
Paman Damar menurunkan mereka tak lama setelah melewati gapura perbatasan ibu kota kabupaten yang artinya tidak jauh dari sana. Ternyata Paman Damar harus mengirimkan barang yang dibawanya ke rumah salah satu anggota keluarga bosnya yang ada di daerah pemukiman kabupaten.
Keduanya mengucapkan terima kasih dan melihat kendaraan itu menjauh sebelum berjalan ke arah yang berbeda. Ernest mengikuti Arsyana sembari memperhatikan lingkungan sekitar dan menemukan bahwa penataan di kabupaten jelas lebih teratur, tanah lebih datar dibandingkan desa dan bangunan tidak terlihat berdiri di sembarang tempat sehingga jalur jalan tidak terhalangi.
Sepanjang jalan Ernest juga melihat orang-orang ramai berlalu lalang baik yang searah dengan mereka ataupun sebaliknya. Pedagang yang membawa pikulan bambu berisi barang dagangannya, wanita dengan tas belanja anyaman baik yang telah terisi ataupun masih kosong, dan anak-anak yang mengikuti ibunya atau yang hanya berlari bermain-main.
“Setiap berapa hari sekali pasar ini dibuka?” tanya Ernest penasaran.
“Setiap hari,” Arsyana sedikit memiringkan tubuhnya menghindari seorang anak yang baru saja melewatinya, anak itu menoleh ke belakang dan melontarkan ‘maaf’ namun tidak menghentikan larinya mengejar wanita yang sepertinya adalah ibunya. Ibu anak itu menjewer telinga anaknya dan menawarkan senyum minta maaf yang ditanggapi Arsyana dengan anggukan dan senyum ramah.
Arsyana menoleh ke Ernest, “perputaran di kabupaten lebih cepat dibandingkan desa, karena itu pasar di sini ada tiap hari sedangkan kecamatan hanya satu atau dua hari tertentu setiap minggunya.”
Ernest mengangguk mengerti dan terus mengikuti langkah wanitu itu, “ngomong-ngomong bagaimana kamu bisa kenal Paman Damar? Aku kira kamu sengaja mengasingkan diri.”
“Cukup sering bertemu di jalan saat mau ke kabupaten, tapi baru sekitar dua atau tiga bulan lalu Paman Damar menawarkan tumpangan, mungkin merasa kasihan karena setiap bertemu melihatku berjalan jauh sendirian.”
“Tidakkah dia menanyakan keluarga atau asal desamu?”
Arsyana dengan ringan menjawab, “memberitahunya kalau anggota keluarga yang lain bekerja dan aku tinggal di salah satu desa sekitar.”
“Dia tidak bertanya lebih lanjut?”
“Apa yang bisa ditanyai? Paman Damar jelas tahu dan mengerti kalau aku tidak akan bicara lebih lanjut, bagaimana mungkin seorang wanita memberi tahu tentang dirinya sendiri secara keseluruhan kepada orang asing yang hanya kebetulan bertemu di jalan?”
Ernest menanggapi dengan dengungan rendah tanda mengerti dan keduanya tidak lagi berbicara hanya terus berjalan sampai akhirnya lebih banyak penjaja mulai terlihat menandakan mereka mulai memasuki kawasan pasar.
Arsyana berhenti dan berbalik untuk menghadap Ernest, “aku akan pergi mengurus urusanku.”
“Ah,” Ernest menyadari dia tidak bisa terus mengkuti wanita itu, “oke.”
“Apa rencanamu?”
“Melihat-lihat?”
Tatapan Arsyana menyipit dengan maksud menilai.
Ernest menghela kalah dan menjelaskan, “aku masih belum tahu apa yang bisa kulakukan untuk mencari uang di sini, jadi hari ini aku ikut hanya bermaksud untuk melihat-lihat dulu.”
“Sebelumnya di pasar kecamatan, apa yang kamu lakukan?”
