Monogatari No Ato

Monogatari No Ato
Ch.6


__ADS_3

Ch.6


Saat keluar dari kamar, Tara melihat keseluruh penjuru arah. Di hadapan kamar Tara dihadapkan dinding yang terbuat dari kayu yang sedikit usang dan dihadapkan anak tangga yang lumayan panjang di sebelah kanan pintu kamarnya. Jika dilihat lihat, sepertinya kamar Tara berada paling ujung di rumahnya dan berada di lantai atas rumah.


Tara berfikir, apa benar ini di wilayah desa kecil?, apa rumah desa memiliki dua lantai dan seluas ini?, bahkan apartemen mahal di Tokyo hanya memiliki satu lantai dan berukuran kecil


( ternyata ini di lantai atas?, berbeda dari yang aku bayangkan ), batin tara 


“ ayo kita turun “, ajak luci


Tara mengangguk. Mereka menuruni satu persatu anak tangga dengan hati hati, terutama tara. Anak berumur lima tahun menuruni tangga yang panjang serta membawa nampan dengan mangkuk dan gelas kosong. Dia harus berhati hati untuk menuruni anak tangga tersebut agar tidak jatuh dan berakibat fatal baginya.


Dengan hati hati, tara menuruni tangga dengan kaki kecilnya. Dia mulai melihat dasar dari tangga itu. Satu persatu tangga telah ia turuni dan akhirnya dia sampai di dasar bersama luci. Saat sampai di dasar, dia melihat ayah dan kakak pertamanya leonhard yang sedang mengangkat dan merapikan kotak kotak yang sepertinya berisi bahan makanan untuk cadangan di rumah.


Leonhard menyadari kedatangan Tara lalu menatap tara. Dia terkejut, kenapa tiba tiba Tara datang ke lantai dasar


“ Tara..apa yang kau lakukan disini? “, ucap leonhard melihat tara


Mendengar ucapan anak pertamanya, ayah lalu menoleh ke leonhard sekilas lalu melihat tara yang berdiri di dekat tangga dengan membawa nampannya


“ Tara “, ayah menghampiri tara, “ kau baik baik saja?, sudah baikan?, ada apa kau kemari?, kau kangen dengan ayah ya?, oh, atau ingin bermain dengan ayah? “, pertanyaan datang bertubi tubi pada tara


“ itu..”


“ ayah, jika kau bertanya begitu tara akan bingung “, ucap leonhard


“ eh?!, maaf “, ucap ayah kecewa


“ leonhard, ayah, ada apa ribut ribut....eh?, tara kenapa kau kemari?, apa kau baik baik saja? “, ucap ibu yang tiba tiba datang dan menghampiri tara setelah melihatnya disana dengan pertanyaan yang terasa kekhawatiran


“ itu..”


“ Tara, kau ada disini? “, tara belum menyelesaikan ucapannya namun sudah dipotong oleh erik yang tiba tiba datang


“ itu, ini..aku membawa nampan sarapan tadi “, ucap luci di depan mereka berempat yang menatapnya


” seharusnya kau tidak perlu sampai membawanya kemari, kan bisa ibu nanti yang bereskan, apa kau suka dengan masakan ibu? “, ucap ibu meminta nampan itu dari tara. Tara menyerahkan nampan itu pada ibu dengan senyumannya


“ iya aku suka, tidak hanya aku tapi luci juga menyukainya “


“ Luci? “, ucap mereka berempat bersamaan dan memiringkan kepala mereka


“ ah, luci itu adalah nama kelinciku “, tara menunjuk luci yang berada di atas kepala tara


Mereka baru menyadari bahwa luci ada di atas kepala tara. Pantas saja mereka merasakan aneh di kepala tara.


“ luci, nama yang bagus dan sangat sesuai dengannya “, ucap leonhard memandangai luci di atas kepala tara


“ iya kau benar “, erik juga ikut memandangi luci


“ benarkah?, apa ada sesuatu dengan nama yang kuberikan pada kelinci ini? “, ucap tara penasaran


“ luci, adalah nama makhluk suci dengan kekuatan kehidupan. Dia adalah sang keinginan “, jelas ibu


 “ dan kebetulan, wujudnya adalah seekor kelinci di tambah kita sangat mengaguminya “, tambah ayah


Luci yang ada di atas kepala tara merasa bangga dengan dirinya

__ADS_1


( mereka tau tentang makhluk suci rupanya ), “ anu, kenapa kita sangat mengaguminya?, bukankah ada Charlotte yang lebih kuat? “, ucap tara.


( JANGAN SAMAKAN AKU DENGAN SI SINGA ITU! ) Luci yang awalnya bangga menjadi kesal dengan ucapan tara.


Ibu tara menjelaskan bahwa, makhluk suci sang keinginan sangat berpengaruh dengan daerah lingkungan desa. Para penduduk desa yang memiliki keinginan untuk hidup tentram di desa terus berdoa dan meneguhkan keinginannya. Akhirnya makhluk suci luci mendengarkan keinginan mereka dan mengabulkan keinginan mereka.


