Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 3


__ADS_3

Bangun dari posisinya sembari menepuk-nepuk pelan telapak tangan untuk membersihkan sisa serpihan kulit kacang yang menempel, Arsyana melihat bahwa hari semakin petang dan cahaya sang surya meredup karena sebagian besar telah tersembunyi di ufuknya bahkan suara serangga malampun mulai terdengar.


Melihat pendatang yang masih menikmati suasana santai sore hari, Arsyana tidak lupa untuk mengingatkan, “kamu sebaiknya segera masuk ke dalam, bakal banyak nyamuk yang keluar saat gelap.”


“Bagaimana dengan bagian dalam bangunan?” tanya Ernest sedikit penasaran.


“Aku menggunakan beberapa rempah untuk menghalanginya jadi walaupun ada tidak sebanyak di luar.”


“Begitu.”


Melihat bahwa Ernest masih duduk dan tidak berniat pergi ke dalam, Arsyana membiarkannya dan malah bertanya, “apa kamu masih minum?”


Ernest melihat cangkirnya dan menemukan masih ada kurang dari setengah air di dalamnya, merasakan niat Arsyana yang ingin berbenah Ernest mengambil cangkirnya dan meminum sisa air yang ada sebelum meletakkannya kembali ke atas baki, “terima kasih.”


Arsyana tidak mengatakan apa-apa hanya mengambil baki dan membawanya ke dalam. Ernest sendiri merasa tidak enak karena hanya menikmati suguhan yang diberikan namun tidak membantu khususnya saat melihat kulit kacang yang masih menumpuk di tanah.


Mendesah dan berniat berdiri untuk pergi melihat sekitar dan mencari alat yang bisa digunakan guna mengumpulkan sampah, Ernest melihat Arsyana keluar kembali membawa sapu lidi, pengki, dan ember yang terbuat dari bambu, terlihat ingin membersihkan sampah. Rasa bersalah semakin membuncah karenanya.


“Karena kamu masih mau duduk di sana lebih baik sekaligus bersihkan sampah itu,” kata Arsyana tanpa ragu menyerahkan benda yang dibawanya ke Ernest yang mana, sebagai catatan tambahan, adalah orang yang masih terluka.


Ernest menerima peralatan pembersih yang diserahkan dengan sedikit bingung. Bukannya dia tidak mau melakukannya, bahkan dia telah berniat dari awal, hanya saja terpana dengan Arsyana yang benar-benar akan menyuruh orang terluka untuk bersih-bersih.


Ernest menatap kosong sapu yang sedang dipegangnya sejenak dan mendongak melihat wanita itu, “aku terluka.”


“Itu tidak seperti aku menyuruhmu untuk berkeliling membersihkannya, kamu bisa tetap duduk di situ,” Arsyana memutar mata santai, “gunakan satu kakimu yang sehat untuk menahan pengki dan kumpulkan serta arahkan sampah di sana dengan sapu menggunakan satu tanganmu yang masih berguna, lalu lepaskan sapu itu, angkat pengki yang sudah diisi sampah, dan tuangkan isinya ke dalam ember, mudahkan?”


“Aku tidak bodoh.”


“Kalau begitu buat dirimu berguna.”


Untuk sesaat Ernest menyesal pernah merasakan rasa bersalah terhadap wanita di depannya ini. Jelas wanita yang kejam, keluhnya dalam hati.


Arsyana berbalik pergi bahkan tanpa memastikan persetujuannya. Melihat wanita itu berjalan menuju lampit yang terjemur dan mengerti bahwa Arsyana masih memiliki sesuatu yang dilakukan, Ernest merasa lebih ringan untuk melakukan apa yang disuruh. Nah, sejak awal dia juga tidak akan menolak.


Tapi jelas tingkat penerimaan akan lebih tinggi jika mengetahui orang yang memerintahmu sibuk melakukan sesuatu juga dan tidak hanya berdiam diri.


Arsyana mengangkat lampit dari jemuran dan berjalan kembali ke dalam rumah dan ketika melewati sisinya, Ernest mendengar wanita itu berkata, “biarkan saja barang-barang itu di sana,” bahkan tanpa meliriknya.


