Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 4


__ADS_3

Waktu berjalan sebagaimana mestinya dan tanpa sadar sudah lebih dari seminggu, tepatnya sepuluh hari Ernest tinggal di tempat ini. Perban di kepalanya telah dilepas sejak dua hari setelah dia bangun, hanya ada luka lebam dan goresan dangkal dari serpihan kayu dan batu di sana akibat terjatuh di lantai waktu itu, sedangkan yang di tangan dan kakinya sudah beberapa kali diganti.


Menilai dari rasa nyeri yang mulai memudar, Ernest merasa lukanya sudah mulai mengering. Mungkin dua atau tiga hari lagi jahitannya sudah bisa dilepas.


Selama hari-hari ini Ernest juga menyadari bahwa Arsyana tidak hanya mengandalkan makanan yang dia tanam tetapi juga hutan sekitarnya. Wanita itu cukup sering mendapatkan hewan buruan kecil dan buah liar dari dalam hutan, namun tidak terlalu dalam sehingga tidak memasuki habitat binatang berbahaya, dan sebagian akan dibawa ke pasar kabupaten untuk dijual.


Sejauh ini Arsyana telah pergi ke sana sebanyak dua kali. Wanita itu akan berangkat tidak lama setelah cahaya matahari bersinar dan kembali tiga atau empat jam setelahnya. Ernest bertanya-tanya berapa banyak waktu perjalanan yang disingkat dengan melalui jalan pintas yang disebutkan Arsyana.


Jika apa yang dia dengar dari penduduk desa di pasar kecamatan sebelumnya benar, dengan sepeda saja, dari desa yang berada di bawah gunung ini sampai ke ibu kota kabupaten kurang lebih memerlukan waktu sekitar satu sampai satu setengah jam tergantung kecepatan pengemudinya sedangkan wanita itu hanya berjalan kaki.


Karena itu masyarakat desa di sini lebih sering ke pasar kecamatan yang lebih dekat. Atau jika harus mereka akan menggunakan gerobak yang ditarik dengan tenaga hewan ternak, tapi tidak terlalu mudah untuk menemukan kendaraan umum yang mengarah dari desa ke kabupaten kecuali mereka telah membuat janji lebih dulu tidak seperti kebalikannya. Apalagi desa di sekitar sini masih termasuk pedalaman yang dikelilingi pegunungan.


Semakin lama Ernest tinggal semakin jelas kecakapan Arsyana untuk hidup sendiri. Juga kekuatannya dalam melindungi diri. Beberapa kali Ernest tidak sengaja melihat wanita itu menggunakan belati, yang tidak dia tahu ada sebelumnya, dengan gerakan bela diri yang halus namun tajam dan penuh perhitungan, biasanya di subuh hari saat Ernest bangun dan Arsyana akan berhenti setelah menyadari kehadirannya. Jelas wanita itu sengaja bangun lebih cepat untuk berlatih.


Ernest sangat senang sejak awal dia telah mengacuhkan ancaman wanita itu sehingga tidak berbuat bodoh. Oke, terpikirpun tidak, maaf saja dia bukan laki-laki bajingan, walau hanya beberapa tahun tapi ibunya membesarkannya lebih baik dari itu. Berada di sisi baik Arsyana jelas lebih menguntungkan dengan keadannya saat ini.


“Apa yang kamu lamunkan?”


Ernest melirik wanita yang baru saja masuk ke kamar dan melewatinya yang sedang duduk di samping pintu begitu saja demi menuju lemari, “bukan apa-apa, hanya saja kamu memiliki buku yang menarik,” jawab Ernest sambil mengangkat buku yang sejak tadi ada dipangkuannya. Itu hanya berisi kumpulan cerita rakyat, beberapa sudah pernah didengarnya saat kecil, tidak terlalu berguna namun cukup menghibur untuknya yang hanya bisa menghabiskan waktu dengan aktivitas terbatas.


Tentu saja Ernest telah lebih dulu mendapatkan izin dari wanita itu atau dia tidak akan berani menyentuhnya.


“Hm,” Arsyana menanggapinya dengan gumaman sembari meraih sesuatu dari dalam lemari.


“Kamu menyukai cerita rakyat?”


“Ya, itu menghibur untuk dibaca.”


