Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 11


__ADS_3

Ernest menunggu agak lama sebelum pintu itu kembali terbuka. Milar kembali dengan setumpuk surat kabar di tangan serta seseorang yang berpakaian sangat rapi dan modis di mana Ernest ingat sebagai orang yang bertanggung jawab atas tesnya beberapa hari lalu.


“Bapak Gatra,” sapa Ernest.


“Kamu datang lebih awal.”


“Aku harap itu memberi kesan baik.”


Bapak Gatra tersenyum menanggapinya. Ernest menganggap itu pertanda baik.


“Tidak masalah kalau kamu langsung bekerja sekarang?”


Ernest tertegun mendengar pertanyaan langsung itu, ragu dan bertanya-tanya mengapa tidak ada pembahasan kontrak tertulis di antara mereka. Atau pekerjaan ini tingkatnya sama seperti kuli lepas yang tidak memerlukan kontrak?


“Ya,” jawab Ernest tenang—untuk sementara menyingkirkan dulu keraguannya, “aku bisa langsung bekerja.”


Bapak Gatra memberikan isarat kepada Milar untuk memberikan tumpukan surat kabar yang dibawa kepada Ernest dan mengambil sesuatu dari saku depan jasnya, “kamu hanya perlu mengirim surat kabar ke setiap alamat yang tertulis dan mengumpulkan pembayarannya.”


Ernest mengambil timbunan surat kabar yang diserahkan Milar, “biarkan aku mengumpulkan pembayaran?” tanyanya tak yakin karena merasa aneh dengan tanggung jawab yang diberikan itu.


“Ya, apa ada masalah?”


“Tidak.”


Bapak Gatra memberikan kertas berisi daftar alamat kepadanya, “setelah selesai kembali ke sini untuk konfirmasi lebih lanjut.”


“Berapa harga untuk satu surat kabar ini?”


“40 Flo.”


Ernest mengangguk mengerti, “kalau begitu aku pergi,” ucapnya pelan.


“Gunakan ini,” melihat Ernest ingin pergi Pak Gatra segera menghentikannya dan menyerahkan sebuah pengenal dengan tali yang bisa digantungkan di leher, “kamu memerlukannya untuk masuk ke beberapa perumahan.”


Ernest mengambil kartu itu dan menggantungkannya di leher sebelum mengangguk dan berbalik pergi guna menjalankan pekerjaan pertamanya setelah lebih dari setengah bulan bersantai.


*


“Apa tidak masalah membiarkan orang itu begitu saja tanpa membuat kontrak lebih dulu Pak?”


Pria yang telah menginjak usia pertengahan 30 itu melirik karyawannya yang bertanya.


“Bagaimana kalau dia kabur dengan semua uang yang diperoleh?” lanjut Milar tidak bisa menyembunyikan keraguannya lebih lama.


“Karena itu sekarang kita mengetesnya.”


“Bukannya lebih aman kalau mengontraknya lebih dulu?”


“Bahkan jika sekarang ada kontrak pun kalau dia kabur ke mana kita mau mencarinya?” balas Gatra dengan tanya retoris.


Milar terdiam sejenak, terlihat merenung, “kalau begitu kenapa tetap mempekerjakannya Pak?”


“Dia memiliki identitas dengan tanda tentara, kita bisa mencoba memberinya kesempatan dulu dan melihatnya.”


“Begitu.”


“Pergi buka pintu dan jendela, sudah hampir waktunya buka,” perintahnya pada Milar sebelum berbalik kembali menuju pintu yang dilewatinya tadi.


“Siap Pak.”


Ada alasan lain mengapa dirinya melakukan tes dengan resiko kehilangan sejumlah uang itu—lagi pula jumlah uang itu tidak akan menyebabkan kerugian terlalu besar baginya, semalam dia berhasil menghubungi temannya yang di Utara untuk menanyakan keaslian identitas Ernest. Hal itu memberi Gatra lebih banyak keberanian untuk mempercayai pemuda itu.

__ADS_1


Pekerjaan ini sebenarnya tidak memiliki banyak resiko sehingga membutuhkan kepercayaan mutlak, hanya saja jika seseorang melakukan hal buruk menggunakan tanda pengenal yang diberikan pada setiap karyawan di sini itu akan membuat nama perusahaannya ternoda.


Dia tidak ingin hal itu terjadi, apalagi perusahaannya baru membuka cabang di sini dan belum memiliki pijakan yang kuat di antara masyarakat. Keluarga kaya di sini akan mengambil celah apa pun yang ada jika sesuatu terjadi dan Gatra tidak bisa membiarkan mereka memiliki kesempatan itu.


Perusahaan percetakan buku dan surat kabar ini bukan hanya untuk meraih keuntungan dari pendirian sekolah negeri dan meningkatnya kebutuhan literasi di Kabupaten Lutua. Tujuan utama pendirian cabang-cabang di luar ibu kota negara adalah untuk memulai rencana Paxa dalam mengintegrasikan berita dan informasi dari seluruh negeri.


