
Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.
Udah?
Selamat membaca
.
.
.
Suny kembali sekolah setelah dua hari tidak masuk karena sakit. Dalam perjalanan Seokjin hanya diam saja tidak seperti biasanya.
Pagi ini juga saat Suny hendak membangunkan cowok itu untuk bangun ternyata Seokjin sudah bangun. Padahal kalau biasanya mereka berdua sampai harus bertengkar walau sekedar hanya agar cowok itu bangun pagi.
Pak sopir juga merasakan kejanggalan yang terjadi di antara dua anak muda itu. Matanya mengintip dari kaca kemudi keadaan di belakang sana.
Suara obrolan heboh yang biasa didengar pak sopir hilang senyap pagi ini. Hanya suara mesin mobil yang menemani heningnya keadaan saat itu.
Ketika sampai di sekolahpun Seokjin langsung turun dan bergegas menuju kelasnya. Suny ditinggalkan begitu saja di sana. Padahal juga biasanya malah Seokjin ngotot ikutan mengantar Suny ke kelasnya baru cowok itu pergi ke kelasnya.
Dalam perjalanan menuju kelasnya ada seseorang yang menyentuh pundak Suny. Cewek itu langsung menoleh pada orang itu.
"Kamu dari tadi aku panggilin gak denger apa hm?" tanya orang yang tadi menepuk pundaknya.
"Eh maaf tadi kayaknya aku ngelamun makanya gak denger kamu Bim," jelas Suny tersenyum merasa tidak enak.
"Dua hari kemaren kamu gak masuk karena sakit ya? Kayaknya gara-gara kehujanan waktu itu. Aku jadi gak enak sama kamu."
"Gak kok kemaren akunya aja yang ceroboh gak ganti baju langsung tidur aja. Jadinya bangun-bangun demam, " sahut cewek itu tertawa kecil. "Kamu gak perlu ngerasa gak enak gitulah sama aku."
Bim agak bingung dengan alasan yang diberikan oleh cewek itu. Apa iya Suny memiliki sifat ceroboh seperti itu? Dalam pandanganya Suny bukan tipe orang seperti itu.
"Aku tadi manggil kamu buat ngasihin buku ini ke kamu." Bim menyerahkan buku yang kemarin dia janjikan pada Suny.
"Makasih ya, duit tabungan aku jadi aman deh," ucap Suny bersemangat menerima buku itu.
Lagi-lagi Bim dibuat heran dengan ucapan cewek itu. Memang buku itu agak mahal harganya tapi bagi orang sekaya Suny apa maksudnya dengan uang tabungan?
Membeli buku itu tidak berpengaruh pada tabungan bahkan uang jajan cewek sekaya Suny. Bim hanya tersenyum canggung menanggapi.
"Yaudah kalo gitu ayo ke kelas bentar lagi masuk," ajak Bim pada Suny yang masih terlihat sangat senang menerima buku tadi.
__ADS_1
Senyuman yang terpancar di wajah cewek itu perlahan memudar saat dalam perjalanan menuju kelasnya orang-orang di sekelilingnya melihatnya dengan pandangan aneh.
Suny bingung dan bertanya-tanya apa gerangan yang membuat orang-orang menatapnya seperti itu. Apa karena dia jalan dengan Bim?
Bim juga merasakan keanehan yang terjadi saat itu. Dia dapat melihat orang-orang memandang aneh pada cewek di sampingya.
"Ngaku-ngaku jadi anak orang kaya gak taunya cuma anak pembantu," celetuk salah satu siswi yang sedang melihati mereka berdua.
Sontak Suny dan Bim sama-sama terdiam. Mereka berdua sama terkejudnya ketika mendengar perkataan cewek itu. Mereka pikir kedok mereka ketahuan.
"Gak punya malu banget sih kamu Suny, ngaku-ngaku jadi adiknya Seokjin. Sekarang kamu deketin Bim," tambah cewek lainya di sana.
Bim melirik ke sampingnya, ternyata yang cewek pertama tadi maksud adalah Suny. Cowok itu dapat melihat dengan jelas jari-jari Suny yang sekarang bergetar memegang buku di tanganya.
"Apa maksud kalian hah?" teriak Bim membuat orang-orang di sana sedikit terkejud.
"Sudahlah Bim, mending kamu jauhin cewek pembohong itu. Nanti nasib kamu sama kayak papanya Seokjin yang ibunya porotin, " balas cewek pertama tadi tidak kenal takut pada Bim yang barusan sudah berteriak.
