
Arsyana keluar dari pintu belakang restoran—dan satu-satunya tempat dia biasa menyerahkan hewan kecil tangkapannya seperti kelinci liar atau burung yang tidak beruntung hinggap di jebakannya dengan harga yang memuaskan. Untuk semua kemakmuran yang diklaim semua orang lihat di kabupaten, Arsyana tahu lebih jelas bahwa Kabupaten Lutua ini masih jauh terbelakang dibandingkan kabupaten lain yang berada di sekitar ibu kota negara.
Hanya ada satu restoran mewah yang memiliki kemampuan untuk membeli daging hewan liar darinya kapan saja tanpa jadwal ataupun pemberitahuan. Kalau bisa Arsyana ingin menyerahkan tangkapannya langsung ke kawasan perumahan elit, tetapi mereka yang memiliki rumah di sana cenderung sudah memiliki orang kepercayaannya sendiri dan tidak setiap orang bisa memasuki wilayah itu tanpa seorang pengantar.
Arsyana tidak ingin terlalu bersosialisasi dan dekat dengan masyarakat sekitar—baik yang di desa maupun kabupaten, dia tidak tahu kapan dirinya harus pergi lagi. Juga itu agak menjengkelkan jika seseorang mencoba memaksa masuk ke ruang pribadinya dan untuk hidup dalam bermasyarakat berarti sama saja mengarah pada minimnya kemewahan itu.
Mungkin itu juga alasannya membiarkan pria pendatang itu menetap sementara untuk memulihkan diri. Mereka yang terbiasa bertahan sendiri sengat mengetahui pentingnya ruang pribadi dan orang itu jelas mengerti kapan untuk berhenti bertanya atau membuat kehadirannya tidak menjadi begitu besar sehingga terasa mengganggu. Arsyana menghargai itu atau dia sudah mengusir Ernest sejak lama. Duh, dia bukan orang baik yang hanya diam dan menanggung ketidaknyamannya. Arsyana adalah orang yang egois dan dia mengakui itu.
Mendongak melihat langit biru cerah dan gumpalan awan yang ada, Arsyana berdecak sebal saat teringat sikap toleransinya yang tiba-tiba muncul pagi ini sehingga membuatnya keluar dan berjalan agak lambat dari biasanya—ulah mempertimbangakan luka pria itu. Dia harus mencatatkan bunga untuk ini.
Bergerak menjauh dari restoran, Arsyana kembali melangkah menuju pusat pasar dan berniat mengisi kembali kebutuhan yang diperlukan. Dia membeli beras—dia mengganti makanan pokoknya dari ubi dan sejenisnya setiap dua atau tiga hari sekali, beberapa rempah dan bumbu yang tidak dia tanam, lilin yang perlu diisi ulang, tidak ketinggalan gula dan teh—masih ada kopi yang tersisa di rumah, serta sedikit jajanan kue basah yang dia lihat pedagang jajakan.
Setelah cukup lama berputar di daerah inti pasar Arsyana beranjak menuju area yang sepi namun lebih teratur, dia berniat membeli sabun baik untuk mandi atau mencuci. Meski itu lebih mahal dibandingkan barang-barang yang telah dia beli, Arsyana masih memilih untuk memilikinya. Dia bisa berkompromi dengan makanan—selama mengenyangkan dan bergizi walau tidak enak, juga terbiasa hidup di mana saja—dia akan membuatnya selayak mungkin, tetapi untuk kesehatan selama dia bisa mengusahakannya maka akan dia lakukan.
Karena dia tahu manfaat dari sabun ini, barang yang beberapa puluh—atau ratus? tahun lalu hanya bisa digunakan dan beredar di kalangan dokter dan tokoh kesehatan lainnya. Barang ini sendiri telah menjadi komoditas umum di Negara Baruun dan dibawa masuk ke negara ini beberapa tahun sebelum perang besar lebih dari 10 tahun lalu namun, saat itu masih digunakan sendiri oleh mereka atau pribumi dari kalangan atas.
Baru setelah negara ini menyatakan lepas dari pemerintahan boneka Negara Baruun, Paxa memutuskan menyebarkan resep sabun dan menjadikannya barang umum yang bisa dibeli masyarakat walau sekarang ini harganya masih tergolong mahal.
Arsyana tidak peduli dengan perang, politik, atau siapa yang memerintah negara, namun dia bisa mengakui kepedulian Paxa yang sekarang ini kepada rakyatnya. Walau tidak kentara dan lambat tapi perubahan itu ada. Mungkin itu juga alasan mengapa dia—Paxa terpaksa melakukan perang besar itu. Bukan hanya untuk menjadi pemimpin mandiri yang lepas dari kendali Negara Baruun tapi juga untuk menciptakan perubahan bagi negaranya.
