Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 9


__ADS_3

Pada hari dia pertama kerja, Ernest bangun lebih cepat dari jadwal biasanya. Mungkin pengingat yang terus menerus ia lakukan kepada dirinya agar tidak kesiangan sebelum tidur semalam menciptakan gangguan pada jam alaminya selama di sini—tidak seperti sebelumnya, dia tidak selalu memiliki pengingat alami yang tetap sehingga membangunkannya lebih awal.


Bangun dan duduk di atas lampit, Ernest menggosok bagian belakang leher dan meregangkan pinggangnya. Berturut-turut tidur di atas lampit rotan selama lebih dari setengah bulan mulai membuat tubuhnya pegal. Sejak kapan dia semanja ini?


Membiarkan selimut menggenang di pinggangnya, Ernest menatap ruangan yang masih gelap—lebih gelap dari waktu biasanya dia bangun. Sedikit menggerakkan tangannya ke samping Ernest bersentuhan langsung dengan pedang yang selalu ia letakkan di sisinya selama waktu tidur.


Ernest menghela nafas saat merasakan kenyamanan dari senjatanya, dirinya tahu ini bukan hal normal namun kebiasaan yang dibawa dari medan perang sangat sulit untuk dihilangkan dan di sana senjata sama dengan bagian tubuh. Kehilangannya mungkin juga terasa seperti tangan dan kaki yang terpotong, membuatmu merasa sakit dan rentan.


Mayor Jendral pernah mengingatkan sebelum kepergiannya bahwa semakin menuju ke pusat negara, kontrol membawa senjata bagi masyarakat biasa akan semakin ketat. Di Kabupaten Lutua yang masih cukup jauh dari ibu kota negara saja Ernest sudah tidak melihat orang dengan santai membawa senjata di jalanan.


Tidak seperti sebelumnya saat dia baru beranjak dari Utara.


Pertama kali dia tiba di sini, Ernest mendapatkan banyak tatapan ketakutan dan waspada dari penduduk desa saat melihat pedangnya bahkan orang yang mempekerjakannya di pasar kecamatan hari itu pun ragu sebelum dengan keberanian putus asa menggunakannya karena tidak ada pilihan lain.


Karena itu dia terkejut saat sekumpulan preman berani datang padanya setelah dia menghajar salah satu anggota mereka. Dirinya lengah karena berpikir semua orang di sini takut dengan seseorang yang membawa senjata tajam.


Hari itu Ernest bisa saja mengakhirinya dengan cepat, namun dia takut akan menciptakan masalah yang merepotkan jika pemerintah terlibat karena tidak sengaja membunuh mereka.


Dia memikirkan nama Mayor jika asal usulnya ditelusuri, pemimpinnya yang telah menerimanya saat dia dalam kemarahan buta dan membiarkannya pergi ketika dirinya merasa tidak memiliki tujuan lagi di sana, bahkan dengan baik hati masih memberikan tanda pengenal yang bisa dia gunakan sementara dirinya mencari tempat untuk menetap sebelum membuat identitas permanen.


Karena kekhawatirannya tersebutlah ia secara tidak sengaja memberikan celah kepada preman-preman itu sehingga bisa melukainya dengan cukup parah.


Mengingat hari itu membuat Ernest menghela nafas menyadari kecerobohannya.


“Kamu berisik.”


Keluhan dengan suara serak karena baru bangun itu membuat Ernest menoleh ke arah Arsyana yang siluetnya menunjukkan bayangan seseorang yang masih berbaring. Dia tidak tahu apakah wanita itu masih memejamkan mata atau tidak, “aku tidak mengatakan apapun.”


“Pikiranmu terlalu keras.”


“Kamu tidak bisa mendengarnya.”


“Bukan berarti itu tidak mengganggu.”


“Bagaimana?”


Arsyana menoleh, “kegelisahanmu dalam mengasihani diri merembes keluar.”


“Ah,” Ernest tertegun melihat mata coklat itu terlihat sedikit bersinar di ruang minim cahaya ini, “aku minta maaf.”


