Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 2


__ADS_3

Setelah melihat pintu tertutup bersamaan dengan kepergian wanita bernama Arsyana itu barulah Ernest memiliki waktu untuk mengamati ruang tempat ia berada sekarang.


Kamar ini hanya berukuran kurang dari 1 ru (1 ru \= 14m persegi), terdapat lemari kayu satu pintu sederhana di salah satu sudut kamar yang berada di bawah kakinya dan meja juga kursi di sudut atas yang Ernest lihat beberapa kaki dari pedangnya yang bersandar di dinding. Sedikit mendongak, Ernest bisa melihat beberapa ujung buku dan kertas di atasnya.


Selebihnya kamar ini kosong.


Puas memperhatikan ruangan ini, Ernest mulai memeriksa luka di tubuhnya. Luka terparah yang ia ingat terima dari perkelahian kemarin sepertinya adalah luka gores senjata tajam di betis dan tangannya. Ernest menarik kaki kanannya ke dada ingin memeriksanya hanya untuk melihat lilitan kain perban di sana. Ah, wanita itu benar-benar merawatnya.


Ernest ragu-ragu menyentuh sisi kepalanya untuk merasakan tekstur perban di sana. Itulah alasan kenapa saat bangun ia merasa tak nyaman di kepalanya. Apakah kejatuhannya semalam membuat kepalanya terluka karena terbentur?


Ernest menghela nafas menerima kenyataan berapa banyak masalah yang mungkin ia sebabkan ke Arsyana, dalam hati berjanji untuk segera membayarnya.


Melanjutkan memeriksa luka lainnya, Ernest menemukan beberapa memar di sana sini dan beberapa gores kecil lainnya tapi seharusnya tidak ada masalah besar. Keadaan tragisnya semalam lebih mengarah pada kelelahan dan kehilangan darah. Seharusnya tidak ada kerusakan permanen.


Menarik nafas lega, Ernest menjatuhkan kembali tubuhnya ke atas tilam dan berbaring. Menatap kosong langit-langit kayu bobrok di atas, ia agak penasaran siapa Arsyana itu. Melihat bagaimana luka-lukanya di bersihkan dan dijahit, ya dia yakin lukanya memerlukan jahitan mengingat betapa dalam sobekan yang ada dan banyaknya darah yang mengalir, serta cara kain perban di lilitkan, wanita itu jelas mengetahui dan tidak asing dengan perawatan luka juga memiliki cukup peralatan untuk melakukannya.


Selain itu memikirkan tempat ia jatuh kemarin, jelas wanita tersebut memiliki kemampuan untuk membawanya ke kamar ini.


Tapi sepertinya dia tidak memiliki maksud jahat atau aku sudah mati malam tadi. Seharusnya baik-baik saja.


Dalam pikirannya yang mengembara, Ernest kembali memejamkan matanya untuk istirahat.


*


Untuk kedua kalinya Ernest membuka mata, ia segera menyadari cahaya di ruangan telah meredup dari sebelumnya. Mengangkat tubuhnya dan duduk berlunjur di atas tilam, Ernest menekan dahinya untuk menghilangkan denyut akibat kebanyakan tidur.


Mengangkat kepalanya untuk melihat langit melalui jendela yang masih terbuka, ia menyadari walaupun cakrawala masih biru namun tidak sejelas sebelumnya melainkan mulai mengusam karena matahari perlahan bergerak ke ufuknya.


Merasakan tekanan di kandung kemihnya, Ernest berdiri secara perlahan dengan kaki kirinya sebagai pijakan utama. Berjalan keluar dengan gerakan setengah terpincang yang canggung juga lamban, Ernest mendapatkan dirinya berada di tempat seperti lorong yang sebenarnya cukup lebar. Pada sisi kanan yang tidak jauh darinya ada kusen pintu yang biasa dimiliki dalam rumah sedangkan di sisi kirinya dengan jarak yang lebih jauh ada pintu utuh yang saat ini terbuka.


Ernest menduga jika ia pergi ke sebelah kanan maka dirinya akan menuju ke ruangan semalam karena itu ia melangkah ke sisi kirinya.


