Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?

Mungkinkah Mengisi Ruang Kosong Di Diri Kita Ini?
Bab 10


__ADS_3

Ernest keluar dari bilik air sembari menggosok telinganya dengan kasar guna mengeluarkan sisa air yang mengalir dari rambut dan tidak sengaja masuk ke dalam. Surai hitam yang sudah lama dibiarkan tumbuh—tidak terasa telah menyentuh pundak membuat kain di sekitar leher menjadi basah bahkan setelah menggunakan handuk untuk mengeringkannya.


Dengan kain pengelap badan di pundak dan baju semalam yang telah dia cuci di tangannya, Ernest berjalan menuju tempat dia biasa menjemur pakaian yang dibersihkannya.


Semenjak waktu di kamar itu—lima hari yang lalu, saat Arsyana menyuruhnya untuk mengurus pakaiannya sendiri, Ernest akan sekaligus melakukan pencucian ketika mandi jika pada saat itu dia perlu mengganti baju yang dikenakan. Belum banyak hal yang bisa dilakukan Ernest di sini sehingga membuat dirinya jarang berkeringat, karena itu dia tidak perlu terlalu sering mengganti pakaian luarnya.


Sudah mulai ada semburat jingga di langit yang menandakan Sang Fajar mulai menyingsing menyebarkan cahayanya kepada seluruh makhluk di bawah.


Setelah menggantung handuk dan pakaiannya di tali jemuran, Ernest kembali berjalan dan masuk ke dalam dapur.


Api di tungku masih menyala, namun alat di atasnya bukan lagi belanga melainkan kastrol berisi makanan yang akan menjadi sarapan mereka.


“Apakah semua barang ini benar-benar peninggalan pemilik sebelumnya?” tanya Ernest tidak bisa menahan rasa penasaran karena semakin lama dia tinggal semakin jelas betapa lengkapnya peralatan di tempat ini.


Arsyana hanya meliriknya dan terus mengaduk bubur yang menggelegak, “kalau tidak?”


“Bukannya pemiliknya mengasingkan diri karena sakit?”


“Ya.”


“Kenapa harus bersusah payah menyiapkan semua perlengkapan ini dan membuang-buang uang? Bagaimana dengan kondisi keluarganya sendiri?”


“Keluarga kaya hingga mampu untuk memberikan kenyamanan yang cukup bagi si pemilik.”


“Lalu kenapa tidak pergi mencari pengobatan?”


“Menurutmu penilaian apa yang dimiliki orang lain pada penderita penyakit ini dan keluarganya?” Arsyana memandang Ernest datar, “dan juga pengobatan yang dilakukan bisa menelan biaya jauh lebih besar dari semua barang yang ditinggal di sini.”


“Tapi mereka adalah keluarga,” balas Ernest lemah dan terdengar kosong.


“Begitu juga dengan semua orang yang ada di keluarga itu, kamu tidak tahu apa yang mungkin saja harus mereka tanggung sehingga perlu membuat keputusan seperti itu.”


Ernest terdiam memandang punggung wanita yang kini sedikit membungkuk mengeluarkan kayu-kayu besar dari tungku guna mengecilkan api yang menyala dan membiarkannya padam perlahan.


Menoleh ke belakang, Arsyana menemukan pria itu menatapnya kosong, “Apa?”


“Apakah kamu setuju meninggalkan anggota keluargamu yang sedang sakit dan mengasingkannya sendiri?”


“Ini bukan masalah aku setuju atau tidak.”


“Lalu?” Ernest tidak mengerti mengapa dadanya terasa dingin jika memikirkan Arsyana menyetujui pemikiran seperti itu.


“Apa yang aku coba katakan adalah bukan hak kita untuk menilai apa yang mereka perbuat.”


Untuk sementara ada keheningan yang tak menyenangkan di antara mereka.


Pada akhirnya Ernest menghela nafas berat, “kamu benar.”


“Ayo tidak perlu membahasnya lebih lanjut,” kata Arsyana dengan nada ringan, “lagi pula itu bukan urusan kita.”


