Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 1


__ADS_3

Saat ini adalah malam yang cerah. Cahaya yang terpantul dari bulan penuh di langit kelam menyinari semua yang ada di bawahnya. Angin berhembus lembut membuat dedaunan dan ilalang bergemerisik pelan seakan ikut bergabung ke dalam melodi yang dinyanyikan para serangga malam.


Ernest membawa kakinya yang terluka ke dalam langkah yang tertatih menuju gunung belakang desa. Mengabaikan seluruh pemandangan malam yang merupakan sesuatu yang bisa dinikmati saat hati tenang maupun kala melankolis melanda, Ernest memfokuskan seluruh tenaga untuk menjaga kesadaran dan langkahnya di antara rasa sakit dan perih di seluruh tubuhnya.


Ernest berhenti saat mencapai kaki gunung dan mengangkat kepalanya hanya untuk melihat kegelapan yang menyelimuti pepohonan dan jalan dari gunung di depannya. Di pandangannya yang mulai sedikit mengabur, Ernest merasa kegelapan tersebut akan melahapnya.


Menggertakkan giginya, Ernest memaksa kakinya untuk mulai melangkah mendaki gunung tersebut. Ini adalah satu-satunya tempat yang bisa ia pikirkan dimana ada bangunan yang bisa digunakan untuk bermalam dan para preman sebelumnya tidak akan datang dalam waktu dekat untuk memburunya kembali sampai luka-lukanya sembuh.


Preman sialan! Bajingan sialan! Ernest mengutuk dalam hati saat mengingat orang-orang yang membuatnya berada dalam keadaan tragis saat ini. Seorang pecundang yang babak belur setelah gagal merampok hasil kerja kerasnya tadi siang berbalik memanggil kawanannya untuk mengeroyoknya sore ini. Seharusnya aku langsung membunuhnya!


Bangunan yang menjadi tujuannya sekarang merupakan bangunan bekas yang dianggap berhantu setelah pemiliknya ditemukan meninggal secara berdarah beberapa tahun lalu. Ernest tidak tahu kejadian sebenarnya dari berita itu tapi yang pasti para penduduk menghindari dari berdekatan dengan bangunan tersebut saat harus naik gunung untuk mencari kayu bakar ataupun tanaman liar untuk dimakan.


Ernest merasakan dingin pada tulang punggungnya memikirkan hantu yang mungkin benar-benar ada untuk menghuni bangunan yang ia tuju itu. Jika ada pilihan lain ia juga tidak akan mendekati bangunan tersebut namun untuk pengelana sepertinya, yang khususnya dalam keadaan terluka dan terancam seperti sekarang, hanya ini pilihan yang ia punya atau tidur di lingkungan terbuka dan mungkin akan diserang kapan saja.


Ernest merasa telah berjalan selama berjam-jam hanya dengan mengandalkan ingatan dari percakapan samar dengan salah satu warga baik hati yang menasihatinya tentang bangungan tersebut sebelum akhirnya melihat bangunan yang dimaksud.


Cahaya terang dari bulan penuh menyinari bangunan itu sehingga Ernest bisa melihatnya dari jaraknya saat ini.


Bangunan tersebut adalah bangunan kayu yang sederhana. Hanya mengandalkan cahaya bulan saat ini, Ernest bisa melihat ada beberapa titik yang lebih jelas dimana atapnya setengah roboh. Mengerutkan kening saat menilai keamanan bangunan tersebut dari keruntuhan sepenuhnya jika ia akan tinggal di sana untuk sementara waktu, Ernest akhirnya hanya mendesah pasrah saat kembali mengingat kalau ia tidak punya pilihan lain.


Ia hanya bisa berharap bangunan itu masih akan bertahan sampai luka-lukanya tidak lagi menyakitkan dan ia tidak lagi diambang pingsan seperti saat ini.


Berjalan mendekat dan mendorong pintu rumah kayu itu, yang membuatnya cukup terkejut karena masih memiliki pintu dan masih berfungsi, Ernest menelan ludahnya saat melihat betapa gelapnya ruang di dalam bangunan ini. Dengan terblokirnya sebagian besar cahaya dari luar oleh dinding kayu dan hanya menyisakan beberapa bagian yang pecah untuk disisipi sinar perak sang rembulan, Ernest merasa akan tertelan dan tidak mungkin bisa keluar lagi jika ia melangkah masuk.


