat dari kain yang ringan dan cocok saat latihan di hari yang panas maupun dingin.


Baju tara berlengan panjang sepanjang siku, berwarna biru dengan ikat pinggang pita berwarna kuning keemasan. Tara mengikat rambutnya yang berwarna putih silver seperti sinar bulan purnama. Ia juga memakai sepatu seperti bot khusus latihan. Tara merasa aneh, padahal baru kemarin dia bilang ingin belajar sihir, namun sampai disediakan perlengkapan yang sangat lengkap.


“ kau sudah siap? “, ucap luci yang ada di samping tara


“ iya “, tara menjawab setelah selesai memakai sepatunya. Dia berjalan kearah cermin besar dan melihat penampilannya, mau bagaimana pun, tara memang sangat cantik, padahal baru berusia lima tahun.


“ ayo kita berangkat “, ajak luci


Tara mengangguk semangat lalu berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya. Tara keluar bersama dengan luci menuju tempat makan. Tara menuruni tangga perlahan mengingat bahwa tubuhnya yang kecil dan kakinya yang pendek.


Setelah mencapai dasar tangga, dia melihat keluarganya sudah berkumpul di meja makan, kakak pertama, kakak kedua, dan ayah terlihat duduk menunggu sarapan siap, ibu terlihat sedang menyiapkan makanan untuk sarapan. 


Saat ibu membalikan badannya membawa makanan, dia menyadari kedatangan tara dan tersenyum hangat padanya.


“ tara, kau sudah datang?, selamat pagi “, ucap ibu


Kakak dan ayah yang mendengar ibu kemudian menoleh ke arah tara


“ oh, tara selamat pagi “


“ selamat pagi “


“ taraku selamat pagi, apa tidurmu nyenyak? “


Tara yang diberi ucapan selamat pagi sangat senang mendengarnya, tara di kehidupan sebelumnya tidak pernah mendapatkan ucapan selamat pagi dari keluarganya. Tara tersenyum senang


“ ayah, ibu, kak leon, dan kak erik, semuanya selamat pagi “, jawab tara dengan wajah yang imut. Saat melihat tara yang sangat imut seperti ada tembakan demage heart yang menembaki mereka. Mereka terpana dengan keimutan tara


“ tara, mari kita sarapan bersama, ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu “


“ iya! “, tara berjalan kearah meja makan menuju kursi di sebelah kak leon. Tara menatap kursi itu dengan serius. Ya..kursinya terlalu tinggi untuk dia, karena itu tara sangat berusaha untuk naik ke atas kursi.


Melihat tara yang kewalahan hanya ingin duduk di atas kursi meja makan, semua gemetar menahan tawa. Tingkah tara sangat lucu. Melihat mereka menahan tawa sapai badannya gemetar, tara merasa kesal dengan itu. Dia menggebungkan kedua pipinya.


“ biar aku bantu “, ucap leonhard


Lalu leonhard yang baik mengangkat tara dan mendudukkannya di atas kursi.


“ terima kasih kak leon “, ucap tara dengan senyum imutnya.


Leonhard yang melihatnya tidak tahan dan akhirnya mencubit pipi tara dengan pelan. Dia merasa gemas dengan tingkah imut tara


“ sama sama adik kecil “


“ uwaa, kuak..luwepwaskan, suakit “


“ KAKAK!, APA YANG KAKAK LAKUKAN?! LEPASKAN TARA!”, teriak erik tidak terima


“ apa?, kau iri bukan? “, ucap leonhard

__ADS_1


“ T-TIDAK!, SIAPA BILANG!? “, leonhard melepaskan cubitannya dan menatap erik


“ lalu apa masalahmu?, pasti kau merasa kalah bersaing denganku bukan, karena tara lebih suka denganku “


“ TIDAK!, tara lebih menyukaiku dari pada kakak “, ucap erik tidak mau kalah


“ baiklah kita dengarkan tara, apa dia lebih suka padaku atau kau “


“ baik!, tara kau lebih suka padaku bukan? “


“ tara, kau lebi menyukai kakak kan? “


“ eh?, i-itu..”, tara bingung ingin menjawab apa, dia masih memegangi pipi yang tadi di cubit oleh leonhard


“ siapa yang lebih kau sukai? “, ucap leonhard dan erik bersamaan


“ i-itu..”, ditengah kebingungan, terdapat satu jawaban. Tara melirik kearah tara yang sedang memperhatikan perdebatan sambil meminum kopinya. Seketika tara mendapatkan ide jawaban. “ aku lebih suka pada ayah “, jawab tara dengan senyum polosnya.


Leonhard dan erik yang mendengar jawaban tara, seketika murung dan terdiam di tempat duduk mereka masing masing, sedangkan ayah yang mendengarnya terlihat sangat senang hingga keluar efek bunga di sekitarnya. Ibu yang menyaksikan, hanya tertawa kecil.