“Mm.”


“Pergi ambil piring.”


“Sarapan sekarang?” tanya Ernest namun tetap pergi mengambil apa yang diminta.


“Bukannya kamu harus pergi sekitar setengah jam lagi?”


“Bagaimana denganmu? Kamu tidak pergi ke mana pun.”


“Tentu saja aku sarapan sekarang, apa kamu berpikir aku hanya akan berdiri melayani dan melihatmu makan?” sinis Arsyana.


“Bukan begitu maksudku! Dan kenapa juga kamu selalu berprasangka buruk padaku?!”


“Salahkan dirimu yang mudah digoda sehingga membuatku terhibur.”


Ernest mendekat dan menyerahkan piring yang diambilnya, “caramu mencari hiburan itu menjengkelkan tahu.”


“Itu karena kamu tidak bisa membalas.”


Ernest merengut kesal. Bukannya dia tidak bisa membalas, hanya saja…

__ADS_1


Melihat wanita itu menyendok bubur dari dalam kastrol dan menumpahkannya ke piring yang dipegangnya, Ernest mengalihkan pandangannya ke sudut lain ruangan.


…dia tidak mungkin membalas dengan menggoda juga kan?


Ernest tiba-tiba merasa wajahnya panas.


“Apa yang kamu lamunkan?” Arsyana bertanya dengan kesal, tangannya menyodorkan piring yang telah terisi, “ingin aku bawakan ke meja seperti yang dilakukan pelayan di restoran?”


Mendengar sarkasme itu Ernest segera mengambil piringnya, “maaf,” ucapnya merasa agak bersalah.


Wanita itu menatapnya lurus seperti tengah menelisik sesuatu dari wajahnya untuk melihat apa yang ada di benaknya dan itu membuat Ernest sedikit gugup.


“Ernest.”


“Apa?”


“Kamu tahu, kamu selalu bisa menyelesaikan urusan laki-lakimu di bilik air.”


Untuk beberapa saat akal Ernest mencoba mengartikan apa maksud perkataan Arsyana.


“Aku pasti tidak akan menghalangi selama kamu hanya melakukannya di sana,” tambah Arsyana dengan suara serius dan bijak.


“Aku tidak!” Ernest membantah dengan keras ketika pemahamannya mengerti apa yang diisaratkan wanita itu, wajahnya semakin panas dan memerah, mulutnya gelagapan ingin membela diri, “kamu—! Apa yang—! Bagaimana bisa kamu membicarakan—!”


Gelak tawa menggema dengan keras di dapur itu saat Arsyana tidak lagi bisa menahan diri melihat reaksi lucu Ernest, “hahaha—wajahmu! Kamu harus melihat wajahmu—hahaha!”


“Arsy!”


“Oke… oke… aku hanya menggodamu.”


“Kamu!” Ernest menggertakan gigi menahan rasa kesal dan malu—mungkin juga salah tingkah, “kamu tidak seharusnya menggunakan hal itu sebagai candaan.”


“Tidak menyadari kamu sepolos itu,” Arsyana menanggapi dengan ringan sembari berbalik dan menyendok bubur ke piring yang lain—yang ini untuknya.


“Bukan kepolosanku yang jadi masalah di sini—tunggu! Bukan seperti itu maksudnya! Kenapa kedengarannya salah?!”


“Jadi kepolosanmu itu tidak penting?”


“Oke.”


“Tunggu! Kenapa jadinya ini seperti membahas kepolosanku!”


“Apakah bukan?”


“Tentu saja bukan!”


“Jadi apa?”


“Apa yang ingin kukatakan adalah,” Ernest menarik nafas menenangkan detak jantungnya yang berdegup gila-gilaan karena rasa malu tadi, setelah yakin dan nafasnya kembali normal dia berkata dengan tenang namun serius “aku seorang laki-laki, Arsyana.”


“Aku bisa melihatnya.”


“Kamu tidak seharusnya melakukan candaan seperti itu padaku.”


