
Mereka berlari masuk ke dalam rumah, lalu Arjun pergi berlalu begitu saja.
Pemuda bertubuh kekar dgn rambut cepak dan alis sedikit bergurit itu melajukan kendaraanya begitu kencang, entah kemana lagi dia akan berkeliaran dgn mobil jipnya itu.
Yaah seperti biasa di jam2 siang seperti itu dia menuju ke sebuah bar untuk melihat apakah ada kekacauan atau tidak, duduklah ia meminta segelas bir lalu di keliling 2 wanita yg coba menggodanya, namun ia sama sekali tak berubah walau wanita itu coba untuk merayunya.
"tuan... bir... Vodka... brandy???" (tanya salah seorang pelayan disana).
"(dgn lantangnya ia menjawab) brandy !!"
(dgn tatapan yg tajam)
Sang pelayan pun menuangkan Brandy ke dalam gelasnya.
Mengetahui sikap Arjun yg sedingin kulkas 20 pintu itu, para wanita itu pun mundur, mereka tidak akan membangunkan singa yg sedang tidur, karna mereka tau jika singa itu sudah bangun maka dia akan memporak porandakan sekitar.
Melihat sekitar di rasa cukup aman tanpa kekacauan, Arjun pun bangun dari tempat duduknya, lalu meninggalkan beberapa uang ratusan ribu dan ia berlalu begitu saja.
Namun siapa sangka, baru selangkah ia keluar dari pintu bar tiba2 ada suara pistol dari dalam, entah siapa targetnya yg jelas pada saat itu terdapat anak panah terpampang di dinding sebelah pintu, Arjun langsung mengambilnya dan menghabisi orang itu, kurang lebih 15 sampai 20 orang yg mengacau disana, namun pria tegap itu berhasil menuntaskan semua kawanan penjahat itu, dan benar sekali ketika singa telah bangun dari tidurnya maka semuanya telah hancur berantakan, ia merapikan jaketnya dan juga memakai kaca mata hitamnya lalu bergegas pergi.
Tidak ada yg berani melapor polisi, karna sebelum mereka lapor polisi. Arjun sendiri telah menyerahkan diri namun polisi tidak berani menahannya, ia kembali ke markas untuk menaruh kendaraanya dan juga pakaiannya, ia memakai baju yg lebih santai lalu pergi ke rumah sakit dgn hanya membawa motor tua.
__ADS_1
Seperti biasa yg di lakukan ketika di rumah sakit, ia membantu para suster yg kualahan, membantu para pasien, dan yg lainya.
ketika ia berjalan di lorong rumah sakit, ia sempat melewati Kamar rawat Anna, ia menatap dari jendela pintu, ia melihat sepertinya Anna mulai banyak perkembangan, pria itu tersenyum kecil, ingin masuk tp ragu.
Kemudian ia kembali keluar untuk membeli sesuatu, beberapa buah dan juga makanan, lalu kembali lagi ke kamar Anna.
Di sana ada ibunya dan juga kedua anak2nya,
seketika Arjun masuk, mereka semua nampak tercengang, ibunya tersenyum, anak2nya pun tersenyum, hanya Anna yg masih menatap penuh tanda tanya.
"paman !!!" (mereka berlari begitu bahagianya)
"hai !!! (sapa Arjun sambil merangkul mereka)
hayy !" (mencoba menyapa Anna)
Namun Anna bersikap dingin seolah enggan untuk bicara dgn nya. L kemudian sang ibu dan juga anak2nya meninggalkan mereka berdua agar bisa saling bicara.
Arjun duduk di sebelahnya mencoba untuk terus bicara dgn Anna.
"bagaimana keadaanmu, sepertinya ini lebih baik,
__ADS_1
oh... aku bawakan kau bubur gandum mungkin kau suka..." (mencoba menyuapi Anna).
namun Anna enggan membuka mulutnya.
"baiklah kalau kau tidak mau, tp setidaknya aku harap kau menerimaku sebagai teman, aku ingin menjadi temanmu" (pinta Arjun sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman)
"pergi...!!!" (ucap Anna lirih)
"apa???
kau memintaku pergi setelah aku mengajakmu banyak bicara,, tidakkah kau pikir tenggorokanku ini kering." (sahut Arjun kesal)
"pergi!!!!..
tidak ada yg menyuruhmu untuk melakukan itu, dan tidak ada yg ingin berteman dgnmu.
pergi !! cepat pergi!!!!!" (bentak Anna sambil menunjuk ke arah pintu)
"fine....!!!!
aku akan pergi
__ADS_1
kau jaga dirimu baik baik" (pinta Arjun)
Pria besar itu keluar, namun ia kembali menatap Anna dari jendela pintu, ia sedikit meneteskan air mata, ia merasa iba mengapa masih ada perempuan yg menderita seperti itu.