
Saat pingsan aku bermimpi kejadian 5 tahun yang lalu. Tepatnya saat penerimaan siswa baru tingkat SMP
“ Rui bekalmu ketinggalan. “ ucap ayahku.
“ aku tidak akan membawanya, sekarang aku sudah Smp aku tidak akan membawa bekal lagi ” kata ku.
“ kau pasti kelaparan nanti siang. ” ucap ayah menghampiriku yang sedang memakai sepatu.
“ aku bisa makan di kantin nanti. ” ucapku
“ tetapi. ” ucap ayahku.
“ ayah... Sekarang aku sudah besar aku akan malu dilihat teman-temanku jika tau kalau aku masih membawa bekal.. “
“ ahh.. Ayah sudah tidak bisa memaksamu, apa mau ayah antar. “
“ tidak aku akan berangkat memakai sepeda. “
“ kalau begitu hati-hati ya. “
“ aku berangkat dulu ayah. “
Kemudian aku berangkat sekolah dengan bersepeda, sesampainya di depan sekolah aku melihat banyak murid yang di terima. Mereka terlihat senang, tersenyum didepan orang tua mereka tapi, itu akan berakhir ketika mereka bertemu oleh para senior. Uang keamanan merupakan alasan paling banyak untuk para senior memeras Juniornya. Maka dari itu jangan pernah perlihatkan kelemahanmu, ditempat yang baru aku kenal ini, yang kuatlah yang menduduki rantai makanan dan yang lemah akan menunggu untuk dimakan oleh yang kuat. Jika bertemu dan mendapat masalah, maka pilihannya adalah tunduk atau bertarung, setidaknya itulah yang aku pikirkan.
“ junior.. Apa kau mau ikut kami berkeliling. ” kata seorang senior itu.
“ terimakasih tawaran kalian, aku bisa sendiri. ” kata ku.
“ Hahaha... Sebagai junior kau sangat berani, aku akan mengantarmu berkeliling... Sudah sewajarnya kalau senior mengajari Juniornya... Ayo... ” kata senior itu memaksa.
“ inilah yang aku maksud... Senior yang bahkan tidak menyebutkan namanya saat baru pertama kali bertemu lalu mengajakku berkeliling... Rasanya aku ingin menghajar mereka. ” pikirku.
“ aku akan mengikuti kata kalian. “ ucapku.
Senior itu mengajakku berkeliling, saat sampai dibelakang sekolah aku langsung di hantamkan ke tembok.
“ aku membawa mangsa.. Dia sedikit keras kepala.. Aku sempat kesulitan tadi. ” kata senior itu.
“ tinggal hajar saja jika dia tidak menurut. ” kata temanya.
__ADS_1
“ oii.. Junior jika kau tidak ingin dihajar lebih baik berikan uang sakumu kepada kami dengan begitu aku akan membiarkanmu pergi.” kata senior itu.
“ aku tidak membawa apa-apa “ ucapku.
Mereka mulai mengancam, membentak, dan menggunakan senjata. Aku tetap diam tidak bergerak sedikitpun, mataku terus menatap senior itu dan membuat nya marah.
“ apa kalian tetap akan terus mengancamku, asal kalian tau saja walaupun aku membawa sesuatu tidak akan pernah aku berikan kepadamu. ” pikirku
“ sialan..!! Tatapan matamu itu membuatku kesal.. Aku akan benar-benar menghajarmu jika kau tetap seperti itu. ” kata senior itu mendorong.
“ menghajarku... Kenapa tidak kau lakukan dari tadi. ” ucapku dan langsung meninjunya.
*BRAAKK dia menabrak tempat sampah dan terjatuh.
“ hei..!! Dia memukulku... Hajar dia..!! ” teriak senior itu.
“ apa...!! Cepet habisi dia..!! ” teriak temanya yang sedang memalak anak lain.
“ sepertinya dia juga bernasib sepertiku, pukul dia bodoh mereka itu sangat lemah. ” pikirku.
Kemudian anak itu langsung menyelinap dan memuluk senior yang memalaknya dari belakang.
“ ternyata kau boleh juga. “ pikirku.
“ apa kau memanggilku. ” jawabku.
Kemudian aku berdu jotos lagi denganya hingga dia terjatuh dan pingsan.
“ ini terlalu mudah untuku, apa kalian tidak malu dikalahkan junior. ” kata ku.
“ dasar bocah.. ” kata temanya yang datang dan mencoba menyerangku.
