
Nama Kirana, umur 26 tahun, pekerjaan sekarang adalah seorang penulis novel.
Aku tidak pernah membayangkan rasanya menjadi seorang penulis novel seperti apa, sampai akhirnya aku yang merasakannya sendiri.
“ Na, nih banyak yang comment kapan di unggah ceritanya..”
“ Cerita yang mana?.”
“ Kirana, kamu sendiri yang udah janji sama mereka mau unggah cerita lagi.”
“ Ya ampun, aku belum ada ide cerita lagi.”
Caca hanya menatap dan memberikan tatapan sinis padaku.
“ Kenapa kamu ga pulang kampung aja dulu kan, siapa tau bisa sekalian dapat cerita disana..refreshing..healing Kirana..healing.”
Aku kemudian melihat dan mengusap foto sewaktu masih kecil yang berada di atas meja kerja.
2 hari kemudian, aku akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota dan ke tempat dimana aku bertemu dengan dia..
Jalan-jalan itu masih keliatan sama dengan 3 tahun yang lalu.
Aku berjalan masuk ke rumah dan bertemu dengan Bibi.
“ Halo non, gimana kabarnya?.”
“ Baik Bi, Kakak saya ada Bi?.”
“ Lagi kerja non ayo masuk dulu.”
Nama nya Revan, dia kakak laki-laki ku.
Umur 29 tahun dan pekerja kantoran, aku hanya tinggal berdua dengan Revan semenjak kami berusia 14 tahun.
Setiap 2 tahun sekali aku akan kembali ke tempat ini, hanya sekedar untuk pekerjaan.
__ADS_1
“ Kirana..”
“ Halo kak, gimana pekerjaannya?.”
“ Baik, kamu udah dari kapan sampai?.”
“ Barusan tadi siang.”
“ Terus kamu ada urusan kesini? Atau gimana?… makasih Bi.”
“ Biasa, ini karena aku lupa udah janji jadi aku mau nyari ide cerita dulu disini siapa tau dapat kan.”
Revan menepuk pundakku, lalu berjalan meninggalkan dapur.
3 tahun yang lalu, aku pernah mengenal seorang pria tampan.
Pria itu bahkan yang memberiku semangat untuk bisa menjadi seorang penulis sampai hari ini.
“ Non, Bibi masih simpan makanannya ada teh juga di dapur..”
“ Makasih Bi.”
Ku ceritakan kisah percintaanku beberapa tahun yang lalu.
“ Hari itu..”
—-
“ Terima kasih ya pak.”
“ Sama-sama mba.”
Aku baru saja pindah ke rumah baru, dan aku sangat menyukai rumah itu.
Suasana nya yang tenang dan juga beberapa tetangga yang baik hati.
__ADS_1
Tidak henti-henti nya mereka memberikan ku makanan dan mau menolong ku.
“ Gapapa kak, saya bantu aja.”
Di saat itu juga, aku melihat Andra.
Sosok pria yang katanya baik hati, tampan dan selalu berpenampilan simple.
Dia melihat dari balik jendelanya dan tersenyum padaku.
“ Cie Kirana, lagi liat siapa si.”
“ Ga liat siapa-siapa.”
“ Makasih ya Tya udah bantuin, untung aja kamu bisa di hubungin.”
“ Iya sama-sama, terus sampai kapan kamu tinggal disini?.”
“ Sampai Revan mau ketemu sama aku lagi.”
“ Kalian berdua tuh ya masih aja berkelahi, baikkan dong Na…Kirana..”
Pandangan ku selalu saja teralihkan.
“ Kalau kamu lihat cowok yang disana itu, nama nya Andra. Dia teman kuliahku dulu mau di ajak kenalan ga?.”
“ Kenalan? Hah..haha ga perlu, tadi juga bukan liat dia terus terus kamu sama Revan bukannya pacaran ya?.”
“ Sama kakak kamu? Masih banyak cowok yang lebih baik, lagian Revan juga kan cuma suka menghosting aja.”
Keesokan harinya, aku mencoba menghubungi Tya kembali.
“ Kok ga di angkat ya..”
Seorang pria datang mendekat dari arah yang berlawanan, dan berbicara padaku.
__ADS_1
“ Ada yang bisa di bantu?.”
Suaranya, saat ku membalikan badan untuk melihatnya..