
Sore hari saat cahaya Matahari tidak seterik sebelumnya, Ernest sedang duduk menikmati angin di belakang ketika wanita itu keluar dan memberinya tatapan miring.
“Apa?” tanyanya tak mengerti.
“Apa kamu harus memamerkan ketidakbergunaanmu?” sinis Arsyana.
“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan?”
“Buat dirimu berguna.”
“Dengan apa?”
Alih-alih menjawab Arsyana pergi berjalan menuju bagian perkarangan yang menjadi sudut berkumpulnya tumbuhan yang ditanam dalam jambangan.
Ernest melihat wanita itu berjongkok di sana dan terlihat sedang mengamati dengan tangannya yang membolak-balikkan dedaunan di depannya.
Arsyana menoleh ke arahnya, “Ernest bawa pantatmu kemari.”
“Tidak bisakah kamu berucap dengan sopan?” keluh Ernest namun masih menuruti wanita itu dan melangkah mendekat.
“Ingin aku mengeluarkan kata ‘tolong’?”
“Setidaknya jangan terdengar kotor.”’
Arsyana memutar matanya, “apa kamu? Seorang gadis kecil yang belum keluar kamar?”
“Kamu yang seorang wanita.”
“Duh, pengamatan yang luar biasa.”
Ernest mengernyit mendengar nada sinis wanita yang kini telah kembali menoleh ke kumpulan tanaman di depannya dan memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan dengan bertanya, “apa yang kamu inginkan?”
“Bantu aku menyiangi tumbuhan yang ada di sini.”
Ernest tertegun sejenak, “aku belum pernah malakukan ini,” akunya jujur.
“Wow, apa kamu seorang tuan muda? Haruskah aku mulai memperlakukanmu dengan halus?” cemooh Arsyana melirik pria yang kini menurunkan diri di sampingnya dan menggunakan bakiak sebagai alas duduk di sana.
“Aku pernah menyiangi tanaman tapi bukan yang berada dalam jambangan seperti ini.”
“Itu tidak seperti akan jauh berbeda dengan yang ada di tanah langsung.”
“Aku juga tidak pernah menyiangi tanaman bumbu dan rempah.”
“Selalu ada yang pertama kali untuk semua hal.”
Ernest melihat Arsyana dengan mudah menemukan dan menarik gulma dari balik rimbunan daun hijau. Setelah beberapa saat memperhatikan dan walaupun masih tidak sepenuhnya yakin Ernest juga ikut mencabuti apa yang ia anggap rumput liar.
“Jangan menggunakan tanganmu yang terluka,” Arsyana mengingatkan tanpa memandangnya.
“Aku tahu.”
Keheningan menyelimuti mereka untuk sementara waktu. Keduanya terpaku pada bagian masing-masing.
Pergerakan Ernest tidak segesit Arsyana, namun untungnya bukan tangan utamanya yang terluka sehingga dia tidak terlalu lambat juga dalam penyiangan ini.
Plak!
“Apa-apaan Arsy!” teriak Ernest yang terkejut dengan tamparan di pergelangan yang membuat tangannya menjauh dari permukaan tanah di jambangan.
“Kamu menyebut namaku apa?”
Ernest memerah malu saat menyadari apa yang dia katakan, “itu karena aku terkejut.”
“Dan memotong namaku seenaknya?”
“Aku terkejut.”
“Wow,” Arsyana mengerlingkan matanya tak terkesan, “pembelaan yang sangat hebat.”
“Hentikan nada ironimu itu.”
“Kebodohanmu membuatku sulit melakukannya.”
Menghela nafas kalah, Ernest memandang wanita di sampingnya serius, “kenapa kamu memukulku?”
“Kamu merusak tanaman idiot.”
“Aku tidak.”
Arsyana menunjuk sekumpulan rumput yang ingin Ernest cabut sebelumnya, “kamu akan melakukannya jika aku tidak menghentikanmu.”
“Itu gulma.”
“Tidak semuanya.”
Ernest mengernyit sembari membiarkan tubuh bagian atasnya mundur sedikit agar memberi ruang kepada Arsyana yang mencondongkan tubuh ke arahnya ketika memilih dengan hati-hati mana rumput yang dicabut dan mana yang harus dibiarkan, “apa itu?”
Tumbuhan itu memiliki daun berbentuk bulat dan agak sedikit lonjong.
__ADS_1
“Kamu tidak mengetahuinya?”
“Pernah melihatnya tumbuh liar di pinggir jalan, karena itu kupikir gulma.”
“Asal kamu tahu salep yang aku berikan padamu itu bahan utamanya adalah tanaman ini,” Arsyana mendengus melihat Ernest menatap kosong tumbuhan yang dimaksud, “tidak disangka bukan?”
“Orang-orang yang kulewati sepanjang jalan menganggapnya gulma.”
“Kebanyakan orang menganggapnya begitu.”
