
"Kak ini pakailah ini dulu aku baru beli kok, meski itu baju bekas, maaf kak aku tak bisa beli baju mahal," ucap Excel dengan wajahnya yang sedih.
"Anak ini sampai membelikan baju untuk ku," batin Lee.
"Tak apa terimakasih bangak sudah mau menampungku," ucap Lee sembari mengusap rambut Excel.
Saat Lee sadar tengah melakukan kesalahan "tunggu, mengapa aku mengusap rambut anak ini," batin nya.
Lee segera melepaskan tangan nya, " maaf, aku tak bermaksud," ucap Lee ragu.
"Ah, iya kak, lebih baik kaka mandi dan istirahat, besok baru kita ke Puskesmas untuk memeriksa luka kakak," ucap Excel.
"Apa itu Puskesmas?," tanya Lee yang tak mengerti.
"Oh, itu tempat cek kesehatan sebelum ke Rumah Sakit, karena di Puskesmas gratis hehe," ucap Excel tersenyum malu.
Lee yang melihat kepolosan itu, ikut terseret dalam senyum kecil Excel.
Excel merapikan kamar nya untuk tempat Lee istirahat, kamar berukuran persegi itu hanya berisi kasur lantai dan beberapa bantal.
Saat Lee selesai mandi dan keluar Lee menuju kamar dengan rambut yang masih basah, menetes di wajah serta baju Lee.
"Excel, aku akan tidur di ruang depan saja," kata Lee.
Excel menengok Lee karena sedari tadi fokus membenahi kamarnya, dia terpesona dengan wajah Lee yang asli orang Korea.
"Ya ampun, kakak ini seperti oppa oppa korea, tampan banget aku ngak sadar karna tadi penampilan nya lusuh," batin Excel sambil melamun.
"Excel!," panggil Lee.
"Ah ya kak, tadi apa?," tanya Excel tak fokus.
"Aku akan tidur di depan, kau pakai saja kamar mu," ucap Lee.
"Tapi kak, kakak kan masih sakit," jawab Excel khawatir.
"Aku tak apa Excel, kau saja yang disini," ucap Lee lembut.
"Baiklah kalau kakak maunya begitu, ah ini selimut kakak yang pakai, di lantai depan dingin," ucap Excel sembari memberi selimut tua nya.
__ADS_1
"Baik terimakasih banyak telah menolong," ucap Lee "ah ya boleh kah aku pinjam ponsel mu?," lanjut Lee yang bertanya.
"Ada kak, sudah aku caz bentar ya kak," Excel pergi mengambil ponsel nya.
"Ini kak, kuota ku masih ada kok." sambil memberikan ponsel nya.
"Terimakasih," Lee mulai mengotak atik posel Excel "Excel kau tak punya aplikasi Wat***p?," tanya Lee yang heran.
"Tak ada kak, kalau kakak perlu, download saja," jawab Excel.
"Kau aneh di jaman sekarang tak punya aplikasi itu, apa tak ada teman mu yang," Lee yang tiba-tiba terdiam.
"Tak ada teman dalam kontak nya," batin Lee yang merasa iba.
"Iya kak, aku tak ada teman sama sekali, saat lulus SMK teman teman ku pergi bekerja di kota dan kuliah, hanya aku yang tinggal dan bekerja di sini," Excel yang memotong ucapan Lee.
"Maaf Excel, aku tak bermaksud," ucap Lee tak ingin menyinggung.
"Tak apa kak santai saja, kakak bisa pakai ponsel ku, aku akan pergi sikat gigi dan tidur,. ya kak selamat istirahat," ucap Excel pergi melakukan rutinitas.
Lee yang hanya melihat bayang Excel yang hapir hilang.
Hingga malam yang gelap dan sunyi datang, hanya suara jangkrik yang sedang bernyanyi terdengar jauh di pesawahan.
Tiba-tiba dalam kesunyian itu terdengar suara benda jatuh di salah satu kamar, Lee yang masih setengah terjaga mengahampiri suara tersebut, saat dia menemukan asal suara itu Lee melihat Ibu Excel yang sudah jatuh di bawah kasur nya, dengan cepat Lee menolong dan menduduk kan nya kembali ke kasur.
"Bi, anda baik-baik saja?," tanya Lee cemas.
"Sttt, Nak jangan keras-keras nanti Excel terbangun," jawab Ibu Excel dengan suara pelan.
