
Ketika mereka selesai makan siang dan sedang duduk bersantai di belakang*—luar* dapurlah Ernest menyebutkan bahwa dia telah berhasil mendapatkan pekerjaan dan mulai Senin besok akan pergi ke kabupaten setiap tiga hari sekali.
Arsyana melirik dengan tenang sebagai tanggapan sebelum kembali sedikit menengadah ke langit, kelopak matanya agak terkulai menikmati angin penyegar di siang hari ini, “apa kamu ingat jalannya?”
Wanita itu tidak bertanya tentang pekerjaannya dan entah mengapa itu membuat Ernest sedikit kosong, “kurasa,” jawabnya pelan. Ketidakpedulian Arsyana tidak seharusnya membuat dia merasakan pengabaian.
“Kamu bisa menggunakan tiga hari ini sebagai latihan menghafal rute.”
“Kamu akan mengawasi?”
“Kenapa aku harus?”
“Aku bisa saja tersesat.”
“Kalau begitu selamat tinggal.”
Ernest memutar matanya mendengar tanggapan ringan Arsyana. Ikut menengadah memandang langit biru cerah dengan gumpalan awan, “aku berhasil mendapatkan pekerjaan di toko buku,” ujarnya setelah beberapa saat ragu. Entah mengapa Ernest masih ingin berbagi keberhasilannya dalam mendapatkan pekerjaan.
“Mm.”
Hanya mendapatkan senandung ringan sebagai tanggapan membuat Ernest merasa sedikit kecewa.
“Itu bagus,” ucap Arsyana lembut, “selamat.”
Untuk sesaat Ernest tertegun ketika mendengarnya, namun setelah itu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat dan tubuhnya yang tidak dia sadari tegang sejak tadi menjadi lebih santai. Jadi, Ernest menceritakan bagaimana dia mendapatkan pekerjaan itu.
Dimulai dari bekerja membacakan surat kabar kepada seorang bapak tua setelah ditawarkan beberapa Flo, berbincang sejenak untuk mengetahui anak bapak itu adalah seorang pegawai di toko buku, hingga menerima saran untuk mencoba mendaftar karena ada lowongan di sana.
Apa yang tidak disangka adalah dia benar-benar berhasil mendapatkannya setelah melewati banyak pertanyaan untuk mengetes kemampuannya dalam mengetahui huruf dan angka. Walau masih ada beberapa keraguan di pihak sana, namun mereka tetap memberinya kesempatan untuk mencoba minggu depan.
“Mereka tidak menanyakan sertifikat kependudukan?”
“Mereka bertanya.”
Arsyana untuk sementara diam.
Ernest menyentuh kertas seukuran telapak tangan yang dulu selalu dia simpan bersama gilden di kantong bagian dalam baju lamanya*—yang saat ini telah dibuang* dan menarik benda itu keluar dari saku depan celana yang dia pakai sekarang, “aku menggunakan ini,” ucap Ernest menyodorkan apa yang dia pegang ke wanita di sampingnya.
Arsyana hanya memandang sertifikat yang diserahkan dan masih menggantung di udara itu dengan cukup lama, mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan mata hitam tenang pria itu dia mengambil kertas tersebut dari tangan yang lain.
Walau mirip dengan sertifikat kependudukan nyatanya kertas yang dipegang Arsyana saat ini bukanlah hal tersebut, melainkan tanda yang lebih berguna khususnya untuk seorang pengelana seperti Ernest. Tanda pengenal yang dikeluarkan tentara.
“Kamu keluar dari tentara,” ucap Arsyana, mata coklat membaca satu persatu kata yang tertulis di atas kertas yang dia pegang.
“Ya,” melihat ke depan Ernest teringat kembali hari ketika dia memutuskan untuk berhenti dan berubah menjadi pengelana, seminggu setelah kemenangan mereka mengambil seluruh desa dari sisa-sisa tentara Negara Baruun.
Arsyana menyerahkan kembali kertas pengenal itu, “kenapa tidak tetap di sana?”
“Aku tidak pernah berniat menjadi perwira,” Ernest menyelipkan kembali sertifikat ke saku celananya, “tidak pernah merasa ingin berjuang demi negara ini seperti mereka.”
“Rekan-rekanmu akan kecewa mendengarmu yang seorang mentan tentara berkata seperti itu.”
“Heh, mereka bahkan mungkin akan menghajarku.”
“Tapi pemimpinmu masih memberikan tanda pengenal diri dengan cap khusus tentara walau dijelaskan kalau dirimu bukan lagi perwira aktif.”