“Sebenarnya hari itu aku baru sampai dan berencana melihat-lihat dan mencari tempat bermalam, hanya kebetulan menemukan beberapa orang yang membutuhkan kuli untuk memindahkan barang.”
Arsyana mengangguk mengerti, “berapa lama kamu berencana berkeliling?”
“Kenapa?”
“Apa kamu tidak perlu kembali? Bahkan jika kamu mau kabur pedangmu masih di rumah loh.”
Ernest tertegun mendengarnya, bukan karena irama mencibir pada suara Arsyana melainkan kata ‘rumah’ yang disebutkan.
“Apa? Kamu beneran mau kabur tanpa membayar?” tanya Ariana yang kekhawatiran pada kalimatnya berkebalikan dengan nada tenang wanita itu, “bukan masalah, pedangmu sepertinya cukup berharga.”
“Aku tidak akan kabur,” bantah Ernest terdengar lemah, “aku hanya sedikit kaget.”
Arsyana tidak menelisik alasan mengapa dia kaget dan hanya menatapnya lurus, mungkin wanita itu sendiri telah menyadari kata apa yang baru saja terucapkan hingga membuat Ernest tertegun.
Ernest menoleh menatap jalanan yang ramai dengan orang lewat maupun berkumpul di sekitar kios pikulan yang ada, “berapa lama urusanmu?” tanyanya lembut.
“Sekitar satu setengah jam.”
“Baiklah, aku akan kembali ke sini satu setengah jam kemudian.”
“Aku tidak akan menunggu jika kamu terlambat.”
“Aku tahu.”
Arsyana mengawasinya sejenak sebelum melenggang pergi mengurus urusannya. Ernest menatap punggung yang menjauh itu sejenak sebelum kembali melihat sekeliling, menilai ke arah mana dia harus pergi.
*
Ernest pergi berkeliling seperti yang dia katakan dan melihat suasana hangat dan ramai pasar. Para pedagang yang duduk di belakang pikulan menawarkan dagangan mereka kepada orang yang lewat, pembeli yang berhenti melihat-lihat, terjadinya tawar-menawar, dan orang yang berkumpul di sekitar penjual makanan sembari menikmati apa yang dibeli.
__ADS_1
Dia sudah melihatnya berkali-kali namun semakin ke Selatan semakin dia merasa perbedaan pada kemakmurannya. Kabupaten Lutua ini jelas lebih kaya dibandingkan kabupaten yang ia lewati sebelumnya.
Tentu saja alasannya karena semakin ke Selatan maka semakin mendekati ibu kota negara. Akses pemerintah dalam menjangkau wilayah sekitarnya lebih mudah dan kondisi rakyat di dalamnya juga meningkat karenanya. Tentu biaya hidup menjadi lebih mahal tapi itu sejalan dengan pendapatan yang bisa mereka raih.
Pengaturan pemerintah dalam memastikan keamanan memberikan kestabilan di hati masyarakat sehingga mereka bisa tenang menjalani kehidupan sehari-hari sehingga kekhawatiran yang dimiliki hanya apakah mereka mendapatkan uang untuk makan esok dan bukannya waspada akan pembantaian yang mungkin terjadi pada saat mereka tidur.
Sayangnya masyarakat Utara masih belum bisa menikmati hal ini. Ernest bertanya-tanya kapan pemerintah pusat akan menjangkau daerah sana secara keseluruhan dan membuatnya stabil seperti Selatan. Sudah hampir dua tahun tentara Baruun diusir dari sana namun Ernest masih belum mendengar upaya pemerintah dalam menangani Utara selain membiarkan tentara negara tetap berjaga di sana.
Di sini sesekali Ernest bisa bertemu dengan orang yang berpergian dengan mengayuh sepedanya dibandingkan dengan Utara di mana terkadang melihat gerobak sapi saja adalah sebuah kemewahan.
