My Boyfriend Is Smuggler

My Boyfriend Is Smuggler
Gagal


__ADS_3

Lee berbaur dan mencari pemilik cafe yang kebetulan berada di cafe.


Lee melihat seorang pria tengah duduk sambil mamainkan kalkulator, sebelum Lee bertindak dia harus mengecek apakah benar orang yang di lihat nya adalah pemilik cafe.


Lee mendekati nya.


"Bos Sepertinya kita kekurangan bahan saus di dapur," ucap Lee pada pria gendut yang ada di hadapan nya.


"Apa! habis bukan nya kemarin baru stock," jawab pria itu dengan kasar.


Dengan siagap menodongkan pistol yang sudah di bawanya dari rumah.


"Katakan diman Choi berada," ucap Lee pada pemilik cafe.


"Hah, ternyata kamu agen rahasia, sial kau tak bisa mengetahui tuan ku, lebih baik kau pergi daras brengsek," ucap pemilik cafe.


Tak lama terdengar suara sirine, ternyata pemilik cafe telah meminta bantuan kepada rekan-rekan nya.


"Percuma saja, anak buah ku sudah berjaga di setiap jalan," ucap Lee.


Tak lama sebuah tembakan tertuju pada Lee, Lee berhasil menghindari, dan terkena pemilik cafe, beberapa orang masuk ke dalam dan perkelahian antara mereka terjadi.


Pukulan demi pukulan Lee lakukan, pemilik cafe yang masih hidup mencoba kabur, saat Lee tengah berhadapan dengan para anak buah pemilik cafe.


Setelah beberapa saat, Lee membereskan semua dan mengejar pemilik cafe.


"Katakan sekarang atau kau kehilangan keluarga mu!," ucap Lee saat berhasil menangkap pemilik cafe.


"Baik baik, ketua Choi aku tidak tau aku hanya tau kaki tangan nya saja, dia dia berada di kampung Pernas hanya itu saja yang aku tau, aku aku tak pernah berpapasa dengan nya," ucap pemilik cafe.


Beberapa anak buah Lee datang dan membawa pemilik cafe untuk di selidiki.


"kampung pernas," gumam Lee "kalian jaga dia, aku kan meluncur ke kampung pernas," lanjut Lee ke pada dua anak buah nya.


Lee pergi tempat sandraan pemilik cafe.


"Bagaimana caranya mengelabuhi keluarganya," fikir Lee yang harus punya alasan.


Lee menyusun strategi untuk menghindari kecurigaan keluarga pemilik cafe, Lee meretas akun dari pemilik cafe mengabari kepada keluarga bahwa pemilik cafe sedang ada dinas keluar kota untuk membeli bahan-bahan baru dan juga fotonya yang sedang ada di sebuah persawahan, tentu itu juga hanya rekayasa semata.


"Dengan begini setidak nya bisa pergi ke kampung pernas untuk beberapa waktu," ucap Lee depan komputer nya.

__ADS_1


"Berikan dia dosis kecil dengan beberapa kali pemberian, pastikan dia lupa akan sergapan kita saat kembali ke keluarga nya," ucap Lee dengan ponsel nya.


"Ah ya dimana Excel aku akan menjemput nya," lanjut Lee yang masih menelpon.


Sesaat setelah telepon singkat itu Lee bergegas menjemput Excel yang berada di sebuah kontrak an kecil, meski banyak yang menyangka itu adalah sebuah rumah kontrak an saja, tetapi itu juga menjadi markas mereka di Kalimantan pusat.


Sebuah motor berhenti di depan rumah kontrak an itu, Excel yang menunggu di dalam, mengintip siapa yang datang.


Saat helem itu di buka Excel yang bahagia melihat Lee yang datang untuk menjemput nya.


Excel berlari dari dalam rumah, wajah yang bahagia itu terlihat, hingga Excel memeluk Lee tanpa sadar.


"Kak, aku takut terjadi apa-apa sama kakak," ucap Excel yang masih memeluk Lee.


