
“Halo...Halo,...” ucap lemah seseorang di seberang sana yang tak lain itu Grizelle, "Halo siapa ya?”
hening... hening...
“Siapa ini? Orang lagi sakit masih saja ada yang gangguin. Enggak tahu apa kalau aku lagi istirahat. Udah bela-belain gue angkat telepon malah enggak di jawab. Iseng banget sih gangguin gue,” gerutu Zelle yang baru terbangun dari tidurnya karena mendengar suara telepon dari handphone nya.
“Gue matiin aja ni telepon,” ucap Zelle yang akan segera menekan icon merah di hp nya.
"Tunggu! Jangan matiin teleponnya dulu,” ucap seseorang di seberang sana yang tidak lain ialah Kevin.
"Lo siapa? Lo tau no hp gue dari siapa?...” tanya Zelle sambil beranjak bangun dari tidurnya, “kalau lo enggak mau jawab, gue matiin nih handphone nya."
“Jangan lo matiin teleponnya!” teriak seseorang di sebrang sana.
“Lo siapa?...” tanya Zelle dengan tidak sabaran, “jawab dong.”
“Gue.. gue... Ke—ke—kevin,” sahut Kevin gugup.
Kevin merasa gugup karena belum pernah menelpon cewek, apalagi Zelle adalah cinta pertamanya.
Kevin memang di kelilingi banyak gadis cantik tetapi tidak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Sampai Kevin bertemu dengan Zelle yang tidak pernah meliriknya atau mengejar-ngejarnya. Dia tidak seperti cewek lainnya. Itulah yang menyebabkan Kevin sangat menyukai Zelle.
Kevin malu untuk berdekatan langsung dengan Zelle. Karena itu Kevin selalu membuat ulah dengan Zelle semata-mata untuk mendekatkan dirinya dengan Zelle.
"Lo si cowo manja. Ngapain lo telepon gue?...” tanya Zelle marah, “lo masih belum puas bikin gue malu di kampus kemarin?! Gue benci sama lo Kevin. Gue benci!”
"Gue cuma mau tahu kabar lo aja Zelle. Gue denger lo sakit makanya gue telepon,” jelas Kevin dengan suara yang lembut berbeda dari kata-katanya yang selalu kasar dan arogan.
"Bukannya lo senang bikin gue sedih dan malu?! Lo belum puas selama ini nyakitin gue, Kevin?! Lo ingin tahu kabar gue gimana sesudah apa yang lo lakuin kemarin ma gue. Gue benci ma lo Kevin. Gue enggak akan pernah maafin lo,” ucap Zelle yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
‘Tuttt tuttt tuuttt..’
“Sial! Telepon gue di matiin,...” gerutu Kevin sambil memandangi telepon miliknya, “Woooiii! Gue masih belum beres ngomong!”
Kevin pun kesal lalu melemparkan telepon ke sebarang arah.
“Arrgghhh!! Sial. Dia beneran marah ma gue ya?! Kok gue kesel sendiri sih?!...” gumam Kevin sambil mondar mandir di dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur king size ke kesayangannya sambil menatap langit- langit kamarnya dan menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya, “Apa iya gue udah keterlaluan ma tuh cewek jelek?! Tapi gue cuma reflex aja waktu gue cium dia. Gue enggak bisa nahan keinginan itu. Astaga gue bisa gila kalau kaya begini terus. Gue harus ketemu dengan si cewek jelek. Gue harus memastikannya.”
Kevin pun memegangi detak jantungnya yang terasa lebih cepat berdetak di setiap memikirkan Grizelle.
Kevin bangkit dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi. Selesai mandi Kevin segera memakai pakaiannya dengan rapi.
Hanya kaos putih polos dan celana jeans di tambah hoodie kesayangannya menambah ketampanan yang di milikinya. Kaos nya tercetak pas di bagian tubuh nya yang proposional, serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya yang mancung menambah daya pikat tersendiri. Siapa pun yang melihatnya pasti akan terpesona olehnya.
Kevin yang sudah selesai bersiap segera keluar dari kamarnya dan turun ke bawah. Kevin mengambil kunci mobil dari atas meja nakas dan pergi ke garasi untuk segera mengendarai mobil kesayangannya ke tempat yang dia inginkan.
"Hallo,” ucap Kevin kepada seseorang di telepone.
__ADS_1
"Ya, tuan muda. Ada yang bisa saya bjawa?” tanya seseorang di sana dengan sopan.
"Tolong lo segera carikan alamat rumah mahasiswi yang bernama Grizelle dan segera kirim ke gue alamatnya,” ucap Kevin.
"Baik tuan muda,” sahut seseorang di sana yang tak lain ajudan pribadinya.
Setelah Kevin mendapatkan alamat Grizelle, Kevin dengan segera mengendarai mobilnya menuju rumah Zelle.
Mobil yang dikendarai Kevin melintas dengan kecepatan sedang. Saat sedang melintasi tempat penjual bunga Kevin tiba-tiba menghentikan kendaraannya dan beralih turun dari mobilnya untuk membeli bunga.
Kevin melihat semua jenis bunga.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya si pemilik toko bunga."
"Gue mau beli bunga yang cocok untuk cewek,” ucap Kevin kepada penjual bunga.
"Maaf, Tuan. Semua bunga cocok untuk perempuan. Maaf saya lancang bertanya. Apa bunganya untuk kekasih tuan?...” tanya pemilik bunga, “biar saya bisa pilihkan sahutnya lagi."
"Mm anggap saja seperti itu,” sahut Kevin.
"Baik tuan. Biar anda saya rangkaikan bunga mawar, karena itu bisa sebagai tanda cinta. Anda harap tunggu sebentar tuan,” ucap pemilik bunga.