“Terlalu bersemangat untuk kerja?”


“Lebih tepatnya senang bisa kembali mengambil kendali diri.”


“Mm, itu memang bisa terasa pengap jika hidupmu terus diserahkan ke orang lain,” setuju Arsyana dengan suara seperti bisikan.


Entah mengapa Ernes merasa persetujuan wanita itu bukan hanya ucapan yang berasal dari bayang-bayang.


Arsyana bergerak dan memosisikan dirinya duduk di atas tilam, “tidak ingin tidur lagi?”


“Aku khawatir akan kesiangan jika melakukannya.”


“Kalau begitu bangun dan bereskan tempat tidurmu atau kamu akan kembali mengantuk.”


“Kamu masih bisa melanjutkan tidur,” ujar Ernest saat melihat wanita itu mengangkat setengah tubuhnya dengan lutut sebagai tumpuan untuk membuka jendela kamar.


“Tidak apa-apa, ini tidak terlalu jauh dari waktu biasanya.”


Udara segar namun dingin masuk ke dalam ruangan mengusir kantuk yang tersisa dari keduanya. Ernest melihat kegelapan hutan di luar.


Arsyana berdiri dan beranjak menuju lilin di atas meja dan menyalakannya membut kamar menjadi lebih terang, untungnya cuaca hanya dingin karena kelembaban malam dan bukannya berangin sehingga api tidak tertiup mati.


Melihat wanita itu kembali dan membereskan tempat tidur, Ernest dengan sadar diri melipat selimut dan meletakkannya di atas bantal lalu menyingkirkan keduanya ke lantai agar dirinya bisa menggulung lampit yang dia gunakan semalam.


Saat Ernest membawa alas tidurnya ke samping lemari untuk disandarkan dia melihat Arsyana meletakkan bantal yang sebelumnya di lantai ke atas tilam, menumpuk dengan bantal wanita itu sendiri. Membuat Ernest merasakan denyutan aneh di benaknya.


Tentu saja dia sadar kalau hal itu dilakukan agar tidak menghalangi jalan dan membuat ruangan ini terlihat berantakan hingga terasa lebih sempit. Dia sudah mengambil ruang tambahan untuk menaruh tumpukan pakaian yang dipakai selama dirinya di sini, tepat di sudut bawah kamar bersebrangan dengan lemari.

__ADS_1


Jadi, seharusnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan dengan pengaturan yang dilakukan wanita itu dengan perlengkapan tidurnya. Semua itu hanya demi kenyamanan.


Arsyana menoleh dan melihat Ernest masih berdiri di dekat lemari dengan tangan bertumpu pada gulungan tilam yang bersandar, “apa yang kamu lamunkan?”


“Bukan apa-apa.”


Walaupun merasa sedikit curiga degan bantahan cepat pria itu, Arsyana tidak menelisiknya lebih lanjut. Terkadang seseorang bisa tiba-tiba tenggelam dalam pikirannya begitu saja.


“Apa kamu ingin berlatih?” tanya Ernest mengetahui kemungkinan apa yang dilakukan wanita yang sering bangun lebih dulu darinya itu.


“Begitu ingin melihat kemampuanku?”


“Kamu terus menghindariku dari melihatnya.”


“Tentu saja, tidak ingin efek kejutannya menghilang.”


“Buat apa?”


“Apa yang ‘buat apa’?” tanya Arsyana dengan nada ringan sembari berdiri dan mengambil lilin yang menyala dari atas meja.


“Efek kejutan yang kamu katakan, untuk apa memilikinya?”


“Kamu tidak mungkin tidak tahu.”


Ernest melangkah ke arah Arsyana yang mulai mendekati pintu untuk keluar, “jelaskan padaku.”


“Kamu mengujiku.”


“Aku hanya ingin tahu alasanmu.”


Pintu didorong terbuka namun bukannya terus berjalan maju Arsyana justru berhenti dan berbalik. Wanita itu berhadapan langsung dengan Ernest yang berdiri sekitar dua kaki darinya dan tersenyum, “itu membuatmu lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu bukan?”