"Tenang Excel aku tidak kenapa-kenapa, tapi kapan kamu mau melepaskan aku," ucap Lee menggoda Excel.


"Ah," Excel melepaskan pelukan nya saat dia sadar " maaf kak, aku ngak sengaja," ucap. Excel gugup.


"Benarkah," balas Lee mendadak mendekati Excel.


Wajah Lee yang mendekat pada Excel membuat pipi Excel menjadi merah, Excel yang malu kabur ke dalam rumah tak bisa berkata-kata.


"Huh, imut," batin Lee.


"Kak, Lee benar kan kau suka Excel," ucap Bogum menggoda Lee.


"Bicara apa kamu, aku akan menyegarkan diri stelah itu kita rapat," ucap Lee berusaha menghindari diskriminasi itu.


"Hahaha kau lihat Sojoon kak Lee mengelak," tawa Bogum dengan ejekan nya.


"Bogum lari dua puluh kali keliling rumah," ucap Lee menyuruh.


"Apa, kak aku hanya bercanda, jangan menghukum ku," balas Bogum merengek.


"Pst, pat Sojoon bantu aku bilang kak Lee," bisik Bogum pada Sojoon.


"Eh, apa aku tak ikut campur," ucap Sojoon yang membela dirinya.


"Ayolah kita kan sudah seperti saudara," balas Bogum dengan wajah memelas.


"Baik, Sojoon temani Bogum menjalankan hukuman," ucap Lee.

__ADS_1


"Apa, kak Lee aku tak ikutan!," ucap Sojoon menolak.


"Aku menyuruh mu menemaninya," ucap Lee.


"Itu sama saja kak Lee," balas Sojoon kesal.


"Bukan kah kalian sudah seperti saudara," Lee yang pergi mengabaikan Sojoon dan Bogum.


"Ini gara-gara kamu." Sojoon yang kesal akhirnya memukul Bogum.


Perkelahian mereka akhirnya terjadi, tentu hanya perkelahian kasih sayang mereka.


Di dalam kamar Excel yang masih dengan muka merahnya duduk di kursi depan kaca rias.


"Ah, ini malu-malu in, kenapa aku malah peluk kak Lee, ya ampun Excel kamu, memalukan," ucap Excel pada diri nya segera dia menundukkan kepala nya ke meja rias.


Tak lama terdengar suara dari depan pintu.


"Excel satu jam lagi ikut kami rapat," ucap Lee dari kejauhan.


Lee yang berada di depan pintu kamar Excel.


"Baik, kak nanti aku akan ikut," teriak Excel yang masih ada di depan meja rias.


"Baik, aku pergi," balas Lee.


Suara langkah kaki yang semakin menjauh, menandakan Lee sudah pergi dari depan kamar Excel.


"Huh, deg-deg an banget dengar suara kak Lee, apa yang harus aku lakukan kalau liahat dia, argh," kesalnya sendiri.


Lee masuk ke kamar, nya rumah kecil itu hanya terdiri dari dua kamar, sebelum Lee dan Excel sampai ke dua kamar itu milik Sojoon dan Bogum.


Sekarang mereka berbagai kamar lagi, Lee bersiap membersihkan diri, mandi juga memesan makanan antar.


Setelah selesai menyegarkan diri, Lee mengajak semua orang untuk makan bersama.


Di depan meja makan, pesanan siap antar juga telah sampai, Bogum orang pertama yang telah datang ke meja makan, di susul Lee dan Sojoon.


Lee dan Sojoon duduk berdampingan, dan Bogum hanya sendirian, saat Excel datang Bogum berusaha membuat Sojoon pergi dari kursi Lee.


Excel menarik kursi yang ada di samping Bogum.

__ADS_1


"Eh, eh Excel ini kursi Sojoon," ucap Bogum "Sojoon, Sojoon cepat kesini kenapa kamu di sana aku kan mau bilang sesuatu tadi," lanjut Bogum yang masih berecting.


"Hah, kapan kamu bilang itu," ucap Sojoon yang binggung.


__ADS_2