
Lee dan Excel masih berada di dalam minimaret, dengan mata Lee yang tajam dia mengetahui ada seseorang yang mengintai daerah itu.
Lee mengambil sebuah topi dan beberapa kaos oblong yang ada di minimarket lalu membelinya.
"Cepat Excel pakai ini," ucap Kee sambil memberi sebuah kaos pada Excel.
"Untuk apa kak," tanya Excel.
"Pakai dulu," jawab Lee mendorong Excel ke toilet.
Setelah Excel berganti pakaian dan keluar dari toilet, Lee menarik ikat rambut Excel membuat rambut Excel terurai.
"Kamu tunggu sebentar, aku akan menganti baju," ucap Lee.
Mereka berpenampilan beda dengan saat sebelum masuk ke minimarket, sebuah penyamaran mendadak.
"Ayo kita keluar, jangan pernah lepaskan tanganmu dari pinggang ku," ucap Lee.
"Hah," Excel melotot terkejut.
"Ikuti saja, ayo," ucap Lee menarik Excel mendekat.
Tangan Kee memeluk Excel, dan Excel yang memegang pinggang Lee erat, mereka menampakkan kemesraan selayak nya pasangan kekasih,
"kenapa aku degdegan ya," batin Excel yang merasa jantung nya berdegup kencang.
penyamaran itu membuat mata-mata tak mengetahui dan Lee juga Excel terus berjalan sampai menghindari.
Saat di rasa sudah aman Lee menghentikan sebuah taxi dan bergegas pergi.
"Kak kita mau kemana?," tanya Excel.
"Rumah mu tidak aman sementara kita pergi dulu dan mencari rekan-rekan ku," jawab Lee.
"Iya kak," Excel mematuhi Lee,
Excel yang terlelap di dalam mobil karna kelelahan berlari,
"Maafkan aku Excel, aku melibatkan mu padahal Bibi baru saja pergi," batin Lee yang memandang wajah Excel.
Sampai pada suatu tempat taxi itu berhenti, Excel yang masih tertidur akhirnya di angkat Lee menuju sebuah gang.
Di gang sempit terdapat sebuah rumah mewah, tertutup dengan rumput liar yang sangat tinggi, orang mengira itu sebuah rumah kosong tanpa penghuni.
Lee melangkah masuk ke dalam rumah itu, Excel yang terbangun saat itu.
"Kak, maaf aku ketiduran ya," ucap Excel.
__ADS_1
"Oh, kau sudah bangun." jawab Lee sembari menurunkan Excel dari gendongan nya.
"Wah rumah ini besar, rumah siapa kak?," tanya Excel terkagum.
"Markas kami," jawab Lee.
"Kami?," ucap Excel binggung.
Tak lama datang seorang laki-laki tinggi kulit sedikit coklat rambut dengan gaya moderen memakai kaos dalam hingga otot-ototnya terlihat, sedang membawa secangkir kopi.
"Ya, kenapa adik kecil," sembari memyeruput kopi nya.
"Excel ini Soyoon, rekan ku," ucap Lee.
"Hei kenapa aku juga tidak kau kenalkan," sahut seseorang yang datang, kaos hitam sedikit pendek dan berisi rambut yang pendek seperti gaya seseorang yang selesai wamil.
"Halo adik kecil, saya Bogum senang bertemu dengan mu, silahkan anggap rumah sendiri," sapa Bogum ramah.
"Ah, hai kakak," jawab Excel ragu-ragu.
"Oh ya Kak Lee sudah menenceritakan tentang mu, terimakasih sudah menyelamatkan nya, dan ku dengar Ibu mu baru saja meninggal, turut berduka untuk mu," ucap Bogum mengakrabkan diri.
"Iya kak, iya terimakasih," jawab Excel masih binggung.
"Sudah," sahut Soyoon menghampiri Lee.
"Aku tahu, sebisa mungkin tak akan pernah ku libatkan dia," jawab Lee juga berbisik.
"Excel, ayo aku tunjukkan kamarmu bersihkan diri setelah itu kita makan," ucap Lee.
"Iya kak," balas Excel " nanti kita ngobrol lagi ya kak," Excel yang melambaikan tangan pada Bogum.