“Aku berhutang pada Mayor Jenderal.”
Arsyana melirik Ernest yang memandang ke kejauhan, mungkin teringat dengan masa lalu.
Ya. Pria itu mengingat malam sebelum kepergiannya, ketika dia dengan perasaan kosong pergi menemui Mayor dan mengutarakan keputusannya untuk keluar. Bagaimana setelah itu Ernest merasakan keringat dingin saat menghadapi tatapan mematikan pemimpinnya, namun dengan keras kepala tetap diam di bawah pengawasan itu.
Kenapa?
Ernest ingat suara berat Mayornya yang bertanya setelah keduanya berada cukup lama dalam keheningan yang berat.
Kenapa?
Karena aku tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di sini.
Apa yang tidak diucapkan Ernest saat itu adalah ‘aku ingin kembali’, tetapi dia sudah tidak memiliki tempat untuk pulang.
“Apakah Toko Buku Kolfan memberimu kontrak?”
Pertanyaan Arsyana membuat Ernest tersadar dari ingatannya. Sedikit mengendurkan bagian atas tubuhnya hingga bersandar ke dinding kayu, dia dengan tenang menjawab, “belum.”
“Orang lain masih bisa merebutnya kalau begitu.”
“Aku tahu, namun mereka sendiri sudah menunggu lebih dari satu bulan untuk memiliki pendaftar yang memiliki kemampuan baca.”
“Itu masih tidak memberikan kepastian,” komentar Arsyana.
__ADS_1
“Mau bagaimana lagi,” Ernest mengusap lehernya dan mendesah kalah, “aku bukan warga kabupaten ini dan sertifikat pengenal yang kuberi hanya bisa membantu sejauh ini.”
Arsyana tidak mengatakan apa-apa lagi.
Begitu juga Ernest yang kini menatap perkarangan di depannya.
Keheningan lumayan lama menyelimuti keduanya yang asik tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai Ernest akhirnya menyuarakan apa yang ada di benaknya, “kamu harus memelihara ayam di perkarangan ini.”
Arsyana mengerling tak tertarik, “terlalu merepotkan.”
“Tapi halaman ini cukup luas, bukannya sayang tidak dimanfaatkan.”
“Mereka bisa merusak tanamanku.”
“Kita bisa membuat pagar di sekitarnya.”
“Kata orang yang bahkan belum bisa membawa air dari sungai.”
Ernest segera membela diri dengan agresif dari sarkasme itu, “kamu yang melarangku!”
“Tidak ingin kamu mencuri kesempatan beristirahat lebih lama dengan alasan lukamu robek lagi gara-gara beban berlebih,” balas Arsyana dengan senyum yang seakan mengatakan ‘aku tahu apa yang kamu lakukan’.
“Aku tidak! Dan kamu hanya berprasangka padaku!”
“Bagaimana tidak? Aku belum melihat dirimu berguna di sini.”
Mulut Ernest terbuka-tutup ingin mengatakan sesuatu namun menyadari apa yang dikatakan wanita itu benar.
Arsyana terbahak melihat perubahan ekspresi yang cepat di wajah Ernest, mulai dari raut agresif ingin menyangkal, kesadaran akan kebenaran, hingga penerimaan di akhir. Semua itu terjadi bahkan kurang dari lima detik.
Ernest merengut mendengar tawa keras wanita itu, namun akhirnya dengan sisa kebanggaannya sebagai pria hanya bisa berkata, “sebentar lagi aku bisa berguna.”
“Aku harap tidak mengecewakan,” goda Arsyana dengan geli karena sisa tawanya.
“Aku tidak akan.”
“Bagus, aku berniat membiarkanmu memperbaiki atap.”
“Kamu seharusnya memperbaiki semuanya dari awal,” komentar Ernest terdengar sedikit mengeluh.
“Kenapa aku harus? Sebelumnya aku hanya perlu satu ruang tidur.”
“Dan membiarkan kamar lainnya roboh?”
Ernest dalam diam menatap wanita yang duduk di sampingnya.
“Apa?”
Dengan suara rendah ia bertanya walau terdengar ragu, “kamu—apa kamu tidak berniat tinggal di sini selamanya?”
Arsyana bertemu pandang mata hitam yang masih mengamatinya dan dengan kedikan badan ia menghela, “siapa tahu,” sembari kembali menengadah dan menurunkan kelopak matanya saat belaian sepoi angin menyentuh wajahnya.