Sebenarnya sudah ada surat kabar lokal di sini yang biasa memuat berita yang terjadi di dalam kabupaten dengan sesekali berita di pelosok provinsi bisa di masukkan, hanya saja waktu antar terjadinya dan menyebarnya sebuah kejadian akan memiliki selisih sangat lama. Hal itu akan mengganggu dan mendistorsi keputusan yang mungkin perlu diambil.


Menerima berita dan menyebarkannya dalam waktu secepat dan seakurat mungkin adalah salah satu misi yang harus dilakukan guna mewujudkan tujuan utama Perusahaa Kolfan ini.


Jadi, tidak boleh ada noda yang mencoreng nama perusahaan ini di sini agar tidak menyebabkan masalah di ke depannya.


*


Keluar dari bangunan itu, Ernest menepi ke tempat yang lebih sepi dan mengeluarkan kertas berisi daftar alamat yang diberikan Pak Gatra tadi dan menemukan kalau tulisan di atasnya dicetak dengan mesin ketik. Untuk memiliki mesin cetak dan mesin ketik, pemuda miskin sepertinya tidak bisa membayangkan kekayaan yang dimiliki pemilik toko buku dan percetakan itu.


Ada lebih dari 30 alamat yang dilihatnya saat Ernest menelusuri rangkaian huruf dan angka di atas kertas. Kebanyakan berada dalam satu kawasan dengan nomor berbeda. Rumah dengan alamat yang sangat jelas merupakan rumah yang berada di daerah orang-orang kaya dan berada.


Ernest pernah mendengarnya dari Arsyana dan secara umum mengetahui jalan menuju alamat tersebut. Mendongak untuk melihat jingga pagi telah menghilang dan langit berubah menjadi biru sejuk, Ernest memasukkan kertas tersebut ke dalam saku celana sebelum berlari ke arah yang menjadi tujuannya.


Dia memerlukan waktu lebih dari seperempat jam sebelum melihat gerbang besi dan tembok besar yang menjadi salah satu pintu masuk menuju perumahan elit. Ada sebuah pos penjaga di dalam gerbang yang posisinya mampu untuk mengawasi keluar masuknya seseorang.


Ernest memikirkan apa yang harus dilakukan untuk bisa masuk sehingga tanpa sadar telah menatap gerbang besar itu cukup lama.


“Siapa kamu?!”


Ernest terlempar keluar dari pikirannya dengan terkejut karena pertanyaan bernada tegas dan kasar yang dilontarkan. Dia melihat seseorang berdiri dan mengawasinya di depan pintu pos penjaga.


“Aku Ernest, pekerja dari penerbit Kolfan dan ingin mengantarkan surat kabar!” seru Ernest segera menjelaskan identitas dan tujuannya.


Pengawas itu terus memandanginya dengan tatapan menilai sebelum berjalan mendekat dan berdiri di balik gerbang walau tidak membukanya, “penerbit Kolfan mengganti pengantar korannya?”


“Ini hari pertamaku bekerja,” melihat pengawas itu masih curiga Ernest teringat tanda pengenal yang menggantung dan segera melepas benda itu dari lehernya lalu menyerahkannya pada pengawas itu dari sela gerbang.


Ernest merasa gugup, walau begitu wajahnya tetap terlihat tenang dari luar.


Pada akhirnya pengawas itu keluar dengan membawa kunci di tangannya, “kenapa bukan Milar lagi yang mengantar surat kabar?” tanya pengawas itu sembari membuka gerbang.


Melihat gerakan itu membuat Ernest merasa lega, “dari apa yang aku tahu mereka memang sudah mencari pekerja untuk mengantar surat kabar ini cukup lama dan Milar hanya melakukan pengiriman sementara sampai orang lain datang.”


“Pantas saja, jadi kamu ‘orang lain’ itu?”


“Ya.”


Kunci terbuka dan salah satu gerbang ditarik ke dalam sehingga membuat ruang untuk dilalui, orang itu memberi tanda untuk Ernest masuk.


“Terima kasih,” kata Ernest tenang setelah melewati gerbang.


“Kamu bisa mengambil pengenalmu saat ingin ke luar.”


“Ah,” Ernest sedikit terkejut mendengar pengaturan itu, namun juga merasa masuk akal dengan hal tersebut, “begitu.”


“Milar tidak menjelaskannya padamu?” tanya pengawas itu menyelidik namun terdengar lebih ringan—mungkin kartu identitas itu telah sedikit menghilangkan kecurigaan sebelumnya.


“Mereka memang memberitahu kalau aku membutuhkan pengenal itu untuk masuk ke beberapa alamat yang di tuju.”


“Itu memang peraturan untuk orang luar dan ingin masuk tanpa pendamping dari orang yang tinggal di sini.”


“Kurasa itu masuk akal,” gumam Ernest yang merasa peraturan itu cocok untuk perumahan orang kaya, “kalau begitu permisi Pak, aku harus segera mengirim ini.”


“Apa kamu bisa membaca?”

__ADS_1


“Ya.”


“Kalau begitu bagus, ada penunjuk jalan kalau kamu bingung.”


“Terima kasih Pak,” melihat orang itu melambai santai Ernest mengangguk dan segera pergi menuju area dalam.


