Musuh Jadi Pacar

Musuh Jadi Pacar
"18" Musuh jadi pacar


__ADS_3

Kia, Eva dan Dian pun masuk kedalam kelas tepat waktu, mereka bertiga masuk kedalam kelas sebelum bel masuk berbunyi..


Dan setelah Kia, Eva juga Dian sampai di dalam kelas setengah menit, barulah bel berbunyi menandakan masuk.


"Kia, kau dah siapkan puisinya kan?" tanya Dian ke Kia sebelum Buk Rosana masuk kedalam kelas mereka.


"Sudah" jawab Kia dengan senyuman.


Dian pun lega mendengar jawaban sahabat nya itu dan bergegas pergi dari tempat duduk Kia menuju ke tempat duduknya.


Seseorang masuk kekelas sembilan dua, yang dipikir para siswa/i itu adalah Buk Rosana ternyata bukan. Seorang guru penjas, guru itu datang untuk memberi informasi.


"Selamat pagi anak anak" ucap pria bertubuh bugar itu menyapa siswa/i sembilan dua.


"Pagi pak" ucap para murid sembilan dua dengan kompak.


"Pagi ini bapak yang akan mengawasi kalian, karena bu Rosana masih belum dapat hadir, karena bu Rosana masih mempunyai tugas" ucap laki laki bertubuh bugar itu.


"Jadi pak, bapak yang ngajar kami bahasa indonesia?" tanya seseorang murid sembilan dua pada guru penjas yang memiliki badan bugar.


"Kayaknya bapak gak bisa, jadi bapak akan mengawasi kalian, tugas kalian hanya diam, okey" jeda guru itu.

__ADS_1


"Selagi bapak punya jam kosong" ucapnya sambil membuka buku paket Penjas.


"Oh iya, habis satu les ini, yang masuk bapak kan?" tanya bapak itu sambil mengingat ingat mata pelajarannya.


"Iya pak, habis ini baru kami" ucap Dian, Duan menjawab nya karena gadis itu berada didepan, sedangkan yang lain, sibuk dengan kesibukan masing masing.


"Kalau gitu kalian keluar, lalu ganti baju, biar kita langsung penjas" ucap bapak itu dengan senyuman.


Tentu murid sembilan dua terlihat senang, karena pelajaran penjas pelajaran yang sangat digemari para siswa siswi sembilan dua.


Para murid sembilan dua pun bergegas keluar untuk mengganti seragam nya.


Begitu juga Kia, Eva dan Dian yang bergegas pergi barengan, biasanya sih mereka empat orang, tapi kini berkurang seseorang, yaitu Claudia, mereka bertiga muak dengan sikap Claudia yang seperti itu, emang setiap orang itu pasti pernah berbuat kesalahan, tapi kesalahan nya bukan itu itu ajakan?, apalagi masalah cowok, kan aneh banget.


"Iya lah, masa kita ada yang sendiri, kan gak seru!!!" ucap Eva menjawab Dian.


"Yaudah sih" mereka pun masuk ke kamar mandi itu.


"Eva tunggu, pegangi celana ku bentar, celana dalam ku kelipat nih" ucap Dian yang bawel, karena celana dalam nya berlipatan gak jelas. Hahaha dasar Dian bikin geli aja yah.


"Tunggu bentar, ini rambut ku berserak tau" ucap Eva yang merapi kan rambutnya yang ada sebahu, Kia yang punya rambut yang lumayan panjang saja nggak seperti Eva.

__ADS_1


"Yaudah sini biar aku yang megangi" ucap Kia dengan tersenyum geli melihat tingkah laku Kia.


"Nah" ucap Dian tersenyum dan memperbaiki celana nya.


"Kenapa sih kalau aku pake celana penjas celana yang ini berlipat" ucap Dian kesal melihat celana nya itu.


"Nah, gini kan rambut ku gak terlalu berantakan" Ucap Eva yang memperbaiki rambutnya.


"Dan akhirnya celana yang didalam gak belipat lipat lagi" Ucap Dian, yang sedari tadi gelisah dan rewel melihat bentuk celananya.


"Yaudah kekelas yuk!, menyimpan baju baru baris" aha Kia yang sudah melihat keadaan membaik.


"Yuk" ucap Dian dan Eva.


Mereka bertiga pun keluar dari kamar mandi itu, saat diluar mereka langsung malas melihat keadaan diluar kamar mandi, yang harus berjumpa Claudia. Claudia hanya menatap mereka.


"Aduh diluar ini panas ya" ucap Dian menyindir gadis licik itu.


"Betul banget ucapan mu Ian, padahal tadi nggak sepanas ini, walau dikamar mandi tadi sempit" ucap Eva kesal.


"Udah" ucap Kia menatap kedua sahabatnya.

__ADS_1


Terlihat dari wajah Claudia yang kesal menatap mereka bertiga. Claudia kelihatan malas melihat mereka bertiga, karena mereka bertiga bagi Claudia sangat menjijikan.


__ADS_2