
Saat aku mencoba untuk menyelesaikan novel pertamaku, orang pertama yang membantu ku adalah Andra.
“ Ca, bisa bantuin ga?.”
“ Kenapa Na?.”
“ Nih novelnya udah mau selesai kan, bantu preview yuk.”
“ Na, sorry banget.. aku harus pergi sekarang. Nanti kirimin lewat email aja, bye Na.”
Hari itu, cuaca cerah seperti hari biasanya.
Caca baru saja pergi dan aku masih tetap tinggal di caffe untuk beberapa menit kedepan.
Sementara aku sedang melihat kembali isi novel, pria dengan gelang hitam, dengan pakaian nya yang simple itu mulai berjalan masuk.
Kringggg…
Waktu terasa lebih lambat dari biasanya.
“ Itu kan Andra, tapi ngapain dia kesini.”
Andra menoleh dan melihatku.
“ Hi.”
“ Hi Andra.”
“ Lagi sibuk?.”
“ Aku? Ah haha, ga kok. Kamu disini ngapain?.”
“ Lagi tungguin temen.”
Aku menyuruhnya untuk duduk dulu dan aku melanjutkan preview isi novel itu.
Aku mulai kebingungan karena takut isi ceritanya tidak akan di terima, dan meminta pendapat Andra.
“ Andra, aku boleh minta pendapat kamu ga?.”
“ Iya, silahkan.”
__ADS_1
“ Gimana menurut kamu?.” Tanyaku sambil menyodorkan laptop.
Tidak ku sangka ternyata, aku dan Andra mempunyai selera yang sama dalam menulis.
Sekitar 20 menit kemudian, seorang cewek berambut panjang masuk.
Perempuan ini pernah ku lihat di rumah Andra pada malam itu.
“ Halo sayang, maaf ya aku lama.”
“ Sayang?.” Tanyaku dalam hati.
“ Gapapa, kamu mau pesan apa?.”
“ Sayang, dia siapa?.”
“ Dia teman kerja aku.”
Hari itu, aku menjadi kebingungan.
Aku terus bertanya-tanya sendiri.
Aku butuh hampir setengah tahun lamanya untuk menyelesaikan novel ku sendiri.
Karena pada saat itu hubungan ku dan Revan juga sedang tidak baik-baik saja.
Tya datang memberikan informasi tentang Revan.
“ Kirana, aku punya informasi tentang kakak kamu.”
“ Gimana? Gimana?.”
“ Revan lagi ada di rumah orang tua kamu.”
“ Kirana? Are you ok?.”
Rumah orang tua ku yang di jual, Revan membelinya kembali dan memutuskan untuk tetap tinggal disana.
“ Selamat ya Kirana, novel kamu sukses.”
“ Terima kasih banyak, hehe.”
__ADS_1
“ Kalau boleh tau kamu menghabiskan berapa lama untuk menulis novel ini?.”
“ Saya memerlukan kurang lebih sekitar setengah tahun untuk di selesaikan, karena ada beberapa bagian yang harus saya perbaiki lagi dan lagi.”
Suara itu terdengar dari salah satu handpone milik seseorang di Caffe.
“ Keren ya, aku udah beli novel nya bagus kok.”
“ Iya sama aku juga.”
Novel yang sedang mereka pegang itu berkisah tentang seorang gadis yang terus mencari keberadaan kekasihnya.
Sebuah komentar paling atas dengan foto profil hitam menuliskan kalau mereka minta untuk cerita novel yang selanjutnya.
“ Tapi kan aku baru selesai, di tunda aja dulu ya.”
“ Kamu yakin Na?.”
Aku mengangguk kepalaku.
“ Na, yang bantuin kamu preview siapa kemarin? Aku udah baca juga novel nya, bagus banget Kirana..”
“ Yang bantuin, hm.. ada deh.”
Cukup lama tidak ku lihat lagi Andra.
“ Piringnya aku aja yang cuci.”
“ Tapi Na, ini kan bany..”
“ Udah gapapa, santai aja.”
Aku mencoba melihat dari balik jendela dapur.
“ Gelap banget, orangnya ga ada ya.”
Saat aku sedang tertidur, Revan tanpa sengaja melihat sebagian isi cerita.
Dia bahkan melihat nama Andra.
“ Bi, tolong ambilin selimut buat Kirana.”
__ADS_1
“ Siap Tuan.”
“ Hobi banget ketiduran.” Ucap Revan sambil menepuk pelan pundakku.