Monogatari No Ato

Monogatari No Ato
Ch.10


__ADS_3

Ch.10


Malamnya...


“ SELAMAT ATAS KEBERHASILANMU! “, teriak ayah, ibu, dan erik bersamaan. Leonhard yang pendiam hanya tersenyum pada tara.


Setelah latihan, mereka benar benar sibuk dengan perayaan. Padahal hanya perayaan keberhasilan, namun kesibukan mereka sudah seperti perayaan kelahiran nona bangsawan saja.


Tara yang melihat mereka begitu semangat, tersenyum. Syukurlah mereka tidak khawatir lagi padanya. Mereka sepertinya juga sudah menerima sepenuhnya latihan tara tanpa ada perasaan khawatir sedikit pun.


“ tara..kemarilah “


Tara berjalan ke arah leonhard yang memanggilnya. Leonhard kemudian memasangkan sebuah liontin perak berbentuk bintang dan ada lingkaran di sekitarnya.


“ ini hadiah dari kami “, ucap leonhard dengan nada lembut


“ kami tidak tau apa kesukaanmu”, ucap erik


“ karena kami tidak sengaja menemukan liontin itu..”


“...saat kami melihatnya, kami teringat denganmu “, ucap ayah dan ibu bergantian


“ warna silver dan bintang ini, mengingatkan kami padamu, karena kau adalah bintang di keluarga ini “, sambung leonhard. Tara yang mendapatkan semua perhatian dari keluarganya merasa senang sekaligus terharu. Dia tidak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari seseorang.


Tanpa dia sadari, dia memeluk leonhard yang ada di hadapannya dengan tangisan bahagia yang menyelimutinya. Leonhard membalas pelukan tara dengan lembut, melihat leonhard dan tara berpelukan, luci yang melihatnya ikut memeluk tara. Erik juga turut memeluk mereka di ikuti dengan ibu lalu ayah. Mereka semua berpelukan penuh dengan kasih sayang.


Setelah itu, mereka melepaskan pelukan mereka dan memulai perayaan dengan rasa bahagia. Suasana di rumah menjadi hangat dan dipenuhi tawa bahagia. Mereka merayakannya hingga larut malam. Tara yang lelah akibat latihan tadi, sudah mulai mengantuk, tapi dia masih ingin merayakannya bersama mereka.


“ ..semuanya..”, ucap tara lirih namun dapat didengar oleh mereka, mereka menoleh menatap tara.


“...aku...menyayangi...kalian...”, ucap tara lirih karena mengantuk dan kemudian dia ketiduran di tengah perayaan. Mendengar ucapan tara sebelum tertidur, ayah,ibu,leonhard, dan erik tersenyum senang.


( ibu, juga sayang padamu tara )


( ayah juga menyayangimu, bintang kecilku )


( aku juga menyayangimu adik manis! )


( aku juga...menyayangimu )


Batin mereka semua membalas ucapan tara. Mereka tersenyum lembut dan leohard berdiri kemudian menggendong tara dengan pelan.


“ aku akan membawanya “, bisik leonhard pada ayah, ibu, dan erik supaya tara tidak terbangun


Mereka mengangguk paham dan leonhard berjalan ke arah kamar tara. Leonhard menaiki tangga satu persatu sambil menggendong tara dengan hati hati. Sampai di depan pintu kamar tara, leonhard membukanya. Luci juga mengikuti mereka di belakang. Leonhard masuk kedalam dan menidurkan tara di atas tempat tidur tara dengan perlahan. Dia juga menyelimutinya dengan selimut, kemudian mengelus kepala tara dengan pelan.


“ selamat malam, adik kecil, mimpi indah “, ucap leonhard lirih, kemudian dia berjalan keluar dan menutup pintu dengan sangat hati hati sehingga tidak menghasilkan suara.


Setelah leonhard keluar, tara terlihat tersenyum tipis di tidurnya. Luci yang melihat ekspresi tara ikut tersenyum, lega rasanya tara bisa bahagia. Luci sempat khawatir tara merasa sangat tertekan dengan ini semua.