Melewati pintu dan melihat ke dalam, Ernest langsung mengetahui bahwa ini adalah ruang belakang bangunan. Menemukan tungku dan beberapa alat masak yang tergantung dan jelas terawat membuatnya merasakan keterkejutan. Walaupun ia tahu bahwa ada seseorang yang tinggal di sini namun melihat bukti yang lebih jelas masih memberikan pukulan nyata untuk kesadarannya kalau bangunan ini tidak terbengkalai seperti yang ia duga, dan dia telah menerobosnya dengan sembrono.


Selain itu Ernest juga menemukan tumpukan kecil ubi mentah beralaskan kain di dekat sana dan tempayan yang tertutup dimana tingginya mencapai pinggul. Ada beberapa hal lainnya juga seperti bangku dan meja dengan songkok di atasnya, namun perhatiannya kini teralihkan ke kusen pintu lain yang tidak jauh dari pintu masuknya tadi, sebuah ruangan lain yang jika dia benar berarti tepat berada di samping kamar sebelumnya.


Berdiri di luar kerangka pintu itu Ernest bisa melihat kekacauan baik debu ataupun kayu busuk di dalamnya. Itu jelas ruangan yang tidak di urus. Jadi dimana wanita itu tidur semalam?


Ernest merasa jantungnya berdetak lebih cepat memikirkan sebuah kemungkinan dan memerah malu karenanya. Dia menggeleng menghilangkan gambaran di kepala yang membuatnya merasa seperti bajingan.


“Apa yang kamu lakukan?”


Ernest tersentak dan hampir terjatuh jika tidak secara refleks menggunakan tangannya ke dinding untuk menahan beban. Meringis saat merasakan lukanya berdenyut karena tekanan tiba-tiba, dia menoleh dan melihat Arsyana berdiri di luar pintu sisi lain dapur yang kelihatannya mengarah ke luar bangunan.


“Kamu membuatku terkejut!” seru Ernest malu.


Arsyana mendengus dan mencibir, “untuk seseorang yang mengelana sendiri bukankah kamu terlalu sering tidak waspada?”


Ernest terpana mendengarnya.


“Semalam kamu tidak menyadari keberadaanku dan membuat dirimu jatuh dan pingsan karenanya,” ujar Arsyana dengan nada mencemooh, “dan saat ini mau mengulanginya lagi?”


Ernest ingin membantah dan mengatakan kalau kejadian semalam itu terutama diakibatkan oleh lingkungan yang terlalu gelap, tapi merasa jika ia benar-benar menggunakannya sebagai alasan wanita itu hanya akan lebih tak terkesan dan cenderung semakin memandang rendah dirinya.


Akhirnya Ernest hanya memutuskan untuk mengganti topik, “aku perlu ke bilik air.”


Jika Arsyana menyadari bahwa ia dengan sengaja mengalihkan pembicaraan setidaknya wanita itu tidak menyebutkannya, lagipula Ernest tidak berbohong. Dia sungguh-sungguh perlu mengosongkan kandung kemihnya.


“Di luar.”


Mendengar jawaban itu, Ernest melanjutkan langkahnya yang tertatih ke tempat Arsyana berdiri. Secara hati-hati melewati kayu pembatas pendek yang ada di bawah pintu ia berhenti di samping wanita yang telah menepi untuk memberinya ruang.


Dia melihat tempat yang dimaksud, tidak terlalu jauh namun juga tidak begitu dekat dengan bangunan utama dan sebenarnya agak mengarah ke dalam hutan.


“Kamu bisa pergi sendiri kan?” tanya Arsyana, entah prihatin dengan kesehatan Ernest atau hanya untuk menggoda.


“Tentu saja!” jawab Ernest.


Mendengus geli, Arsyana berpesan santai, “hati-hati perbanmu basah.”


Ernest hanya menanggapi dengan anggukan sebelum pergi untuk menyelesaikan urusan mendesaknya.


*


Setelah menyudahi kebutuhannya dan keluar dari bilik air yang sempit barulah Ernest memiliki kesempatan untuk melihat-lihat bagian luar dari belakang bangunan tersebut.