Arsyana mengingat wajah yang tersenyum namun memancarkan kesedihan saat melihat rembulan di langit malam. Yang berkata dengan tenang walau belati mengancam di lehernya. Aku telah gagal dengan tanggung jawabku sebagai pemimpin negara, bahkan sampai aku mati aku hanya bisa melihat rakyatku menderita.
Berhenti melangkah dan mendongak menatap langit yang masih cerah, menangkap kilasan orang-orang yang berjalan melewatinya, Arsyana bertanya-tanya mengapa pria itu merasakan kesedihan dan keputusasaan karena kegagalannya dengan apa yang disebut tanggung jawab. Karena kegagalan pertama Arsyana dengan tanggung jawab tidak memberikannya rasa pahit dan kesedihan melainkan kelegaan yang tidak pernah tahu bisa dia rasakan. Apa yang membuat mereka berbeda?
Merasakan pukulan ringan di sisi bahunya membuat Arsyana keluar dari ingatan masa lalu, dia menoleh pada orang yang baru saja lewat dan tidak sengaja menabraknya. Arsyana melemparkan senyum minta maaf dan orang itu mengangguk ringan sambil terus berjalan pergi, itu kesalahannya karena berhenti di tengah jalan.
Menyingkirkan pikiran lama yang tidak berguna, Arsyana melanjutkan niatnya dan berjalan menuju kios yang menyediakan komoditas kebersihan itu.
Sesaat setelah ia sampai di sana dan akan memilih potongan sabun untuk dibeli, sudut matanya samar-samar menangkap sosok yang dikenalnya. Arsyana menoleh untuk memastikan dan benar saja menemukan Ernest di kejauhan berhenti dan menatapnya dengan raut terkejut.
Dia melihat wajah pria itu menjadi tenang dan berjalan ke arahnya. Arsyana sedikit mengernyit melihat bangunan yang tidak jauh di belakang Ernest, sepertinya baru keluar dari sana. Apa yang dilakukan orang itu di toko buku?
“Maaf,” ucap Ernest ketika sudah berada di depan Arsyana, “apa aku melewati waktu?”
Arsyana melihat rasa bersalah di wajah itu dan menjawab dengan tenang, “tidak,” kembali mengalihkan perhatiannya ke tujuan awal, dia mengambil dua ikat sabun batang dan menyerahkannya ke pedagang wanita dewasa yang memperhatikan mereka dari belakang kios untuk dibungkus.
Arsyana sedang mengambil uang saat pedagang wanita itu berkata, “harga sabun naik sekarang, menjadi 40 Flo.”
Berhenti dari gerakannya, Arsyana mengernyit dan melihat ke wanita yang tengah membungkus sabunnya dengan daun, “aku beli dua minggu lalu masih 30 Flo kak, kenapa naik tinggi?”
“Mau bagaimana lagi, harga bahan utama sabunnya naik,” pedagang wanita itu menghela nafas.
“Minyak menjadi langka?”
Pedagang itu menatap Arsyana sejenak sebelum dengan raut gelisah merendahkan suaranya, “apa kamu tidak tahu kalau banyak desa di beberapa provinsi yang ada di barat telah dihabisi perampok?”
Wilayah Barat negara ini merupakan kawasan dataran rendah yang cocok untuk perkembangan pohon penghasil minyak. Jika sesuatu terjadi di sana tentu saja akan memberi pengaruh pada pasokan yang beredar.
Walau wajahnya tenang namun dalam hati Arsyana cukup terkejut mendengar berita tersebut, perampokan bandit seperti itu sudah lama tidak terdengar semenjak Paxa saat ini melakukan pembersihan besar-besaran setelah kemenangan di Utara untuk memastikan tidak ada lagi tentara Negara Baruun di negara ini. Apa masih ada yang terlewat?
“Kapan perampokan ini terjadi?”
Arsyana mendengar Ernest mengajukan tanya dan menoleh ke arahnya, “kamu tahu sesuatu?”
__ADS_1
Ernest menatap Arsyana dan menjelaskan, “aku menemukan beberapa berita perampokan di surat kabar hari ini.”
“Di mana?”
“Desa perbatasan Provinsi Bukhu.”
Keduanya menoleh ke arah pedagang wanita saat mendengar suara terkesiap, “sungguh?!”
“Ya,” Ernest melihat ketakutan di wajah pedagang itu dan menambahkan kabar untuk menenangkannya, “Zakh sudah mengirimkan tantara tambahan ke sana.”