Terus berjalan menyaksikan keramaian pasar, Ernest juga menemukan ragam komoditas yang diperdagangkan. Mulai dari kebutuhan pokok sampai pernak pernik kecil yang menurutnya tidak berguna kecuali untuk mereka yang kaya. Selama berkelililng Ernest juga melihat beberapa kuli panggul yang bolak balik dengan beban di punggung, dia ingin tahu apakah kuli di sini harus dikenalkan secara khusus atau tidak kepada tuannya. Jika iya itu akan merepotkan untuknya.
Menoleh ke kanan-kiri tanpa sadar dia terbawa ke kawasan yang lebih sepi namun teratur, di sini pedagang tidak menjajakan barangnya dengan pikul melainkan bangunan kios. Ernest bisa melihat warung kayu sederhana berdiri berderet di setiap sisi jalan, namun yang menarik perhatiannya adalah sebuah bangunan berdinding bata yang terletak terpisah dari kios lainnya.
Ernest mendongak dan melihat tulisan yang tercetak di dinding bangunan itu, “Kolfan.”
“Apa kamu bisa membaca?”
Ernest menoleh ke sumber suara yang baru saja mengajukan pertanyaan, dia melihat seorang pria tua—45 atau 50 tahun duduk di belakang kiosnya yang menjajakan peralatan sehari-hari berbahan besi seperti wajan dan lainnya. Tanpa sadar dia telah berdiri cukup lama di depan dagangan orang itu saat menatap bangunan yang menarik perhatiannya tersebut.
“Maaf pak,” secara naluri meminta maaf, Ernest ingin pergi dari sana namun bapak tua itu kembali mengulangi pertanyaannya.
“Apa kamu bisa membaca?”
“Ah, ya kurang lebih.”
Bapak tua itu mengambil sesuatu dari sampingnya dan Ernest menyadari bahwa itu adalah sebuah surat kabar.
“Bisakah kamu membacakan ini untukku?”
Ernest melihat surat kabar baru yang disodorkan bapak tua itu, bertanya-tanya mengapa membelinya jika tidak bisa membaca. Dia tahu kalau koran bisa seharga 1 kg makanan pokok bahkan perbandingannya bisa lebih mahal jika makanan pokok yang dibeli bukan beras melainkan semacam ubi yang lebih murah.
“Aku akan memberimu 30 Flo (1 gilden \= 100 Flo).”
Ernest berjalan mendekat hingga menyentuh tiang kayu kios, mengambil surat kabar itu dan bertanya, “bagian mana yang mau kamu dengar?” Jangan bercanda! Uang yang ditawarkan sama dengan harga koran itu sendiri dan dia tidak memerlukan tenaga untuk melakukannya.
“Apa ada sesuatu tentang Utara?”
“Siapa namamu nak?”
“Ernest,” jawabnya, “bagaimana denganmu Pak?”
“Orang-orang di sini memanggilku Bapak Hasta,” bapak tua itu melihat Ernest dengan tatapan menilai, “baru di sini?”
“Ah, bisa dikatakan begitu,” Ernest menemukan tulisan yang menyebutkan Utara, dia menelusuri tulisan di dalamnya dan tidak bisa menahan kejutan setelah membacanya.
“Ada apa?”
Mungkin raut wajahnya berubah terlalu kentara sehingga membuat pak tua itu penasaran, Ernest berdeham dan mulai membacakan dengan keras tulisan yang baru di telusuri.
Ternyata pemerintah pusat akan mulai mengirimkan perwakilan ke Utara. Selain itu Paxa (sebutan untuk pemimpin negara) akan memberikan sejumlah dana kepada Zakh (sebutan untuk pemimpin provinsi) yang dikirim guna menstabilkan ekonomi di sana serta mengembangkan Utara.
“Akhirnya!”