Paling tidak wanita itu memiliki sedikit pertimbangan untuk tidak menyuruhnya membawa benda-benda ini kembali ke dalam, Pikir Ernest mengingat dirinya sendiri masih tertatih-tatih dalam berjalan.


*


Pada malam hari kala matahari telah sepenuhnya digantikan sang rembulan Arsyana menyalakan lilin dan memanggil Ernest yang sedang duduk memeriksa pedangnya di kamar untuk pergi ke dapur


Kata-kata wanita itu adalah, “kamu sudah sadar dan aku bukan pembantumu, kalau mau makan pergi ke dapur.”


Apa wanita itu tidak pernah memikirkan kemungkinan lukanya kembali berdarah karena terlalu banyak bergerak? Ernest sedikit bertanya-tanya mengenai kurangnya pertimbangan dari Arsyana, bukan berarti dia ingin dilayani juga. Bahkan sebenarnya dia lebih nyaman seperti ini dibandingkan harus dirawat dan dikhawatirkan setiap melakukan sesuatu.


Makan malam masih ubi rebus seperti tadi siang namun dengan tambahan urap daun singkong yang sederhana. Ernest tidak akan mengeluh, makanan ini mengenyangkan dan memiliki rasa rempah-rempah di dalamnya tidak hanya hambar atau pahit alami tumbuhan.


Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan pada malam hari dengan minimnya cahaya. Seusai makan Ernest masih diam di bangkunya dan dengan penerangan redup ia memperhatikan Arsyana yang sedang menumpuk dan membersihkan peralatan bekas mereka.


Ernest menarik pandangannya dan beralih ke titik api yang berpendar di sumbu lilin, “apa yang kamu lakukan setelah ini?”


“Apalagi yang bisa dilakukan selain kembali ke kamar dan tidur,” tanggap Arsyana tanpa menghentikan gerakkannya meletakkan peralatan kotor di dekat tungku, “ah, kamu bisa duluan ke sana, bawa saja lilinnya kalau kamu takut, seharusnya tidak ada masalah dengan lukamu kalau hanya membawa lilin.”


“Siapa yang takut!”


Arsyana tertawa mendengar perlawanan itu, “kalau begitu pergilah, kamu tidak dibutuhkan di sini.”


Ernest merengut mendengar ledekan yang merendahkan itu. Dia tidak bergerak pergi namun mengernyit melihat Arsyana cukup lama sampai wanita itu berbalik dan menghadap ke arahnya.


“Apa?”


“Kita… pergi ke kamar yang sama?” tanya Ernest ragu bercampur malu.


“Kalau tidak? Kamar lain di rumah ini belum diperbaiki,” jawab Arsyana dengan ringan menjelaskan, “lagipula kamu baru memikirkan masalah ini sekarang?”


“Aku hanya tidak ingin menebak sembarangan!”


“Kalau begitu kamu tidak perlu menebak. Itu satu-satunya kamar yang bisa digunakan untuk istirahat kecuali kamu mau tidur di dapur atau lorong karena aku tidak akan mengusir diri dari kamarku sendiri.”


Ernest ingin mengatakan tidak masalah, dia bisa tidur di mana saja, namun memikirkan kegelapan di sekitar, bukan hanya kegelapan di dalam ruang namun juga kegelapan hutan yang mengelilingi bangunan ini, dan kenyataan bahwa memang ada seseorang yang telah meninggal di tempat ini membuat tulang punggungnya merinding.


Walau telah berkelana sendirian selama lebih dari satu tahun dan lebih sering lagi untuk bermalam di rumah-rumah tak berpenghuni daripada penginapan ataupun rumah warga yang baik hati, namun itu rumah kosong karena pemiliknya yang mengungsi saat kekacauan perang bukan karena ada yang meninggal di sana.


Biarpun memalukan namun inilah kebenarannya, bahkan dengan semua penyangkalan yang dia lakukan, Ernest tahu lebih baik kalau ketakutannya dengan makhluk mistis itu nyata. Dia tidak bisa menghentikan nalurinya yang menggigil setiap ada pengungkitan tentang hantu. Mungkin alam bawah sadarnya sendiri selalu mengingatkannya akan nyawa-nyawa yang pernah dia ambil.


