My Boss It’S Duren ( DUDA KEREN )

My Boss It’S Duren ( DUDA KEREN )
Eps 4.


__ADS_3

“ Gimana kabar nya Andra sekarang?.”


“ Uhuk..uhukk..”


Sarapan kami pagi ini di awali dengan pertanyaan dari Revan.


“ Kabarnya? Aku ga tau juga si kak.”


Terakhir ku dengar kabar kalau Andra sedang sakit.


Saat itu lah aku tidak pernah melihat dia lagi.


“ Eh Tya, teman kamu yang di depan itu udah gak keliatan lagi.”


“ Cari Andra ya..dia lagi sakit, kemarin si kita udah jenguk dia.”


“ Kalau aku ikut nge jenguk boleh gak?.”


Tya melihat ku dengan keheranan.


Aku akhirnya di antar Tya pergi ke rumah sakit.


Di rumah sakit, sudah ada beberapa kerabat dari Andra untuk menemani nya.


“ Selamat siang tante..”


“ Selamat siang, Tya bukannya kamu udah kesini ya kemarin?.”


“ Kalau aku udah tante, ini teman ku mau jenguk Andra juga.”


“ Ohh gitu, silahkan masuk.”


Andra terbaring lemah, terpasang selang dan tangan nya di infus.


Mama nya Andra bercerita, kalau Andra sudah beberapa hari ini tidak bisa bekerja.


Dan dokter juga mengatakan kalau jantung Andra sangat lemah.


“ Maaf kalau tante boleh tau, Kirana ada hubungan apa ya dengan Andra?.”


“ Aku ga ada hubungan apa-apa tante, cuman


Andra sempat bantuin aku selesain novel.”

__ADS_1


“ Ohh jadi ini Kirana yang di maksud Andra.”


“ Maksudnya gimana tante?.”


“ Andra sempat cerita kok, tentang tetangga baru nya.”


Yang ku rasakan saat itulah yang tidak bisa aku utarakan.


Tepat di hari itu, Andra juga mulai sibuk untuk pergi ke dokter untuk check up.


Dan aku mulai sibuk membaca komentar-komentar tentang novel yang sudah laku.


“ Iya, nanti cerita berikutnya segera ya!.”


Mereka tampak senang dan mulai membagikan balasan komentarku itu.


Aku kembali mengunjungi rumah lama kami.


“ Alamat nya udah aku kirim, nanti kamu ketemu sama Bibi dia yang akan bantu kamu selama disana.”


Perabotan lama yang tetap di biarkan seperti itu, dan mobil kerja Revan.


Aku mulai menaiki tangga itu perlahan.


“ Selamat sore, cari siapa ya mba?.”


“ Revan nya ada Bi?.”


Revan yang sedang mengerjakan pekerjaannya, menoleh ke arahku.


Dia datang menghampiri di belakang Bibi.


“ Halo kak.”


“ Biarkan dia masuk Bi, namanya Kirana adik saya.”


“ Oalah maaf maaf non, Bibi ga tau.”


“ Gapapa Bi.”


Hari itu, suasana semakin canggung dan hening.


Revan mulai duduk di depanku dan bertanya beberapa pertanyaan.

__ADS_1


“ Berapa lama kamu disini?.”


“ Mungkin cuma 3 hari aja kak.”


“ Waktu itu, kakak sempat liat kamu di sosial media. Kamu jadi penulis sekarang?.”


“ Tentang itu maaf aku ga cerita ke kakak.”


“ Itu bukan masalah.”


Aku mulai mengelilingi rumah, dan melihat foto-foto kecil kami yang masih terpajang.


Piala dan piagam Revan terpajang rapi di atas lemari.


Andai saja waktu itu orang tua kami tidak jadi datang untuk mengunjungi kami..


“ Kamu masih kepikiran?.”


“ Eh, hehe engga kak. Aku cuma liat foto-foto kakak aja.”


Suasana pun menjadi hangat, sebelum aku kembali untuk mengerjakan beberapa bagian untuk novel.


Aku menceritakan tentang Andra.


Revan tidak memberikan respond hanya saja dia tetap mendengar setiap cerita.


Aku berpamitan dan berjanji akan kembali lagi secepatnya.


Revan tersenyum dan melambaikan tangannya untuk pertama kali.


Kembali ke rumah yang sepi, hanya ada aku dan diriku sendiri.


Beberapa menit kemudian, Tya datang dengan mobil nya seperti biasa.


“ Sista…”


“ Gimana gimana? Udah baikkan?.”


“ Udah haha..”


“ Nah gitu dong.”


Kami memesan beberapa makanan dan menghabiskan malam dengan melakukan skincare rutin.

__ADS_1


__ADS_2