Ernest memandang sosok Arsyana yang terlihat santai menikmati suasana siang yang menyenangkan*—cerah dan sejuk secara bersamaan* dan akhirnya ikut berpaling menikmati cakrawala.
*
Keesokan harinya Ernest melakukan apa yang sebelumnya disarankan Arsyana—menghafal jalan pintas yang harus dilalui. Dia mulai masuk ke dalam hutan gunung saat cahaya Mentari sudah cukup menerangi permukaan bumi sehingga dirinya tidak akan tersandung berbagai akar pohon di jalan yang akan dilalui.
Saat dia mengatakan rencananya untuk pergi ke dalam hutan demi menelusuri dan mengingat jalan, wanita itu menatapnya sejenak lalu tersenyum manis namun ada kilat ‘menonton kesenangan’ di mata coklat itu, “aku tidak akan mencari jika kamu tersesat,” dan melambaikan tangan dengan santai saat Ernest pergi.
Dipandang rendah membuat Ernest pergi sambil berseru kesal, “tidak akan!”
Dia bahkan masih sempat mendengar suara Arsyana yang tertawa ketika dirinya berjalan semakin jauh ke dalam hutan.
Dan saat ini*—beberapa jam setelahnya*, Ernest kembali mendengar gelak wanita itu di benaknya bersama dengan bayangan dari tatapan mencemooh yang akan dilempar mata coklat itu saat melihatnya yang berputar-putar alias tersesat.
Meskipun agak lama sebenarnya Ernest berhasil keluar dan melihat jalan utama ke kabupaten, dia tidak turun ke sana dan hanya menatap dari dalam sisi hutan untuk memastikan bahwa itu memang jalan yang dilaluinya kemarin sebelum berbalik untuk kembali, namun di sinilah masalahnya muncul.
Semakin Ernest melangkah maju semakin rimbun juga pepohonan yang dia temui hingga membuat penilaiannya akan arah menjadi kabur. Saat dirinya menyadari bahwa mungkin belokan yang diambilnya salah dia sudah berjalan cukup lama ke dalamnya.
Mengetahui hal itu ia segera berhenti dan dengan hati-hati mengamati sekitar untuk menilai tempat ia berada. Ernest berdiri tegak serta siaga namun tetap menjaga diam dan ketenangan di tempat saat penglihatannya dengan cepat mengambil semua gambar di sekitar demi memastikan apakah ada ancaman di sana.
Dia sepertinya belum masuk terlalu dalam, namun begitu bukan berarti aman. Hutan memiliki begitu banyak hal berbahaya tidak hanya hewan buas bahkan tumbuhan di dalamnya pun bisa membunuh jika dirinya tidak memperhatikan. Khususnya jika ini hutan yang pemahamannya tidak dia miliki.
Memastikan tidak menemui tanda-tanda pemangsa seperti ular—yang lebih sulit disadari jika dibandingkan dengan hewan buas berbadan besar Ernest segera berputar kembali dan menelusuri arah dia datang dengan perlahan—memastikan dia tidak lagi mengambil jalan yang salah sehingga membuatnya semakin tersesat.
Ernest berjalan lebih lambat dari sebelumnya dan secara teliti memperhatikan apa yang dia lewati untuk mencari tanda yang bisa digunakan sebagai dasar arah menuju hunian sementaranya. Sayangnya semua pohon hampir terlihat sama sehingga membuat Ernest cukup kesulitan.
Gemerisik dari sisi kanan belakangnya membuat Ernest segera berbalik dengan cukup was-was hanya untuk melihat seekor burung berbulu coklat hinggap di atas dedaunan busuk yang ada di bawah pohon, dia ingat sepertinya Arsyana cukup sering mendapatkan burung ini.
Ernest secara perlahan mendekatinya namun burung itu terbang menjauh. Langkahnya berhenti saat melihat kepergian hewan bersayap itu untuk menemukan bahwa burung itu kembali mendarat di daun jatuh lainnya yang tidak jauh dari tempat pertama.
__ADS_1
Ernest mengernyit dan menjilat bibirnya gugup. Menoleh ke segala arah untuk mengamati lingkungan sekitar dan setelah menimbang beberapa saat bahkan jika dirinya masih memilliki keraguan dia kembali berjalan mendekati burung tersebut.
Hewan itu kembali terbang saat Ernest mendekatinya dan turun ke tanah lagi saat jarak antara keduanya cukup jauh. Hal itu terus berlanjut untuk beberapa waktu sampai dia menyadari kalau pepohonan di depannya tidak terlalu rapat seperti sebelumnya.