Ernest menemukan bahwa perkarangan ini jelas terurus walau agak berdekatan dengan arah masuk ke dalam hutan gunung. Sepetak tanah digunakan untuk menanam ubi kayu dan ia bisa melihat hijau rimbun dedaunannya, sepertinya baru ditanam pada kisaran 3 bulan ini.


Tidak hanya ubi kayu, ada beberapa tumbuhan pangan lain yang ditanam walau tidak dalam jumlah banyak seperti para petani umumnya, beberapa di antaranya bahkan hanya dibudidayakan di dalam jambangan (pot) tapi jelas cukup jika dikonsumsi hanya untuk satu orang. Bahkan Ernest melihat beberapa jenis rempah yang mudah tumbuh di sana. Apa Arsyana sudah lama tinggal di sini?


Memikirkan wanita itu Ernest melihat punggungnya yang agak jauh dari tempat ia berdiri dan dengan gerakan terhuyung mendekat untuk melihat lebih jelas apa yang sedang dilakukannya.


Berdiri beberapa langkah di belakang, Ernest tertegun menyadari bahwa Arsyana tengah mengangkat jemuran.


“Apa yang kamu lakukan berdiri di sana?”


Ernest mendengar wanita itu bertanya bahkan tanpa berbalik melihatnya.


“Tidak ada,” berdeham untuk meredakan canggung, Ernest berujar rendah, “hanya bosan untuk langsung ke dalam.”

__ADS_1


“Kalau begitu cari tempat duduk sana,” Arsyana meliriknya dengan datar, “aku tidak ingin mengobati ulang luka di kakimu jika pecah.”


Dengan sedikit linglung membalas, “ah, ya—tentu.”


“Ada papan kayu di dekat pintu,” kata Arsyana memberi tahu, “kamu bisa duduk di sana.”


Tanpa menunggu tanggapan, wanita itu pergi dengan kain jemuran di tangan menuju ke dalam rumah meninggalkan Ernest. Merasa dirinya bodoh jika terus berdiri di sana dia melihat papan yang dimaksud Arsyana, benda itu berjarak satu langkah di samping pintu masuk dan menempel dengan dinding kayu rumah. Beberapa lapis kayu serba guna yang cukup panjang dan lebar kini disusun dan bisa digunakan sebagai tempat duduk.


Tepat sebelum berbalik dan menuju ke sana, perhatiannya sedikit teralih oleh lampit yang bergoyang di tali jemuran. Dengan pemikiran tertentu di kepalanya Ernest yang merasa sedikit linglung berhasil mendudukkan dirinya di atas papan tanpa menambah ketidaknyamanan luka di kakinya.


Terkesiap dari lamunannya, Ernest berkeringat dingin menyadari kecerobohannya. Dia bisa saja secara tidak sengaja membuat luka kakinya terbuka karena tidak memperhatikan saat berjalan tadi.


Mendesah kesal, Ernest merasa terlalu sering bingung. Mungkin dia sudah terlalu lama tinggal sendirian sehingga tidak terbiasa memiliki orang lain di ruang yang sama. Ernest bertanya-tanya apakah Arsyana merasakannya juga, ketidaknyaman memiliki orang lain di ruang pribadinya. Pemikiran itu membuat Ernest merasa bersalah.


Mendongak menatap kosong langit kusam sore hari, Ernest merenung teringat kapan terakhir kali dia memiliki orang lain selain wajah yang lewat saat bekerja di sana-sini. Bahkan saat dia berada di desanya dulu, di antara semua kepedulian yang ditunjukkan penduduk desa kepadanya, sebagian besar waktu tumbuhnya tetap mengandalkan diri sendiri. Apalagi sejak meninggalkan desa dia sibuk bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan atau mencari tempat berteduh.


Di hari-hari baik dia bisa mendapatkan cukup gilden (sebutan untuk mata uang) untuk mencari penginapan dan makanan selama seminggu atau lebih bahkan menyimpan sisanya untuk cadangan sedangkan di hari-hari buruk dia harus bersandar pada kebaikan hati ibu pertiwi. Buah liar dan hewan buruan setidaknya masih cukup untuk membiarkannya hidup. Juga bangunan bobrok kosong akibat sisa perang.