Ernest mengangguk walau dia tak yakin apakah wanita itu melihatnya dan menatap buku di tangannya yang terawat dengan baik walaupun memiliki tanda-tanda betapa seringnya benda ini buka. Tidak heran jika seseorang yang memiliki buku akan merawatnya dengan baik mengingat betapa mahalnya kumpulan kertas ini, yang mengejutkan Ernest adalah betapa buku cerita rakyat ini lebih sering dibaca dibandingkan dengan buku-buku lainnya yang berisi ilmu pengetahuan seperti buku kumpulan tanaman pangan dan pembudidayaannya.


Dia juga sangat tekejut dengan berapa banyak buku-buku yang dimiliki Arsyana, seseorang yang tempat tinggalnya saja mengambil bangunan bobrok yang tidak diinginkan siapapun.


Ernest mendengar langkah kaki mendekat sebelum beberapa benda kecil dan ringan dilemparkan ke pangkuannya, dia mendongak hanya untuk melihat Arsyana menjulang di sisinya, “apa?”


“Kamu tidak ingin merawat senjatamu?”


Ernest menunduk memperhatikan benda-benda itu. Ya, itu adalah peralatan untuk merawat senjata tajam. Dia meletakkan buku di tangannya ke lantai kayu tepat di sebelah pahanya yang berlunjur dan mengambil barang-barang itu, “terima kasih.”


Wanita itu mengangguk, “tinggalkan saja alat-alat itu di bawah meja nanti dan juga letakkan kembali buku itu di tempatnya.”


“Aku tahu.”


Arsyana menatapnya sejenak sebelum melangkah keluar meninggalkan kamar. Ernest merasa tidak enak karena setiap siang selama di hari-hari pemulihannya ruangan ini hampir selalu ditempatinya dan Arsyana lebih sering berada di luar, namun Ernest memikirkan sifat bebas wanita itu lagi…


Nah, jika sejak awal wanita itu ingin berada di kamar ini kehadiranya tidak akan jadi halangan mungkin dialah yang akan berakhir dengan rasa malu jika itu terjadi.


Mengambil pedang, yang sejak awal memang ia sandarkan tidak jauh dari posisinya, Ernest termenung sesaat menatap senjata itu teringat waktu pertama kali dia membawanya. Lebih dari tujuh tahun lalu saat dia hanya seorang bocah yang bahkan belum memasuki masa akil baliq.


Kalau dipikir-pikir bagaimana bisa orang dewasa itu dengan tidak bertanggung jawab memberikan pedang pada anak-anak. Ernest tersenyum kecil mengingatnya.


Mungkin paman itu sudah tahu apa yang akan terjadi di desa, atau itu hanya perkiraan terburuk yang sayangnya menjadi kenyataan. Merawat dan mengajarkan seorang bocah yatim piatu membaca dan ilmu berpedang, apa itu layak?


Atau mungkin hanya karena orang itu memiliki kesepian yang sama dengan anak kecil yang hidup sendiri.


Ernest tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah tahu. Tapi pengetahuan yang diajarkan orang itulah yang membiarkannya tetap hidup sampai saat ini.


Sekali lagi, entah dia beruntung atau malah sial untuk selalu bertahan di akhir.


Menghela nafas keluar dari ingatan lama, Ernest mencabut pedangnya dan memulai perawatan.


*


Waktu terus bergerak maju dan tanpa sadar empat hari lagi telah berlalu, jahitan di lengan dan kakinya telah dilepaskan dua hari lalu. Pada saat itulah Ernest menyaksikan secara langsung keterampilan Arsyana dalam menangani cedera. Bagaimana cara jari-jari wanita itu secara tepat membersihkan luka lalu dengan cakap memutuskan benang di dekat simpul dan menarik benang tersebut. Bisa dikatakan sangat berpengalaman.


Sebenarnya dia ingin bertanya dari mana wanita itu belajar namun mengingat keengganan Arsyana dalam membicarakan asal usulnya Ernest merasa pertanyaan itu tidak akan dijawab.


Ernest cukup senang melihat bekas kemerahan yang sangat berlawanan dengan warna kulitnya yang gelap, menandakan pemulihan lukanya yang lancar dan sebentar lagi dia bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Dan yang jelas Ernest sangat ingin mandi. Selama dua minggu ini dia hanya satu dua kali mengelap badannya secara asal-asalan.


