
Pagi yang indah sesuai dengan cuaca, berbeda dengan Kia, Kia yang biasanya ceria, kini hanya diam.
"Hai" sapa Teejay. Padahal Teejay udah di tuduh tuduh seorang playboy tapi tetap aja dia mendekati Kia tanpa mengelu.
Nia hanya diam cuek tanpa kata.
"Yaudah, gue tau kok, lo pasti bakalan berkata untuk apa berbicara dengan mu" Kesal Teejay.
"Apaan sih" Kia mengucapkannya dengan lemas.
"Lo kenapa sih, lemas banget dah?" Tenya Teejay kepo.
Nia hanya diam.
"Nie lo makan dan minum bekal gue" Teejay memberi sandwich yang jadi bekalnya dan susu putih jadi minumnya.
"Gak perlu, aku masih kenyang, hanya saja kepala ku sakit, terasa pusing" Kini Kia mau menjawabnya.
"Apa kamu udah minum obat?" tanya Teejay yang sangat khawatir.
"Kualat kau" tiba tiba Claudia berbicara dengan seenaknya saja saat lewat.
"Lo bisa nggak sekali aja punya hati" Teejay malah kesal sendiri.
__ADS_1
"Apaan sih, kok jadi gue dibilang gak punya hati" Claudia malah kesal balik.
"Dah diam, bisa gak sih" kesal Kia.
"Aku gak butuh kalain, ngerti!!" jelas Kia dengan emosi yang meluap luap sampai keubun ubun.
Dengan hati yang kesal Kia pun pergi sendiri ke UKS, untung aja Eva dan Dian langsung datang menemani Kia.
Mereka pun ke UKS untuk menemani Kia istirahat. Seenggak nya sebelum masuk bel sekolah nanti.
"Kepala mu emangnya gimana sih?" tanya Eva khawatir.
"Aku juga gak tau nih, sakit banget kepala depan ku, kaya di tusuk tusuk deh" keluh Kia.
Mereka pun tiba di UKS dan Kia pun langsung berbaring menatap langit langit ruangan UKS.
"Kamu ada minyak kayu putih?" tanya Dian.
"Mana mungkin ada, dia kan malas bawa kaya gituan" Ketus Eva.
Sejenak Kia mengingat
"Iya sih aku gak pernah bawa atau pun beli kaya gitu, tapi kemarin Teejay kasih aku minyak kayu putih, saat aku pingsan" Ingat ingat Kia.
__ADS_1
"Cie, dikasih minyak" ledek Eva.
"Hkm hkm hkm" begitu juga Dian.
"Apaan sih" Kia memutar bola mata nya dengan malas.
"Yaudah aku ambil minyaknya dulu di tas mu" Dian pun berinisiatif.
"oke" jawab Eva dan Kia dengan seksama.
"Nggak terasa yah, bentar lagi perpisahan kita" keluh Eva.
"Emangnya kau mau sekolah kemana" tanya Kia, karena setau Kia kan SMA palingan mereka akan jumpa di SMA satu lagi, walau belum tentu satu kelas, tapi mereka masih bisa pulang sekolah berbarengan naik angkot.
"Masak kau gak tau kalau aku dan Dian bakalan keluar kota" tanya Eva dengan heran.
"Nggak" jalas Kia nggak tau, emang sebenarnya Dian lah yang merahasiakannya, Dian gak mau nangis berlebihan hanya karena mengingat masalah kecil yang sepele ini.
"Aku akan sekolah dibandung, mama dan papaku pindah tugas" Jawab Eva. Papa Eva sebagai Polisi dan ibunya Polwan. Mereka satu jabatan.
"Lalu Dian?" Tanya Kia yang mulai sedih akan kenyataan ini.
"Kalau Dian, bakalan Ke Jakarta, tempat kakaknya kerja.
__ADS_1
Benar. Apa yang dimaksud Dian benar, jika Kia mengetahuinya, Kia akan nangis sebelum waktunya. Tentu saja Kia nangis, dia merasa kehilangan sesuatu berlian, dia sangat sangat kecewa. Mendengarnya semua bukan lagi kepala yang pusing melainkan hati yang terkikis.