
"Pak, bangun Pak. Kenapa ini darahnya banyak sekali?" ucap Excel sembari menggoyang-goyangkan badan seseorang yang terkapar berlumuran darah.
Excel mencoba melihat denyut nadinya "Dia masih hidup," tangannya memegang pergelangan tangan pria yang berada di depannya.
Dia mencoba mengangkat dan merebahkannya di ranjang rotan tak jauh dari tempat pria itu tergeletak.
"Apa yang harus aku lakukan?" paniknya mondar mandir tak karuan.
Excel mencoba membuka rompi yang dipakai pria itu dan kemudian membersihkan lukanya perlahan.
"Maaf Pak, aku hanya membawa air dan roti, jadi aku hanya bisa bersihkan lukamu dengan air saja," ucapnya sembari menuangkan air ke arah luka pria itu.
Pria itu masih tak sadarkan diri. Excel membalut lukanya dengan kain dari celana yang dia kenakan. Dia merobeknya dengan terpaksa. Excel pun menunggu pria itu tersadar karena tak tega meninggalkannya sendirian.
Hingga akhirnya Excel pun tertidur tak jauh dari pria itu, sampai tak terasa cahaya fajar menyinari pipi nya dan terasa panas.
"Astaga, aku ketiduran. Mengapa dia belum sadar juga?" bisiknya heran
Excel memutuskan untuk pulang karena semalaman dia berada di luar, ibunya pasti mencemaskan anak semata wayangnya itu.
"Aku harus pulang Pak, nanti aku kemari lagi menjengukmu, sekarang aku harus pulang dulu," Excel berbisik di telinga pria itu.
Namun saat Excel beranjak dari duduknya, tangannya seperti dipegang seseorang, Excel yang kaget pun menoleh.
"Ah...astaga. Pak, Anda sudah sadar? Syukurlah," tanyanya lega melihat pria itu yang perlahan membuka mata.
"Kau siapa?," tanya pria itu heran.
Pria itu pun merangkak untuk berdiri, namun ditahan oleh Excel.
"Pak tunggu, Bapak jangan banyak bergerak nanti darahnya keluar lagi," ucapnya peduli.
Pria itu merogoh saku celananya dan mendapatkan sebuah borgol besi, kemudian mengaitkan tangan Excel ke pergelangan tangan pria itu. Excel yang terkejut juga takut jika pria itu bukan pria baik-baik pun berpikir tak karuan.
"Bagaimana ini? Kenapa pria ini memborgolku? Atau jangan-jangan pria ini mafia? Atau pembunuh bayaran?," batin Excel dan pikirannya sudah terbang entah kemana.
"Pak, kenapa bapak memborgolku?," tanyanya ketakutan.
__ADS_1
"Karna kau telah melihatku," jawaban yang tajam.
"Tapi pak, memangnya anda siapa?," tanya Excel penasaran.
"Kau tak perlu tau," tegas pria itu
Excel tak bisa berkutik, dia berfikir keras agar bisa lepas dari besi yang menyegel pergelangan tangan nya.
"Pak apakah anda tidak lapar?" ucap Excel mencoba mengecoh pria itu, "aku akan mencari makanan untuk bapak,"
"Kenapa kau terus memanggilku bapak!" ucapnya memotong.
"Ah, maaf om, eh kak?" jawabnya ketakutan.
"Panggil aku Lee," ketus pria itu sembari berdiri.
Pria itu mengambil sebuah walkie talkie di ransel besar tak jauh dari tempatnya duduk.
"Rojer, rojer Lee in here, Soyoon! Bogun! rojer, hah alat nya rusak! " teriak pria itu di alat walkie talkie nya.
"Kau punya handphone?" tanya pria itu.
"Batrai nya Low kak." sambil menunjukkan sebuah handphone android yang sedikit jadul itu.
"Sudahlah tidak perlu, sementara kamu harus bersama ku dahulu, tidak boleh ada yang tau siapa aku," ucapnya mengancam.
"Ibuku di rumah sendirian kak, ijinkan aku pulang, aku janji ngak akan cerita pada siapapun," jawab Excel mengangkat kedua jari nya.
"Tidak! kau sandraku sekarang," jawabnya tegas.