Ernest tidak menjawab, tetapi matanya menatap lurus netra coklat itu dan entah apakah hanya karena pantulan cahaya lilin yang dibawa Arsyana, namun Ernest sepertinya melihat kilat peringatan di sana. Dan mungkin sedikit ancaman.


Dirinya hampir lupa kalau mereka awalnya hanyalah dua orang asing dengan ketidaktahuan atas karakter masing-masing.


Ada beberapa kemungkinan yang bisa dilakukan seseorang saat pertama kali menghadapi sesuatu yang tidak diketahui kemampuannya.


…mereka akan dengan hati-hati mengamati dan mencari tahu sebelum memutuskan pergerakan apa yang pantas dan paling menguntungkan untuk dilakukan terhadap hal yang tidak diketahui tersebut.


Arsyana merupakan sesuatu yang kemampuannya tidak diketahui.


Orang-orang bodoh yang bertemu dengannya mungkin dengan ceroboh menganggap dia hanya wanita biasa dan melakukan sesuatu yang akan mengakibatkan penyesalan di pihak mereka, juga rasanya agak kecil kemungkinan bertemu seseorang yang langsung takut saat pertemuan pertama dengan wanita itu kecuali mereka bertemu dalam kondisi yang tidak biasa. Seperti dirinya.


Ernest bukan seorang pengecut—hantu tidak masuk hitungan yang akan lari saat menemukan sesuatu yang tidak dia ketahui dan juga bukan orang bodoh yang akan sengaja berlari menuju hal itu tanpa persiapan.


Dia percaya walaupun dirinya bukan yang paling cerdas tetapi masih cukup untuk menilai situasi pada hal yang tidak diketahui.


Arsyana mungkin memikirkan itu semua sehingga dia sengaja tidak memperlihatkan sejauh mana kemampuannya dalam melindungi diri dan juga…


…wanitu itu mengetesnya.


Jelas masih tidak mempercayainya dan tidak seharusnya Ernest merasa masam karena itu.


“Apa kamu ingin terus berdiri di situ?” tanya Arsyana karena merasa mereka telah cukup lama berdiri di tempat yang sama.


Ernest menggeleng dan menanggapi dengan pertanyaan lain, “apa yang mau kamu lakukan sekarang?”


“Mencuci muka, lagi pula apa kamu tidak merasa tidak nyaman dengan wajah baru bangun itu?”


Diingatkan kalau dirinya baru bangun tidur membuat Ernest tanpa sadar menguap. Menutup mulutnya dengan punggung tangan, dia melihat wanita itu terkekeh pelan.


“Ayo pergi cuci muka supaya kantukmu hilang.”


“Ya.”


Arsyana berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar lalu berbelok menuju dapur diikuti dengan Ernest di belakangnya.

__ADS_1


*


Mengambil seciduk air dari tempayan dan membawanya ke tempat biasa peralatan kotor dicuci—agar air yang jatuh tidak akan membasahi dan menggenang di lantai dapur. Ernest merasa pikirannya menjadi lebih terjaga saat kesegaran air menyentuh wajahnya.


Meletakkan kembali sendok air ke atas tutup tempayan sembari mengusap mata dengan salah satu tumit tangannya guna menyingkirkan sisa air yang mengalir dari dahi, Ernest menemukan dapur menjadi jauh lebih terang karena Arsyana sedang menyalakan api di tungku.


Melihat wanita itu masih berjongkok memantapkan nyala api agar tidak segera padam saat ditinggalkan, Ernest memutuskan untuk mengambil belanga yang terletak tidak jauh dari tempat peralatan dapur disusun.


Merasakan riak air dari dalam saat benda itu di angkat, dia membuka tutupnya untuk melihat masih ada sedikit isi—kurang dari seperempat di sana. Ernest mencari kendi di meja dan menumpahkan sisa air di belanga ke dalam benda penampung air minum itu lalu berbalik kembali menuju tempayan.


“Seberapa banyak kamu ingin mengisi ini?” tanya Ernest saat membuka tutup tempayan.


