
Apa kau pernah membayangkan bagaimana rasanya bekerja di kantor sampai sore? Akan ku ceritakan sedikit tentang latar belakangku.
Namaku Kirana, aku berumur 26 tahun dan hanyalah seorang pekerja kantoran biasa.
Hobi ku di kantor adalah mendengarkan lagu dan bekerja.
Ketika aku sedang mengerjakan sesuatu, beberapa atasan lainnya datang memberikan pekerjaannya.
“ Halo Kirana, ini tolong kamu salin secepatnya terus bawa ke kantor saya.”
“ Kirana, masih ada 2 surat lagi yang belum pak Andra tanda tangan tolong kamu bawa segera.”
Beginilah pekerjaanku sehari-hari.
Pakaianku tidak semewah pekerja lainnya, aku suka memakai sepatu dan celana panjang.
Aku juga tidak mengikuti trend.
Hari ini, atasanku menyuruh untuk meminta tanda tangan surat pada pak Andra.
Tokkk..tokk…tok..
“ Silahkan masuk.”
Namanya pak Andra, atasan kami yang paling cerdas disini.
Dia baru saja menggantikan Ayahnya.
“ Ada perlu apa?.”
“ Maaf pak, ada 2 surat yang belum di tanda tangan.”
“ Dimana surat itu?.”
“ Ini pak..”
Wajahnya yang mulus, tidak ada satu pun jerawat yang ku lihat.
Bahkan sinar matahari juga bisa memantulkan cahayanya.
“ Terima kasih pak.”
__ADS_1
Aku mulai mengumpulkan berkas-berkas dan meminum vitamin.
Beberapa minggu ini kami di buat lembur, hampir setiap harinya beberapa dari kami hampir pulang di atas jam 5 sore.
“ Permisi, bu. Ini surat yang sudah di tanda tangan pak Andra.”
“ Kirana..”
Sampai kapan aku akan bekerja disini, aku juga tidak tahu itu.
Tinggg..
“ Hufft, pekerjaan hari ini sangat banyak.”
Kebetulan aku sudah cukup lama tinggal sendiri, aku menyewa apartemen untuk diriku sendiri.
“ Apa ini, kenapa kulkas ku kosong.”
Dan harus berjalan pergi sendiri.
Di supermarket aku melihat beberapa pasangan yang lewat di depanku.
“ Mereka cocok sekali.”
Dan aku selalu saja kesepian..
“ Selamat makan..ummm enak sekali.”
Aku selalu seperti ini jika merasa sedih.
“ Air mata? Huh haha, kenapa aku harus menangis.”
Keesokan harinya aku kembali bekerja.
Memakai parfum dan jam tangan.
Di waktu yang bersamaan, Pak Andra juga melakukan hal yang sama.
Dia berjalan masuk ke mobil di temani dengan asisten sekretaris nya.
“ Jadwalkan pertemuan saya jam 10 nanti, jam 2 untuk pertemuan dengan CEO bank.”
__ADS_1
“ Siap pak.”
Sementara itu, aku baru saja menaiki bus dan duduk di paling ujung belakang.
“ Kenapa jendela nya sudah tidak bisa di buka?.”
“ Maaf bu, jendela nya sudah di lem.”
“ Apa? Di lem? Dan kenapa aku di panggil ibu?.”
“ Apakah aku setua itu?.”
Perjalanan yang ku habiskan sekitar 15 menit.
Tepat ketika aku tiba, pak Andra baru saja akan turun dari mobilnya.
“ Aduh, aku telat..permisi..permisi..”
“ Oh tidak 5 menit lagi.”
Tanpa sengaja aku menabrak pak Andra.
“ Maaf, maaf aku ga sengaja.”
Dengan muka nya yang datar, pak Andra hanya terdiam dan membiarkan ku untuk pergi.
Beberapa jam kemudian, aku di panggil untuk mengikuti rapat dengan atasan.
“ Kirana, kamu tolong gantiin saya ya.”
“ Gantiin apa bu?.”
“ Sebentar lagi ada rapat, kamu gantiin saya dulu ini berkas dan apa yang harus kamu bilang nanti ada semuanya disini.”
“ Kenapa aku?.”
“ Ibu percaya sama kamu, makasih ya Kirana..”
Aku mengambil kursi di paling ujung, di temani dengan atasan lainnya.
Aku tidak berani berbicara dan terus menutup mulutku dengan berkas yang ku pegang.
__ADS_1