Monogatari No Ato

Monogatari No Ato
Ch.13


__ADS_3

Ch.13


Mendapatkan persyaratan dari volen, tara mempertimbangkannya dengan serius. Dia juga mendiskusikannya dengan luci, meskipun awalnya dia kesal dengan luci karena tidak memberitahu sebelumnya tentang ini.


“ kenapa..kau..tidak langsung...menerimanya? “, ucap luci kelelahan karena berlarian dengan tempran


“ sebenarnya kenapa kau ingin aku menjalin kontrak dengan sang kebaikan hati? “


“ itu..karena..”, luci menjelaskan maksud dia sebenarnya pada tara. Luci ingin tara menerima persyaratan dan menjalin kontrak dengan sang kebaikan hati karena bisa menjadi tantangan yang akan berguna saat dia akan membasmi para iblis kegelapan nantinya. Dalam persyaratan itu juga akan bisa menambah pengetahuan tara tentang element angin, meskipun tara nantinya gagal, dia secara tidak langsung mendapatkan keuntungan dari persyaratan tersebut. Keuntungan yang di dapatkan tara bisa berupa pengalaman bertarung, mengatur strategi dan meningkatkan kekuatan elementnya nanti.


Tara mengangguk paham dengan maksud luci, dia menghampiri volen dan menyetujui persyaratannya. Tara akan berusaha menaklukan angin sang kebaikan hati. Dengan meyakinkan dirinya, tara siap dengan apa yang akan dihadapinya nanti. Sebelum memulainya, luci menyuruh tempran membuat dinding pelindung sebagai pembatas. Tempran membuatnya dengan senang hati namun ini demi tara bukan demi luci. Sebenarnya dia kesal karena diperintah oleh luci.


Setelah memasang dinding pelindung di sekitarnya, volen menciptakan pusaran angin besar di sekitar tara. Daun, pohon, pasir, dan rumput di sekitarnya terbang terbawa angin. Kini tara perlu bertahan dan mencoba mengendalikannya.  Penglihatan tara terganggu oleh pasir pasir yang berterbangan akbibat pusaran angin yang ada disekelilingnya. Tugas luci, tempran, dan volen adalah mengawasi tara supaya tidak ada hal yang tidak diinginkan terjadi.


Tara berusaha untuk berkonsentrasi di tengah angin tersebut, namun sangat sulit karena kecepatan angin ini yang terus bertambah cepat di setiap menitnya. Dia harus bertahan supaya tidak terbawa oleh angin. Tara menenangkan pikirannya dan menutup kedua matanya, berdiri dengan posisi tegak dan merasakan setiap gerakan angin yang mengelilinginya.


Konsentrasinya pecah ketika dia terkena ranting pohon yang terbang terbawa angin dan mengenai wajah dan lengannya. Itu tidak menyebabkan tuka parah namun, pipi dan lengan tara tergores ujung ranting yang tajam. Luka itu mengeluarkan sedikit darah.


Tara melupakan rasa sakitnya dan kembali berkonsentrasi dengan angin. Dia merasakan kecepatan, suara, dan bentuk angin yang mengelilinya. Hingga dia mengulurkan tangan kanannya kedepan dan mencoba menyatu dengan angin tersebut. 


Namun ada yang aneh, angin tersebut tidak ingin menerima permintaan tara, akibatnya angin tersebut semakin kencang berhembus.


( ugh!, sangat jelas sekali angin ini tidak menerimaku sama sekali ), batin tara berusaha untuk bertahan. Karena kencangnya angin, kaki tara mulai melemah, keseimbangan tara mulai goyah. Dia harus cepat memikirkan bagaimana caranya untuk bisa mengendalikan angin itu.


“ hei, kelinci. Apa kau yakin dia bisa mengendalikannya? “, ucap tempran sambil memperhatikan tara


“ tsk. Kita lihat saja nanti “


“ tapi..apa dia tidak terlalu memaksakan dirinya? “, volen sang kebaikan hati tentu saja merasa khawatir


“ vol, saat ini kita tidak bisa berbuat apa apa, kita hanya bisa percaya pada kemampuan Sang Emores”


Volen mengangguk paham dengan ucapan luci. Luci menyaksikan tara dengan rasa yakin dan percaya dia bisa menaklukkan angin itu.