Ernest tersipu, mengalihkan pandangannya ke mana saja keculi Arsyana, “jika kamu tidak keberatan,” gumamnya pelan.


“Heh,” Arsyana mendengus mengejek, “aku kira kamu akan bersikap sopan dan berkata untuk tinggal di luar kamar, atau kamu terlalu takut akan didatangi sang pemilik?”


Panas di wajah Ernest memuncak karena malu, bersyukur bahwa saat ini malam hari dengan penerangan yang minim atau mungkin wanita itu akan melihat merah di mukanya dengan jelas.


Meski sepertinya Arsyana tidak perlu melihatnya untuk merasakan rasa malunya karena kini wanita itu sedang tertawa keras.


“Itu kamu duluan yang menyebut tentang tinggal di kamar yang sama!”


“Oke… oke…” kekeh pelan Arsyana setelah meredakan tawa lepasnya, “pergilah duluan ke kamar, aku mau memeriksa sekeliling dulu.”


Ernest merengut namun kali ini dia bangkit dari duduknya dan berniat mengikuti saran wanita itu, “apa lilinnya hanya satu? Kamu tidak memerlukannya untuk memeriksa?”

__ADS_1


“Sampai kemarin aku hanya tinggal sendirian jadi tidak perlu memiliki banyak lilin dan bawa saja lilin itu ke kamar, aku sudah terbiasa dengan gelap.”


“Oke.”


“Dan juga Ernest,” panggil Arsyana saat melihat Ernest mengambil lilin dan hendak pergi.


“Ya?” Ernest merasa tubuhnya kaku saat mendengar namanya keluar dari bibir Arsyana, memberi getaran aneh pada dirinya. Sudah agak lama mendengar seseorang memanggil namanya dengan nada normal.


“Apa kamu mau memakai pakaian yang sama terus?”


“Ah?”


“Aku tidak perlu melepas pakaianmu kemarin karena tidak melihat darah yang menandakan perlunya perawatan di sana selain yang ada di lengan dan betismu, jadi aku hanya perlu menggulung bagian yang diperlukan dan menebak kalau sisanya hanya memar,” jelas Arsyana, “tapi tidakkah bajumu kotor?”


Menyadari keadaan bajunya saat ini Ernest dengan agak muram menyetujui perkataan Arsyana, "kamu benar," tapi barang bawaanya yang sedikit, termasuk baju gantinya, telah terlempar entah kemana saat ia melawan para bajingan itu.


Hanya gilden yang diletakkan di bagian dalam pakaiannya yang ada bersamanya saat ini, yang sudah dia periksa sebelumnya, membuktikan bahwa Arsyana memang tidak menyentuh bajunya kecuali di bagian yang diperlukan untuk mengobatinya.


Ernest menatap Arsyana dan berujar jujur, “aku tidak ingat kemana seluruh barangku terlempar.”


“Aku bisa melihatnya,” kata Arsyana datar, “seluruh barang-barang pemilik rumah ini ditinggalkan begitu saja sebelumnya termasuk pakaian, keluarganya tidak berani mengambil apapun karena takut masih membawa penyakit, aku sudah mencuci beberapa jadi kamu bisa menggunakannya.”


“Apa tidak masalah?”


“Apa? Masih takut dikutuk?”


“Bukan begitu!”


“Terserah, toh pemiliknya sudah meninggal, bukannya sia-sia semua barang yang tidak digunakan ini?”


Ernest terdiam sejenak dan berkata kosong, “kamu akan dikutuk.”


“Ya tentu, hanya satu kutukan lain dari jiwa lainya yang bertambah,” Arsyana menanggapi dengan ringan, “kalau kamu khawatir tentang penyakitnya aku sudah mencuci dan menjemurnya tadi siang jadi tidak masalah, keluarga pemilik ini hanya takut berlebihan padahal selama barang-barang yang dipakai penderita penyakit dicuci dan dijemur di bawah sinar matahari virus yang tersisa akan mati.”


“Kamu sepertinya sangat tahu tentang penyakit pernafasan ini?” Karena sejak awal wanita itu selalu terdengar sangat yakin dengan apa yang dia katakan.


“Nah, kebetulan pernah bertemu dengan dokter baik hati yang mau berbagi pengetahuannya.”