“ hebat! “, ucap tara dengan mata yang berbicar dengan cerita ibu


“ dan satu hal lagi, tara..pagi ini kau melihat pemandangan di balik jendela kamarmu bukan? “, ucap ibu kembali


“ iya. “


“ pemandangan hijau dan sawah sawah serta tanaman yang tumbuh subur itu adalah hasil kerjakeras penduduk desa dan atas bantuan dari makhluk suci luci yang memiliki kekuatan kehidupan itu “


( pantas saja mereka sangat mengagumi luci, ternyata luci hebat juga )


“ ya..penduduk desa sangat berterimakasih padanya, berkat dia petani desa bisa memenuhi kebutuhan mereka “, ucap erik


“ benar, dia juga membantu para prajurit untuk menemukan tanaman obat pasca perang dulu terjadi “, tambah leonhard


“ jadi begitu “, semuanya menganggukkan kepala mereka


“ hei, apa kau lupa tujuanmu mendatangi mereka? “, ucap Luci pada Tara


“ ah, benar. Mm..ada yang ingin aku katakan pada kalian “, tanya Tara pada keluarganya


“ iya?”, semuanya serentak mengatakannya


( kompak sekali. ), “ itu, apa aku bisa belajar sihir? “


“ kau ingin belajar sihir? “


“ apa kau yakin soal itu, Tara? “


Leonhard dan Erik bertanya di waktu yang sama.


“ iya “, jawab tara dengan tegas dan pasti


“ kenapa tiba tiba kau ingin belajar sihir? “, tanya ibu


( gawat!, aku harus menjawab apa? ), “ em..itu, anu “, ucap tara terbata bata sambil memikirkan jawaban


“ bilang saja kau belajar sihir untuk melindungi dirimu “, ucap luci


“ ah, aku belajar sihir untuk perlindungan diri, aku ingin menjadi kuat seperti ayah dan kakak “, ucap tara setelah mendengarkan luci


“ tapi..apa kau akan baik baik saja? “, ucap ibu dengan khawatir


Mereka memandangi Tara dengan rasa khawatir padanya. Patut di maklumi mereka khawatir padanya, Tara yang memiliki tubuh lemah ingin belajar sihir. Mereka terdiam sejenak. Melihat mereka diam dengan rasa khawatir, Tara tersenyum tipis pada mereka


“ aku baik baik saja, kalian jangan khawatir. Aku tidak akan memaksakan diri dan juga bisa jadi nanti aku akan lebih kuat dari pada ayah dan kakak, lalu aku akan menghajar para penjahat, hiat! “, hibur tara dengan bertingkah lucu


Melihat tingkah tara mereka tersenyum satu sama lain. Satu sisi mereka mengkhawatirkan Tara, tapi di satu sisi mereka senang melihat Tara bersemangat seperti sekarang. Mereka tidak bisa melarang Tara dengan apa yang dia ingin lakukan.


“ baiklah, tapi dengan satu syarat. Kau tidak boleh memaksakan dirimu ya? “, ucap ibu diikuti anggukan ayah, leonhard dan erik


“ iya! “,( luci, kita berhasil ) Tara sangat bersemangat. Mereka tersenyum bersama melihatnya, jarang jarang Tara bersemangat seperti itu.

__ADS_1


“ kita berhasil! “, ucap luci girang


“ kita mulai latihannya besok ya? “, ucap leonhard


“ iya kak “


“ Tara, besok aku akan berusaha yang terbaik untukmu “, ucap erik dengan memandang tara dengan penuh kepercayaan diri


“ apa maksudmu?, kita akan menentukan urutan siapa yang akan mengajari tara duluan “, ucap leonhard pada erik


“ apa?!, aku yang harus pertama mengajari Tara “


“ jangan bermimpi, aku yang harus mengajari Tara pertama kali. Peringkatku lebih tinggi dari pada kau “, ucap leonhard tak mau kalah


“ peringkat kita hanya berbeda satu tingkat, jadi tidak ada bedanya! “, ucap erik kesal


“ tetap saja aku yang tertinggi “


“ KETERLALUAN! “


“ kalian berhenti bertengkar, sepertinya siapa yang mengajari Tara tidak penting dan pertengkaran kalian sia sia saja “, ucap ibu


“ apa maksud ibu ‘sia sia’? “, ucap erik


“ ayah sudah mengambilnya duluan “, ucap ibu kembali sambil menunjuk ayah yang mengobrol dengan Tara


 “ AYAH! “, teriak leonhard dan erik menatap ayah. “ ya? “, Ayah menoleh ke arah mereka dengan raut wajah polos


“ kita harus menentukan urutannya terlebih dahulu! “


“ benar. “


“ baiklah, kita undi. Siapa yang menang, dia yang mengajari Tara pertama kali “, mereka mengangguk. Ayah menyiapkan tiga sedotan. Dia menggenggam sedotan itu, ujung sedotan yang terlihat disamakan panjangnya 


“ sedotan siapa yang paling pendek, dia pemenangnya “, ucap ayah sebelum memulai undiannya.


Leonhard dan erik mengangguk bersama. Sebelum di mulai, mereka memandangi sedotannya dengan serius.


“ baik, mulai “, mereka mengambil sedotan bersamaan dan langsung memperlihatkan sedotan yang mereka ambil. Tara dan ibu melihat sedotan mereka, dan mencari pemenangnya.


Hal aneh terjadi. Saat mereka memperlihatkan sedotan mereka, ternyata..


“ em..ayah..”


“ ya? “


“kenapa panjang sedotan ini sama?! “


“ aku lupa memotongnya. “


.................., seketika hening


“ AYAH! “, mereka semua meneriaki ayah bersamaan


“ maaf.. “, ucap ayah memohon ampun atas keteledorannya


^^^BERSAMBUNG...^^^

__ADS_1


__ADS_2