“Karena aku seorang wanita?” tanya Arsyana ringan dengan sedikit sentuhan geli pada suaranya seperti orang yang terhibur, namun jika diperhatikan senyum di wajah wanita itu sedikit menajam, “wanita yang baik tidak seharusnya mengatakan hal-hal kotor, bukan?”


“Ya, wanita tidak seharusnya melakukan candaan tak senonoh dengan lawan jenisnya.”


“Hah!” Arsyana mendengus sinis, “pria dengan rasa unggulnya!”


“Karena pria bisa lebih rendah dari binatang!”


Arsyana tertegun di tengah ejekan sinisnya saat mendengar bentakan Ernest.


“Bahkan jika kamu selama ini hanya melihatku sebagai seseorang yang lemah, bodoh, dan tidak berguna, namun aku masih seorang pria,” Ernest berbalik mendekati rak kayu sederhana tempat biasa peralatan makan disusun, mengambil dua sendok dan meletakkan salah satunya di meja ketika dirinya meraih gelasnya yang ada di sana, ia pergi menuju pintu, “kamu adalah orang yang sangat berhati-hati jadi, tidak seharusnya kamu lengah dengan hal ini. Maaf membentakmu, aku akan makan di luar.”


Arsyana menatap kosong sosok Ernest yang melangkah keluar hingga tidak terlihat karena terhalang dinding. Menunduk menatap piring berisi bubur di tangannya, Arsyana setengah menutup kastrol dan berdiri beranjak menuju meja.


Arsyana meletakkan piring di atas meja lalu manarik kursi dan duduk di atasnya. Meraih sendok yang tergeletak ditinggalkan Ernest di sana, Arsyana memperhatikan alat makan itu sembari memutar-mutarnya, “itu tidak seperti aku lengah,” gumamnya sebelum mencelupkan sendok tersebut guna mengambil suapan pada sarapannya.


Arsyana tahu itu bukan karena dirinya lengah, namun dia sengaja membuat dirinya terlihat lengah.

__ADS_1


Wanita itu menghela nafas, dia merasa sedikit bersalah karena terus mengetes pria itu.


Arsyana menghentikan gerakannya yang tengah menyendok dan menatap kosong bubur yang telah berkurang di piringnya.


Dia bukan mengetes orang itu, tetapi alam bawah sadarnya selalu percaya bahwa Ernest pasti akan mengambil kesempatan melakukan sesuatu yang buruk jika dirinya menunjukkan celah. Dan jika orang itu benar-benar melakukannya dia, Arsyana, bisa dengan yakin untuk menyingkirkan pria itu tanpa rasa bersalah.


“Ah, ini buruk,” gumam Arsyana kembali mengambil suapan pada sarapannya.


Sejak kapan dia menjadi bias dengan prasangkanya?


*


Ah, ini buruk.


Ernest berjalan di tengah pasar yang mulai ramai dengan langkah tegap dan wajah lurus—yang telah menjadi kebiasaan selama waktunya di tentara walaupun pikirannya berantakan dengan apa yang terjadi saat sarapan tadi.


Bagaimana dia bisa mengatakan itu?! Bukankah itu sama saja mengakui kalau dia memiliki pikiran yang buruk?!


Menghela nafas, Ernest kembali memikirkan alasan dari ledakan emosinya. Dia mengatakan agar Arsyana tidak lengah dan hal itu terdengar seperti demi kebaikan wanita itu sendiri di mana kenyataannya Ernest hanya pahit karena tidak dilihat sebagai seorang pria yang bisa menimbulkan ancaman bagi kehormatan wanita.


Betapa munafiknya, Ernest tersenyum mencela diri.


Bukan berarti dia ingin dilihat sebagai seorang bajingan, hanya saja…


Ernest merasa bertentangan dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi dirinya senang apabila Arsyana menganggapnya sebagai pria yang cukup aman untuk berada di ruang yang sama, namun di sisi lain dia juga kesal karena kurangnya rasa ancaman sebagai lawan jenis yang dimiliki wanita itu terhadapnya.