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Ernest penasaran.
“Kamu pikir buku apa saja yang ada di atas mejaku?”
“Aku hanya selalu membaca bukumu yang ada di baris terluar.”
Arsyana kembali ke posisi awalnya, “kesalahanmu kalau begitu.”
“Jadi aku boleh membaca seluruh bukumu?”
“Sepertinya saat kamu bertanya dulu aku tidak pernah melarangmu membaca semua yang ada di sana.”
“Ah, aku tidak ingin menduga sembarangan dan melanggar batasmu,” ujar Ernest mengaku dengan mudah.
Arsyana hanya diam setelah mendengarnya dan terus membersihkan tumbuhan hama yang ada.
Ernest tidak mengharapkan tanggapan dan kembali menyiangi jambangan di sisinya, kali ini jauh lebih hati-hati dari sebelumnya.
“Tidak perlu menduga-duga,” ucap Arsyana tiba-tiba setelah keduanya cukup lama dalam keheningan, “kamu selalu bisa bertanya.”
“Bisakah aku?”
“Ya.”
“Bahkan jika tanpa sengaja aku melangkah terlalu jauh dengan pertanyaanku?” Ernest bertanya dengan nada tenang.
“Aku hanya memilih untuk tidak menjawab jika itu terjadi.”
“Jadi tidak akan membunuhku?”
“Kulakukan jika kamu tidak berhenti dan terus memaksa.”
Ernest diam-diam tersenyum mendengarnya, “dicatat.”
Suasana terasa lebih ringan dan menyenangkan setelahnya. Keduanya terus menggerakkan tangan mereka sembari mengobrol, kebanyakan Ernest yang bertanya mengenai beberapa tumbuhan yang tidak dia ketahui ataupun Arsyana yang menegur ketika tanaman lain hampir tercabut karena dikira gulma.
Ernest merasa kehangatan Matahari di sore hari kali ini tidak hanya menyentuh kulit karena tanpa sepengetahuannya ada tempat lain yang juga terasa sama. Itu adalah dadanya dan dia tidak ingin mengakui bahwa bukan karena Sang Surya kenapa anggota tubuhnya yang berdetak bisa terasa sehangat sekarang. Dan juga jelas itu bukan karena tawa wanita di sampingnya. Tidak mungkin.
*
Tetapi tidak membutuhkan waktu lama untuk dirinya menghafal jalan karena pada percobaan yang keempat Ernest sudah berhasil membedakan semua arah dengan tepat walau harus benar-benar serius memperhatikan lingkungannya. Tidak sealami Arsyana yang terlihat seakan-akan hanya melangkah di jalan satu arah.
“Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Ernest saat keduanya duduk bersebrangan di dalam kamar pada siang menjelang sore di hari terakhir minggu ini.
Ernest duduk di tempatnya biasa dan Arsyana berada di atas tilam bersandar tepat di bawah jendela yang terbuka lebar.
Arsyana bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari buku di tangan, “melakukan apa?”
“Menghafal jalan di hutan.”
“Sama sepertimu.”
“Dan saat dirimu tersesat?”
“Aku tidak bodoh sepertimu,” Arsyana melirik Ernest yang sedang memandangnya dengan buku di pangkuan—kini yang sudah bisa bersila karena tidak lagi harus berlunjur untuk menghindari luka sebelum kembali ke bacaannya, “aku meninggalkan jejak untuk kembali.”
“Kamu melewati desa di bawah gunung saat pertama kali ke sini?”
“Ya.”
“Kalau begitu,” Ernest menjilat bibir bawahnya dan terdiam untuk sesaat, “bagaimana kamu bisa mengetahui jalan pintas itu?”
Itu pertanyaan yang sama dengan yang pernah dia lontarkan saat pertama kali Arsyana membawanya melewati hutan untuk menuju kabupaten. Ernest tidak tahu apakah akan menerima jawaban tak acuh yang sama juga.
Kali ini Arsyana menurunkan bukunya dan lurus memandang Ernest, “kenapa kamu ingin tahu?”
“Ini bodoh.”
“Tapi kamu mengulangi pertanyaan itu untuk yang kedua kalinya.”
“Aku menyadari itu.”
“Jadi kenapa?”
Ernest merasa tertusuk dengan mata coklat itu jadi dirinya mengalihkan pandangan ke luar jendela, namun dengan jujur menjawab, “aku ingin mengenalmu.”
Suara gerisik dedaunan untuk sementara menjadi pengisi keheningan di antara mereka.
Arsyana kembali mengangkat bukunya, “kamu menjadi lengket Ernest,” ujarnya pelan.
__ADS_1
“Mungkin.”
“Burung tidak bertengger di pohon terlalu lama sebelum kembali terbang.”
“Beberapa burung memiliki sarang untuk kembali.”
“Untuk bertelur.”