Arsyana menoleh, “seberapa banyak sisa air di kendi?”


“Penuh.”


“Kurang dari seperempat kalau begitu.”


“Oke,” gumam Ernest sambil meraih sendok air guna mengisi belanga yang memiliki garis tengah dan tinggi kurang lebih satu setengah jengkal untuk ukurannya.


“Kopi atau teh?”


“Mm, tidak ada yang terpikirkan.”


Arsyana bersenandung ringan saat pergi dari posisinya untuk mengambil dua cangkir dan meletakkannya di atas meja, “masih mengantuk?”


“Tidak,” Ernest menutup tempayan lalu mengangkat belanga yang sudah diisi menuju tungku yang telah menyala dengan api sedang dan meletakkannya di sana, “hanya merasa sedikit berawan.”


“Tidak tidur nyenyak?”


“Mungkin.”


“Ah,” Arsyana berdiri di samping meja dengan pinggul bersandar di sana dan memandang Ernest yang masih berdiri di depan tungku, “pergi buka pintunya sebelum asap menumpuk di dalam.”


“Kamu seharusnya membukanya lebih awal.”


“Aku membiarkanmu memiliki kehormatan untuk melakukan tugas itu.”


Ernest memutar matanya namun masih tetap pergi membuka pintu dapur. Di luar masih gelap.


Dia berbalik dan berjalan menuju kursi di meja tempat Arsyana berdiri.


“Jam berapa kamu pergi?” tanya wanita itu.


“Aku diminta berada di sana sebelum jam 7.”


Arsyana menarik sebuah benda kecil berbentuk bulat yang menggantung pada rantai putih yang mengalungi lehernya, “kamu masih punya waktu bebas sekitar satu jam sebelum perlu bersiap-siap.”


Satu hal lainnya lagi yang membuat Ernest terkejut adalah alat penunjuk waktu yang dimiliki wanita itu. Awalnya dia tidak heran saat tidak menemukan jam di bangunan ini, Arsyana hidup sendiri dan cenderung menghindari orang lain.


Apalagi wanita itu bisa bekerja sesuka hati tanpa menentukan target penyelesaiannya kapan, jadi kebutuhan akan penunjuk waktu rasanya tidak terlalu dibutuhkan.


Ernest ingat Arsyana hampir melempar belati ketika dirinya menatap dada wanita itu terlalu lama saat pertama kali mengetahui benda yang menjadi bandul kalung tersebut adalah sebuah jam saku.


Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Ernest melihat benda tersebut, hanya saja di masa lalu dia melihat jam seperti itu dibawa oleh para tentara yang berasal dari ibu kota negara atau sekitarnya. Salah satu orang yang Ernest tahu memiliki jam saku itu adalah Mayor Jendralnya.


Jadi, Ernest tidak bisa menahan keterkejutan dan rasa penasarannya saat dirinya tahu Arsyana memiliki benda itu karena, menurut mereka yang dikenalnya jam saku masih hanya tersedia di beberapa tempat dan harganya pun masih tergolong mahal bahkan untuk yang kualitasnya rendah.


Namun dengan melihat detail gambar yang diukir di pelindung jam saku itu Ernest merasa kualitasnya tidak mungkin buruk. Sekali lagi itu menimbulkan pertanyaan mengenai asal-usul Arsyana.


“Ingin teh rempah?” tanya Arsyana menawari.


“Jika tidak merepotkan.”


“Nah, aku juga sedang ingin minum itu.”


Wanita itu beranjak menuju tempat rempah kering diletakkan lalu berdiri di sana sebentar, Ernest memperhatikan jari-jari Arsyana mengambil bahan dan memilih bagian yang ingin digunakan—seperti kayu manis, sereh, dan jahe yang dibersihkan juga dipipihkan sebelum membawa dan memasukkan semuanya ke dalam belanga berisi air yang sedang direbus.

__ADS_1


Ernest berpikir bahwa tungku yang telah menyala untuk beberapa saat itu membuat ruang dapur menjadi lebih hangat dari sebelumnya.


***


__ADS_2