My Boyfriend Is Smuggler

My Boyfriend Is Smuggler
keluarga baru


__ADS_3

Tenyata ada seseorang yang mengintai Lee, saat pasukan Lee lengah dengan pencarian, orang itu berusaha menembak Lee.


Tembakan demi tembakan terus di terima Lee, Lee dengan luka tembakan di perutnya hanya bisa bersembunyi.


"Tidak bisa, aku harus segara pergi dari tempat ini," gumam Lee, mencari celah untuk berlari.


Lee mencoba pergi, dia mempraktek kan pelajaran saat Wamil, mulai bersembunyi mengendap-endap jungkir balik, semua di lakukan agar terhindar dari serangan.


Saat dirinya menjauh dari rumah itu, Lee mengeluarkan bom atom yang ada di sela-sela saku celana, melemparkannya ke rumah kecil itu.


Ledakan dahsyat terjadi, entah apa yang menimpa seseorang yang ada di dalam rumah, Lee hanya terus berlari dan berusaha kabur.


Darahnya yang selalu mengalir membasahi baju, membuatnya kehilangan banyak tenaga, Lee yang berusaha keras untuk sampai ke markas rahasianya.


Sampainya di sebuah gubug di tengah-tengah hutan sawit Lee masuk ke dalam nya, sebelum berhasil mengobati dirinya Lee merasa pandangan nya kabur dan akhirnya pingsan tergeletak di tanah.


"Ingatan ku hanya sampai aku berhasil melarikan diri dari rumah kelompotan itu," batin Lee mengingat apa yang terjadi.


"Ayo kak, kita jalan lagi, rumahku masih jauh dari sini dan luka kakak itu mulai mengeluarkan darah, nanti infeksi lho," ucap Excel mempercepat laju kakinya.


"Omong-omong umurmu berapa?," tanya Lee memotong kesunyian.


"Aku 21 tahun kak, kenapa memangnya?," jawab Excel bertanya.


"Bukan kah anak seumuran mu belajar, mengapa kau malah main di dalam hutan," ucap Lee setengah meledek.


"Hah main, memang nya saya mau dengan ini semua, saya harus bekerja keras kak untuk mencari uang," jawab Excel kesal "kalau aku tidak kerja Ibuku ngak makan kak!," puncak kesalnya.


"Memang seberapa susah keluarganya?," batin Lee prihatin.


"Ah ini dia untung masih disini." Excel mengambil perlengakapan nya, bakul keranjang dan beberapa buah sawit yang pernah di petiknya kemarin.


Excel bersusah payah mengendong bakul keranjang tersebut.


"Biar aku yang bawa," ucap Lee menawarkan.


"Ngak usah kak, kakak kan sakit aku bisa kok," jawab Excel dengan susah payah.


Karena tangan nya yang terikat borgol Excel. kesusahan untuk mengangkatnya.


Lee yang tidak sabar dengan tingkah Excel, menarik bakul keranjang itu dan membawanya.


"Kak, aku bi," ucap Excel namun di potong oleh Lee


"Cepat katamu masih lama kita sampai," Lee yang memotong ucapan Excel.

__ADS_1


"Sa," lanjut Excel "hem, yasudah," ucap Excel senang tak membawa beban.


Mereka berjalan menyusuri hutan.


Matahari yang bersinar kini mulai berajnak turun, panas terik kini menjadi sayup.


Setelah perjalanan panjang itu, mereka sampai pada tempat pengumpulan buah, masih terlihat para karyawan yang antri untuk menukar buah sawit menjadi uang.


Excel melihat Diana datang menuju kearahnya.


"Kak, aku mohon kakak diam saja," ucap Excel pada Lee.


"Wah si anak janda, baru kelihatan kemana saja kemarin, tersesat di hutan ya, hahaha," Ledek Diana berjalan menuju ke arah Excel.


"Eh, eh kau bawa laki-laki ternyata, aku Kira tak ada laki-laki yang mau dengan mu," Diana yang semakin menjadi.


"Kak Diana bicaranya sudah? kalo sudah aku mau lewat," ucap Excel menentang.


"Ih, anak janda aja belagu kau, omong-omong pria yang kau bawa nemu di mana, badan nya lusuh pasti juga sama sepertimu anak buangan, hahaha," ucap Diana yang semakin menjadi-jadi.


