
Orang-orang terus melihatku.
Pak Andra mulai bertanya kepada atasan-atasan lainnya tentang para pekerja di perusahaan.
“ Lalu, bagaimana dengan tim anda Bu Mariska?.”
“ Bu Mariska?.”
Seorang lainnya mulai menyenggolku.
“ Hm, ya? Menurut saya, tim saya sangat bagus mereka bisa bekerja sama dengan baik.”
“ Baiklah, rapat selesai kita lanjut lagi minggu depan.”
Ketika kami baru saja keluar, pak Andra tanpa sengaja melihat bu Mariska sedang duduk bersantai di meja nya.
Pak Andra menarik kursi dan duduk di depannya.
“ Siapa yang tadi mengikuti rapat kalau bukan anda?.”
“ Ya?, pak Andra..maaf pak.”
“ Segera saya tunggu surat pengunduran diri anda bu Mariska.”
Bu Mariska yang terkenal sebagai atasan yang pemalas, dan suka bersantai terpaksa harus di berhentikan dari perusahaan.
“ Cepat cari tau siapa perempuan tadi.”
“ Baik pak.”
Waktu nya kami untuk kembali, dan pekerjaan hari ini pun bisa selesai lebih cepat.
“ Vitamin ku dimana ya? Ca, lihat vitamin yang ada di atas meja?.”
“ Kamu kan taruh di dapur tadi.”
“ Oh iya, makasih ya Ca.”
__ADS_1
Aku berjalan sendiri melewati jalanan yang ramai, bertemu dengan banyak orang.
Suara hujan kecil-kecil mulai terdengar, aku berlari ke arah halte.
Di seberang jalan, aku melihat seorang ibu yang sedang memeluk anak gadisnya.
Anak gadis itu tersenyum padaku.
Di bus, aku kembali mendengar lagu seperti biasanya.
Sementara itu pak Andra, sedang membersihkan rumahnya.
Notifikasi pesan masuk ke handpone pak Andra.
“ Yuli ingin bertemu denganmu, tolong jemput dia besok dan bawa dia bersama mu untuk beberapa waktu.”
Gadis kecil berumur 2 tahun berjalan keluar rumah, matanya yang indah dan rambut nya yang di kuncir.
“ Aku mungkin akan pergi ke luar negri untuk pekerjaan, jaga Yuli baik-baik. Aku akan kembali menjemputnya.”
Yuli kemudian di bawa masuk ke mobil dan duduk di samping Ayahnya,pak Andra.
Tidak ada satu pun orang di kantor yang mengetahui kalau pak Andra ternyata adalah seorang duda, termasuk aku.
Pagi ini, pak Andra membawa Yuli ke kantor.
Dengan tas yang di tenteng nya, Yuli memegang sebuah permen.
“ Kamu ga tau? Pak Andra ternyata duda.”
“ Iya bener itu, anaknya cewek.”
“ Denger-denger si dia juga ada disini.”
“ Permisi, siapa ya yang duda?.”
“ Yah dia datang, ayo bubar bubar.”
__ADS_1
Suara tangisan Yuli terdengar sampai di luar,
beberapa pekerja kemudian di suruh untuk menjaga Yuli.
Tapi suaranya masih saja terdengar..
Entah apa yang membuat aku tergerak, untuk menjaganya.
“ Halo, cantik sekali.”
“ Biar Yuli, saya saja yang jaga pak.”
Ketika aku masih bersekolah, beberapa tetangga di samping rumah menitipkan anak kecil nya untuk di jaga.
“ Kamu yakin?.”
“ Iya pak, ayo Yuli.”
Aku membawa Yuli berkeliling, Yuli terlihat tenang dan terus tertawa.
Di samping itu sekretaris pak Andra terus mengawasi ku dari jauh.
“ Pak, mereka sedang duduk di ruang santai.”
“ Tangisannya sudah berhenti?.”
“ Iya sudah pak, bahkan mereka terus tertawa bersama-sama.”
“ Siapa perempuan itu?.”
Ketika aku sedang bersiap untuk pulang, pak Andra melihatku dengan menggendong Yuli.
Tangan mungil Yuli bergerak seolah memanggilku.
Aku terus bertanya-tanya, sejak kapan pak Andra menjadi seorang duda.
“ Ga ada orang? Tapi sepertinya tadi aku merasakan ada orang lain disini.”
__ADS_1
“ Cuma perasaanku saja mungkin.”
Klikkk..klikkk.. lampu di ruangan-ruangan mulai di matikan.