Kaki tara sudah tidak bisa menahan lebih lama. Tara terseret dan jatuh tersungkur di tanah. Dia mencoba bertahan di posisinya dan memikirkan bagaimana caranya dia bisa mengendalikan angin itu.


( apa yang harus aku lakukan? ), batin tara. Dia mengingat kembali pelajaran sihir yang di berikan oleh erik kemarin.


Ingat satu hal tara, setiap element mempunyai karakternya masing masing. Api, melambangkan keberanian, air, melambangkan kemurnian dan kesembuhan, halilintar, melambangkan keadilan, tanah, melambangkan kegigihan, cahaya, melambangkan kesucian, kehidupan, melambangkan keinginan untuk bertahan, dan angin, melambangkan ketidak putus asaan. Maka dari itu, jika kau mengendalikan angin, kau harus meyakinkannya dan tidak menyerah untuk mendapatkan keyakinan mereka.


( itu dia! )


Tara menemukan solusi dan mulai bersemangat kembali. Dia berusaha untuk bangkit dan menenangkan pikirannya.


“ kalian tidak menerimaku rupanya..., apa kalian akan terus begini karena tidak yakin denganku? ”, gumam tara dengan menguatkan pijakannya agar tidak terseret kembali oleh angin yang berhembus kencang.


“ aku sudah mengalami berbagai hal yang bahkan tidak aku inginkan, dan untuk ini aku tidak akan menyerah, aku akan membuat kalian yakin padaku! “


Tara mengeluarkan kekuatan dari tubuhnya dan mengumpulkan mana ke jantungnya. Dia berusaha untuk menyatu dengan angin dengan konsentrasi yang tinggi. Saat tara mengeluarkan kekuatannya suasana di sekitar berubah seketika.


“ hoo..dia mulai menggunakan kekuatan rupanya “


“ kekuata apa ini?!, aku tidak pernah merasakan sebelumnya “

__ADS_1


“ karena kekuatan ini, suasana angin sangat jauh berbeda! “


“ sudah aku duga kalian akan terkejut melihatnya. Kekuatan ini, adalah kekuatan paling murni di antara semua kekuatan di dunia ini “


“ murni katamu?! “


“ iya. Aku juga terkejut saat dia pertama kali mengendalikan mana waktu itu, aura yang di pancarkan sangat bersih “


“ itu berarti, dia memiliki kekuatan sangat murni di bandingkan dengan keturunan bangsawan, tidak. Ini bahkan lebih murni dari kita para makhluk suci “


Mereka bertiga menatap tara terus menerus. Mereka bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya. Rasa penasaran akan hasil akhir yang tara dapat, dan kekuatan apa yang masih tersembunyi di dalam jiwa tara, membuat para makhluk suci berambisi untuk berada di sisi tara.


Tara bertahan di posisinya saat ini. Dia meningkatkan kekuatannya berkali kali, namun angin masih saja menolak tara dengan paksa.


“ oh, ayo lah, apa kalian akan terus menerus menolakku?, aku masih anak berusia lima tahun tau!, apa kalian tidak bisa memberikan diskon harga?! “


(meskipun hebat, dia payah juga ), batin luci, volen, dan tempran yang berfikiran sama saat mendengar ucapan tara berteriak di tengah tengah angin kencang.


( sedikit lagi ), tara terus mengumpulkan mana ke jantungnya dan merasakan setiap gerakan angin. Dia mulai memahami gerak geriknya,namun seiring dia mengerti dia juga semakin mendapatkan penolakan. Angin berhembus pada tara dengan kuat membuat tubuh tara mati rasa. Tara terdiam di posisi tanpa melakukan apapun selain mengumpulkan energi dan mananya.