Berdiri agak bersandar ke sisi bingkai pintu dan menatap kosong ke kegelapan di depannya, Ernest merasakan pikirannya sedang bergulat antara emosi rasa takutnya dengan penilaian masuk akalnya yang mengatakan kalau dia perlu tempat berlindung.


Setelah berdiri cukup lama akhirnya penilaian akalnya menang saat merasakan kakinya semakin berdenyut menyakitkan memberikan tanda bahwa ia membutuhkan tempat untuk memulihkan diri. Dengan langkah ragu dan tertatih, Ernest melangkah ke dalam ruangan itu. Tangannya siaga berada di ganggang pedang yang sejak awal tergantung di sisi kiri pinggangnya. Matanya yang telah beradaptasi dengan kegelapan membuatnya mampu menghindari puing-puing kayu maupun batu yang bertebaran sehingga tidak membuatnya tersandung.


“Aku pikir kamu hanya akan berdiri di luar sana dan tidak berani masuk.”


Sebuah suara yang lembut namun jernih menggema saat Ernest sedang memindai sisa-sisa lantai kayu untuk mencari tempat istirahat yang layak, menyebabkan gerakan tubuhnya tersentak kaku seketika. Ia kembali merasakan dingin menggigit tulang punggungnya.


Mengangkat kepalanya ke arah yang ia percaya menjadi sumber suara, Ernest menyadari sebuah kerangka pintu di dalam ruangan itu. Dan ada siluet seseorang yang sedang berdiri di sana.


Secara naluriah melangkah mundur dan ingin menarik senjatanya keluar, Ernest tidak menyangka akan tersandung salah satu puing kayu hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Ernest sepertinya bisa merasakan sakit juga perih di kepalanya yang menghantam lantai kayu saat suara tabrakan keras menggema karenanya. Atau itu hanya halusinasinya yang disebabkan pandangannya yang mengabur dan tubuhnya menyerah pada kelelahan karena selalu tegang.


Ernest hanya berharap jika hantu itu akan membunuhnya karena masuk tanpa izin ke tempat ini maka lakukan tanpa rasa sakit, atau jika dan hanya jika hantu itu berbaik hati dan mau melepaskannya, Ernest masih bisa bangun esok hari mengingat keadaan tubuhnya saat ini


*


Saat Ernest kembali membuka matanya ia langsung dihadapkan dengan langit-langit kayu yang tak beraturan dengan potongan bambu di sana-sini untuk menambal bagian yang terlihat akan runtuh. Selain itu kepalanya terasa tak nyaman. Atau itu adalah sisa-sisa rasa yang ditinggalkan benturan semalam.


Ah, hantu penghuni semalam cukup baik untuk tidak membunuhnya.


Sedikit menoleh ke bagian atas sisi kirinya, Ernest harus menyipit saat cahaya terang langsung menusuk penglihatannya membuat matanya perih. Ada sebuah jendela dengan lebar dan tingginya kurang lebih 2,5 dan 5 jengkal yang saat ini terbuka membuat cahaya dari luar masuk tanpa halangan menerangi ruangan tempatnya sekarang.


Ngomong-ngomong tentang ruangan, Ernest bisa merasakan bahwa saat ini ia berbaring di atas tilam bukannya langsung di lantai kayu tempat ia jatuh semalam. Sedikit memiringkan badannya dan berniat menggunakan tangannya menjadi tumpuan untuk mengangkat bagian atas tubuhnya supaya bisa memeriksa tempat ia berada sekarang sekaligus mencari keberadaan pedangnya, Ernest menyadari ada perban yang melilit salah satu lengannya.


Menghentikan gerakannya, Ernest menatap kosong kain yang melilitnya itu. Apa hantu semalam ini tidak terlalu baik? Tidak hanya ia dibiarkan hidup setelah memasuki bangunan tanpa izin, membaringkannya di atas tilam tapi juga mengobatinya?


Suara derit dari pintu yang dibuka menyadarkan Ernest dari omong kosong batinnya. Saat ia menoleh ke sumber suara dengan posisi tubuhnya yang canggung ia bertatapan langsung dengan mata coklat terang seorang wanita.


Wanita itu melihatnya dengan pandangan tak terkesan.


Apa dia hantu semalam? Pikir Ernest tanpa sadar.

__ADS_1


“Aku bukan hantu,”


Wajah Ernest memucat saat menyadari ia mengatakan pikirannya dengan keras. Ernest membuka-tutup mulutnya berusaha ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri hanya untuk melihat seringai mengejek dari wanita itu. Merah dan panas segera merayap ke mukanya karena malu.


