
Excel yang terus berfikir, mencari cara agar bisa lolos dari mafia tersebut,
"Kak, kakak benar tidak lapar? aku akan mencarikan makanan, kakak tunggu saja di sini," ucap Excel mencoba menipu.
"Sepertinya sedikit lapar," fikir pria itu.
"Nah kan, aku akan carikan buah kakak tunggu di sini," Excel yang sudah gembira merangkak berdiri.
Namun pria itu juga ikut berdiri bersama Excel.
"Lho kak, kenapa berdiri? cukup lepaskan saja borgolnya," ucap Excel berharap.
"Kunci borgolnya tidak ada padaku," jawabnya acuh.
"Hah, lalu kenapa kakak memborgolku?," jawab Excel lemas.
"Itu, karna aku taku kau mata-mata musuh," jawabnya ragu.
"Mata-mata musuh? aku ini orang asli sini tau kak, aku lahir di Indonesia mengapa jadi mata-mata musuh?," jawab Excel kesal.
"Iya aku tau, aku salah," ucapnya acuh.
"Ih pria ini, udah salah bukan minta maaf malah mengacuhkan ku," batin Excel kesal.
"Lalu ini bagaimana?," tanya Excel.
"Entah lah mungkin kita harus bongkar paksa," jawab pria itu tak menyakinkan.
"Hah, lebih baik mencari makan dulu, terus pulang ke rumahku," ucap Excel mengajak.
Di perjalanan menuju rumah Excel, mereka mencari makanan di dalam hutan, tentu banyak buah liar yang dapat di temukan.
"Kak ini aku hanya mendapat jambu, makan lah." memberikan buah jambu yang di dapatnya.
Pria itu menerima buah jambu yang Excel berikan.
"Siapa namamu?," tanyanya menghentikan keheningan.
"Saya Excel kak, Excel Miranda, kakak siapa namanya?," jawab Excel penuh semangat.
"Panggil saja Lee," jawaban singkat Lee.
"Kenapa Lee kak, ini tak adil aku sudah memberi tahu namaku kenapa kakak cuma Lee begitu saja," jawab Excel merajuk.
"Kau itu cerewet ya!," ucap Lee heran.
__ADS_1
"Tidak kak, aku sebenarnya anak introvert kak, aku banyak di jauhi teman-teman ku karna aku anak seorang janda," jawab Excel sedikit sedih.
"Lalu mengapa kau cerewet padaku?," tanya Lee.
"Entahlah mungkin kakak butuh seorang teman, sebetulnya aku takut sama kakak, karna kakak tiba-tiba memborgolku, aku fikir kaka mafia, atau pembunuh bayaran," ucap Excel jujur.
"Lalu?," jawab Lee.
"Aku rasa tidak, karena kakak bukan orang Indonesia, pasti kakak punya sesuatu yang sedang di kerjakan," jawab Excel percaya.
"Tapi jika aku memang pembunuh bayaran yang akan membunuhmu bagaimana?," tanya Lee mencoba mengenal Excel.
"Em, aku akan minta kakak memabayar ku dulu sebelum kakak bunuh aku," jawab Excel tersenyum.
"Mengapa kau lebih suka uang di bandingkan nyawamu?," tanya Lee pada Excel.
"Karena ya memang tidak ada yang ingin membunuhku, siapa lah aku hanya orang miskin biasa kan, hahaha," jawab Excel sembari tertawa.
Lee yang melihat tawa itu ikut tersenyum kecil dengan keluguan seseorang yang baru di kenalnya.
"Kau polos sekali," batin Lee kagum.
"Tapi Excel, kau tidak memikirkan dengan akibat saat kau tau kalau aku pembunuh bayaran, aku pasti akan menyingkirkan barang bukti," ucap Lee mengerjai Excel.
Wajah Excel yang polos dan lucu itu membuat Lee tertawa lebar.
"Hahaha," tawa Lee senang.
Excel melihat senyum lebar pada bibir Lee, Excel pun mendekati nya.
"Kak, kakak tampan jika tersenyum, jangan mengerutkan alis kakak itu terlihat seram," ucap Excel dengan senyum tipis.
