Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 12


__ADS_3

Rumah di kawasan perumahan elit yang dilalui Ernest dibangun tidak berdekatan dan memiliki jarak yang lumayan antarhunian. Masing-masing berpagar dan memiliki penjaga seperti di gerbang yang ia lalui.


Lebih dari setengah daftar alamat yang perlu dikirimkan surat kabar berada di kawasan itu. Ernest memerlukan waktu hampir satu jam untuk melakukan semua pengiriman yang beralamat di sana—mengingat dia perlu meraba jalan untuk menemukan alamat yang cocok.


Untung mereka sepertinya telah terbiasa dengan pengiriman dari Milar sehingga ada seseorang yang menunggu di depan pos rumah masing-masing sehingga dirinya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk memberikan surat kabar itu.


Saat dirinya kembali ke pos gerbang perumahan tersebut, Ernest mengambil kembali tanda pengenal pekerjanya dan mengucapkan terima kasih ke penjaga di sana.


Ernest perlu pergi ke beberapa wilayah hunian lain untuk sisa alamat di daftar. Empat sampai lima rumah yang dia lakukan pengiriman selanjutnya bisa langsung ditemukan dalam sekali masuk ke daerah pemukiman, beberapa lainnya terpisah, dan ada juga yang hanya menemukan satu alamat tercantum dalam satu kawasan perumahan.


Pengalaman itu membuatnya menemukan bahwa perumahan pertama yang dia datangi merupakan satu-satunya area penduduk yang memerlukan pengawasan dalam keluar masuknya, sedangkan daerah lain masih merupakan perumahan yang bercampur di mana tidak semua yang tinggal di sana adalah keluarga kaya, ada juga yang biasa saja.


Ernest memperkirakan bahwa lebih dari satu jam lainnya telah berlalu ketika semua alamat telah dia kirimi.


Melihat masih ada beberapa surat kabar di tangannya dia merasa agak bingung memikirkan apakah akan menawarkannya ke orang lain atau membawanya kembali, namun merasakan beban uang di saku yang dia kumpulkan dari pengiriman membuat Ernest merasa sedikit gelisah dan tak nyaman karena khawatir.


Akhirnya tanpa memperlambat langkahnya, dia langsung kembali menuju Toko Kolfan.


Saat Ernest sampai di sana pintu dan jendela toko telah dibuka tidak seperti tadi ketika dia datang. Dia melangkah masuk dan kebetulan berpapasan dengan seseorang yang keluar membawa surat kabar.


Ernest melihat keadaan di dalam kosong dengan hanya Milar yang sedang membaca koran di balik meja kasir.


Orang itu menyadari kehadirannya, “oh, sudah selesai?”


“Ya,” Ernest berjalan mendekat dan meletakkan sisa surat kabar yang dia bawa ke atas meja, “apa biasanya toko sekosong ini?”


“Mau bagaimana lagi, hanya sedikit penduduk kabupaten ini yang memiliki kemampuan membaca.”


“Lalu kenapa mendirikan toko buku di sini? Apa tidak rugi?”


“Hei, jangan tanya padaku,” Milar melipat surat kabar dan meletakkannya, “itu keputusan bos.”


“Kamu benar.”


“Kamu selesai lebih cepat dibandingkan diriku.”


“Aku terbiasa berjalan cepat maupun berlari,” Ernest menanggapi pujian Milar dengan tenang, “ngomong-ngomong, di mana bos? Aku mau menyerahkan uangnya.”


“Tunggu sebentar, aku akan memberitahunya.”


“Boleh aku membaca surat kabarmu?”


Milar melambai santai, “itu surat kabar toko, baca saja,” dan melangkah menuju pintu yang sepertinya mengarah ke ruang lain—baik tempat percetakan maupun kantor bos sendiri.


Ernest mengambil surat kabar yang dilipat Milar dan membiarkan dirinya bersandar ke meja kasir saat membuka dan membaca berita terbaru yang tercetak. Tidak ada berita tentang Utara maupun kabar lanjutan yang berhubungan dengan bandit desa dari surat kabar empat hari lalu, namun dikatakan kalau perbatasan setiap kabupaten semakin diperketat dalam hal masuk.


Hal bagus dia sudah lebih dulu masuk ke kabupaten sebelum kekacauan ini semakin meledak.


Ada berita lain juga seputar kejahatan kecil yang terjadi di kabupaten ini seperti pencurian di rumah warga x, pemalakan oleh preman di beberapa pasar desa atau kecamatan, perkelahian antar penduduk a dan b, serta lainnya.


Selain berita ada juga beberapa iklan menarik seperti perawatan dan pemutih kulit, model pakaian, dan penawaran langganan untuk penjualan susu dari peternak sapi. Iklan-iklan tersebut jelas ditujukan untuk keluarga berada mengingat di kabupaten ini orang-orang yang bisa membaca adalah mereka yang kaya.


Namun yang membuatnya terkejut adalah beberapa ruang yang berisi cerita pendek namun menarik.


Ernest menurunkan surat kabar di tangannya saat sudut matanya melihat pintu yang dilalui Milar tadi terbuka. Dia mendongak dan benar saja melihat Bapak Gatra dan Milar keluar dari sana.