Yang lebih membuatnya tidak nyaman adalah selama ketidakmampuannya untuk menyentuh air, karena khawatir lukanya akan kena dan menjadi basah, dia mengandalkan pakaian yang dicuci Arsyana dari peninggalan pemilik tempat ini. Dan baju lamanya telah dibuang, ternyata pakaiannya tersebut sudah terlalu mirip dengan milik pengemis, juga darah di sana sudah tidak lagi bisa dihilangkan.


Bukan bermaksud tidak bersyukur atau rewel, hanya saja itu sangat memalukan karena pakaian yang dimaksud tidak hanya bagian luar tetapi juga termasuk yang di dalam. Bahkan jika Ernest sangat malu dan ingin menghilang dari hadapan wanita itu, dia tidak bisa menolak Arsyana yang menyodorkan seluruh pakaian bersih, luar dan dalam, pada hari ketiganya di sini dan menggunakan pakaian yang sama selama dua minggu berturut-turut.


Maaf, tapi dia juga tidak ingin harta berharganya berjamur. Dan alasan itu mengalahkan semua rasa malu yang dia rasa saat mengambilnya dari Arsyana.


Jadi pilihan terbaiknya adalah berpura-pura tidak menyadari apa yang telah dilakukan wanita itu dan hanya menganggap pakaian kotor yang sesekali dia ganti itu akan muncul dengan bersih secara sendiri dua atau tiga hari kemudian. Tidak, dia tidak ingin memikirkan alasan kenapa itu bisa bersih.


Ernest benar-benar kesulitan menatap langsung mata Arsyana setiap kali pakaian kotornya muncul dalam keadaan bersih.


Jadi ya, Ernest sangat senang melihat bekas luka baru di kaki dan tangannya karena artinya sebentar lagi dia tidak harus melakukan perjuangan batin setiap melihat pakaian bersih.


Ernest mengambil pakaian dari atas kepalanya yang dijatuhkan Arsyana saat berjalan melewatinya dan melihat wanita itu mengambil tempat duduk di sebrangnya, di sebelah tilam, dengan setumpuk kain lain yang ditumpahkan ke lantai kamar.


Lampit yang selalu digunakan Ernest setiap malam kini tergulung rapi tidak jauh di bawah tilam dan bersandar di sisi lemari.


“Kamu bisa mengurus pakaianmu sendiri mulai sekarang,” ujar wanita itu bahkan tanpa melirik Ernest dan mulai melipat baju dari tumpukan di sebelahnya.


“Aku tahu,” jawab Ernest mengabaikan bagaimana wajahnya memanas saat mendengar perkataan Arsyana, diingatkan kembali dengan rasa malunya selama dua minggu ini.


Keheningan menyelimuti mereka yang perhatiannya kini terpusat pada kegiatan melipat masing-masing


Ernest menyelesaikan miliknya lebih dulu, hanya dua potong baju dan celana kali ini. Oke, dia hanya berpura-pura hitungan untuk bagian dalam sudah dimasukkan pada bagian luar.


Untuk sementara membiarkan tumpukan miliknya tetap berada di sebelah, Ernest mengalihkan perhatiannya pada Arsyana yang sedang melipat selimut. Dia menyadari itu selimut yang dipakainya sejak awal.


“Apa?” tanya Arsyana yang merasakan tatapan orang di depannya.

__ADS_1


Mengalihkan pandangan ke mata coklat yang kini menatapnya, Ernest tanpa sadar membasahi bibir dengan lidahnya untuk menghilangkan gugup sebelum memberanikan diri untuk bertanya, “kapan kamu pergi ke kabupaten lagi?”


“Kenapa?”


“Sekarang aku tidak bisa hanya duduk diam saja.”


Arsyana memandang Ernest sebentar sebelum kembali melanjutkan kegiatan melipatnya, “apa yang mau kamu lakukan?”


“Aku belum tahu,” jujur Ernest, melihat hamparan pohon melalui jendela kamar yang terbuka, “tapi pasti ada pekerjaan yang bisa aku lakukan di sana.”


“Seperti kuli?”


“Ya.”


Arsyana hanya menanggapi dengan dengungan rendah dan diam setelahnya sembari membereskan lipatan pada kain terakhir di tumpukannya.


Ernest mengernyit dengan reaksi itu, atau malah bisa dikatakan dia tidak melihat reaksi khusus di wajah Arsyana, jadi apa arti diam itu?