“Sangat beruntung kalau begitu.”


“Ya.”


“Kamu berasal dari salah satu ibu kota provinsi?” tanya Ernest terdengar biasa namun dalam hati ia sangat penasaran karena tidak semua dokter memiliki pengetahuan yang luas seperti itu, bahkan di kota yang pernah Ernest lewati sekalipun para dokter masih menyarankan untuk membuang barang yang digunakan pengidap penyakit ini. Atau Arsyana mungkin saja berasal dari ibu kota negara karena di sanalah pusat pengetahuan beredar.


Arsyana menatap kosong Ernest dan tidak menjawab untuk sementara waktu, pada akhirnya dia mengabaikan pertanyaan tersebut dengan berujar, “pakaiannya ada di kursi, kalau kamu mau ganti segera lakukan sebelum aku kembali ke kamar atau aku akan menendangmu ke luar.”


Ernest menyadari keengganan Arsyana berbicara tentang dirinya sendiri jadi dia tidak memaksa, bagaimanapun mereka hanya orang asing.


*


Pakaian yang diletakkan Arsyana adalah sebuah kemeja dan celana panjang tua, gelap, serta agak kasar di kulit, Ernest menerimanya dengan cukup puas, akan lebih puas seandainya dia bisa menghapus ingatannya tentang milik siapa pakaian ini sebelumnya, mengingat miliknya sendiri tidak jauh berbeda.


Dengan cahaya redup lilin yang ia letakkan di atas meja, Ernest mengganti pakaiannya secepat yang dia bisa. Tidak ingin mengetes kebenaran dari ancaman yang dilontarkan Arsyana sebelumnya.


Melihat pakaian di lantai yang sebelumnya dia pakai, Ernest memikirkan apakah akan menyimpan atau membuangnya mengingat adanya noda darah yang cukup banyak dan sudah seharian terserap di seratnya, yang mana akan membuatnya sulit dibersihkan. Belum lagi sobekan yang ada perlu dijahit sebelum bisa digunakan atau dia akan terlihat seperti pengemis dengan pakaian robek


Tapi dia tidak memiliki banyak uang lebih yang bisa digunakan untuk membeli yang baru. Makanan selalu akan diutamakan dibandingkan pakaian baru, khususnya jika yang lama masih bisa dipakai walau kelayakannya agak dipertanyakan, disusul dengan tempat tinggal.


Ernest juga perlu memikirkan pembayaran atas perawatan Arsyana selama ini dan biaya makannya ke depan sampai dia bisa bergerak tanpa tertatih-tatih demi menjaga lukanya dari terbuka kembali. Ah, baru saat ini dia benar-benar merasakan kesulitan dari kemiskinannya.


Menghela nafas frustasi Ernest untuk sementara menyingkirkan pakaian kotornya ke sudut dimana pedangnya berada, dia akan memikirkan jalan keluar mengenai benda itu besok saat matahari bersinar sehingga memungkinkannya untuk memeriksa lebih jelas kelayakan pakaian tersebut.


Selesai berurusan dengan masalahnya walau hanya untuk sementara waktu, memilih duduk bersandar pada dinding kayu beberapa kaki di samping pintu Ernest memperhatikan lampit rotan yang tadi sore dibawa Arsyana kini telah terbentang di antara pintu masuk dan tilam tempat ia berbaring sebelumnya.


Apa wanita itu tidur di sana kemarin malam? Ernest agak tidak menyangka Arsyana akan menyerahkan tempat tidurnya untuk orang asing mengingat bagaimana sedikitnya petimbangan yang dimiliki wanita itu sejak tadi.


Tok.


Satu suara dari ketukan di pintu hampir membuat Ernest terjerembab karena terkejut, sebelum dia sempat menenangkan jantungnya yang kini berdetak sangat kacau ketika satu detik lalu hampir berhenti suara Arsyana lebih dulu terdengar dari luar.


“Ernest, kamu berpakaian?”


“Tentu saja!” seru Ernest malu mendengar pertanyaan tersebut walau dia tahu apa yang dimaksud Arsyana.


“Hanya memastikan.”