Ernest melihat ke atas, tepatnya ke wajah Pak Hasta yang berseri dengan tawa bahagia. Melihat kembali ke deretan kata di surat kabar, entah mengapa perasaanya sedikit rumit mengetahui kabar ini. Tentu dia senang pemerintah tidak melupakan Utara, tetapi setelah bertahun-tahun bertahan sendiri tanpa banyak campur tangan pemerintah pusat kecuali untuk tentara pertahanan rasanya agak aneh untuk tiba-tiba diperhatikan.
Seperti yang ia katakan kepada Arsyana sebelumnya, selama ini Ernest hanya merasa pemerintah pusat hanya tidak ingin membiarkan kekuasaan lain kembali menjadikan Utara sebagai bentengnya sehingga mereka terus mengirim tentara untuk mengamankan wilayah, tetapi untuk benar-benar mengirim perwakilan dari pusat dengan tujuan pengembangan membuatnya terkejut.
“Apa ada lagi?” tanya Pak Hasta bersemangat.
Ernest kembali menelusuri surat kabar di tangannya, tidak menemukan apapun yang khusus kembali mengenai Utara, namun dia melihat beberapa laporan tentang serangan perampok di beberapa desa yang ada di perbatasan provinsi ini.
“Para bajingan itu!”
Ernest mendengar Pak Hasta terkesiap dan mengumpat setelah dia membacakan kabar itu.
“Bukannnya hanya ada satu kabupaten dari batas provinsi dengan Kabupaten Lutua ini?” tanya Ernest mengingat kembali perjalanan yang dia lalui.
Pak Hasta mengernyit sebentar, tampaknya tengah memikirkan sesuatu, “apa ada lagi kabar lainnya?”
“Zakh Provinsi Bukhu telah mengirim tentara ke sana tapi bagaimana hasilnya masih belum diketahui, sepertinya tentara yang dikirim akan bergabung dengan tentara kabupaten sana untuk penelusuran.”
__ADS_1
“Perampok seperti mereka itu licik, mereka akan berpencar dan bersembunyi setelah membantai desa!” kata Pak Hasta dengan nada penuh kebencian, “dengan jumlah tentara kabupaten akan sulit untuk menelusurinya, namun jika tidak segera diberantas mereka akan menyerang desa lainnya lagi khususnya desa yang jauh dari pusat kabupaten itu sendiri.”
Ernest memberikan dengungan setuju, kesulitan mengurus perampok seperti mereka adalah menemukan jejaknya karena biasanya kabar baru sampai ke pemimpin kabupaten setelah perampok itu sendiri berpencar. Sebenarnya jika berhadapan langsung kemampuan tentara negara lebih dari cukup untuk menaklukan mereka, tetapi untuk menempatkan banyak perwira sekaligus merupakan tantangan bagi negara karena Ernest bisa memperkirakan apa akibat bagi perwira setelah perang besar yang baru berhenti 10 tahun lalu.
Mereka menang, tapi harga yang dibayar juga besar. Belum lagi 5 tahun kemudian sisa-sisa tentara Negara Baruun yang bersembunyi kembali bertindak dengan membantai desa-desa di Utara dan membuatnya menjadi benteng mereka. Perang kembali pecah karenanya. Baru lebih dari 1 tahun lalu mereka berhasil dikalahkan kembali.
“Hei nak.”
Ernest mengangkat wajahnya dari koran dan melihat ke Pak Hasta yang baru memanggilnya, “apa ada lagi yang mau dibacakan Pak?”
“Tidak, cukup,” Pak Hasta mengambil uang yang dijanjikan dari dalam kantong baju dan menyerahkannya.
Ernest mengambilnya dengan ragu, sedikit bersalah karena merasa tidak melakukan apa-apa, “apa kamu yakin? Aku bisa membacakan yang lainnya juga.”
“Nah, aku akan membacanya nanti di rumah.”
Gerakan Ernest yang sedang melipat surat kabar untuk dikembalikan terhenti dan melihat bapak itu dengan raut terkejut.