“Jangan lupa kamu harus membayarku,” kata Arsyana mengingatkan dengan seringai di bibirnya.


“Aku tidak akan lupa.”


“Bagus,” wanita itu berdiri dengan tumpukan kain yang telah dilipat rapi di tangannya, “aku akan pergi lusa.”


“Oke.”


“Aku akan meninggalkanmu di jalan jika lukamu menghambatku.”


“Aku tidak akan menghambatmu.”


“Jangan terlalu berlebihan menggunakan kaki dan tanganmu idiot,” kata Arsyana dengan nada mencemooh dan melanjutkan dengan gumaman rendah, “lukanya masih memungkinkan untuk meradang dan infeksi.”


Ernest tertegun sejenak melihat punggung Arsyana yang menjauh darinya saat menuju lemari. Beralih untuk melihat bekas luka yang masih muda di tangan dan kakinya, Ernest ingin mengatakan kalau ini bukan luka terburuknya. Paling tidak dia memiliki perawatan dan istirahat yang layak.


Pada akhirnya Ernest hanya menghela nafas kalah saat teringat kalau terakhir kali dia mendapatkan luka yang memerlukan jahitan adalah sekitar 1 tahun lebih yang lalu, beberapa bulan sebelum dia memutuskan keluar dari pasukan dan berkelana sendiri.


*


Arsyana memenuhi perkataannya pada perbincangan mereka dua hari lalu dan membawa Ernest ke kabupaten melalui jalan pintas yang pernah disebutkan wanita itu sebelumnya.


Selama perjalanan melewati naik turunnya tanah hutan yang bergelombang Ernest harus mengakui jika dia pergi sendiri dan tidak memiliki Arsyana sebagai penuntun arah maka besar kemungkinan dirinya akan tersesat dengan rapatnya batang pohon di sepanjang jalan.


“Hei Arsyana,” panggilnya terdengar ragu-ragu saat menyebut nama wanita yang berjalan dua langkah di depannya.


Ernest melihat orang di depannya sedikit tersentak sebelum berhenti dan menoleh ke belakang.


“Apa?” tanya Arsyana datar, “aku tidak akan menunggumu jika kamu ingin istirahat karena kakimu sakit.”


“Kakiku tidak menjadi masalah.”


“Jadi apa? Jika kamu takut hantu muncul maka jangan sampai ketinggalan dan cepatlah, aku ingin menurunkan beban ini segera.”


“Apa itu penting?”


“Tidak,” Ernest menelan ludah melihat pandangan tak acuh wanita di depannya, “aku hanya ingin tahu, maaf membuatmu berhenti.”


Wanita itu berbalik, “kalau begitu ayo lanjut berjalan,” katanya dan kembali melangkah ke depan.


Keduanya kembali melanjutkan perjalanan yang cukup lama ini dalam diam dan membiarkan suara gemerisik daun dan rumput yang diinjak serta jangkrik hutan menjadi pengantar, sampai akhirnya pepohonan tidak lagi serapat sebelumnya dan udara menjadi kurang lembab.


Ernest sedikit terpana setelah manapak ke tanah datar yang merupakan jalan utama menuju ibu kota kabupaten, dia menoleh ke belakang melihat rimbun pepohonan tempat dimana ia keluar tadi.


Setelah diperhatikan sebenarnya di sepanjang sisi jalan merupakan rimbun pepohonan yang mengarah ke dalam hutan. Ernest tiba-tiba menyadari mengapa melewati dalam hutan gunung bisa memperpendek jarak menuju kabupaten pusat.


“Apakah jalan antara kabupaten dan desa harus memutari gunung?” tanya Ernest yang menoleh kembali untuk menatap Arsyana.


“Ya,” jawab wanita itu yang kini tengah memandangnya dengan tatapan menelisik, “kamu tidak berasal dari Selatan.”


“Aku datang dari Utara.”


Arsyana mengangguk mengerti alasan kenapa Ernest terkejut mengetahui jika ingin ke kabupaten dari Desa Khashmar harus memutari hutan pegunungan di sepanjang jalan, “bagaimana suasana di sana?”


Secara naluri mengikuti Arsyana yang sudah kembali berjalan, Ernest jatuh ke dalam renungan mendengar pertanyaan itu. Bagaimana Utara? Suram? Memulihkan diri?