“Kamu selesai lebih cepat dari yang aku perkiraan mengingat dirimu tidak menggunakan kendaraan.”

__ADS_1


“Aku harap itu merupakan hal yang baik,” Ernest menanggapi pujian itu dengan tenang.


“Tentu saja itu hal yang baik,” Pak Gatra mendekat hingga dirinya dan Ernest saling behadapan dengan meja kasir sebagai pemisah.


Ernest melipat surat kabar di tangan dan meletakkannya di atas meja, dia juga mengeluarkan uang yang dikumpulkan dari pengiriman surat kabar serta kertas berisi daftar alamat sebelumnya dan menaruhnya berdekatan dengan sisa surat kabar yang dia bawa, “ada 38 alamat yang menjadi tujuan pengiriman, dengan 8 rumah meminta 2 salinan surat kabar dan sisanya 1 surat kabar. Totalnya adalah 46 salinan yang dikirim dan menyisakan 4 untuk dikembalikan ke sini. Setiap surat kabar seharga 40 Flo jadi totalnya adalah 1.840 Flo.”


Gatra memperhatikan Ernest yang menghitung dan menyusun uang di meja dengan memisahkannya sesuai besar bilangan.


Mata uang Flo lebih banyak beredar di masyarakat biasa dibandingkan Gilden yang cenderung digunakan pengusaha dan pemerintah karena nilainya yang lebih tinggi untuk transaksi besar. Flo sendiri terdiri dari nominal 1, 5, 10, dan 50.


Ernest melihat ke calon bosnya dan mundur selangkah dari meja kasir saat semua pendapatan yang dikumpulkan dari pengiriman surat kabar di tangannya tersusun.


Gatra mengangguk namun tidak langsung mengambil uang itu, melainkan menyerahkan dua lembar kertas yang dibawanya dari dalam kantor, “ini kontrakmu, kamu bisa melihatnya lebih dulu.”


Ernest dengan sopan mengambilnya dan dengan hati-hati membaca keduanya secara bergantian. Kertas-kertas itu seharusnya memiliki isi yang sama, namun dia tetap memeriksa dan membandingkannya karena peringatan Arsyana—bahkan saat keduanya berada di keheningan yang tak nyaman sebelum dia pergi tadi. Dia juga memang pernah mendengar tentang kecurangan pada kontrak yang menyebabkan kerugian pada warga biasa.


“Aku mendapatkan 5 Flo dari setiap surat kabar yang dikirimkan?”


“Ya.”


“Jadi bayaran harianku tergantung berapa banyak surat kabar yang dikirim melalui tanganku,” kata Ernest menyimpulkan.


“Atau kamu ingin menggantinya dengan bayaran tetap perhari?”


Ernest mengernyit memikirkannya. Kedua kondisi itu memiliki kelebihannya masing-masing.


“Ini bagus,” pada akhirnya Ernest masih memilih yang tertera di kontrak. Lagipula di situ tertulis jelas hari dan jam kapan dirinya perlu bersiaga mengirimkan surat kabar, juga tidak dikatakan kalau dia hanya boleh terikat dengan pekerjaan ini sehingga sisa waktunya bisa digunakan untuk pekerjaan lainnya.


“Kamu bisa menulis namamu dan memberinya cap ibu jari di sana,” Gatra memberikan isarat pada Milar untuk mengeluarkan tinta yang diperlukan.


“Benar.”


“Artinya setelah 3 bulan—masa dikontrak aku secara langsung berhenti.”


“Kita bisa melihatnya nanti, jika memang dibutuhkan tentunya akan ada kontrak baru, tetapi ya setelah 3 bulan kontrak di tanganmu itu tidak akan lagi berlaku untuk kedua pihak.”


Tiga bulan. Perhitungan kasar dari waktu minimal yang dia perlukan untuk menetap di Kabupaten Lutua. Tentu saja itu bukan batas waktu mutlak, dia bebas untuk memilih pergi setelah tiga bulan itu selama dirinya berhasil menyelesaikan semua urusannya di kabupaten ini. Salah satunya rasa berhutang yang dia miliki terhadap Arsyana.


Namun, jika dirinya boleh memilih dia berharap memiliki pilihan lain. Apa pun itu yang belum mau dia akui secara gamblang.


“Itu bagus,” ujar Ernest dengan nada rendah, menyingkirkan pikirannya untuk sementara, “boleh aku meminjam pena?”


Milar menunjuk gelas bambu di sudut meja yang digunakan sebagai wadah beberapa peralatan tulis yang khusus disiapkan untuk keperluan tata usaha, “pakai saja yang ada di sana.”


Ernest mengambil pena dan menuliskan namanya di ruang yang disediakan pada kedua kertas kontrak tersebut, menyelupkan ibu jarinya ke tinta dan mencapnya di sana. Dirinya mendongak ke Pak Gatra dan melihat pria yang lebih tua darinya itu mendekat dan melakukan penyegelan dengan stempel. Terdapat rangkaian huruf yang muncul setelahnya.