“ baiklah, ini saatnya sarapan, makan makanan kalian “


“ baik “, tara membagi makanannya dengan luci yang ada di depannya duduk diatas meja makan, ayah memakan sarapan dengan lahap, ibu makan dengan perlahan, sedangkan leonhard dan erik seperti tidak nafsu makan akibat masih syok dengan jawaban tara.


(apa aku sudah berlebihan ya? ),Tara yang melihatnya, merasa tidak tega dengan mereka.


“ um, kak leon, kak erik, jangan khawatir bagiku kalianlah kakak yang terbaik “, hibur tara


Mendengarnya leonhard dan erik auto membanggakan diri mereka dan terlihat kembali bersemangat.


“ ehem ehem, kau lupa levelmu masih ada dibawahku erik? “


“ JANGAN BAHAS ITU! “


Tara hanya bisa tertawa kecil melihat mereka. Meskipun mereka sering bertengkar, tapi kehangatan antara keluarga sangat terasa. Akhirnya mereka makan sarapan mereka sampai habis tak tersisa.


Ibu membereskan piring piring dan gelas kotor yang digunakan tadi. Tara berusaha untuk membantu ibu membereskannya juga.


“ tara, tak apa, biarkan ibu saja yang membersihkannya “


“ tidak, aku ingin membantu ibu “


Tara turun dari kursi dengan sedikit melompat membawa beberapa tumpuk piring dan satu gelas di tangannya. Dia berjalan kearah ibu yang sedang mencuci beberapa piring. Tara mengulurkan piring itu kearah ibu dan ibu menerimanya.


“ kau sangat hebat, mulai dari sini, biar ibu saja yang bereskan, kau bersiaplah untuk latihanmu ya? “


“ un, baiklah “


Tara berbalik menghampiri ayah, leonhard dan erik.


“ ayah, kakak, kapan kita mulai latihannya? “


“ kita bisa lakukan sekarang “, ucap leonhard


“ ayo!, aku sudah tidak sabar lagi untuk menunjukkan keahlianku! “

__ADS_1


BLETAK, leonhard memukul kepala erik karena kesal dengan tingkahnya.


“ kenapa kakak memukulku..”


“ karena kau menyebalkan”, ucap leonhard dingin


“ APA?!”


“ sudahlah, ayo kita pergi ke halaman belakang, disana cocok untuk memulai latihan sihir “, ucap ayah


“ iya, luci ayo kita kesana “, ucap tara


Luci ikut dengan layaknya seekor hewan. 


“ hati hati saat latihan ya, dan kalian bertiga jangan terlalu keras latihannya kalian mengerti? “, ucap ibu tegas menatap ayah, leonhard dan erik


“ baik..”, jawab mereka bersamaan.


Mereka berjalan kearah pintu belakang rumah dan ayah mambuka pintunya perlahan


KREK, suara pintu di buka. Sepertinya pintu itu jarang di buka. Saat pintu dibuka seutuhnya, cahaya matahari masuk kedalam dan menyilaukan mata tara. Tara tanpa sadar menypitkan matanya dan berjalan keluar perlahan. Seiring dengan langkah tara, dia mulai biasa denga cahaya itu dan dia melihat pemandangan hamparan rumput hijau luas di hadapannya


Dia terpaku melihat pemandangan itu. Angin bertiup dengan udara yang segar disekitarnya, membuat semua orang yang ada di tempat itu nyaman, dengan cuaca yang cerah dengan langit yang biru. Tara tidak menyangka ada tempat seperti itu di rumahnya.


“wah..indah sekali “, tara senang dan berlarian bersama luci disekitar tempat itu tanpa ragu.


Ayah, leonhard, dan erik juga menikmatinya, mereka seperti nostalgia dengan tempat itu. Mereka bertiga menghampiri tara yang berhenti berlari di bawah pohon.


“ baiklah, disini kita akan latihan, kau sudah siap tara? “, ucap ayah


“ iya! “


“ kita mulai dari pemanasan terlebih dahulu, ini sangat penting sebelum memulai latihan, sekarang apa kau bisa ari keliling halaman ini? “


Tara melihat sekitar halaman, sangat luas, seluas lapangan perlombaan lari maraton.


“ aku akan berusaha”, ucap tara semangat


“ tara, aku akan menemanimu lari ya”, ucap erik dengan nada semangat


“ baik..”


“ lari lima putaran dari sini “, ucap leohard


“ kakak tidak ikut lari? “, ucap tara


“ tara, kau bagaimana sih, tentu saja kak leon tidak ikut lari diakan pemalas”, ejek erik


“ apa kau bilang?!, baik, aku akan lari lima putaran lebih cepat darimu “


“ oke, siapa takut “


Ayah, tara, dan luci hanya bisa melihat mereka, tidak ada yang bisa menghentikan mereka. Sebuah latihan berubah menjadi sebuah pertandingan antara kakak beradik yang satu ini. T_T


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2