"Baiklah yang penting bagus,” ucap Kevin.
“Hmm itu ada Toko boneka apa gue sekalian beli juga ya?” gumam Kevin yang tanpa ragu melangkahkan kakinya ke toko boneka. Kevin melihat beberapa jenis boneka yang besar.
“Zelle suka boneka apaan ya?!” gumam Kevin bingung. Mata Kevin tertuju pada salah satu boneka teddy bear yang besar lebih besar dari ukuran tubuh Zelle yang mungil.
"Tolong bungkus boneka yang paling besar itu,” ucap Kevin kepada pemilik toko boneka tersebut.
"Baik tuan akan segera saya bungkus,” sahut penjaga toko.
"Gue bayar pakai ini,” ucap Kevin yang mengeluarkan black card dari dalam dompetnya.
Penjaga toko yang mengambil black card tersebut takjub karena kartu itu biasa di gunakan oleh orang-orang kaya dan tajir.
“Wah beruntung sekali wanita yang jadi kekasihnya,...” gumam penjaga toko dalam hati, “aku pasti iri kalau ada di posisi dia.”
"Ini tuan kartunya. Saya sudah melakukan pembayarannya,...” ucap penjaga toko, “...dan ini bonekanya.”
Penjaga toko itu pun memberikan kembali black card serta boneka yang telah di bungkus cantik itu kepada Kevin.
“Ok terima kasih,” ucap Kevin yang melangkah meninggalkan toko boneka dan kembali ke toko bunga untuk mengambil pesanannya.
“Bagaimana? Sudah selesai bunganya?” tanya Kevin pada pemilik toko bunga.
“Sudah tuan. Ini bunganya. Cantik sekali,” saut penjaga bunga yang memberikan bunga yang telah selesai di rangkaiannya kepada Kevin.
__ADS_1
"Gue bayar pakai ini,” sahut Kevin yang mengeluarkan black cardnya.
"Terima kasih, Tuan,” ucap pemilik toko bunga setelah memberikan kembali kartunya.
Kevin masuk ke dalam mobil tak lupa dia menyimpan boneka dan bunga yang iya beli di jok belakang mobilnya.
Kevin mengambil hp nya dan membaca sekali lagi isi pesan tersebut yang tak lain dari ajudannya yang memberi tahu alamat Rumah Grizelle.
Setelah selesai membaca alamat Kevin kembali mengendarai mobilnya ke alamat yang sudah di berikan kepadanya.
Cukup satu jam Kevin mengendarai mobilnya, tibalah Kevin di rumah yang sederhana namun kelihatan nyaman.
Di samping rumah Zelle terdapat Ayunan dan ditumbuhi berbagai jenis bunga. Perkarangannya tidak luas dan juga tidak sempit kelihatannya sangat pas untuk di lihat. Rumahnya di dominasi warna cream dan putih. Rumah yang hanya berlantai 2 itu terlihat sederhana tapi enak untuk di tempati.
Kevin sejenak memperhatikan rumah tersebut. Kevin sedikit ragu untuk keluar dari dalam mobil. Keberaniannya menciut seketika karena kegugupannya.
“Apa gue enggak usah masuk ke rumahnya aja ya?!...” gumam Kevin, “gue kan malu. Lagian gue yang buat si Zelle itu sakit. Tapi kalau gue enggak turun dan bertemu tuh si cewek jelek, hati gue enggak tenang. Gue cuma mau memastikan sesuatu ke dia. Arrrrgghh gue bingung.”
Kevin pun merasa frustasi lalu memukul setirnya.
Setelah beberapa saat akhirnya Kevin keluar dari mobilnya dan mengumpulkan keberaniannya untuk bisa menemui Grizelle.
Kevin membawa bunga dan juga Boneka yang sudah di belinya tadi. Kevin berjalan dan membuka pintu gerbang rumah Zelle dan kemudian berjalan kembali sampai ke depan pintu rumah Zelle.
'Ting tong ting tong..’
Kevin memijit tombol bell rumah Grizelle.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya pintu rumah Grizelle terbuka. Keluarlah seorang perempuan paruh baya yang cantik yang tak lain Mama Michel Mamanya Grizelle.
"Sore, Tante,” ucap Kevin sambil mencium tangan Mama Michel.
"Sore juga,...” saut mama Michel ramah, "kamu ini siapa nak?”
Mama Michel pun memperhatikan penampilan Kevin yang kemudian tersenyum.
"Saya Kevin, Tante. Teman nya Grizelle.”
"Ooo kamu temannya Zelle ya nak?! Ayo masuk dulu ke dalam. Zelle nya ada di atas,...” ucap Mama Michel yang mempersilahkan Kevin masuk ke dalam Rumahnya, “silakan duduk. Biar tante panggilkan dulu Zelle nya."
"Tunggu tante,...” ucap Kevin kepada Mama Michel, “tolong berikan ini pada Zelle.”
Kevin pun memberikan buket bunga dan sebuah kado yang besar.
"Baik akan tante berikan ke Zelle pemberian dari kamu,...” ucap Mama Michel, "kamu tunggu sebentar ya ,saya panggilkan Zelle nya dulu."
"Baik, Tante. Terima kasih,” ucap Kevin yang sudah duduk di kursinya, sambil menikmati kopi yang susah di sajikan Mama Michel.
__ADS_1
“Rumah si Cewek jelek nyaman juga ya,” gumam Kevin yang memperhatikan keseluruhan rumah Zelle yang sederhana tapi nyaman.
"Lo mau apa ke sini?” tanya seseorang dengan tidak ramahnya.