MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)

MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)
11. ** Coba Lihat Mata Aku **


__ADS_3

Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.


Udah?


Selamat membaca


.


.


.


"Eh Suny kamu tau gak? Cowok yang sama kamu tadi di perpustakaan kasih aku ini!" ucap Seokjin langsung ketika Suny memasuki mobil waktu pulang sekolah.


Suny melebarkan matanya, itukan bungkusan yang tadi Loli ingin titipkan padanya? Cowok di perpustakaan? Bim?


Apa iya Bim yang memberikan itu pada Seokjin? Bukanya cowok itu sendiri yang melarang Suny agar jangan membantu Loli mendekati Seokjin?


"Maksud kamu, Bim?"


"Jadi nama cowok itu Bim? Dia ada hubungan apa sama Loli?"


Seokjin tahu kalau bungkusan berisi jaket itu pemberian dari Loli teman sekelasnya setelah membaca isi surat di dalamnya.


"Maksud kamu?" tanya Suny, dia pikir Loli juga ikut waktu memberikan bungkusan hadiah untuk Seokjin itu.


"Aku heran aja kenapa si Bim itu yang ngasih ini. Loli 'kan bisa kasih langsung ke aku."


Suny mengangkat bahunya. "Aku juga gak tahu. Ngomong-ngomong apa yang si Loli itu kasih ke kamu?"


"Isinya jaket, aku udah punya sih jaket model ini beda warnanya aja." Seokjin menunjukan Jaket bewarna hitam itu. Loli tidak tahu kalau warna favorite Seokjin adalah pink.


Suny sendiri mengetahuinya setelah beberapa bulan tinggal di rumah itu. Dia menyadari beberapa barang terutama pakaian cowok itu rata-rata berwarna pink.


Tapi karena menjaga image nya Seokjin lebih sering memakai hal-hal berwarna pink itu di rumah. Ketika sedang di luar lebih sering memakai pakaian berwarna hitam ataupun warna-warna lain yang lebih ke cowok-cowok an.


Mungkin itulah penyebab Loli membeli jaket bewarna hitam itu. Suny maklum karena mungkin saja Loli hanya mendapat informasi dengan menstalking akun media sosial milik Seokjin.


"Bagus jaketnya pasti harganya mahal," komentar Suny menyentuh jaket itu. Lalu mobil yang mereka tumpangi mulai berjalan meninggalkan halaman sekolah.

__ADS_1


"Tapi aku bingung nih."


Suny tersenyum kecil melihat Seokjin yang menggaruk pipinya ciri khas Seokjin ketika sedang kebingungan. "Emang bingung kenapa sih?"


"Dia nulis surat katanya mau lebih deket sama aku. Terus ngajakin nge date hari minggu ini."


"Teruus? Kamunya mau ladenin atau sama kek cewek-cewek sebelumnya yang kamu tolak?"


Suny menatap sinis Seokjin saat melihat ekspresi wajah cowok itu. Ekspresi diam berpikir yang pertanda kalau Loli akan bernasib sama seperti cewek-cewek yang ditolak oleh cowok itu.


"Kamu ini gak bisa hargiin usaha orang gak sih? Bagi kamu ini hal yang sepele dia suka sama kamu. Tapi bagi dia perasaan ke kamu itu penting buat dia. Kamu gak tahu aja di balik hadiah ini ada banyak perjuangan dari dia buat sampe ke kamu."


Seokjin terdiam mendengar perkataan Suny. " Kamu kenapa? Tumben kayak gini. Biasanya juga kamu biasa aja kalau aku nolak cewek-cewek yang naksir aku. Bahkan kamunya juga gak suka di deketin sama mereka yang deketin kamu cuma buat deket sama aku. "


"Ya gak kenapa-kenapa. Aku cuma ngerasa Loli ini beneran serius sama kamu."


Melihat keseriusan cewek itu membuat Suny merasa kalau dia hanyalah cewek pengecut yang tidak berani pada perasaanya sendiri. Suny hanya bisa memendam perasaan pada Seokjin.


"Hm, iyadeh aku coba kasih dia kesempatan. Kamu sendiri? Sama Bim gimana?"