"Ah, benar kak mungkin saja seperti itu, tapi setidaknya aku bukan kakak yang mencoba merayu pria beristri," jawab Excel dengan berani.


"Sialan anak janda kurang aja." sebuah telapak tangan mengarah ke wajah Excel, Diana yang geram mencoba menampar Excel, namun tangan nya di cegah Lee.


"Berani kau melukainya! aku patahkan tangan mu," ucap Lee mengancam.


"Kak, sudah lah ayo kita segera pulang saja," ucap Excel menenangkan Lee.


Lee melepaskan tangan Diana dan pergi di seret Excel meninggalkan Diana sendiri.


"Dasar," kesal Diana.


Uang hasil menukar buah sawit telah berada di kantong Excel, Excel memutuskan untuk pulang.


"Lumayan empat puluh ribu, ayo kak pulang," ucap Excel tersenyum senang melihat sekelumit uang itu.


"Anak ini sungguh polos, aku tak mau dia kenapa-kenapa, aku harus segera pergi darinya sebelum dia ikut terjerat." batin Lee berjalan pulang bersama Excel.


Mereka tiba di sebuah rumah, rumah kecil penuh dengan tanaman di sekelilingnya, hawa segar ada pada seluk rumah itu.


"Ibu, ini Excel pulang," sapa Excel masuk ke rumah sembari mencari Ibu Excel.


"Cel, Excel itu kamu nak?," sahut suara wanita rentang.


"Ibu, Ibu baik-baik saja kan," ucap Excel cemas.

__ADS_1


"Excel, nak kenapa semalam tak pulang Ibu cemas Ibu tak bisa tidur, khiks," Ibu Excel yang terus menangis hingga kelopak matanya lebam.


"Ibu, maafin Excel, Ibu cemas gara-gara Excel, Excel ngak akan begitu lagi Bu," air mata Excel yang ikut mengalir melihat Ibunya yang tak berdaya.


Lee yang melihat kejadian itu, membuatnya tak nyaman, karena dia Ibu Excel sampai seperti itu.


"Maaf Bi, ini semua karena saya, Excel membantu saya semalaman," ucap Lee ingin bertanggung jawab.


"Kamu siapa nak?," tanya Ibu Excel.


"Ibu dia Lee, Lee," ucap Excel yang terhenti karna tak tau nama nya "Lee siapa ya kok aku tidak menanyakan nya kemarin," batin Excel kebingungan.


"Lee Jihyun Bi," lanjut Lee.


"Oh, ayo ayo nak masuk," sapa Ibu Excel ramah "itu mengapa tangan kalian di borgol? apa kalian," ucap Ibu Excel negativ.


"Ibu, ini kecelakaan saja, kami butuh palu untuk menghancurkan nya," jawan Excel menenagkan Ibunya.


"Ya sudah Ibu akan masak untuk kalian, selesaikan masalah kalian dulu," ucap Ibu Excel pergi meninggalkan mereka.


Excel menarik Lee ke bawah rumah, mengambil palu untuk membebaskan diri.


"Ini kak, cepat lepaskan." ucap Excel memberi palu.


"Kamu jagan bergerak, kalo tidak mau tangan mu yang putus," ucap Lee menakuti.


"Hah, begitu menakutkan kah membelah borgol?," tanya Excel dengan muka polosnya.


"Tutup saja matamu jika kau takut," ucap Lee.


"Oh iya baik," Excel langsung memejamkan kedua matanya.


"ppff," Lee yang saat itu menahan tawanya karna keluguan Excel.


Setelah sedikit waktu Lee bisa membuka borgol.


"Sudah selesai, buka saja matamu itu," ucap Lee.


"Ah iya, ayo kak lebih baik makan dulu, dan obati luka kakak," ucap Excel menawarkan.


"Iya boleh," jawab Lee.


Mereka menaiki tangga dan masuk ke rumah, di meja makan telah tersaji makanan sederhana buatan Ibu Excel.


"Sini makan dulu nak," ucap Ibu Excel ramah.

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap meski hanya nasi dan tempe goreng, namun kehangatan yang ada di meja makan itu, membuat Lee merasa nyaman.


__ADS_2