Ada keheningan untuk sementara, “bagus aku bukan burung kalau begitu,” balas Ernest dengan tenang, samar-samar mengerti apa yang dimaksud wanitu itu.
Hanya dengusan geli yang ia terima. Ada sebuah pengertian di sana. Niat yang disampaikan secara tersirat dan tanggapan yang diterima—bukan penerimaan tapi juga bukan penolakan.
“Jadi kenapa?”
“Kamu keras kepala,” keluh Arsyana.
“Apakah pertanyaan ini mengusikmu?”
“Aku hanya malas menjelaskan.”
“Kalau begitu,” pada akhirnya Ernest mundur selangkah dalam pendekatannya, “boleh aku menebaknya?”
“Tentu.”
“Apakah itu dari keluarga pemilik sebelumnya?”
“Mereka melewati jalan yang lebih jauh dari sisi lain desa mereka,” bantah Arsyana tenang.
“Artinya kamu sendiri yang menemukan jalan ini?”
“Bisa dikatakan begitu.”
Ernest mengangguk mengerti, “kamu sengaja mencari jalan lain untuk jalur pelarian,” kali ini bukan pertanyaan melainkan pernyataan langsung.
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?”
“Kamu wanita yang cerdas.”
“Aku suka berpikir kalau diriku tidak bodoh.”
“Kamu berada di tempat asing tanpa siapa pun yang dikenal dan itu akan masuk akal jika dirimu pergi memeriksa lingkungan.”
Arsyana tidak menurunkan bukunya namun perhatiannya kini teralih ke Ernest yang melihatnya. Pria itu melanjutkan dugaannya.
“Walau aku tidak tahu pasti sejauh mana, tetapi dari beberapa kali tidak sengaja melihatmu berlatih bela diri aku bisa mengatakan kemampuanmu termasuk tingkat atas. Kamu memiliki kekuatan untuk melindungi diri.”
“Hanya karena itu?”
“Alasan utamanya adalah pencegahanmu untuk tidak bertemu para penduduk desa terdekat, kamu adalah seseorang yang memiliki pemikiran jauh ke depan,” melihat Arsyana hanya diam Ernest kembali melanjutkan, “dan menilai keadaan bangunan ini yang tertata dan memiliki rasa sebuah tempat yang ditinggali, aku menduga kata ‘beberapa bulan’ kamu tinggal di sini yang pernah kamu sebutkan sebelumnya mungkin artinya hampir sama dengan satu tahun.”
“Jadi?”
“Aku hanya menyatukan semuanya.”
“Aku ingin mendengar kesimpulanmu.’
“Kamu orang yang waspada dan berpikir jauh sehingga mustahil tidak memikirkan solusi lain jika pelarian melalui jalan-jalan desa tidak bisa dilakukan, melindungi diri bukan masalah untukmu, kamu juga memiliki keberanian untuk itu, dan yang paling mendukung adalah kamu memiliki waktu untuk menjelajahi sekitar hutan dengan perlahan dan hati-hati.”
Arsyana tersenyum tipis, “tidak buruk.”
“Jadi dugaanku benar?” entah mengapa Ernest merasa bersemangat.
“Bagaimana jika aku mengatakan kalau itu kebetulan?”
Ernest tertegun mendengarnya.
“Kamu tidak sepenuhnya salah,” ujar Arsyana, “tapi memang kebetulan aku menemukan jalan itu.”
“Apa maksudmu?”
“Itu benar aku sedikit menjelajahi hutan, namun bukan untuk menemukan jalan.”
“Lalu?” tanya Ernest sedikit tak percaya.
“Aku mencari tempat bersembunyi.”
“Kenapa?”
“Seperti yang kamu bilang aku harus memiliki rencana lain jika jalan desa tidak bisa dilewati.”
“Tapi aku merasa ada yang salah dengan dirimu memasuki hutan hanya untuk mencari tempat bersembunyi, kamu sepertinya bukan seseorang yang akan membiarkan dirinya berada pada posisi tersudut.”
“Mungkin lebih tepatnya tempat bersembunyi untuk melakukan penyerangan diam-diam,” jelas Arsyana dengan tenang. Ada senyum di wajahnya, namun tidak seperti sebelumnya yang sering terlihat mencemooh dan geli atau bahkan sesekali tulus. Senyum saat ini terlihat tajam dengan mata datar dan kosong lurus memandang lawan bicaranya.
“Itu terasa lebih menyerupaimu,” kata Ernest setelah beberapa saat terdiam.
Dan begitu saja, ekspresi itu pecah. Arsyana tertawa keras mendengar tanggapan pria di depannya.
Ernest mendengus geli karenanya. Mengangkat buku dari pangkuannya, dia membiarkan sudut bibirnya tetap naik bahkan ketika matanya kembali menelusuri tulisan di buku yang dibaca dan suara tawa berangsur menghilang menjadi keheningan yang nyaman.
__ADS_1
***