"Baik Bi, anda butuh sesuatu, saya akan bantu," ucap Lee dengan tulus.
"Nak, Bibi tau kau bukan orang Indonesia, nak maukah kau menjaga Excel, Bibi rasanya sudah tak kuat, Excel tinggal hanya dengan Bibi, Bibi bersyukur kamu datang Nak," ucap Ibu Excel lemah.
"Berjanjilah Nak pada Bibi, Bibi mohon, Bibi titip Excel, dia anak baik dan sangat polos, Bibi tak bisa membahagiakan nya, sejak kecil Excel selalu di ejek oleh orang-orang dia tak pernah mendapatkan kasih sayang," sambung Ibu Excel dengan nafas yang ter engah-engah.
"Bi, Anda tenang dulu, anda sakit nanti saya bawa ke Rumah Sakit ya Bi," ucap Lee menenagkan.
"Nak Lee, Bibi hanya ingin menitipkan anak Bibi satu-satunya saja padamu, Bibi percaya pada mu Nak, Bibi tau kamu punya sesuatu yang harus do selesaikan di Indonesia, Namun ini permintaan terakhir Bibi, bawalah Excel nak, meski kamu kembali ke negara asalmu, Bibi mohon Nak, berjanjilah pada Bibi, Excel hanya sebatang kara Nak," air mata Ibu Excel tak terbendung menceritakan sakit hati nya yang tak bisa membahagiakan anak semata wayang nya itu.
__ADS_1
Hati Lee yang luluh, menyetujui permintaan Ibu Excel.
"Baiklah Bi, Lee berjanji pada Bibi akan menjaga Excel, Bibi istirahat saja, besok setelah Lee memeriksa diri, Lee akan antar Bibi ke Rumah Sakit," jawab Lee dengan serius.
Ibu Excel yang nampak kelihatan lega, membaringkan dirinya kembali ke kasur dan mulai menutup mata dan tertidur.
Lee pergi meninggalkan Ibu Excel untuk istirahat, dan terhenti di kamar Excel yang tak Jauh dari kamar Ibu nya.
"Aku akan menjagamu Excel, tak akan ku biarkan kau terjerat perang ini," batin Lee melihat Excel yang tertidur pulas.
Kicau burung di pesawahan mengawali terbitnya matahari, Excel yang sedari petang sudah bangun dan mempersiapakan sarapan serta membereskan beberapa pekerjaan rumah, itu salah satu rutinitas Excel, sebagai pegawai pemetik buah sawit, Excel berangkat saat matahari baru menapakkan cahaya.
"Semua selesai, karna aku tidak bekerja hari ini, harusnya aku tiduran aja, kebisaan ini memang sulit di hilangkan," celoteh Excel selesai berberes.
Excel ingin membuka pintu rumah dan jendela nya, agar hawa segar pagi hari bisa masuk ke dalam rumah nya yang kecil.
Dengan pelan Excel berjalan mengendap-endap karna tak ingin membangunkan Lee yang masih tertidur pulas di ruangan depan.
Excel perlahan membuka tirai, namun sinar matahari yang langsung mengarah ke rumah nya membuat Lee tak nyaman untuk tidur, Lee yang sedari tadi bergerak kesana kemari, membuat Excel tak tega dan menutup kembali tirainya.
Excel merapikan kamar dan segera mandi, selesai mandi Excel membangunkan Ibunya untuk sarapan.
"Ibu, ayo kita sarapan," panggil Excel membangunkan Ibunya.
"Iya Excel, Ibu datang nak," Ibu Excel merangkak keluar untuk sarapan bersama.
Sekarang giliran Excel membangunkan Lee.
"Kak." menyentuh lembut tangan Lee.
Namun Lee yang terkejut beranjak bangun hingga membuat Excel terkejut, wajah mereka berdekatan hampir saling menyentuh satu sama lain.
"Oh, maaf aku terkejut," dengan nada pelan
"Ya ampun kak, aku lebih terkejut, tiba-tiba kaka bangun dengan cepat," ucap Excel masih dengan muka kagetnya.
"Cuci muka, dulu kita makan kak," ucap Excel pergi dari hadapan Lee.
"Huh, ya ampun kakak itu membuatku kaget sampai jantungku deg degan kayak gini, nyaris saja kita ciuman, hii mikir apa si," batin Excel memikirkan hal yang tidak-tidak.
__ADS_1