"Apanya yang gimana?" balas Suny spontan. "Aku gak ada hubungan apa-apa sama dia."


tanya cowok itu mengusap dagunya sembari menatap geli pada Suny.


Entah kenapa melihat Seokjin menatapnya seperti itu Suny merasa kalau cowok itu tahu apa yang sebenarnya. Suny jadi salah tingkah sendiri. Buru-buru dia memalingkan wajahnya.


"Dari dulu juga aku heran, tipe cewek kamu kayak gimana. Sampai-sampai cewek yang selama ini deketin kamu ditolak terus."


"Kamu pengen tahu? Coba lihat mata aku deh," seru Seokjin terdengar santai.


Suny kembali menoleh pada Seokjin itu lalu menatap matanya seperti yang cowok itu suruh. Suny bingung kenapa dengan menatap mata Seokjin dia bisa tahu tipe ceweknya?


"Gak ada apa-apa tuh. Kamu kelilipan atau gimana? Aneh ih kamu ini. Udah jelasin aja tipe cewek kamu kayak gimana."


Seokjin hanya mendengus geli. Jauh di dalam matanya tergambar jelas pantulan wajah Suny. Sepertinya cewek itu pintar masalah pelajaran tetapi tidak dengan kode.


"Kamu aja duluan sana nanti baru aku."


Suny balas menggelengkan kepala. "Gak ah, kamu aja yang duluan."

__ADS_1


Pada akhirnya tidak ada yang mau menjelaskan tipe orang yang mereka berdua sukai. Karena keduanya sama-sama tidak mau mengalah.


.


.


.


"Aku gak suka ya Bim sama kelakuan kamu tadi. Sekarang aku harus jelasin gimana sama Seokjin tentang kamu? Sekarang dia pasti gak mau nge date sama aku."


Bim meletakan tas Loli di atas meja di samping tempat tidur cewek itu. Wajahnya terlihat dingin. Sekarang dia harus menerima ocehan dari Loli.


"Bukanya itu emang maunya kamu?"


"Iya itu memang maunya aku tapi bukan kamu juga yang musti ngasihnya ke Seokjin!" ucap Loli dengan suara meninggi. Wajah cantiknya memerah menatap cowok itu.


"Aku gak peduli sama cowok-cowok yang selama ini kamu halangin buat deketin aku karena emang aku gak suka sama mereka. Tapi Seokjin, kamu gak perlu ikut campur urusan aku sama dia," lanjutnya sembari melangkah pergi dari kamar itu.


Bim masih terdiam di sana, dia mengepalkan tanganya kuat. Dia tidak suka Loli berbicara seperti itu padanya. Loli menjadi seperti itu padanya karena Seokjin membuat Bim semakin tidak menyukai cowok itu.


Dengan langkah kesal Bim pergi menuju kamarnya. Kamarnya berada di lantai bawah rumah mewah ini. Nasib Bim bisa dikatakan sama seperti Suny.


Hanya saja ada perbedaan besar di antara mereka berdua. Suny diperlakukan seperti anak pembantu biasa, dia masih harus membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Setidaknya Suny di biayai sekolahnya.


Sedangkan Bim, dia sudah seperti anak kandung di rumah ini. Karena memang majikan kedua orang tuanya menginginkan anak laki-laki. Loli adalah anak tunggal majikan orang taunya.


Jadi kehidupan Bim bisa dibilang sama seperti Loli ataupun Seokjin. Dia di layani seperti anak kandung di rumah ini. Meski begitu dia tetap saja anak dari kedua orang tua kandungnya.


Bim sangat sering pergi ke rumah belakang, tempat tinggal para pembantu rumah ini. Rumah ini memiliki banyak sekali pembantu, sepadan dengan ukuranya yang seperti istana.


Dia pergi ke sana untuk menemui kedua orang tuanya dan terkadang menginap di sana. Bim berjanji suatu saat nanti kedua orang tuanya tidak harus bekerja sebagai pembantu lagi. Dia akan mengajak mereka tinggal denganya.


Bim tersenyum saat melihat dari jendela ibunya yang sedang membersihkan taman sembari mengobrol dengan pembantu lainya, menyejukan suasana hatinya yang tadi memanas.


.


.


.

__ADS_1


MY PRINCE FRIEND


__ADS_2