Wajah Ernest mengeras saat desa asalnya terlintas dipikirannya, teringat hal yang selama ini sengaja ia hindari. Sudah berapa lama? Lima atau enam tahun? Bau asap dan anyir masih jelas di benaknya serta raut ketakutan, kemarahan, dan keputusasaan yang tersisa di mata kosong dari wajah-wajah yang dikenalnya namun telah berubah menjadi seputih kertas.


Terkadang di hari-harinya yang kosong dia bertanya-tanya apakah dirinya beruntung atau malah sial? Semenjak kecil menjadi yang tersisa di akhir.


Saat merasakan kehadiran orang lain Ernest menyadari dia telah termenung cukup lama, melirik sisi kanannya dia menemukan Arsyana keluar dari pintu dengan baki di tangannya. Wanita itu melewatinya dan duduk di bagian kiri papan yang masih kosong, baki diletakkan di antara mereka. Dua cangkir, satu kendi air, dan sepiring kacang rebus.


Ernest menatap heran Arsyana.


Wanita itu bahkan tidak meliriknya melainkan hanya mengambil segenggam kacang dan menatap ke rimbunan pohon yang mengarah ke pedalaman gunung.


“Jadi, apa alasan luka-lukamu itu?” tanya Arsyana dan menambahkan, “kurasa aku berhak tahu untuk mengantisipasi masalah yang mungkin muncul nanti.”


Ernest terpana sejenak sebelum mendecih dan ikut mengambil kacang rebus di piring, “hanya ceroboh.”


“Ingin menjelaskan? Aku tidak mau tiba-tiba ada yang menyerbu tempat ini.”


“Tidak,” Ernest mengerutkan kening saat diingatkan dengan kemungkinan itu, “tidak mungkin. Mereka hanya pecundang.”


“Yang membuatmu setengah mati.”


Ernest berhenti di tengah gerakkannya memasukkan kacang yang telah dia buka ke mulut sebelum melanjutkannya dan mengunyahnya dengan ganas, “tempat ini selalu dihindari.”


“Karena tidak ada tanda yang menunjukkan ada seseorang yang tinggal di sini,” Arsyana membiarkan kulit kacang jatuh ke tanah, “tapi akan lain cerita kalau mereka tahu kamu di sini.”


“Mereka tidah tahu. Aku mengusir mereka lebih dulu sebelum datang ke sini.”


Dengusan ringan menjadi tanggapan. Menoleh dan menatap lurus ke arahnya, wanita itu dengan nada tegas berkata, “dengar, jika ini di luar sana, aku tidak akan peduli bahkan jika aku melihatmu mati di jalan, tapi sekarang kamu di sini, di tempat ini, dan aku ingin tahu mengapa kamu berkelahi sehingga aku bisa memutuskan untuk membiarkanmu atau membunuhmu demi menjamin keselamatanku.”


Ernest melihat mata coklat itu mengeras dan menyadari keseriusan Arsyana serta kebenaran di dalam kata-katanya. Wanita itu tidak ragu akan membunuhnya jika menilai dia adalah ancaman. Ernest tanpa sadar menyeringgai, menyadari salah satu alasan mengapa Arsyana berani tinggal sendirian di rumah bobrok yang hampir berada di dalam gunung.


“Aku bukan dengan sengaja mencari masalah, kemarin siang saat aku berada di pasar kecamatan salah satu dari mereka mencoba merampokku,” dengan jujur Ernest menjelaskan, “aku hanya membela diri. Hanya tidak menyangka sorenya orang itu membawa teman-temannya dan menghadangku saat sedang mencari tempat untuk bermalam di desa terdekat.”


Untuk sementara hanya keheningan yang menanggapi penjelasannya namun Ernest bisa merasakan tatapan kritis Arsyana, mungkin sedang menilai kebenaran ceritanya.


“Kalau begitu kamu hanya orang bodoh,” komentar wanita itu pada akhirnya.