Di balas lambaian tangan Bogum, Lee dan Excel menaiki tangga menuju kamar Excel, sampai di sebuah pintu kamar tak jauh dari tangga.
"Excel ini kamarmu, ada beberapa pakaian wanita," ucap Lee.
"Kak, terimakasih," jawab Excel,
Saat Excel akan masuk di hadang oleh Lee, "Excel apa kamu membenciku, aku banyak rahasia dan tidak bisa memberitahumu." tangan Lee yang memegang pundak Excel.
"Tidak kak, aku sedih Ibu lebih dulu pergi, tapi aku juga bahagia karna dapat bertemu kalian dan mendapatkan teman, selama ini aku tak pernah merasa mempunyai teman," jawab Excel.
Mata Excel yang berkaca-kaca membuat Lee merasa sedih, betapa kesepian nya Excel.
Tak sadar Lee terhanyut dan langsung memeluk Excel dengan kehangatan, Excel yang terkejut dengan kejadian itu hanya diam dalam pelukan Lee.
"Kak, aku di peluk kakak, duh kenapa aku degdegan," batin Excel, jantung Excel yang melompat-lompat tak beraturan.
__ADS_1
Tak lama Soyoon menghampiri mereka, dan melihat kejadian yang tak terduga itu.
"Eh, em aku kembali lagi nanti," ucap Soyoon.
Lee yang tersadar segera melepaskan pelukan nya.
"Ekm, itu em masuk lah bersihkan diri lalu makan," ucap Lee dengan terbata-bata.
Lee segera turun dari lantai atas mengikuti Soyoon.
"Ya kakak Lee, apa kau suka padanya," goda Soyoon.
"Apa maksdmu, dia seperti adik ku sendiri," jawab Lee.
"Benarkah, tapi mengapa muka mu merah, pff," ejekan Soyoon dengan tertawa kecil.
Lee yang jengkel dengan Soyoon "kau mau aku hukum!," tegas Lee menakuti.
"Tidak tidak, aku pergi," ucap Soyoon kabur dari Lee.
"Hah," helaan nafas Lee, membuat tenang " lebih baik mandi," ucap Lee.
Makan malam yang sudah tersaji Soyoon dan Bogum telah duduk di meja makan, meski sedikit telat untuk makan malam, karena waktu yang sudah larut.
Excel turun dari tangga setelah membersihkan dirinya, dan bergabung bersama ke dua laki-laki itu.
"Kak Lee tidak ikut makan?," tanya Excel.
"Kak Lee sebentar lagi datang, ayo makan dulu," ucap Bogum pada Excel.
Excel membaur bersama mereka, makan dan mulai melakukan rutinitas.
Malam yang gelap para penghuni rumah besar telah tertidur lelap, namun tidan dengan seseorang yang mengintai di jendela, terlihat orang itu sedang melakukan sesuatu.
Lee yang masih belum tidur, membuat setrategi untuk menangkap Ketua kelompok penyelundup itu, di tangan Lee terdapat kertas yang Lee dapat di rumah kecil saat di hutan sawit.
Lee mengotak atik komputernya, kode demi kode muncul dengan sendirinya di layar monitor, server yang bergerak cepat secepat jarinnya.
Tulisan Loading muncul saat Lee berhasil. membuat server baru, Lee menemukan pemilik nama Choi yang ada di kertas tersebut, pemilik nama Choi berada di cafe di daerah Kalimantan pusat, sesegera mungkin Lee membuat rencana.
"Sewa hotel di daerah Purana, aku menemukan sesuatu, dan kirim beberapa uang, ingat jangan lewat rekening, mareka bisa melacak kita dengan kode," ucap Lee pada poncel yang ada di telinganya.
Lee seorang perwira yang terlatih di Korea, sebuah taktik dan ilmu beladiri adalah hal wajib yang harus dia punya.
Dengan berakhirnya pembicaraan itu, Lee memutuskan untuk istirahat, menjaga stamina untuk melakukan penyergapan, Lee akan berada di Kabupaten pura untuk menangkap Choi,
Lampu yang padam menjadi akhir malam itu.
__ADS_1