“Tapi ketika kejadian itu masuk ke surat kabar artinya sudah berhari-hari berlalu, perampok itu pasti telah bersembunyi.”
“Zakh juga pasti telah memikirkan itu dan mereka bisa saja memiliki lebih banyak berita dibandingkan dengan yang dilaporkan surat kabar jadi jangan khawatir,” ujar Arsyana dengan nada menenangkan, “tentara pasti telah bersiap bagaimanapun kita memiliki keuntungan bahwa berita perampokan itu sendiri telah ada di surat kabar. Pemimpin di setiap wilayah provinsi ini pasti akan lebih waspada karenanya.”
“Apa yang dikatakannya masuk akal,” tambah Ernest bertujuan untuk meyakinkan, “tentara biasanya memiliki pengawasnya sendiri yang lebih cepat.”
Pedagang wanita itu terlihat sedikit lebih tenang dan memandang Ernest heran, “apa kamu tentara?
Ernest tertegun sejenak dan melirik sekilas ke wanita yang berdiri dengan wajah tenang di sampingnya, “bukan.”
“Ah, aku pikir kamu tentara karena sepertinya kamu tahu bagaimana mereka bekerja.”
“Aku kebetulan pernah mendengarnya sedikit dari kenalan.”
“Begitu,” ucap pedagang wanita itu lembut, “padahal perampok yang di Barat belum ada kabar telah selesai namun yang di sini ikut muncul juga.”
“Jangan sampai panik apalagi rusuh dan juga Kabupaten Lutua masih cukup jauh dari perbatasan Provinsi sehingga tentara di sini memiliki waktu untuk lebih bersiaga,” kata Arsyana sembari menyerahkan uang yang telah dia hitung ulang.
Pedagang wanita itu memberikan sabun yang telah dibungkus dan 5 Flo dari yang diterimanya ke Arsyana, “ini terima kasih karena sudah memberitahuku berita di surat kabar.”
“Aku tidak bisa membaca begitu juga dengan kebanyakan masyarakat biasa di sini. Lagi pula jarang bisa bertemu langsung dengan mereka yang bisa membaca, karena itu biasanya berita dari surat kabar lebih lama diketahui kalaupun beredar kadang sudah simpang siur jadinya.”
“Jika kamu yakin,” tanggap Arsyana setelah sesaat tertegun mendengar penjelasan itu.
Pedagang wanita itu tersenyum, “kembali ke sini lagi kalau mau membeli sabun ya.”
“Ya.”
Arsyana memasukkan sabunnya ke dalam tas lalu mengangguk singkat pada sang pedagang sebelum melangkah pergi diikuti Ernest di sebelahnya.
Untuk sesaat keduanya berjalan dalam diam melewati berbagai kios dan orang-orang di sekitar. Ernest melirik tas di punggung Arsyana yang sepertinya tidak berubah—tetap terisi kecuali tidak ada lagi gerakan menggeliat di dalamnya, “apa kamu masih memiliki sesuatu yang dibeli?”
“Tidak, aku sudah selesai.”
Ernest menanggapi dengan dengungan rendah tanda mengerti dan kembali diam.
Kembali memasuki kawasan yang lebih ramai, suara sahut menyahut aktivitas pasar mengeras sebagai latar belakang keduanya.
“Aku bisa membawa tasmu,” Ernest menawarkan dengan nada ringan, namun nyatanya ia sedikit tidak nyaman melihat wanita itu membawa tas besar sedangkan dirinya hanya berjalan dengan tangan kosong.
“Apa kamu yakin?”
“Aku tidak selemah itu.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan kakimu?” Arsyana meliriknya datar dan dengan nada kosong menambahkan, “belum tentu kita bisa mendapatkan tumpangan gratis lagi untuk kembali, apa kamu yakin berjalan sejauh itu dengan beban tambahan tidak akan membuat luka kakimu yang baru membaik kembali memburuk?”
Ernest tertegun, “kenapa kita tidak naik angkutan gerobak saja?”
“Dan membuatku membayar untukmu? Bermimpi.”
“Aku selalu merasa kamu terlalu kejam untuk seorang wanita.”
“Jika tidak aku akan dimanfaatkan oleh pria sepertimu.”
Ernest mendengus geli, sebenarnya dia tidak pernah keberatan dengan kata-kata langsung Arsyana. Lagipula Ernest cukup tahu kalau dibeberapa keadaan wanita bisa lebih kejam dibandingkan pria.
Arsyana memutar matanya namun tersenyum kecil melihat wajah pria di sampingnya menjadi lebih rileks.