Ernest mendongak memperhatikan langit biru pagi yang masih memiliki sedikit sisa malam sebelumnya dan dengan tenang menjawab, “semakin ke Selatan semakin hidup,” hanya itu yang bisa dia berikan.


Hening sejenak, “negara tidak akan membiarkan Utara memulihkan dirinya sendirian.”


“Mereka tidak akan membiarkan kekuasaan lain menempati Utara.”


Arsyana melirik pemuda yang kini berjalan di sampingnya, “apa kamu tidak setuju dengan itu?”


“Apakah itu penting?” Ernest menatap lurus ke depan, jalan yang akan dia lalui, “masyarakat bawah tidak peduli siapa yang berkuasa, mereka hanya peduli bagaimana untuk menjalani hidup.”


“Dan Negara Baruun bahkan tidak membiarkan mereka memiliki kepedulian itu.”


Ernest terdiam, mengepalkan tinju di sisi tubuhnya dengan kuat, dia menahan kebencian saat mengingat apa yang telah dilakukan negara yang disebutkan itu.


Tersentak keluar dari ingatan lama saat mendengar derit roda dan tapak kaki dari belakang, Ernest melihat seekor sapi menarik sebuah gerobak dengan beberapa tumpuk goni, seorang pria paruh baya, dan seorang gadis kecil, sekitar 10 atau 12 tahun, di atasnya.


Arsyana juga melihatnya dan menarik Ernest untuk menepi agar tidak menghalangi jalan. Kendaraan itu berhenti di samping mereka.


“Hei Yana!” seru pria paruh baya itu.


“Paman Damar.”

__ADS_1


“Ke kabupaten lagi?”


“Ya.”


Pria yang dipanggil ‘Paman Damar’ oleh Arsyana itu melirik Ernest, “siapa ini? Keluargamu?”


“Begitulah.”


“Ayo naik, kebetulan Paman juga mau ke sana.”


Arsyana terlihat malu, “kamu sudah beberapa kali membiarkanku menumpang Paman, kalau ketahuan bosmu apa tidak akan jadi masalah?”


Paman Darma tertawa tulus, “Bos Kaman itu orang baik, dia tidak akan marah Paman ini memberi tumpangan ke yang lain apalagi kalau tidak mengganggu pekerjaan.”


Arsyana ingin menolak namun melihat kaki Ernest yang tertutup celana, dia memikirkan luka yang jahitannya baru dilepas, “kalau begitu maaf merepotkanmu paman.”


“Nah, bukan masalah.”


Ernest mengikuti Arsyana ke belakang gerobak dan melihat wanita itu melompat masuk lebih dulu dengan gerakan mulus.


Arsyana meletakkan tasnya ke samping dan berbalik menghadap Ernest yang bersiap-siap naik, “gunakan kakimu yang sehat untuk menumpu di pinggir kayu.”


“Apa?”


“Aku akan menarikmu ke atas.”


Ernest mengernyit, “aku bisa sendiri…” ujarnya tak yakin.


Arsyana memutar matanya, “’jika lukamu memburuk itu hanya akan membuang-buang kebaikan Paman Damar.”


Menatap mata coklat datar itu sejenak, Ernest mendesah kalah, “oke.”


Ernest menggunakan kakinya yang tidak terluka sebagai tumpuan di pinggir gerobak dan mengulurkan tangannya yang sehat ke Arsyana, membiarkan wanita itu menariknya ke atas.


Ernest merasakan tangan lain di pundaknya saat dia berada di atas kendaraan itu, menahannya dari jatuh lebih lanjut ke arah Arsyana, “terima kasih,” gumamnya.


Wanita itu melepaskan tangannya dan segera duduk di tempat kosong yang masih ada tanpa menanggapi ucapan itu. Ernest tidak peduli dan ikut duduk di sebelahnya.


Melihat keduanya sudah aman di atas gerobak, Paman Damar segera mengendalikan sapinya untuk lanjut berjalan, “ada apa dengannya? Tidak pernah naik gerobak?” tanyanya yang sejak awal memperhatikan kesulitan keduanya.


Ernest memerah malu mendengarnya.


“Kakinya terluka paman,” jawab Arsyana, “baru mulai mengering.”


“Ah, apakah parah?”