“ apa yang dia lakukan?, apa dia akan diam terus seperti itu? “


“ kita akan tau nanti “, ( aku yakin kau pasti bisa melakukannya )


Semua menyaksikan tara dengan penuh harapan dia berhasil menaklukkan angin itu dengan kemampuannya.


Di saat yang sama, tara memejamkan kedua matanya dan membayangkan angi di kepalanya. Semakin lama tara bisa merasakan dengan jelas inti dari angin yang ter menerus berhembus dengan kencangnya.


( ini dia saatnya )


Cahaya samar muncul menyelimuti di sekujur tubuh tara. Melihat kekuatan besar yang ada di gemgaman tara, para mahkluk suci yang menyaksikannya tersentak terkejut. Bahkan luci yang pertama kali menemui tara terkejut di buatnya.


“ inilah saatnya, membuat kalian yakin padaku!”, tara menghempaskan kekuata besar itu ke tanah. Seketika angin berhenti mulai dari tempat dimana tara menghempaskan kekuatannya, kemudian menjalar ke sekitar menciptakan angin yang berlawanan arah dari sebelumnya. Angin yang berasal dari kakekuatan tara itu berhembus kearah ketiga mahkluk suci. Angin sang kebaikan hati berhasil tara taklukkan dengan kekuatannya sendiri. Daun daun, berhenti beterbagan, pohon pohon mulai tenang, pasir mulai berhenti terbawa angin. Seketika anginbesar yang tadi mengelilinginya hilang, menyisakan hembusan angin yang ramah dan lembut.


Luci, volen, dan tempran mendekati tara yang terbaring lemas setelah menggunakan kekuatannya.


“ tara, kau baik baik saja? “, tara tidak merespon luci


“ sepertinya dia kelela-“


“ WOI KAU MASIH HIDUP KAN?! “, teriak tempran dan luci kompak menyela ucapan volen. Tara yang mendengarnya kemudian mengangkat kepalanya, menatap mereka bertiga, dan kemudian tersenyum lebar sambil mengacungkan ibu jarinya menandakan dia baik baik saja (masih hidup). 


“ huft..kau masih hidup rupanya “, jawab luci dengan tampangg tak berperasaa. Tara yang melihatnya meraih kerikil kecil dan melemparkannya ke arah luci. Kerikil tersebut mengenai tepat di kepala luci. Seketika luci kesakitan dan memegangi kepala yang terkena lemparan tadi.


“ HEI! INI SAKIT! “


“ kau kira aku akan mati karena ini?, hah. Itu tidak akan terjadi “, tara bangkit dan terduduk di tempat. Tempran yang melihat luci benjol kesakitan tertawa keras dan mengejek luci. Luci tidak terima dan meraih kerikil yang lebih besar dari kerikil yang di lemparkan tara. Luci melemparnya ke kepala tempran, seketika tempran berhenti tertawa dan jatuh tersungkut, sambil memegangi kepalanya.


Tara dan volen tertawa kecil melihat mereka. Volen menatap tara dengan senang.


“ kau sudah berhasil mengendalikannya tara “


“ iya. Ini semua berkat kalian “

__ADS_1


“ Tara Shuya Starlia, aku Volen Mahkluk Suci Sang Kebaikan Hati meminta izin, untuk mendampingi... “, ucap volen menundukkan kepalanya. Melihat volen yang mengajukan kontraknya pada tara, tempran berdiri dan menghadap tara serta menunduk di hadapan tara.


“ ...aku Tempran Mahkluk Suci Sang Kegigihan meminta izin untuk mengabdi padamu..”, luci secara tiba tiba juga menunduk di hadapan tara.


“...aku Luci Mahkluk Suci Sang Keinginan meminta izin untuk selalu ada di sisimu..”


“..dan kami bersumpah atas nama mahkluk suci, untuk selalu setia terhadap orang yang kami layani “, ucap mereka bertiga bersamaan. Tara yang tidak pernah menerima permintaan dan ucapan sumpah itu pun merasa aneh dengan situasi itu. Dia menghembuskan nafas panjang dan tersenyum pada mereka.