Tawa kecil terdengar dari Pak Hasta, “aku tidak bisa membaca, tapi aku memiliki anak yang bisa melakukannya.”
“Lalu kenapa membayarku untuk membacakannya?” tanya Ernest tanpa sadar terdengar sedikit kesal, memikirkan kemungkinan dipermainkan hanya karena dia membutuhkan uang. Tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Bapak Hasta karena itu pilihannya untuk menerima tawaran tersebut.
“Anakku sedang bekerja dan kebetulan aku melihatmu memperhatikan dan sepertinya membaca tulisan di bangunan itu,” Pak Hasta menunjuk bangunan yang menjadi perhatian Ernest di awal, “sebenaranya sedikit mengetesmu.”
“Kenapa?”
“Apa kamu tahu bangunan apa yang kamu lihat itu?”
“Tidak.”
“Itu toko buku.”
“Ah,” Ernest mengangguk mengerti, alasan dia tidak mengenalinya karena tidak ada toko buku di Utara, surat kabar saja sangat sulit didapat apalagi buku.
“Toko itu baru dibuka beberapa bulan ini karena lebih dari setahun lalu pemerintah pusat mulai membangun sekolah negeri di banyak wilayah luar ibu kota negara termasuk kabupaten kita ini.”
“Itu bagus.”
“Ya,” Pak Hasta setuju dengan bahagia, “anakku bekerja di sana dan sejak minggu lalu dia terus menggerutu karena belum menemukan pekerja baru yang dibutuhkan sehingga membuat mereka cukup kerepotan.”
Ernest mengernyit melihat kembali bangunan yang di maksud, “apa toko itu begitu besar sampai membutuhkan banyak pekerja?”
“Nah, itu karena mereka tidak hanya menjual buku di sana, tapi juga percetakan termasuk surat kabar yang baru kamu baca itu.”
“Apa anakmu menyebutkan pekerjaan apa yang mereka butuhkan?” Ernest menyerahkan kembali koran yang telah dia lipat ke Pak Hasta.
“Semacam mengirimkan surat kabar.”
“Apa pekerjaan itu memerlukan seseorang yang bisa membaca?”
Pak Hasta mengedikkan bahunya, “aku tidak tahu, anak itu hanya sekilas mengatakan kalau akan lebih baik orang yang bisa membaca yang mendaftar, tapi jika sampai akhir minggu ini belum juga ditemukan mereka akan mempekerjakan siapa saja walau tidak bisa membaca.”
Ernest menanggapi dengan gumaman pelan, matanya kembali menatap ke bangunan yang di maksud, beberapa orang terlihat masuk ke sana.
“Kenapa kamu tidak mencobanya?” bujuk Pak Hasta, “kamu sepertinya membutuhkan uang.”
“Apa masyarakat di sini sedikit yang bisa membaca Pak?”
“Sebelum sekolah negeri yang dibangun pemerintah lebih dari satu tahun lalu, kabupaten ini hanya memiliki satu sekolah pribadi yang dibangun dengan koneksi keluarga kaya dan biaya yang dikenakan terlalu berat bagi kebanyakan keluarga biasa untuk dikeluarkan demi sekolah anak mereka.”
“Tapi kamu memilih mengirimkan anakmu belajar di sana?” ada senyum tulus di nada tanya retoris Ernest.
“Mau bagaimana lagi? Pengetahuan itu penting!”
“Kamu sangat tercerahkan Pak.”
Bapak Hasta tertawa mendengar pujian Ernest, “kamu memiliki kemampuan itu kenapa tidak mencobanya dan menggunakan itu untuk mencari nafkah, penghasilannya pasti tidak buruk!”
“Terima kasih Pak Hasta, aku akan mencobanya.”
Walau tidak terlalu yakin, Ernest tetap melangkah ke sana mencoba peruntungannya. Bahkan jika tidak diterima, tidak ada salahnya untuk melihat-lihat toko buku pertama yang dia jumpai.
__ADS_1
***