Pintu terdorong ke dalam dan saat menoleh Ernest melihat wanita itu masuk dengan langkahnya yang ringan. Sekarang Ernest ingat kenapa dia terlalu sering dikejutkan dengan kemunculan Arsyana, wanita itu berjalan terlalu halus hampir tidak membuat suara di setiap gerakannya kecuali Ernest dengan sengaja memperhatikan atau Arsyana sengaja membiarkan dirinya diperhatikan seperti saat sore tadi ketika wanita itu keluar membawa baki.


Ernest semakin menyadari betapa tidak biasanya wanita itu. Kemampuan berjalan tanpa menimbulkan suara hingga mengurangi rasa keberadaan seperti yang dimiliki Arsyana bukanlah sesuatu yang datang begitu saja, apalagi hal tersebut sepertinya telah menjadi gerakan harian oleh Arsyana. Apa yang membuat wanita ini memiliki kebiasaan seperti itu?


“Apa?” tanya Arsyana yang merasa Ernest terus menatapnya dari masuk hingga melewati lampit dan duduk di atas tilamnya, “aku pasti akan membunuhmu jika kamu memikirkan sesuatu yang cabul.”


Ernest terkesiap ngeri mendengarnya, “aku tidak! Dan juga apa kamu tidak malu mengucapkan kata itu!”


Arsyana mengerling bosan dan bertanya dengan penuh sarkasme dalam nadanya, “Jadi apa hanya laki-laki yang bisa mengatakan kata cabul?”


“Bukan begitu maksudku!”


“Ya… ya… terserah.”


Mendengar ketidakpedulian wanita itu membuat Ernest tanpa sadar merengut. Dimana sih wanita ini dibesarkan sampai begitu bebas dalam berkata-kata, wanita lainnya akan malu mengucapkan kata cabul apalagi di depan seorang pria.

__ADS_1


“Apa kamu masih belum mau tidur?” tanya Arsyana sambil melempar salah satu bantal dan selimut yang sebelumnya tersusun di atas tilam ke lampit yang ada di sebelahnya.


“Apa kamu biasanya tidur pada waktu ini?”


“Apalagi yang bisa dilakukan di sini saat kamu sendirian.”


Ernest mengangguk mengerti, “maaf membuatmu terbangun kemarin.”


“Aku akan menambahkannya ke dalam pembayaranmu nanti.”


“Tidak masalah, hanya saja aku sepertinya memerlukan waktu agak lama untuk membayarnya mengingat keadaanku sekarang.”


Arsyana tersenyum dengan percikan geli di matanya yang memberikan tanda kalau dia tahu, “sudah jelas. Kamu terlalu miskin dan tidak berguna sekarang.”


Ernest memelototinya namun dengan kasar tetap mengakuinya, “kamu benar aku miskin dan tidak berguna.”


Wanita itu tertawa keras karenanya.


Ernest mendengus melihatnya.


Saat tawa mereda menyisakan kekehan kecil di ujung, kilat geli dan kesal bertemu pandang di cahaya redup lilin yang berpendar.


“Kamu bisa tidur di situ,” kata Arsyana pelan menunjuk lampit yang terbentang.


“Ya, dan maaf membuatmu pergi dari tempat tidurmu kemarin.”


Arsyana tidak menjawab hanya saja senyum di wajahnya menjadi lebih lebar dan matanya memandang lucu Ernest yang beranjak ke tempat yang dimaksud.


“Aku tidak pergi dari tempat tidurku.”


Gerakan Ernest yang sedang meletakkan bantal dengan benar terhenti, dia memandang Arsyana yang masih melihatnya dengan raut nakal, “apa maksudmu?”


“Aku tinggal sendiri dan tidak membutuhkan lampit itu jadi selama ini hanya membiarkannya tergelatak berdebu, baru aku cuci hari ini.”


Ernest menatap kosong wanita itu.


Arsyana mengabaikannya dan berdiri lalu berjalan melewati sisi atas tempat tidur keduanya menuju lilin yang bersinar di atas meja.


“Hei kamu tidak bermaksud mengatakan kemarin kita—” Ernest tidak mampu melanjutkan ucapannya karena rasa malu.


“Apa?” nada geli di suara wanita itu terdengar jelas menggema di tengah kegelapan akibat satu-satunya sumber cahaya mereka di dalam ruangan telah dipadamkan dan hanya menyisakan rona perak rembulan yang mengintip dari lubang angin di atas jendela.


