My Boyfriend Is Smuggler

My Boyfriend Is Smuggler
Bencana


__ADS_3

Excel dan Lee berencana pergi ke puskesmas, sebelum pergi Excel pamit kepada Ibunya.


"Bu, Excel keluar sebentar mengajak kak Lee berobat," ucap Excel berpamitan.


Ibu Excel hanya diam dan mengangguk, "perasaan ku ngak enak ya," batin Excel ragu.


Namun Excel tetap melanjutkan niat nya untuk pergi bersama Lee.


Mereka berjalan menuju Puskesmas, tempat nya tak jauh dari rumah, sepanjang perjalanan Excel yang mengoceh membuat suasana segar, Lee yang bersifat dingin hanya bisa menerima ocehan Excel.


"Kau bilang kau anak introvert, kenapa kau banyak bicara," Lee yang lelah dengan ocehan Excel.


"Mungkin karna ini pertama kalinya aku punya teman, hehe," jawab Excel bahagia.


Setibannya di Puskesmas, Lee menemui Dokter jaga dan mendapatkan perawatan, Excel menanti Lee di ruang tunggu.


Peluru Lee telah di keluarkan dan mendapat beberapa jahitan di perutnya, serta selesai di perban, mereka memutuskan untuk pulang.


"Kak Lee bagaimanan rasanya di jahit, pasti sakit," ucap Excel penasaran,


"Tidak sakit, kamu mau mencoba nya?," jawab Lee mengoda.


"Hii ngak ah, ngeri kak," Excel yang takut mengangkat pundak nya.


"Oh ya kak, aku harus ke kebun sawit," ucap Excel.


"Aku akan pergi," sahut Lee.


"Hah, maksud kakak mau ikut?," tanya Excel.


"Iya, karna kau sudah membantuku, aku akan membantumu," jawab Lee acuh.


"Wah, pasti hari ini akan dapat banyak buah sawit," senyum lebar Excel.


Langkah mereka berhenti di rumah Excel, "kak tunggu sebentar, Excel ambil peralatan dan pamit sama Ibu," ucap Excel.


Lee hanya mengangguk menanggapi Excel.


Excel menuju ke kamar Ibu nya, terlihat Ibu Excel memejamkan mata nya dan tak bergerak.


"Ibu, Excel mau ke kabun sawit," ucap Excel pada Ibunya.


Namun Ibu Excel yang tak merespon sama sekali.


"Ibu," Excel mendekati Ibunya, "Bu, Bu, Ibu," sembari menggerak kan tangan Ibunya.


Ibu Excel masih tak merespon.


"Bu, Ibu Ibu, kenapa diam, Ibu," suara jeritan Excel yang terdengar oleh Lee.


Lee yang mendengar jeritan Excel bergegas masuk menemui Excel.

__ADS_1


"Ada apa Excel?," tanya Lee panik.


"Ibu, Bu, jawab Excel," Excel tak mengubris pertanyaan Lee, dengan air mata yang sudah bercucuran Excel terus membangunkan Ibunya.


"Ibu, khik Ibuu," terak Excel.


Lee masuk dan memeriksa keadaan Ibu Excel, denyut nadi yang sudah hilang dan nafas yang juga sudah tak ada, badan Ibu Excel yang mulai dingin.


Lee menjatuhkan dirinya karena mengetahui Ibu Excel yang sudah meninggal dunia.


"Excel Bibi telah tiada," ucap Lee perlahan.


"Ngak kak, tadi pagi Ibu masih makan bersama ku, ngak mungkin kak, Ibu," tangis Excel yang semakin keras, air mata Excel yang tumpah.


"Ibu, jangan tinggalkan Excel Bu, Excel janji akan berbakti, Ibu hiks khis,"


Lee merasa kesedihan itu juga karena dia, amanah Ibu Excel yang sudah Lee pegang membuatnya merasa tanggung jawab nya telah di mulai.


"Tenanglah Excel, jangan sedih Bibi pasti juga tidak mau Excel bersedih, Excel aku akan menjagamu mulai sekarang," ucap Lee memeluk Excel.


"Kak," tangis Excel menjadi.


Excel yang berada di dekapan Lee, menangis hingga membasahi lengan Lee.


"Tenanglah Excel," ucap Lee menenangkan.


Beberapa saat itu adalah sebuah bencana bagi Excel, dia yang merasa dirinya tak berguna tak bisa membahagiakan Ibunya.


"Excel, makan dulu aku masak nasi goreng, kau dari siang belum makan," ucap Lee di depan tirai kamar Excel.