Melihat itu, Ernest meletakkan rasa gelisahnya. Setidaknya untuk tiga bulan ke depan dia akan memiliki penghasilan dan tidak lagi secara penuh bergantung dengan Arsyana. Mungkin tidak banyak hingga bisa langsung melunasi hutangnya—mengingat pekerjaan ini hanya dilakukan dua kali seminggu dan pembayaran bergantung berapa banyak surat kabar yang dia kirim, tetapi dia bisa mulai melakukan pengumpulan untuk membayar wanita itu.


Tentu saja dia juga akan mencari pekerjaan sampingan untuk hari kosong lainnya.


“Milar, kamu yang bertanggung jawab menerima pengumpulan uang dari Ernest dan menghitung pembayarannya.”


“Baik Pak.”


Gatra melihat ke arah Ernest, “kamu bisa mengambil bayaranmu hari ini.”


“Terima kasih Pak.”

__ADS_1


Gatra mengangguk lalu berbalik pergi dengan membawa satu kertas kontrak dan kembali menghilang di balik pintu ia masuk tadi. Ernest menggeser kontrak lainnya mendekat, untuk sementara membiarkannya di atas meja untuk menunggu tinta di atasnya mengering.


Melihat kepergian bosnya, Milar langsung menarik kursi di balik meja kasir dan duduk di sana. Dia mengambil surat kabar yang dibawa kembali Ernest, memastikan jumlahnya cocok dengan yang dilaporkan dia kembali menyerahkannya ke Ernest, “tolong letakkan ini ke tempat surat kabar.”


Ernest mengambilnya dan berjalan beberapa langkah ke samping lalu meletakkannya ke rak tempat surat kabar ditumpuk. Saat dia kembali ke depan meja, Milar telah mengumpulkan semua uang di sana dan memisahkan beberapa yang kelihatannya merupakan bayarannya untuk hari ini.


“Kamu mengirimkan 46 surat kabar hari ini,” ucap Milar sembari menyerahkan uang yang telah dia pisahkan, “230 Flo.”


Walau telah memperkirakannya, Ernest masih agak tidak percaya saat menerima uang tersebut.


“Ada apa?”


Mendengar pertanyaan dari orang di depannya membuat Ernest sedikit malu, “bukan apa-apa.”


“Terkejut?”


“Bisa dikatakan seperti itu.”


Milar bersenandung ringan sembari mengambil dan menyimpan sisa uang lalu melakukan pencatatan yang diperlukan, “sebelum kamu, banyak yang berminat dengan pekerjaan ini.”


“Lalu kenapa butuh waktu lama untuk menemukannya?”


“Karena kami menginginkan mereka yang mengenal huruf dan sayangnya di kabupaten ini orang-orang yang bisa membaca kebanyakan telah memiliki pekerjaan baik di kantor pemerintah atau pun usaha keluarga mereka sendiri.”


“Apa karena perlu pergi ke berbagai alamat kalian membutuhkan orang melek huruf?” tanya Ernest yang sedikit penasaran atas persyaratan tersebut.


“Iya, awal membuka sistem pengiriman kami menawarkan pada mereka yang biasanya datang ke toko membeli surat kabar dan selama orang itu tidak menyebutkan penghentian maka surat kabar akan terus dikirim ke alamatnya,” jelas Milar, “atau jika pada saat salah satu hari pengiriman orang itu tidak menerimanya maka pada hari pengiriman selanjutnya rumah itu tidak lagi didatangi.”


“Bagaimana jika ada orang baru yang ingin mendaftar?”


“Mereka bisa datang ke sini pada hari sebelum pengantaran dan menuliskan alamatnya, maka semenjak itu mereka akan selalu masuk ke daftar pengiriman sampai ada konfirmasi penghentian.”


“Jadi daftar yang diberikan padaku bisa berubah,” simpul Ernest, “karena  itu kalian membutuhkan orang yang melek huruf untuk menemukan alamat-alamat baru yang mungkin muncul.”


“Kamu bisa mengatakannya seperti itu.”


“Kalian bisa menggunakan orang yang mengenal semua jalan atau penduduk di kabupaten.”


Milar membuka surat kabar yang sebelumnya ia baca, “itu pilihan terakhir kami kalau kamu tidak datang kemarin, tetapi berapa banyak orang seperti itu? Kamu sudah tahu kalau ada perumahan yang perlu izin untuk masuk dan sejauh ini pelanggan terbanyak berasal dari sana.” katanya dengan santai.


“Kamu benar," setuju Ernest sambil lalu dan dengan ringan mengubah pembicaraan, "ngomong-ngomong, buku apa saja yang ada di sini?”


“Berbagai macam.”


“Contohnya?”


“Kenapa kamu tidak melihat-lihat sendiri apa yang terpajang.”


“Bolehkah?”


“Tentu saja, selama kamu tidak merusaknya,” jawab Milar melambaikan tangannya, bermaksud mengusir Ernest agar tidak mengganggunya membaca.


“Terima kasih,” Ernest berbalik menuju rak dan lemari tempat buku-buku di pajang.


Ada senyum kecil yang muncul di wajahnya saat dirinya berpaling dari Milar.


***

__ADS_1


__ADS_2