“ jangan pernah melupakan ini tara..kau tidak sendirian “, gumam luci tenang kemudian dia juga ikut berbaring di tempat tidur disamping tara dan tertidur. Akhirnya tara dan luci tidur bersama sepanjang malam.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, bayangan hitam yang muncul tadi siang di halaman belakang tempat latihan tara, kembali muncul dan mengawasi tara di samping tempat tidurnya kemudian menghilang tanpa jejak. Karena tara dan luci tertidur, mereka tidak menyadari kemunculan bayangan itu.


Keesokan harinya, setelah melewati malam panjang. Tara sedikit terlambat dari biasanya. Dia membuka matanya perlahan. Pandangannya semakin lama semakin jelas. Kemudian dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah jendela lalu membukanya. Cahaya muncul saat tara membukanya dan menyilaukan mata tara. Tanpa sadar tara menyipitkan matanya, dia membiasakan matanya terhadap cahaya yang masuk.


( sudah pagi ya? ), bati tara. Tara memandangi liontin yang diberikan keluarganya kemarin. Liotin itu bersinar ketika terkena sinar metahari. Sangat indah.


Tara membalikkan badan dan melihat luci yang masih tertidur di atas temppat tidurnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dengan perlahan supaya luci tidak terbangun.


Tara masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Rasa lelah yang tara rasakan seketika hilang setelah membersihkan diri. Tara berjalan keluar ke arah lemari pakaian dengan tubuhnya yang di selimuti handuk. Lalu membuka lemarinya dan memilih pakaian biasa. Dia memakainya kemudian bercermin sambil menyisir rambutnya yang panjang lalu mengikatnya. Dia sangat menyukai rambutnya yang terikat karena tidak mengganggu pandangan saat beraktivitas.


Sudah selesai mempersiapkan dirinya, kemudia tara membangunkan luci. Dia mengguncangkan tubuh luci supaya terbangun. Namun tidak disangka, luci sangat sulit untuk di bangunkan. Tara mulai kesal.


“ LUCI BANGUN! “, teriak tara tepat di telinga luci. Luci pun sontak melompat karena terkejut. Luci pun akhirnya sadar bahwa itu perbuatan tara dan dia melayang ke arahnya dan memukul kepala tara dengan tangan kelincinya. Meskipun dengan tangan kelinci, namun kekuatannya luar biasa ampuh untuk membuat kepala benjol :D


BLETAK


“ sakit...” ucap tara lirih sambil memegang kepalanya yang dipukul oleh luci


“ tidak usah berteriak seperti itu aku juga bisa bangun, kau ini keterlaluan! “, ucap luci sedikit meninggika suaranya


“ aku sudah melakukannya tapi kauutidak bangun bangun jadi aku meneriakimu “


“ eh?, begitukah? “, ucap luci mengalihkan pandangannya dari tara


“ IYA! “,teriak tara kesal


Luci hanya tersenyum kaku dan mulai berkeringat dingin. Tara kesal dengan tingkah luci dan mencubit ke dua pipi luci.


“ lain kali kau harus segera bangun dasar pemalas! “


Tara melepaskan cubitannya. Setelah tara melepaskan cubitannya, luci langsung memegang ke dua pipinya yang dicubit. Tara memandangi luci dengan tajam.


“ a-apa yang kau lihat? “, luci bingung dengan tatapan tara padanya. 


“ hmm...sepertinya sekarang waktunya kau untuk mandi “


“ apa? “


Tara berfikir untuk memandikan luci dengan cara yang tidak biasa. Tara memandang luci dengan tatapan dan senyuman jahilnya. Perasaan luci tidak enak karena pandangan tara yang menuju padanya, sontak luci mulai berkeringat dingin. Tara perlahan lahan mendekat ke arah luci. Luci pun menjauh perlahan seiring tara mendekatinya. Luci akhirnya terpojok.