"Sandra? artinya dia bener-bener mafia," batin Excel yang ketakutan, "semua ini gara gara Pak tua saipul itu, jika saja kemarin Pak tua itu mau mengambil pekerjaan Diana ganjen itu pasti aku ngak bakalan terseret mafia," batin nya yang masih kesal.
Tiga orang berkumpul di hutan sawit dan berdebat panjang.
"Excel! kau saja yang pergi," ucap Saipul.
Saipul adalah rekan kerja Excel yang sudah mempunyai anak dan istri, namun sangat tidak menyukai Excel, pasalnya Ibu Excel pernah di lamar namun di tolak.
__ADS_1
Ibu Excel menjanda selama hampir 15 tahun, karna suami nya yang lebih memilih wanita lain dan pergi meninggalkan Excel beserta Ibunya.
Excel hanya bisa bersekolah sampai SMA dia tak bisa lagi melanjutkan Kuliahnya, karna tiga bulan lalu Ibu Excel sakit keras, hingga akhirnya Excel lah yang bekerja di kebun kelapa sawit untuk mengantikan Ibu nya.
Pagi itu karna tanaman sawit di pinggiran hutan telah banyak yang habis, maka pekerja di minta masuk lebih dalam lagi ke hutan, dan saat itu Diana, Saipul dan Excel berdebat keras.
Diana adalah pekerja kebun kelapa sawit, Diana menjadi primadona di sana karna penampilan nya yang sexy saat bekerja, kebetulan Diana lah yang bertugas mengambil kelapa sawit di area dalam hutan, namun menolak dan meminta bantuan Saipul dengan rayu manisanya.
"Pak harus nya kak Diana kan yang bagian di dalam, kenapa harus aku!," jawab Excel lantang menentang deskriminasi itu.
"Dasar anak janda! Diana tidak mungkin bisa ke dalam hutan tau, liat saja kulit mulusnya pasti akan hitam jika di dalam hutan!," nada marah Saipul kepada Excel.
"Pak cukup ya, jangan bawa bawa Ibu saya, saya akan pergi," jawaban keterpaksaan Excel.
"Nah, gitu aja susah, jawab dari tadi kek," ledek Diana dengan bahagia.
"Dasar ganjen!," ucap Excel yang sudah sangat kesal kepada ke dua orang tersebut.
Excel mulai membenahi barang-barang nya dan bersiap berangkat ke dalam hutan, di perjalanan Excel sembari melirik pohon-pohon sawit yang sudah berbuah.
Namun tak banyak buah yang ada, itu pun masih muda dan belum waktunya untuk di petik, Excel memutuskan untuk lebih jauh masuk ke dalam hutan, karena jika dia tidak membawa buah sawit itu maka uang kerjaan hari ini pun tidak ada.
Tak seperti pekerjaan pada umumnya, yang di gaji perminggu atau perbulan, pekerjaan ini mengandalkan seberapa banyak pendapatan buah sawit maka itu bayaran yang di dapat, satu buah sawit di hargai sepuluh ribu rupiah, sebisa mungkin Excel mengumpulkan banyak buah sawit, namun tak jarang Diana selalu curang pada nya, dengan mengambil buah sawit yang di peroleh Excel.
"Duh, mana ni buah sawitnya, apa aku masuk lebih jauh lagi aja ya," gumam Excel.
Langkah Excel menuju ke dalam hutan, di hari terik panas dengan semangat Excel tetap mencari buah sawit, tak lama dia menemukan beberapa pohon sawit yang banyak buah siap panen,
"Yes akhirnya banyak buah," ucapnya bahagia.
Saat Excel mulai memanjat dan memetik, buahnya yang jatuh satu persatu, Excel melihat sebuah gubug tua di kedalaman hutan, karna dia penasaran akan gubug itu Excel menghampirinya.
"Gubug di tengah tengah hutan? aku baru lihat, tapi siapa yang tinggal di tengah tengah hutan?," gumam nya penasaran.
Dengan rasa penasaran yang amat, Excel mencoba masuk ke dalam.
Saat membuka pintu Excel di suguhi seseorang yang terkapar bersimbah darah dan tak bergerak, Excel yang terkejut setengah mati.
__ADS_1