Kekosongan kata di antara mereka setelahnya entah mengapa menjadi lebih nyaman dari pada sebelumnya.
*
Ternyata membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk kembali dengan berjalan kaki. Sama seperti waktu kebanyakan yang dibutuhkan orang yang bersepeda namun mengingat kecepatan yang digunakan berbeda, Ernest bisa melihat betapa banyak jarak yang dipotong oleh jalan pintas ini.
Dibandingkan dengan gerobak sapi sebenarnya lebih cepat dengan berjalan kaki jika menggunakan jalan terobosan ini, selama tidak keberatan dengan kaki yang lebih lelah karenanya.
Melewati pintu belakang dan masuk ke dapur, Ernest segera mengambil cangkir dan berniat menuangkan air dari kendi yang ada di atas meja.
“Tuangkan aku juga.”
Melirik Arsyana yang bahkan tidak melihatnya—sibuk mulai megeluarkan isi tas, Ernest menuruti dan mengambil cangkir lainnya, “perlu aku bawakan ke sana?” candanya, hanya ada beberapa langkah antara meja dan tempat wanita itu membongkar.
Arsyana meliriknya tak terkesan, “letakkan saja di meja.”
“Mm.”
Ernest melihat wanita itu menyusun barangnya sebentar sebelum menoleh ke pintu yang mengarah ke dalam, menimbang apakah akan kembali ke kamar atau tidak.
“Pergi buka jendela kamar supaya angin masuk,” perintah Arsyana yang kini menoleh ke arahnya, “juga cuci tanganmu dan periksa apakah lukanya meradang.”
Ernest melirik sejenak luka di tangan dan kakinya, “seharusnya tidak ada masalah,” gumamnya namun masih pergi ke sisi tempayan berisi air yang digunakan untuk keperluan di dalam ruangan dan mencuci tangannya di tempat yang disediakan sebelum akhirnya meninggalkan dapur menuju kamar.
Membuka daun jendela sehingga udara masuk membuat ruang yang sebelumnya pengap terasa lebih lega. Ernest duduk di tempatnya yang biasa—bersandar pada dinding kayu tidak jauh di samping pintu dan menarik ke atas kain celana kaki kanannya sehingga memperlihatkan bekas luka di sana.
Mengernyit saat melihat kemerahan di sekitar bekas luka, Ernes dengan ringan menekan daerah tersebut dan mengela nafas lega ketika tidak merasakan nyeri berlebih walau daerah sana terasa sedikit panas. Selain memeriksa bekas luka di kaki Ernest juga melihat yang ada di lengannya, menemukan kondisi bekas luka di bagian ini jauh lebih baik.
Bagus, seharusnya dengan keadaan ini bukan masalah untuk pergi ke kabupaten setiap hari.
Namun walau begitu Ernest tidak ingin mengambil resiko dengan mengabaikannya, meraih obat salep yang selama ini ia gunakan—sangat terkejut saat hari kedua dia di sini wanita itu memberikan sebotol salep begitu saja dan dengan hati-hati menerapkannya ke sekitar bekas luka muda sehingga memberikan sensasi dingin di tempat yang disentuhnya.
Meletakkan kembali salep ke tempat setelah memastikan penerapan yang dia lakukan telah rata, Ernest kembali duduk dan melunjurkan kakinya dengan sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat ke luar jendela. Batang-batang kecil pohon bergoyang ringan tertiup angin menimbulkan suara gerisik dari dedaunan yang bergesekan.
Selama lebih dari dua minggu tinggal di sini Ernest mulai terbiasa dengan suara latar belakang alam, seperti deru angin yang menerpa daun atau kicau burung kecil bersama derik serangga yang berisik.
Bunyi-bunyi itu walau lebih sering dan keras entah mengapa tidak lagi mengganggu Ernest seperti dulu—kala rumah kecil terasing di sudut desa hanya memiliki dia sebagai pengisi kekosongan atau ketika beberapa tahun setelahnya dirinya lebih sering mencari tempat tuk berteduh daripada tidak.
Betapa ironisnya. Dulu ia memiliki rumah namun hanya ada dirinya sendiri di sana dan saat dia telah terhubung dengan banyak orang dia tidak lagi memiliki tempat tuk kembali. Karena itu dia pergi, meninggalkan mereka yang telah bertarung bersama di sisinya untuk menemukan kembali tempat ia bisa pulang.
__ADS_1
Hanya persamaan di antara keduanya adalah dia tidak terlalu suka suara alam sebagai latar belakang. Karena itu terasa terlalu sepi.
***