Dia melewati pos penjaga, melihat ada orang lain di sana Ernest kembali memberikan anggukkan singkat sebagai salam sembari terus berjalan.


Area yang dilaluinya masih dikelilingi banyak pohon dan rerumputan, namun tata letaknya jelas telah diatur sedemikian rupa sehingga tidak memberikan kesan seperti tumbuhan liar yang ada di pinggir jalan. Pemandangan ini membuat orang yang melihatnya merasakan kesejukan dan kenyamanan alami tanpa menunjukkan sisi liar alam itu sendiri.


Dia berjalan cukup lama sebelum menemukan persimpangan dengan tanda jalan, Ernest mengeluarkan daftar alamat dari saku celananya untuk melihat arah mana yang harus dituju pertama.


Menemukan beberapa alamat yang searah dengan salah satu penunjuk jalan, Ernest berbelok dan segera melanjutkan langkahnya dengan cepat.


*


Arsyana mengalihkan pandangannya ke jendela kamar yang terbuka dan membiarkan buku di atas meja terabaikan meski terbentang.


Suara hembus angin dan gerisik daun hari ini entah mengapa terdengar jauh lebih keras dari biasanya, membuat ilusi kalau keheningan yang ada jauh lebih kuat dari sebelumnya.


Atau itu mungkin hanya perasaannya.


Arsyana menghela nafas, menyadari kemungkina apa yang membuatnya berpikir begitu tetapi enggan untuk mengakuinya.


Bukan hanya karena rasa keras kepala dia mengelak dari sanubarinya, hanya saja wanita itu tahu jika dirinya dengan jujur mengakui maka itu akan terasa seperti dia dengan sengaja melompat ke dalam lubang berbahaya.


Kesepian itu mengerikan, sekuat apapun dirimu pada akhirnya tidak bisa mengalahkannya.


Ini alasan lain mengapa dia selalu memilih tinggal di tempat-tempat terisolasi dibandingkan daerah berpenduduk, manusia terlalu mudah terikat dan dirinya bukanlah sebuah pengecualian.


Hanya membutuhkan waktu lebih dari setengah bulan untuk keberadaan Ernest meninggalkan jejak—pedang, pakaian, dan peralatan makan kotor yang lebih banyak dari biasanya menjadi tanda sehingga tanpa kehadirannya membuat suasana kesepian mengental di sini.


“Ini menjengkelkan,” gumamnya rendah kembali melihat buku yang masih terbuka di atas meja.


Arsyana menatap kosong halaman kertas yang menunjukkan sebuah lukisan bunga dengan rangkaian kata penjelasan di bawahnya, tangannya menyentuh jam saku kecil yang tergantung melalui lapisan pakaian yang dia kenakan.


“Aku pikir simbol itu cocok untukmu.”


Tanpa sadar perkataan orang itu kembali terngiang di benaknya. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu dari saat ini. Adalah enam bulan sejak dirinya diperintahkan berada di sisi orang itu, untuk melindungi sekaligus mengawasi.


“Pemberani dan kuat.”


Setelah salah satu percobaan penyerangan bodoh dari pemberontak lama yang putus asa dan berpikir bisa membalikkan penderitaan mereka dengan membunuh pemimpin baru negara yang diangkat kurang dari 5 bulan—padahal pria itu hampir tidak memiliki pengaruh di pemerintahan yang terlanjur busuk ini.


“Tapi apa kamu tahu kalau dandelion memiliki makna lain?”


Orang itu tidak peduli dengan tanggapan kosongnya dan tetap memberitahunya dengan senyuman.


“Orang-orang percaya bahwa biji-biji bunga yang terbang terbawa oleh hembusan angin dan menempel lalu tumbuh kembali menjadi bunga baru merupakan makna persahabatan dari bunga ini.”


Dirinya terluka karena melindungi orang itu dan hal tersebut membuatnya mulai mendapatkan kepercayaan dan penerimaan dari mereka yang ada di sekitar pria itu.


“Sebenarnya aku tidak terlalu mengerti, namun aku harap dirimu yang datang ke sini bisa menumbuhkan hubungan persahabatan baru dengan kami seperti biji bunga dandelion yang terbang dan jatuh ke tempat lain dan kembali tumbuh subur di sana.”


Arsyana tidak lagi ingat apakah dirinya mengatakan sesuatu pada saat itu, namun benda yang kini menggantung di lehernya menjadi pengingat kalau dia pernah terhubung dengan orang lain dan akhir seperti apa yang dia dapatkan.


Dia tidak menyalahkannya, bahkan tidak berhak berpikir seperti itu.


Hubungan yang terjalin dengan orang-orang itu dari awal ditenun dengan kepalsuan, maka saat kebenaran terungkap tidak mengherankan jika tenunan itu hancur dan merusak hubungan yang ada.


Arsyana mendesah dan tersenyum kecil, kesendirian…

__ADS_1


…apakah itu akhir yang orang itu ingin dia dapatkan atau justru hukuman yang dia berikan untuk dirinya sendiri.


***


__ADS_2