Aku di keroyok mereka tetapi itu bukan hal yang sulit bagiku karena aku sudah di latih ayah sejak kecil, tentu saja aku kuat karena aku di latih ayah sangat keras karena ayahku adalah seorang mantan yakuza, akibat berkelahi dengan senior menyebabkan adrenalinku meningkat dan detak jantungku semakin cepat.
“ ternyata anak itu kuat juga bisa menghabisi beberapa orang. ” pikirku.
Kami pun saling bertatapan agak lama, aku sadar dia bukanlah lawan yang dapat dikalahkan dengan satu pukulan, dia pun pasti juga berpikir sama sepertiku, aku ingin bertarung melawannya.
“ kau... Kawan atau lawan...? ” tanya kami berdua bersamaan.
__ADS_1
Aku dan dia sama – sama terkejut mendengar pertanyaan itu, kami kembali bertatapan dan perlahan mulai menghampiri. Kami berdua mulai meregangkan badan sambil tetap berjalan dan saat kami sudah berada didalam jangkauan kami kali saling bertatapan sesaat, lalu kami bersamaan mulai memukul, tangan kanan kami saling beradu kekuatan, satu pukulan. Setelah itu kami masing – masing saling memegang kearah baju lawan dan saling beradu tatapan yang menyeramkan.
“ jawabanmu... Lawan..!! ” kata kami bersamaan.
Kami pun langsung bertarung, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan kami lakukan dan kami rasakan.
“ bos mereka kuat... Kita mundur...? ” bisik salah satu orang disana.
“ jangan bodoh.. Mereka memang kuat tapi sekarang mereka bertarung satu sama lain, saat mereka nanti kelelahan baru kita akan membalas dendam... Kita hajar dia sampai ibunya tidak bisa mengenalinya ” kata senior itu.
“ oh begitu ya... Baiklah aku akan memberi kode kepada yang lain... ” kata orang itu.
Akhirnya waktu yang ditunggu – tunggu oleh senior itu tiba. Kami berdua sudah kelelahan setelah bertarung lama, nafas kami tidak teratur, tenaga kami hampir habis, namun kami tetap berdiri. Melihat kami berdua sudah kelelahan, para senior itu bangun.
“vhahaha... Lihatlah itu, dua orang bodoh yang saling bertarung... Kalian tadi memukul ku sekarang bagaimana kalau gantian kalian yang dipukul...!! ” kata senior itu.
“ Hahaha.. Tepat kata bos... Kita harus menghajarnya ” kata yang lainnya.
“ heh... Kau sudah bangun ya...? Kukira kau akan mati ” ucap anak yang berkelahi denganku.
“ bodoh aku dari tadi hanya pura – pura pingsan... Hahaha... Semuanya hajar..!! ” kata senior itu.
“ kau sepertinya sudah tidak kuat... Istirahtlah, biarkan aku yang menghadapi mereka ” kata anak itu.
“ kenapa tidak kau saja..? Aku tidak butuh belas kasihanmu ” jawab ku.
“ Hahaha... Jadi bagaimana..? ” anak itu bertanya seolah mengajaku berkerja sama.
“ hanya untuk kali ini saja ” jawab ku.
Kami bertarung bersama, melawan puluhan musuh, dengan tenaga yang hampir habis, tubuh penuh luka, tangan berlumuran darah, puluhan kali jatuh dan puluhan kali kami bangkit, meski begitu ini sangatlah menyenangkan.
Untuk yang pertama kalinya kami berdua bertemu, untuk pertama kalinya kami bertarung, untuk pertama kalinya kami berkeja sama...
Akhirnya pertarungan kami selesai, kami memenangkannya lagi. Tubuh kami berbaring ditanah, tenaga kami sudah habis, saling menatap langit dengan senyuman.
“ ini menyenangkan.. Hey, kau masih bisa berdiri..? ” kata anak itu masih berbaring ditanah.
“ hah... Seharusnya aku yang bertanya ” jawabku sedikit kesal.
__ADS_1
Kami pun mencoba berdiri, kaki kami bergetar, tapi kami tetap memaksa untuk berdiri, namun itu sia-sia kami kembali jatuh. Kami saling menatap dan mengambil nafas panjang. Kami saling tersenyum, mencoba merangkak untuk saling mendekat, saling membantu untuk bangun dan saling merangkul untuk berjalan. Dihari pertama kami masuk sekolah, seharusnya kami sekarang berada didalam aula, namun karena keadaan kami yang seperti ini akhirnya kami pergi meninggalkan sekolah. Kami berjalan melewati gerbang dengan senyuman meski dengan tubuh yang penuh dengan luka, tapi ini menyenangkan.
...Dan akhirnya ini adalah pertama kalinya kami berteman.