
Malam itu, Andra sedang menaruh pakaian Yuli di lemari.
Sambil melihat Yuli yang sedang tertidur pulas di kasur.
Sementara aku sedang duduk di ruang tamu di temani dengan boneka kesayangan.
Namanya mochi, boneka berbentuk beras yang di berikan oleh Kenneth sebagai hadiah ulang tahunku.
“ Kirana, kamu belum tidur?.” Tanya Mama.
“ Iya Ma, Mama ngapain pegang mangkok?.”
“ Ohh ini Mama mau maskeran dulu.”
Aku melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 2 tengah malam.
Di pagi harinya, aku kembali bekerja seperti biasanya.
Dan Andra yang sibuk untuk mencari pakaian yang cocok untuk di pakai Yuli besok.
“ Bagaimana pak? Dress anak ini khusus kami buatkan…”
“ Kurang bagus.”
Dengan gayanya yang melipat tangan dan bersandar di meja kerja nya.
“ Saya mau dress itu tiba sebentar sore.”
“ Baik pak sebentar akan saya kirim langsung.”
Setelah mereka selesai berbicara aku melihat Andra dan saling bertatapan sebentar, sebelum akhirnya harus mengantar berkas baru ke ruangan Ibu Diana.
“ Berkas apa ini Kirana? Kamu ga tau buat berkas?.”
“ T-tapi bu..”
__ADS_1
“ Buat yang baru lagi.”
Berkas yang sudah susah payah ku buat, di buang berserakan begitu saja ke lantai.
Aku keluar dari ruangan dengan wajah yang sedih, dan berjalan tanpa memperhatikan sekitar.
Andra yang sedang menunggu di luar, dia mendengar juga sebagian percakapan kami dan kembali memanggil Ibu Diana.
“ Rambutku rontok lagi.”
“ Rontok dimana? Kayaknya ga ada deh.”
“ Disini Ca..”
Aku membelah dua rambutku dan memperlihatkan nya pada Caca.
“ Katanya dokter aku harus ambil waktu untuk berlibur, tapi..”
“ Tapi aku rasa Pak Andra ga bakal kasih waktu kamu untuk berlibur, kamu tau kan dia kayak gimana.”
Di ruangan pak Andra semakin memanas, di temani dengan sekretarisnya Ibu Diana di persilahkan untuk duduk.
“ Maaf, tidak pak.”
“ Tidak? Hah.”
“ Ibu Diana adalah pengganti Ibu Mariska, saya pikir dengan saya mengangkat Ibu Diana sebagai atasan mereka yang baru …”
Ibu Diana menerima surat peringatan yang pertama.
Andra lalu melihat kembali isi berkas yang sudah ku bawakan tadi.
“ Isi berkas ini tidak ada masalah sama sekali, saya akan acc yang bermasalah itu semua ada di para atasan mereka.”
Sore hari tiba, beberapa dress yang di minta Andra telah sampai.
__ADS_1
Sambil memakaikan dress ke Yuli, Andra meminta tolong kepada sekretarisnya untuk mencarikan pengasuh.
“ Saya kira bapak ga mau cari pengasuh.”
Andra menoleh dan memberikan tatapan sinis.
Karena waktu yang sedikit, Andra masih belum mendapatkan pengasuh yang cocok untuk Yuli.
“ Kalau kita masih belum dapat yang pas.” Sambil melihat sekretarisnya.
“ Iya pak?.. Saya? Hah hahaha tidak jangan pak.”
“ Saya punya satu calon kandidat lagi yang pasti bisa membuat bapak terkejut.” Lanjutnya.
Ya, calon kandidat itu adalah aku.
Aku membuat surat lamaran pekerjaan sebagai pengasuh di hampir semua platform.
“ Panggil dia besok ke ruangan saya.”
“ Siap pak.”
Di waktu yang sama, seorang anak remaja datang bersama Ibu nya.
Mereka bercerita dan duduk di teras rumah.
“ Kirana, kamu masih inget ga?.”
“ Inget apa Ma?.”
“ Dia ini dulu yang kamu jaga loh waktu kamu masih SMA, ah haha.”
“ Yang mana ya.” Ucapku dalam hati.
“ Ah hahaha, sudah besar ya.”
__ADS_1
Beberapa jam kemudian aku duduk di dapur dan membuat surat pengunduran diri.
Surat pengunduran diri itu rencana nya akan ku berikan besok pagi.