“Ma—maaf! Aku…! Bukan maksudku…ti—tidak sopan…begitu!” Ernest mencoba menjelaskan dengan gelagapan.


“Perbaiki posisi berbaringmu atau tubuhmu akan menjadi tidak nyaman,” saran wanita itu dengan nada geli karena reaksinya yang memalukan.


Ernest memilih untuk diam dan menuruti perkataan wanita tersebut supaya tidak mempermalukan dirinya lebih lanjut lagi. Dia melihat wanita itu masuk ke dalam ruangan dan bersimpuh di sampingnya.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya wanita itu dengan tenang sembari menatapnya.


Terbatuk pelan untuk menghilangkan rasa malu yang tersisa, Ernest menjawab pelan, “lebih baik.”


Melihat tatapan menilai wanita itu, Ernest menambahkan dengan lebih keyakinan di suaranya, “setidaknya lebih baik dari semalam.”


Wanita itu mengangguk, entah percaya dengan ucapannya atau hanya malas untuk menelisik lebih lanjut. Dari sudut mata Ernest melihat wanita itu memutar tubuhnya ke sisi tempat kepala Ernest berbaring dan mendengar tanya darinya, “apa kamu ingin minum?”


Menyadari rasa kering berpasir di tenggorokannya, tanpa ragu Ernest mengiyakan pertanyaan tersebut, “jika kamu memiliki air,” tambahnya saat mengingat apa yang ia lihat pada kondisi kehidupan bangunan ini semalam.


Saat wanita itu kembali menghadap ke arahnya, Ernest bisa melihat cangkir di genggamannya.


“Apa kamu bisa bangun sendiri atau haruskah aku membantumu?”


“Tidak perlu,” secara otomatis Ernest menolak tawaran bantuan itu, “aku bisa bangun sendiri.”


“Tentu,” sahut wanita itu.


Saat Ernest telah sepenuhnya duduk berlunjur di atas tilam, wanita itu menyerahkan cangkir kepadanya. Ernest mengucapkan terima kasih dengan pelan saat menerimanya. Ia bisa melihat cangkir yang ada di tangannya sekarang ini terisi penuh dengan air yang bening dan jernih. Melihatnya saja sudah bisa membuat Ernest membayangkan betapa segarnya itu.


Ernest melihat wanita itu meletakkan kembali cangkir tersebut ke tempat semula yaitu beberapa jarak di sebelah kepalanya berbaring tadi. Ernest juga menyadari bahwa di sana ada baki kayu berisi piring yang tertutup di atasnya selain cangkir yang baru saja diletakkan wanita itu kembali.


Ernest mau tidak mau memperhatikan wanita tersebut dengan bingung. Selain matanya, wanita itu juga memiliki rambut coklat yang melewati pundaknya sedikit yang diikat dengan pita kain hitam di pangkal lehernya, rambut yang lebih pendek di bagian depan terlepas membingkai wajahnya. Menggunakan tunik goni polos berkancing dan rok tiga perempat hitam yang walau terlihat lusuh dan tua namun terjaga kebersihannya, Ernest bertanya-tanya apakah dia sudah lama tinggal di tempat ini.


Mengapa seseorang tinggal di bangunan bobrok dan berhantu ini, walau sepertinya soal hantu itu hanya desas-desus biasa, dan khususnya kenapa seorang wanita berani tinggal di sini.


“Karena sama sepertimu.”


“Ah?” Ernest tersentak kaget dan mendengar dengus geli dari wanita yang kini telah kembali berhadapan dengannya, membuat Ernest memerah malu berfikir bahwa ia lagi-lagi menyuarakan pikirannya tanpa sadar.


“Itu tertulis di wajahmu yang bodoh.”


“Siapa yang kamu sebut wajahnya bodoh!” sembur Ernest refleks.


“Siapa lagi selain kamu.”


Ernest merengut kesal ingin membalas namun tak tahu harus berucap apa, bagaimanapun sepertinya wanita ini yang merawat dan mengobatinya.


Menghela nafas mencoba menenangkan diri, Ernest memilih untuk mengalihkan topik, “terima kasih telah merawatku,” ucapnya tenang.


Wanita itu tak menjawab, hanya menatapnya dengan datar dalam waktu yang cukup lama hingga membuat Ernest mulai merasa salah tingkah.


Pada akhirnya Ernest melihat wanita itu mengangguk dan berujar dengan santai, “hanya tidak ingin seseorang mati karena mengira aku hantu.”


Membuat Ernest kembali tersipu malu karenanya.