“ Aku, Tara Shuya Starlia, menerima kalian bukan sebagai hubungan antara majikan dan bawahan. Namun, aku menerima kalian sebagai hubungan pertemanan antara manusia dengan mahkluk suci. “, ucap tara menerimasumpah ketiga mahkluk suci itu. Volen dan tempran tersentak terkejut dengan ucapan tara, berbeda dengan luci. Sepertinya luci sudah menduga tara akan mengatakan itu. Ketiga mahkluk suci itu tersenyum pada tara. Kemudian munculah lingkaran sihir bercahaya di bawah mereka menandakan telah terjalinnya kontrak antara tara dengan ketiga mahkluk suci. Saat lingkaran sihir itu menghilang, mereka sudah resmi menjalin kontrak. Kini mereka akan bekerja sama untuk berjuang kedepannya.


“ tara, mohon bantuannya mulai sekarang, panggil kami jika kau membutuhkan bantuan “, ucap volen tersenyum senang.


“ iya. Tentu saja. Tapi...kenapa sang kegigihan dan luci juga mengucapkan sumpah?, padahal aku belum melakukan apa apa untuk persyaratan kontrak? “


“ kau sudah memenuhi persyaratan denganku “


“ benar, denganku juga”


Ucap luci dan tempran bergantian.


“ kapan aku melakukannya?”


“ saat kau menghadapi angin volen tadi”


“ kami melihat kegigihan dan keinginanmu untuk menaklukan angin itu”


“ hmm..memang mengejutkan. Tapi sebagai orang pertama yang ada di sampingmu, kau memang hebat“, ucap luci senang


“ benar, aku dan tempran saja terkejut dengan kehebatanmu “


“ benarkah? Syukurlah kalau begitu “, ucap tara malu karena mendapatkan pujian


“ ya..dan aku harap kau memanggil kami dengan nama kami seperti kau memanggil luci, mau bagaimanapun, kami sudah menjalin kontrak denganmu sebagai teman bukan “, ucap tempran. Volen mengangguk setuju dengan tempran. Tara tersenyum pada mereka.


“ Luci, Volen, dan Tempran, mohon bantuannya “


Mendengar kata itu dari tara, mereka tersenyum satu sama lain. Dan suasana di antara mereka pun menjadi lebih akrab dari sebelumnya. Setelah itu, volen dan tempran pergi menuju ke tempat para makhluk suci berada meninggalkan tara dan luci berduaan. Tara masuk kedalam rumah, berjalan menuju ke kamar untuk membersihkan dirinya serta mengobati luka goresan akibat terkena ranting dan terjatuh tadi. Setelah itu, tara menuju ke dapur untuk mengisi perutnya yang kosong setelah latihan.


Bersamaan saat tara memakan makanannya, keluarganya pun pulang dengan membawa beberapa barang.


“ tara..kami pulang “


“ selamat datang, kalian membawakan permen kapasnya? “, tara menghampiri mereka dan langsung menanyakan permen kapas layaknya seorang anak berusia lima tahun. Ayah memberikan permen kapas padanya. Tara tersenyum senang dengan itu. 


“ AYAH!, AYAH! “, teriak ibu dari halaman belakang. Ayah, erik, dan leonhard yang mendengarnya pun langsung berlari menuju halaman belakang menghampiri erik.


“ sayang, ada apa kau berteriak? “


“ i-itu..halamannya..”, ibu menunjuk ke arah halaman yang ada di hadapannya. Semua orang tersentak terkejut dan membatu di sana, melihat halamannya yang berantakan seperti kapal hancur yang di terpa ombak besar.


“ KENAPA BISA JADI BEGINI?! “, ayah, dan erik berteriak terkejut


( aku lupa dengan itu! ), batin tara berkeringat dingin. Mereka menatap tara dengan tatapan penasaran apa yang terjadi selama mereka pergi. 

__ADS_1


Tara mengalihkan pandangan dari mereka. Luci asyik makan dan tidak memperdulikan mereka. Akhirnya tara di interogasi semalaman.


^^^BERSAMBUNG...^^^


__ADS_2