Ernest tentu saja membela diri, “aku hanya ceroboh sedikit.”


“Ya tentu, kecerobohan yang tidak membuatmu hampir terbunuh. Luar biasa.”


Sarkasme pada kalimat ironi itu membuat Ernest merasa kedutan kesal di dahinya.


“Yah, aku telah mempelajarinya dengan harga yang cukup besar,” pada akhirnya Ernest hanya mendesah dan mengakui kebodohannya, “ngomong-ngomong apa kamu tinggal di sini sejak lama?”


“Beberapa bulan.”


“Tapi barang-barang di sini cukup lengkap.”


“Sejak awal sudah di sini, aku hanya perlu membersihkan dan memperbaiki beberapa hal.”


“Ah,” Ernest mengangguk mengerti dan merasa itu masuk akal jika melihat keadaan bangunan ini namun tertegun saat menyadari sesuatu, “apa maksudmu sudah ada di sini?”


Arsyana meliriknya sedikit bingung, “maksudku? Soal barang-barang?”


“Ya.”


“Apalagi yang bisa aku maksud selain kalau barang-barang itu dari pemilik sebelumnya.”


“Maksudmu pemilik yang telah meninggal di rumah ini?”


“Jelas.”


Ernest merasa tubuhnya kaku dan menatap kosong wanita yang saat ini sedang menuangkan air dari kendi ke kedua cangkir yang ada di atas baki, “termasuk peralatan ini?”


Arsyana secara sekilas memberikan lirikan aneh padanya, “ya.”


“Tidakkah kamu takut dikutuk?”


“Dikutuk siapa?”


“Pemiliknya.”

__ADS_1


Wanita itu terkekeh, “kamu takut?”


Ernest memerah malu mendengar tawa tersebut, “aku hanya berhati-hati dengan tabu!”


“Seperti saat kamu mengira aku hantu?”


Ingin rasanya Ernest mengubur dan menyembunyikan diri dari kerlingan geli yang dilemparkan ke arahnya.


Arsyana mendengus pelan melihat rasa malu Ernest namun tidak berkomentar apa-apa dan hanya minum dari salah satu cangkir yang tadi diisinya, “pemilik tempat ini meninggal karena dia punya penyakit pernafasan,” ucap Arsyana setelahnya.


“Bukan karena diserang hewan buas di gunung ini?” tanya Ernest teringat desas-desus berdarah yang dia dengar dari penduduk desa terdekat.


“Walau di atas kaki gunung tapi lokasi ini belum masuk ke bagian dalam hutan dan tidak banyak hewan buas di sini sehingga perlu turun sampai sejauh ini kecuali sengaja dipancing atau ada gangguan di dalam gunung yang menyebabkan krisis makanan bagi mereka.”


“Darimana kamu tahu kalau pemilik tempat ini meninggal gara-gara penyakit?”


“Itu karena aku pernah bertemu keluarganya.”


Ernest sedikit tertarik mendengarnnya.


“Keluarga pemilik tempat ini tinggal di Desa Wagola,” jelas Arsyana sambil meletakkan cangkir yang sebelumnya tertahan di genggamannya, “desa yang ada di sebelah Desa Khashmar ini.”


“Kalau pemilik tempat ini memiliki keluarga yang menetap di desa kenapa dia tinggal di sini sendiri?”


Arsyana kembali menikmati kacang rebus yang masih tersisa, “apalagi selain dengan sengaja mengasingkan diri.”


“Karena penyakitnya?” Ernest tidak ragu untuk minum dari cangkir yang belum tersentuh dan ikut menghabiskan kudapan yang masih ada.


“Ya, tidak ingin menulari keluarganya.”


“Dia orang baik.”


“Mungkin.”


“Tapi desas-desus yang menyebar bisa menjadi sangat berdarah.”


“Keluarganya sengaja menyebarkan berita itu,” komentar Arsyana.


“Mengapa?”


“Menurutmu?” tanya Arsyana balik.


Mengerutkan kening memikirkan kemungkinan seperti apa yang membuat pihak keluarga memilih untuk menyebarkan berita palsu tentang kematian yang kejam daripada kebenarannya lalu memikirkan apa yang diderita pemilik tempat ini, “karena penyakitnya?”