“Kamu bercanda bukan?”


“Tidak.”


“Kamu—!"


“Apa kamu malu?”


Ernest mendengar gemerisik pakaian saat wanita itu kembali ke alas tidurnya. Matanya yang perlahan beradaptasi dengan kegelapan menangkap siluet Arsyana, “kamu adalah wanita!”


“Sangat jelas, jadi?”


“Kamu tidak bisa sembarangan—!"


Arsyana mendengus mendengar rasa malu di dalam seruan agresif Ernest, “Jangan memikirkan hal kotor atau aku akan mengusirmu.”


“Aku tidak! Dan juga itu kamu yang seharusnya hati-hati untuk tidak menyiratkan sesuatu!”


“Tapi apakah aku salah dengan mengatakan hal yang sebenarnya? Kepalamu saja yang berpikir kemana-mana.”


“Itu! Perkataanmu membuatku merasa apa yang aku pikirkan adalah kebenarannya.”


“Bersihkan pikiranmu kalau begitu.”


“Kamu—!"


“Pergi tidur dan berharap kepalamu akan jernih saat bangun besok.”


Apa yang tidak dikatakan Arsyana adalah dia memang tidak pergi dari tempat tidurnya kemaren malam tapi membiarkan Ernest tidur di lantai kayu kamar tepat di samping tilam dan hanya setelah pagi harinya dia memindahkan pria itu. Salahkan dirimu sendiri yang tidak sadar saat dipindahkan dengan gerakan sebesar itu. Walau Arsyana tahu alasan mengapa orang itu tidak bangun mungkin akibat kehilangan darah sebelumnya.


*


Ernest telah berbaring sangat lama namun kantuk belum juga menghampiri, mungkin karena dia terlalu banyak tidur seharian tadi. Melirik ke sebelah, ia bisa melihat bayangan dari garis tubuh Arsyana yang sedang tidur.


Perrnafasan wanita itu sangat tenang di kegelapan malam yang memberikan tanda kalau Arsyana telah masuk ke tahap tidur yang dalam, namun begitu Ernest sangat yakin jika dia melakukan sesuatu yang buruk wanita itu akan langsung terbangun dan menyerangnya. Dari interaksi mereka satu hari ini, dibalik semua kata-kata godaan yang sering membuat dirinya malu, Ernest menyadari betapa waspadanya Arsyana.


Ernest juga tidak mau mencoba kemampuan dan kekejamannya. Seorang wanita yang berani berpergian dan tinggal sendirian serta tidak takut membawa seseorang yang terluka khususnya yang merupakan lawan jenisnya ke dalam tempat tinggalnya entah orang itu baik hati namun bodoh dan naif atau memiliki keyakinan bisa melindungi dirinya sendiri. Dan Arsyana jelas bukan orang bodoh apalagi naif.


Tidak, wanita itu agak busuk untuk menjadi orang naif.


Dari cara Arsyana yang tanpa ragu membicarakan pembayaran atas bantuannya namun tidak asal-asalan dalam perawatan lukanya, ya walau dia juga tidak ragu untuk menyuruh dan menghinanya tapi wanita itu menghindari perintah yang bisa menyebabkan lukanya robek kembali, Ernest masih bisa melihat kalau dia adalah orang yang realistis.


Menghela nafas, Ernest menarik selimut tipisnya hingga leher dan mengibaskan tangannya untuk mengusir nyamuk yang berdengung di telinga. Masih ada nyamuk nakal yang lolos walau sudah ada rempah-rempah pengusir di ruangan ini. Mungkin karena beberapa bagian dari bangunan ini sendiri tidak terawat sehingga menjadi sarang nyamuk.


Pada akhirnya Ernest memejamkan mata mencoba menarik masuk kantuk untuk mendatangi dan membuatnya tidur walau dengan semua pikiran kacau di kepalanya. Melodi dari serangga malam dan pepohonan gunung yang bergemerisik lembut tertiup angin setidaknya cukup membantu untuk menenangkannya.


Satu hari ini terlewati dengan cukup baik.


***

__ADS_1


__ADS_2