Kamar Excel memang hanya tertutup tirai tanpa ada pintu yang melindungi.


Masih tak ada respon dari Excel, Lee pergi meninggalkan Excel.


"Sudah laksanakan tugasku?, bagus," ucap Lee di ponsel milik Excel,


Entah siapa yang sedang berbicara dengan Lee.


Malam itu sunyi Lee yang tiduran di lantai depan menjaga Excel semalaman,


"Anak itu tidur atau tidak ya?," tanyanya pada diri sendiri.


Hingga fajar telah datang, namun Excel masih belum menampakkan dirinya.


"Excel, makan lah dulu, aku menaruhnya di sini, aku akan kembali untuk mengambil piringnya," ucap Lee pergi meninggalkan sarapan untuk Excel.


Sarapan masih tersaji, lagi-lagi Excel tak makan, membuat Lee terus memikirkan kesehatan Excel.


Senja kini menjadi terik, Lee masih berusaha membuat Excel makan.


"Excel, jangan tolak yang ini, atau aku masuk untuk menyuapimu." ucap Lee tegas.

__ADS_1


Tak lama Excel keluar dengan kantung mata yang menghitam.


"Terimakasih kak," ucap Excel mengambil piring dan memakan nya.


"Excel mengapa hanya makan tiga sendok." Lee mangambil piring Excel dan membersihkannya "tak apa, setidaknya kamu makan," sambung Lee.


Rumah itu menjadi sepi, malam pun sunyi tanpa ada tawa, Lee yang kesepian menceritakan dirinya pada Excel,


"Excel, kamu mau dengar ceritaku, di Korea aku hidup berkecukupan, Ayahku seorang jaksa dan Ibuku dia Guru, saat aku kuliah aku menerima kabar orang tua ku meninggal di rumah dengan luka tembak pada kepala mereka, sayangnya kepolisian menutup kasus itu karena kurang nya bukti, aku menyelidiki sendiri kasus itu dan mendapat sebuah petujuk, namun aku harus menjadi seorang perwira agar mudah menyelidiki, aku mencoba segala cara agar aku bisa masuk ke camp perwira, dan," tiba-tiba ucapan Lee terhenti ketika mendengar suara tembak yang mengarah ke rumah Excel.


"Ahh, ini apa?," teriak Excel yang kaget.


"Sial," Lee yang kaget dengan serangan tiba-tiba itu,


Lee bergerak menuju kamar Excel, menarik tangan Excel dan lari lewat pintu belakang.


"Cepat Excel," ucap Lee, berlari.


Tembakan demi tembakan, terus menghujam rumah Excel, hingga mengejar Lee dan Excel yang berlari keluar dari rumah,


"Kita harus ke Kota," ucap Lee yang masih mengandeng tangan Excel.


"Ah, kak ada apa?," tanya Excel Panik.


"Kita lari dulu nanti aku jelaskan," jawab Lee.


Suara tembakan yang terus tertuju pada mereka, rumah Excel yang jauh dari pemukiman menjadi sasaran tembakan yang empuk.


"Ah," teriak Excel yang mendapat tembakan namun melesat.


Nafas mereka yang terengah-engah menandakan kekuatan yang sudah berkurang, tiba-tiba sebuah mobil hitam mengejar mereka.


"Excel cepat, sebentar lagi sampai kota," ucap Lee.


"Hah, hah, kak kaki ku sakit, hah," nafas Excel putus-putus.


"Bertahan lah Excel," ucap Lee.


Mobil itu semakin mengejar mereka, hingga terlihat cahaya terang, Excel dan Lee menerobos cahaya itu hingga masuk ke kota.


Mereka masuk ke supermarket untuk menghindari mobil yang mengejar mereka.


"Baik kita sembunyi disini," ucap Lee pura-pura tak terjadi apa-apa


Lee tau di Indonesia jika tak melakukan kejahatan akan aman, di kota banyak orang-orang berlalu lalang, meski tindak kejahatan juga banyak di Indonesia, namun keamanan Rakyat juga akan di tegakkan.


"Hah, hah, apa kita sudah aman kak?," tanya Excel dengan keringat yang masih menetes di wajahnya.


"Maaf Excel, belum tentu, mereka berkelompok pasti ada mata-mata yang mengawasi kita, kita harus menyamar," jawab Lee serius.


"Hah, sebenarnya ada apa kak? kelompok? mata-mata?," tanya Excel binggung.

__ADS_1


"Akan aku jelaskan jika kita sudah aman," Lee menenangkan Excel.


__ADS_2