Lee yang tersadar bahwa sudah lama dia tidak tertawa lepas seperti itu, sejak Lee menjadi Tentara Negara Korea dan mendapatkan misi mengintai kelompok pemasok pestisida ilegal Korea yang tengah berada di Indonesia, Lee beserta ke dua rekan nya Soyoon dan Bogun berada di Indonesia tanpa paspor bisa di artikan juga penyelundup, sudah memulai misinya sejak dua bulan terakhir,
Di sore itu seorang yang telah berkamuflase seperti tanaman yang ada di hutan kelapa sawit, nampak banyak mata yang tertuju pada sebuah rumah kecil di pinggiran timur hutan.
Hutan sawit bagian timur memang jarang di jamah para pekerja atau orang karna hutan yang lebat dan jauh dari pemukiman warga.
"Rojer, rojer masuk, Bogun intai dari atas, Soyoon bersiap di posisi, kali ini kita harus bisa menangkap mereka, rojer mengerti," ucap Lee pemimpin pasukan mereka.
"Rojer, di mengerti," jawab Soyoon sebagai kopral pasukan mereka.
"Apa pasukan sudah siap di posisi?," tanya Lee memperjelas.
"Siap rojer," jawab Bogun juga Kopral di pasukan itu.
__ADS_1
"Baik, pemindahan kali ini kita akan serbu," ucap Lee dengan tegas.
"Siap rojer," para kopral dan pasukan yang sudah siap menyerang.
Tak lama sebuah truck tangki besar sedang memindahkan sebuah cairan dari badan truck ke dalam derijen besar yang telah tertata,
Banyak orang yang membawa senjata tajam di tangan mereka, Lee dan pasukan nya juga telah memeprsiapkan alat tempur,
"Siap! serang sekarang," ucap Lee pada walkie talkie nya.
Tak lama suara tembakan ada di mana-mana, peluru yang menghujani daerah itu, orang-orang yang terkena peluru berhamburan terjatuh dan beterbangan.
Tanah hitam yang seketika menjadi kolam darah, pohon pohon pun tak luput dari goresan darah segar.
"Lanjutkan, serang terus," ucap Lee membuat perintah.
Tak banyak juga pasukan Lee menjadi korban peristiwa itu, saat situasi di rasa aman melihat orang-orang penyelundup itu telah banyak yang terbunuh.
Lee memutuskan untuk turun dari atas bukit.
"Rojer, aku akan turun, alpa C ikut aku," perintah Lee
Lee beserta pasukan nya mendekati rumah kecil dan mulai masuk kedalam.
Langkah demi langkah Lee mengendap-endap, namun tak ada pergerakan apapun, mayat orang-orang yang tergeletak menjadi penghalang langkahnya, hingga dia tiba di sebuah kamar, terlihat seseorang yang terengah-engah mencari nafas, luka tembakan di perutnya masih membekas, Lee menghampiri dan menolongnya.
"Katakan siapa Ketua Kelompok kalian!," tanya Lee mendiskriminasi.
"Ke ke tu u a cho choi," ucapan yang terbata bata.
Namun tiba-tiba sebuah tembakan tertuju pada Lee tepat di perutnya.
"Rojer, rojer masih ada seseorang cepat cari!," Lee memerintahkan pasukan nya untuk mencari.
"Sial, senapan ini," Lee yang melihat luka nya.
Meski Lee membawa rompi perang namun tak semua senjata tidak dapat menembus, sebuah peluru panjang menembus perutnya menyebabkan luka dan darah yang mengalir melewati pinggang nya.
"Hah, pria ini sudah tewas," ucap Lee kesal.
pria yang sudah ada di tangan Lee juga telah meninggal, alhasil Lee tidak mendapatkan informasi apapun, saat akan pergi Lee menemukan sebuah kertas yang ada di saku baju pria tersebut.
Lee menemukan nota kertas dengan setempel bertuliskan CHOI, namun bukti itu masih kurang untuk nya.
"Choi?," Lee yang berfikir keras.
__ADS_1