Ernest merasakan semburan kebahagian saat memikirkan dia keluar dari zona dalam hutan. Segera menenangkan diri agar tidak terlena sehingga menyebabkan kecerobohan, dia dengan sunggung-sungguh terus mengikuti burung tersebut sembari mengamati tempat-tempat yang dilewati.
Sampai melihat jalan bergelombang yang dia kenal, Ernest sedikit mengendurkan kewaspadaannya dan menghela nafas lega.
“Kamu benar-benar menuntunku kembali,” ucapnya sambil melihat burung yang sedang mematuk-matuk di sekitar rumput dan dedaunan rontok tak jauh di depan.
“Itu karena aku menyebarkan umpan idiot.”
Ernest tidak merasa terlalu terkejut saat mendengar suara yang selama lebih dari dua minggu ini sudah tidak asing di telinganya muncul di sini bahkan sebenarnya dia sudah agak curiga di awal. Burung yang dia ikuti selalu terlihat mematuk sesuatu di sepanjang jalan.
Dengan tatapan tak berdaya Ernest menoleh ke asal suara untuk melihat Arsyana yang tengah menyandarkan bahu ke salah satu batang pohon dengan sekumpulan ranting di pelukannya. Ada seringai menghina di bibir wanita itu.
“Sejak kapan kamu mengikutiku?”
“Mengikutimu?” ulang Arsyana dengan nada tersinggung, “itu kasar.”
“Lalu?”
“Aku hanya kebetulan melihat sesuatu yang menyenangkan.”
“Sungguh?” Ernest bertanya tak terkesan.
“Melihatmu kebingungan itu cukup menghibur.”
“Hobi buruk yang kamu punya.”
Arsyana tergelak sebagai tanggapan.
Menghela nafas tak berdaya, Ernest melihat wanita itu dengan sungguh-sungguh, “kamu bilang tidak ingin mengawasiku.”
“Aku tidak mengawasimu.”
“Kalau begitu bagaimana kamu tahu?”
Arsyana membalas pandangan Ernest dan dengan ringan tersenyum, “aku melihat jejak pada jalan yang menuju ke dalam hutan.”
“Kamu menduga aku akan sadar telah berjalan ke arah yang salah dan berputar kembali ke titik awal.”
“Aku hanya ingin menonton apakah kamu akan begitu bodoh untuk tidak segera menyadarinya atau bahkan jika sadar kamu akan berlagak dan pergi ke arah lain.”
“Jadi bagaimana menurutmu?”
Garis bibir di wajah Arsyana menipis, namun sinar di mata coklatnya menjadi lebih tulus, “tidak terlalu bodoh.”
Ernest tertegun melihat senyum itu, matanya menatap kosong paras wanita di depannya. Bintik-bintik cahaya yang berhasil menembus hutan di antara rimbunan dedaunan pohon menyapu Arsyana dan membuatnya terlihat lebih lembut.
Ernest tidak mengerti. Wanita di hadapannya begitu sulit untuk dipahami. Mengapa repot-repot melakukan itu semua?
“Apa yang kamu lamunkan bodoh?”
Ernest keluar dari renungannya saat mendengar suara yang lain dan melihat Arsyana telah beranjak dari tempatnya.
“Masih tidak ingin kembali?” ejek wanita itu.
“Tidak,” Ernest segera menyusul Arsyana, “aku ingin kembali.”
Dua minggu terlalu pendek untuk bisa mengerti wanita seperti Arsyana. Sikapnya sering menunjukkan ketidakpedulian yang mendorong orang menjauh, namun di beberapa titik memberikan perhatian yang membuat orang lain tertarik untuk mendekat.
Ernest melirik wanita itu saat mereka berjalan beriringan dan baru saat ini dia menyadari kalau yang lain setengah kepala lebih pendek darinya. Bintik cahaya yang masuk langsung dari sela pepohonan dan menimpa rambut coklat Arsyana membuat helaian tersebut terlihat kasar, Ernest penasaran ingin menyentuh dan merasakannya.
*
Beberapa saat setelah mereka berjalan cukup lama dalam keheningan.
“Ngomong-ngomong bagaimana caramu mengatur umpan dan burung itu?”
“Tebak.”
“Sudah berapa lama kamu bersembunyi?”
“Tebak.”
“Juga di bagian hutan mana kamu melihatku pertama kali?”
“Tebak.”
“Bisakah kamu menjawab hal lain.”
__ADS_1
“Pikirkan sendiri.”
***