Memasuki area pasar yang lebih bersih dan teratur namun masih sangat sepi—bahkan hampir terasa kosong jika dibandingkan area sebelumnya, Ernest memperlambat langkahnya hingga secara perlahan berhenti di dekat kios yang pemiliknya terlihat baru saja buka dan masih menyusun barang dagangan untuk dijajakan.


Pemilik kios melirik pemuda yang berdiri tak jauh dari tempatnya, tetapi segera menarik pandangannya dengan tidak tertarik dan kembali melanjutkan kegiatannya saat melihat pemuda itu hanya menatap lurus memandang ke kejauhan.


Ernest sudah bisa melihat bangunan yang akan dia tuju, masih cukup jauh dari tempatnya sehingga terlihat lebih kecil namun tetap menarik perhatian dibandingkan dengan bangunan lain di sekitar.


Memejamkan matanya sejenak, Ernest kembali menata pikirannya.


Tujuannya di sini adalah untuk bekerja sehingga bisa membayar hutangnya kepada Arsyana. Dia harus mengutamakan hal itu.


Dan untuk benih yang mungkin secara tidak sengaja muncul di kedalaman hatinya, Ernest merasa dirinya tidak memiliki kepantasan untuk memikirkannya.


Setelah dengan jelas menetapkan kembali tujuannya, Ernest membuka matanya dan kembali berjalan dengan langkah mantap dan tenang.


Dia melewati kios yang dikenalnya dan menyapa Pak Hasta yang dengan santai sedang menyusun dagangannya. Pria paruh baya itu mengingatnya dan dengan cukup antusias mengucapkan selamat karena telah mendengar—dari anaknya kalau Ernest berhasil mendapatkan pekerjaan di toko buku.


Ernest merasa sedikit lebih ringan setelah mendengar itu, berharap ucapan tersebut sebagai pertanda kalau pekerjaan itu benar-benar berhasil dia dapatkan. Mengucapkan perpisahan, Ernest pergi langsung menuju toko buku.


Tampilan depan gedung yang akan dia masuki memiliki dua daun pada pintu besarnya dan jendela lebar di setiap sisinya yang saat ini masih dalam keadaan tertutup karena masih sangat pagi.


Dengan agak ragu Ernest mendorong salah satu daun pintu dan melangkah masuk saat itu terbuka.


Ruangan di dalam berukuran lumayan luas, sekitar dua kali dari kamar di rumah—sejak kapan bangunan di hutan itu menjadi rumah? Ernest menggeleng pelan menyingkirkan omong kosongnya.


Terdapat rak berisi berbagai buku yang dipamerkan untuk dijual di sepanjang dinding sebelah kiri dan depannya hingga membentuk model mendatar dari huruf ‘L’. Selain itu, masih ada tiga lemari rak panjang yang di susun di sisi sana sehingga membentuk tiga lorong.


Di sebelah kanannya ada tiga rak bertingkat dengan tinggi sepinggang orang dewasa dan di situ berisi berbagai hal yang terlihat seperti kebutuhan alat tulis. Saat ini ada pojok yang kosong di rak tersebut di tempat yang empat hari lalu Ernest lihat berisi tumpukan surat kabar.


“Oh!”


Ernest melihat seseorang yang baru saja mengeluarkan suara terkejut. Orang itu berdiri di belakang meja kasir yang terletak di sebelah rak alat tulis. Ernest ingat orang ini Bernama Milar.


“Kamu datang!”


Ernest mengangguk dan mendekat, “aku bilang begitu empat hari lalu.”


Milar tersenyum, “tunggu di sini, aku akan memanggil bos.”


“Terima kasih.”


Ernest melihat orang itu berbalik dan menghilang di belakang pintu yang berada tak jauh dari tempatnya.


Menarik nafas, Ernest berharap pekerjaan ini masih tersedia untuknya mengingat ketidakpastian karena dirinya belum memiliki kontrak empat hari lalu.


***

__ADS_1


__ADS_2