
Soyoon mengikuti Bogum dan berganti kursi, saat di samping Bogum, Bogum yang berbisik.
"Dasar kamu tidak peka, lihat dua orang itu, mereka saling suka tapi saling menyembunyikan," bisik Bogum.
"Ah, maksud mu karena ini," ucap Soyoon yang sudah mengerti.
"Tentu saja, sejak terkahir kita di korea, kak Lee yang suka dengan kak Morea harus nya sekarang sudah bisa melupakan nya," Bogum yang masih berbisik.
"Hust jagan ucap nama itu," balas Soyoon yang juga berbisik.
"Aku lupa," balas Bogum.
"Apa kalian terus berbisik dan tidak ingin makan, atau perlu setelah makan kalian berlatih otot kaki," sahut Lee yang sudah kesal dengan tingkah bawahan nya itu.
"Tidak, tidak kak,"
Excel hanya makan dan memperhatikan.
"Setelah ini besok kita pergi ke kampung pernas, ingat seperti biasa, sediakan yang kita perlukan," ucap Lee dengan tegas sambil melahap makanan nya.
Makan malam mereka berakhir dengan perut yang tak bisa menampung apapun lagi, mereka semua bubar dan menuju ke kamar, karena hanya Excel yang sendiri di kamar itu.
Rumah yang sempit harus di nikmati selama semalam.
Dalam rumah itu kamar mandi yang terletak di belakang, hanya menyisakan lampu remang-remang.
Tengah malam Excel yang terbangun dan ingin ke kamar mandi, saat itu meski tak berani, namun ia pun malu untuk meminta bantuan.
Tiga orang laki-laki yang berada di dalam kamar yang sama.
Excel memberanikan diri pergi ke belakang rumah, sedikit waspada di tengah malam yang gelap hanya terdapat suara jangkrik dan angin yang membuat tanaman ilalang panjang di belakang rumah bergerak membuat suara-suara yang seram.
"Ya ampun ini manakutkan, lebih baik di sawah-sawah, mana tak tahan lagi," gumam Excel dengan rasa takutnya.
Langkah perlahan lahan Excel menuju ke kamar mandi, sampai di dalam kamar mandi Excel mengerjakan tugasnya dengan kesakitan perutnya.
"Lindungi aku, lindungi aku," guamam nya.
Mulut Excel yang terus komat kamit, agar fikiran nya tetap terjaga.
Siapa sangaka tak lama setelah ia selesai dengan urusan nya, terdengar suara langkah kaki, suara langkah kaki yang berada di semak-semak ilalang.
__ADS_1
Excel semakin ketakutan di mengunci pintu kamar mandi dengan rapat.
"Kak Lee, kak Lee tolong aku," bisik nya dalam hati,
Excel gemetar dan terus bergumam nada-nada meminta pertolongan.
Langkah kaki itu terdengar semakin dekat dengan nya.
Excel menutup semua wajah nya juga memejamkan matanya.
"Kak Lee, tolong aku," batin nya yang memberi sinyal.
Langkah kaki itu benar-benar terdengar sangat nyata, suara gesekan benda juga terdengar dari dalam kamar mandi.
Sedikit demi sedikit gesekan itu bergerak menuju gagang pintu.
Suara gagang pintu yang seakan akan ingin di dobrak, fikir an Excel yang tak bisa berkompromi, dia teriak kencang di dalam kamar mandi.
"Kak Lee!, kak Lee!" beberapa kali dia berteriak dalam kamar mandi.
Karena jarak kamar mandi dengan kamar tidur Lee agak jauh, suara Excel tak terdengar.
Excel memberikan diri untuk mendobrak pintu keluar dan lari ke dalam.
Excel bersiap memegang gagang pintu, " satu, dua, tiga," suara pintu yang terbuka dengan keras.
Mata Excel yang masih tertutup namun kaki nya yang bergerak mencari jalan.
Excel menabrak seseorang di depan nya, "Aaah, lepas, lepasin aku," teriak Excel.
"Stt, ini aku Lee, buka mata mu," ucap Lee lembut.
Excel sedikit demi sedikit membuka matanya, di depan wajahnya terdapat pria dengan wajah yang tampan.
"Kak Lee," ucap Excel, air nata yang hampir menetes di pipinya.
Dengan cepat Lee mendekap Excel dalam pelukannya, Lee yang masih waspada terhadap sekitar, Lee yang juga mencurigai ada seseorang yang mengintai mereka.
"Diam saja, ikut aku pelan-pelan masuk," bisik Lee.
Langkah pelan Lee dan Excel yang mengikuti nya.
__ADS_1
Sampai di dalam rumah, Bogum dan Soyoon juga sedang mengawasi sekitar, di dekat jendela juga alat pemindai yang mereka gunakan.
"Bogum, cari orang itu segera, meski aku tak yakin dia tak melihat Excel tapi jika kita tahu siap yang mengirim nya, itu akan jadi petunjuk," ucap Lee.
Excel yang telah duduk di kursi depan televisi, duduk lemas karena ketakutan.
"Ini minum," Lee memberi sebuah gelas berisi air.
Dengan cepat Excel meminum air itu, nafas Excel yang terengah-engah.
"Kak sebenarnya tadi siapa orang apa hantu," ucap Excel gugup.
"Seperti nya orang, saat aku keluar sudah tidak ada siapa-siapa namun aku melihat bayangan yang pergi menjauh ke rerumputan lebat di belakang rumah," jelas Lee "sudah tenang lah aku tak akan biarain sesuatu terjadi padamu," lanjut Lee menenangkan Excel.
"Iya, kak Lee benar, karena aku telah mengikuti mereka, aku harus lebih berani," batin Excel memegang gelas nya dengan erat.
"Ya sudah kau tidur lagi, aku akan menjaga di depan pintu kamarmu," ucap Lee kepada Excel.
"Ah, iya kak." Excel berjalan kembali ke kamarny, Lee yang masih siaga.
Tugas yang di berikan Lee kepada Bogum dan Soyoon telah mereka kerjakan, hanya tersisa Lee dan Excel yang berada di dalam rumah, tentu Lee tak dapat tidur untuk menjaga Excel.
Lee yang begadang sepanjang malam, begitu fajar mata Lee yang tak kuat menahan kantuk, hingga Lee tertidur bersandar di tembok kamar Excel.
Excel bangun keluar kamar, melihat Lee yang tengah tertidur.
"Kak Lee saat tidur beneran tampan," bisik Excel "jadi pengen pegang matanya," lanjut Excel penasaran dengan ketampanan Lee.
Tangan Excel yang semakin mendekati Lee, dan hampir menyentuh matanya, namun Lee yang tiba-tiba membuka mata membuat Excel terkejut.
"Apa yang kau inginkan," ucap Lee dengan senyum smirk nya.
"A, aku aku hanya itu," Excel yang gugup menggerak-gerakkan tangan nya kemana-mana.
Lee memegang tangan Excel yang tengah terpontang panting, menyeret tangan Excel hingga Excel terjatuh ke tubuh Lee.
"Kenapa pagi pagi kau mengoda ku," ucap Lee dengan lembut di telinga Excel.
Excel yang tak bisa menjawab nya hanya menggelengkan kepalanya.
"Excel apa kamu tak takut jika aku akan memakan mu," ucap Lee.
__ADS_1
"Ha, makan, makan maksud nya makan," jawab Excel gugup.
Excel yang mencoba pergi dari dekapan Lee, dengan warna merah di pipinya.