__ADS_1


“Apa kamu tidak lapar?”


“Hah?” Ernest menatap bingung wanita itu.


“Kamu sudah tidur lebih dari 12 jam.”


Pada saat itulah Ernest mendengar gemuruh di perutnya dan ia curiga bahwa dalam interaksi singkatnya dengan wanita itu semua sisi memalukannya telah muncul ke permukaan.


*


Ternyata piring tertutup yang Ernest lihat di atas baki sebelumnya berisi beberapa potong ubi rebus.


Sejak wanita itu menyerahkan piring tersebut dan menyuruhnya untuk makan, Ernest tidak perlu berpura-pura bersikap sopan untuk menolak dan juga keadaannya saat ini tidak mendukungnya untuk melakukan itu.


Setelah menyadari bahwa ia telah menghabiskan hampir seluruh ubi yang ada, baru saat itulah malu kembali dirasa.


Terbatuk canggung, Ernerst menyerahkan kembali piring tersebut dan dengan suara rendah mengutarakan terima kasih.


“Apa kamu sudah kenyang?” tanya wanita itu langsung tanpa memikirkan rasa malu yang di rasa Ernest.


“Ya.”


Meletakkan kembali piring tersebut ke tempatnya, Ernest melihat wanita itu mengangkat baki dan sepertinya akan berdiri sebelum berhenti untuk kembali menghadap ke arahnya dengan baki di pangkuannya, “kamu bisa istirahat lagi.”


Ernest mengangguk menyetujui saran tersebut.


“Dan juga,” wanita itu melanjutkan, “pedangmu ada disitu.”


Mengikuti arah yang ditunjuk, Ernest melihatnya di salah satu sudut ruangan bersandar di dinding kayu beberapa kaki dari pintu masuk. Ia tak melihatnya tadi saat berbaring karena sudut ruangan itu berada di atas kepalanya dan setelah ia duduk perhatiannya teralihkan ke wanita itu.


“Aku meletakkan di sana untuk pencegahan. Tidak ingin kamu menebasku saat aku memeriksamu,” jelas wanita itu.


“Aku mengerti.”


Wanita itu menatapnya sebentar sebelum akhirnya mengangguk, mungkin merasakan bahwa Ernest benar-benar mengerti dan tidak akan mencurigainya karena sengaja menjauhkan senjata itu dari pemiliknya yang mengarah ke hal bodoh seperti menyerangnya nanti.


Melihat wanita itu tidak lagi memiliki sesuatu untuk dikatakan dan sebelum ia berdiri untuk pergi dari ruangan ini, Ernest segera menghentikannya dengan bertanya, “kamu—siapa namamu?”


“Tidakkah yang seharusnya memperkenalkan dirinya lebih dulu disini itu kamu?” sindir wanita itu, “bagaimanapun kamu yang menerobos masuk tempat tinggal orang lain.”


Ernest membuka mulutnya ingin membantah dan mengatakan bahwa rumah ini seharusnya kosong tapi mau bagaimanapun itulah kebenarannya bahwa ada seseorang yang tinggal disini dan dia adalah pihak yang menerobos ruang wanita itu. Tidak penting apakah sebelumnya dia tahu atau tidak.


Berdeham untuk menyesuaikan dirinya, Ernest memperkenalkan diri, “Namaku Ernest. Aku hanya seorang pengembara.”


Wanita itu tidak mengomentari ataupun terlihat peduli dengan status musafirnya yang rendah dan hanya mengangguk, “Arsyana.”


“Oke,” Ernest bergumam pelan, diam-diam menyebut ulang nama wanita itu dalam pikirannya, “sekali lagi terima kasih telah merawatku, juga untuk minuman dan makanannya.”


“Kalau ingin berterima kasih padaku maka bayarlah nanti saat kamu sudah sehat.”


Entah mengapa mendengar perkataan langsung wanita itu yang tanpa ragu membicarakan bayaran atas pertolongan sebelumnya membuat Ernest merasa lebih baik dibandingkan jika wanita itu tidak meminta apapun, “aku pasti akan membayarmu nanti.”


Ernest bertatapan langsung dengan mata coklat yang sepertinya tengah menilai kebenaran dari perkataannya tersebut sebelum melihat wanita itu mengangguk dan bergumam, “aku akan menagihnya.”


Ernest melihat wanita itu berdiri dengan baki di tangannya dan melangkah keluar setelah meninggalkan kalimat yang menyuruhnya untuk beristirahat kembali.

__ADS_1


***


__ADS_2