“Mereka takut orang lain akan tertular jika ada yang datang ke sini secara sembarangan dan juga dengan sebelumnya penduduk hanya tahu pemilik tempat ini sebagai seorang pemburu, mungkin mereka takut keluarga mereka akan diisolasi masyarakat jika kebenaran keluar,” kalimat terakhir diucapkan dalam gumaman rendah.


Ernest terdiam cukup lama mendengar itu tapi akhirnya hanya menghela nafas dan bertanya dengan nada ringan, “kamu sendiri tidak takut tertular?”


“Sudah lebih dari 2 tahun dan juga pertama kali di sini aku membersihkan dan menjemur semua barang-barang yang ada di bawah sinar matahari,” jelas Arsyana, “rumah ini sendiri memiliki banyak bagian yang pecah saat itu sehingga cahaya masuk tanpa masalah. Bertahun-tahun di mandikan sinar matahari langsung seharusnya cukup untuk mematikan virus penyakit itu.”


“Virus?”


“Aah, sejenis sesuatu yang bisa membuat orang terkena ataupun tertular penyakit.”


Ernest mengangguk mengerti tapi sedikit penasaran darimana Arsyana mendengar kata itu.


Keduanya terdiam dan untuk sementara membiarkan keheningan menyelimuti. Mendongak memandangi langit sore yang mulai menjingga, Ernest bisa merasakan sedikit ketentraman di sini. Tanpa celoteh manusia lain sebagai latar belakang seperti yang biasa ditemui di tempat-tempat berpenduduk. Damai tapi juga terasa sepi. Ernest melirik Arsyana yang sedang menggunakan kakinya untuk mengumpulkan beberapa kulit kacang yang berserakan di luar timbunan kecil sampahnya di tanah.


“Apa kamu sering pergi atau melewati desa-desa di sekitar kaki gunung?”


“Ada jalan lain,” Arsyana menunjukkan ke rimbunan pohon yang merupakan arah menuju ke bagian dalam hutan pegunungan ini, “kamu bisa langsung ke kabupaten tanpa harus melewati desa-desa itu.”


Ernest terkejut dengan berita tersebut, “bukankah itu mengarah ke pedalaman hutan?”


“Ya, tapi ada jalan pintas yang bisa digunakan untuk langsung menembus ke jalan utama menuju kabupaten.”


“Kamu sering melewatinya?”


“Lebih mudah lewat situ.”


“Kenapa?” Kenapa sepertinya sengaja menghindari penduduk desa?


Arsyana menoleh ke arahnya dan dengan kosong berkata, “kamu laki-laki.”


“Ya, jadi?” tanya Ernest tak mengerti.


“Menurutmu apa yang mungkin bisa terjadi jika ada kabar yang menyebar tentang seorang wanita tinggal di bangunan terbengkalai yang ada di dalam pegunungan sendirian?


“Ah.”


“Setidaknya orang-orang di kabupaten hanya mengira aku salah satu anggota keluarga penduduk desa yang datang ke pasar.”


Harus diakui kalau pemikiran dan kewaspadaan wanita itu sangat masuk akal dan semakin memperlihatkan kecerdikannya dalam menilai beberapa hal yang bisa terjadi ke depan sehingga lebih dulu membuat pencegahan. Ernest dengan tulus mengaguminya.


Tapi dengan kecerdasan seperti itu mengapa memilih tinggal sendirian di sini dan tidak bergabung menjadi bagian dari penduduk desa saja? Jelas lebih aman kalau wanita itu tinggal di dalam desa dan tercatat sebagai anggota di sana.


Ernest bertanya-tanya apa alasannya.


Menengadah hanya untuk menemukan langit kusam sebelumnya telah bergeser menjadi lembayung yang indah, Ernest menyadari telah mengobrol cukup lama dengan Arsyana. Bahkan kudapan yang adapun telah habis mereka nikmati.

__ADS_1


Rasanya cukup baik untuk berbincang menghabiskan waktu dengan seseorang.


***


__ADS_2