“ ta-tara..tunggu “


“ apa ada masalah?, jangan takut ini tidak akan lama “, ucap tara tersenyum jahil pada luci


“ ji-jika kau berfikir aku harus mandi itu tidak perlu! “, luci terlihat gugup


“ tidak perlu? “


“ benar tidak perlu, li-lihat ini “, luci mengucapkan sebuah mantra dan seketika lingkaran sihir yang memiliki sinar biru muncul di atas mereka. Di lingkaran sihir itu muncul gelembung gelembung air yang jumlahnya lumayan banyak. Gelembung air tersebut kemudian terjatuh seperti hujan. Tara yang menyadarinya langsung menghindarnya. Luci hanya terdiam di sana dan akhirnya gelembung air tersebut menghujani luci. Luci basah kuyub seperti selesai berenang di kolam. Tara yang tadinya menghindar hanya terkena cipratan air di kakinya.


“ lihatkan..aku tidak perlu mandi, ini lebih efisien bukan? “, entah kenapa luci merasa bangga dengan dirinya sambil tertawa tak terkendali.

__ADS_1


Tidak tinggal diam. Tara menundukkan kepalanya dan berjalan mendekati luci, saat luci sudah di hadapannya. Tanpa basa basi karena kesal dengan luci yang melakukan sihir secara asal dan tiba tiba, tara memukul kepala luci dengan cukup keras.


BLETAK


Luci seketika berhenti tertawa dan memegangi kepalanya (menahan sakit) yang tadi dipukul oleh tara. 


“ kenapa kau memukulku? “, ucap luci dengan nada lirih


“ KALAU INGIN MELAKUKAN SIHIR SEPERTI ITU BILANG!, AKU HAMPIR TERKENA TAU! “, ucap tara dengan sedikit meninggikan suaranya


“..aku minta maaf..”, ucap luci menyesal


Tara secara tidak sadar menggembungkan kedua pipinya. Dia menatap luci yang sepertinya benar benar menyesal dengan apa yang telah dia perbuat.


“ baiklah. “, tara menghembuskan nafas panjang menenangkan dirinya. “ ini “, tara mengulurkan handuk pada luci untuk mengeringkan tubuhnya yang terguyur air tadi. Luci menerimanya kemudia membalutkannya ke tubuhnya.


“ terimakasih “, ucap luci


“ dari pada itu, kapan kau akan mengatakannya padaku? “


“ katakan apa? “, luci masih sibuk mengeringkan tubuhnya.


“ kau sudah berjanji bukan? Jika aku sudah belajar sihir kau akan mengatakan semuanya tentang dunia ini “


“ ah, itu rupanya. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang “


“ kenapa? “


Karena tubuh luci sudah sedikit kering, dia berhenti mengeringkan tubuhnya dan meletakkan handuk di kursi yang ada di sebelahnya. Kemudian dia menatap tara dan mulai serius dengan situasinya.


Luci menjelaskan bahwa tara belum siap dengan semua informasi di dunia ini karena dia masih terlalu awal untuk mengetahuinya. Itu semua karena kemampuan tara yang masih kurang. Saat ini, tara hanya bisa mengendalikan mana namun belum bisa menggunakannya dengan baik. Tara juga harus memperkuat tubuhnya terlebih dahulu.


“ jadi kau harus menguasai semuanya terlebih dahulu, jika kau sudah bisa menguasai semua sihir dan memperkuat fisikmu, baru aku akan memberitahumu mengenai semua hal yang ada di dunia ini “


“ berapa lama aku bisa menguasai semua itu? “


“ untuk manusia biasa, umumnya berhasil menguasai sihir selama kurang lebih sepuluh tahun dan untuk fisik mungkin sekitan lima tahun “


“ APA?!, ja-ja-jadi aku harus menguasai semua itu, se-selama lima belas tahun? “, ucap tara gagap karena syok mendengar penjelasan luci


“ pengecualian untukmu, karena kau di takdirkan sebagai sang emores, kau bisa menguasainya lebih cepat dari manusia biasa “, sambung luci


Tara yang mendengarnnya kembali semangat.


“ berapa lama? “, tanya tara yang mendekatkan wajahnya ke luci.


“ sepuluh tahun “


Seketika hening menyelimuti..


“ APA APAAN ITU SAMA SAJA LA*NAT! “

__ADS_1


Tara kesal dan akhirnya luci dipukul untuk yang kedua kalinya. Luci tersungkur di bawah dengan kepalanya yang benjol. Malangnya nasib luci. T-T


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2