“Butuh beberapa jahitan dan baru melepaskannya beberapa hari lalu.”


“Butuh jahitan!” Paman Damar berseru kaget dan terdengar kahwatir, “bukannya itu sangat parah? Apa yang dia lakukan di sini dan bukannya istirahat?!”


“Keras kepala tidak mau diberi nasehat.”


Ernest memelototi Arsyana yang menyeringai padanya. Wanita itu tidak pernah menasehatinya untuk berdiam diri dan istirahat saat dia mengatakan ingin mulai bekerja dan malah mengingatkannya untuk tidak melupakan pembayaran.


“Kamu seharusnya tidak memaksakan diri nak!”


Ernest mendongak, melihat Paman Damar yang sesekali menoleh ke belakang sambil tetap mengendalikan laju sapinya, “aku sudah berdiam diri dan membiarkan Arsyana mengurus diriku selama dua minggu ini.”


“Bagus! Itu baru laki-laki!” Paman Damar mengeluarkan suara pengakuan, “siapa namamu nak?”


“Panggil saja aku Ernest, Paman,” Ernest merasa wajahnya panas mendengar itu. Menurutnya itu adalah sesuatu yang wajar mengingat Arsyana dan dirinya hanyalah orang asing, namun Ernest juga menyadari kalau di mata Paman Damar keduanya adalah anggota keluarga.


“Ernest, paman tahu kamu tidak nyaman membiarkan istrimu melakukan pekerjaan sendirian dan mengkhawatirkan segalanya sedangkan dirimu hanya bisa berdiam diri…”


Ernest memucat dan mendongak menatap Paman Damar yang membelakanginya dan masih berbicara.


“… tapi kamu juga tidak bisa memaksakan diri, bagaimana kalau lukamu menjadi lebih parah!”


Membuka tutup mulutnya ingin membantah, namun Ernest sendiri bingung harus berkata apa. Mengatakan mereka hanya saudara? Tidak ada kemiripan sama sekali! Sepupu? Dia tidak tahu sejauh mana Paman Damar mengenal Arsyana, bagaimana kalau dia mengatakan sesuatu yang mencurigakan?


Untungnya Arsyana lebih dulu bersuara sehingga dia tidak perlu menanggapi perkataan Paman Damar.


“Siapa ini Paman?” tanya Arsyana sembari memberi senyum pada gadis kecil yang sejak tadi hanya diam melihat mereka.


Paman Damar tersenyum lebar dan menepuk lembut kepala anak itu, “anak gadisku!”


“Hei Paman! Kamu memiliki anak gadis yang cantik!”


Gadis kecil itu memerah mendengar perkataan Arsyana dan tawa bahagia Paman Damar terdengar jelas di samping suara roda yang berderak.


“Siapa nama gadis ini?”


Putri kecil itu menoleh ke ayahnya dan setelah melihat Paman Damar tersenyum dan mengangguk barulah dia menjawab dengan malu-malu, “Rumi.”


“Nama yang bagus,” puji Arsyana lembut, “kenapa sebelumnya aku tidak pernah melihatnya Paman?”


“Karena ini pertama kalinya aku perlu membawanya.”


“Oh,” Arsyana dengan penasaran bertanya, “dan kalau boleh tahu kenapa begitu?”


“Karena rujukan Bos Kaman, Rumi berhasil mendapatkan beasiswa di sekolah perempuan kabupaten,” jawan Paman Damar terdengar sangat bahagia dan bangga.


“Itu kabar baik!”


Ernest dari samping memilih untuk diam dan hanya memperhatikan pembicaraan kecil yang dilakukan Arsyana selama perjalanan, hanya sesekali menimpali jika diarahkan langsung padanya. Sebenarnya dia terlalu terkejut melihat bagaimana wanita itu berinteraksi dengan ramah seperti wanita desa umumnya dengan Paman Damar dan Rumi mengingat selama dua minggu interaksi mereka di rumah bobrok itu, salah satu penilaian Ernest terhadap Arsyana adalah wanita ini memilliki kepribadian yang agak satir dan tajam.

__ADS_1


Mendongak melihat langit yang semakin cerah, Ernest bertanya-tanya apakah suatu saat nanti Utara bisa seperti Selatan, dimana penduduknya cukup kaya untuk berjalan jauh menggunakan gerobak sapi.


***


__ADS_2