Kali ini Suny menegakkan wajahnya. Terlihat jelas dia menahan tangis di matanya. Dia menatap pada Bim lalu menyerahkan buku tadi pada cowok itu.
Bim bingung dan awalnya menolak tapi Suny terus memaksa agar dia mau memegang buku itu. Akhirnya Bim menerima buku itu.
Ketika Bim memegang buku itu Suny terlihat menatap pada cewek pertama tadi. Cewek itu merespon dengan angkuhnya seolah merasa tidak bersalah.
Setelah mengucapkan itu Suny dengan langkah berat berjalan berbalik arah tidak jadi ke kelas. Bim mengikuti langkah Suny yang berjalan semakin terburu-buru.
"Gak usah ikutin aku, kamu gak denger kata mereka? Nanti aku cuma bakal porotin kamu Bim," seru Suny dengan suara serak.
Meski dibilang begitu Bim tetap mengikuti cewek itu. Hingga sampai gedung belakang sekolah. Di sana akhirnya Suny berhenti berjalan.
Bim dapat mendengar isak tangis cewek itu pecah pada akhirnya. Suny mengusap kasar wajahnya yang berlinang air mata.
"Kamu kenapa gak masuk kelas Bim, nanti kamu telat lagi," Suny memperingati atau lebih tepatnya mengusir cowok itu untuk pergi.
Bim tidak menjawab, dia tahu Suny ingin dia meninggalkan cewek itu sendirian tapi Bim tidak mau meninggalkan Suny dengan keadaan seperti itu.
Saat dia hendak mendekati cewek itu tiba-tiba saja Suny berbalik lalu memeluk Bim dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Bim. Cowok itu sedikit terkejud pada awalnya. Tapi pada akhirnya tanganya meraih puncak kepala Suny dan mengusapnya pelan.
Suny menangis sejadi-jadinya saat itu. Kenapa akhir-akhir ini kejadian tidak mengenakan menimpanya? Padahal masalahnya dengan Seokjin belum selesai.
Mengingat cowok itu Suny baru tersadar akan sesuatu. Tentang siapa orang yang memberi tahu tentang dirinya yang anak pembantu?
Bukankah di sekolah ini hanya Seokjin yang tahu? Tapi Suny tidak percaya kalau Seokjin yang melakukan hal seperti itu. Sama sekali tidak mungkin pikirnya.
__ADS_1
Suny semakin terisak keras saat memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Seokjinlah yang melakukan hal itu. Dadanya tarasa semakin sesak.
.
.
.
Malam itu mobil yang biasa menjemput Seokjin dan Suny masih belum beranjak dari depan gerbang sekolah. Pak sopir melihat-lihat ke sekitaran mencari seseorang.
"Kayaknya Suny sudah pulang duluan tuan muda," seru pak sopir masih mencoba mencari keberadaan Suny.
Seokjin melihat handphonenya yang berisikan list panggilan yang dilakukan tidak terjawab oleh Suny. Dia sudah mencari ke sekitaran sekolah tidak ada cewek itu di sana.
Mungkin benar kata pak sopir kalau Suny sudah pulang duluan pikir Seokjin. "Ya sudah kalau begitu kita pulang pak."
Setelah mendapat perintah dari Seokjin pak sopir mulai melajukan mobil meninggalkan gerbang depan sekolah mewah itu.
Ketika sampai di rumah Seokjin menanyakan keberadaan Suny pada ibunya. Ibunya bilang kalau Suny ijin menginap malam ini di rumah temanya.
Tidak biasanya pikir Seokjin, kalau memang akan menginap di rumah temanya kenapa cewek itu tidak memberi kabar padanya? Apa karena sikap cuek nya belakangan ini yang membuat Suny malas menghubunginya?
Seokjin jadi merasa bersalah, karena keeogisannya membuat hubunganya dengan Suny kurang baik. Lagi pula apa haknya untuk marah pada cewek itu jika dekat dengan cowok lain?
Sekarang dia merasa malu sendiri, menyadari sikap kekanak-kanakanya pada Suny hanya karena dia yang cemburu cewek itu dekat dengan Bim.
Seokjin melangkahkan kakinya berat menuju kamar, tapi ketika melewati kamar Suny dan ibunya dia teringat sesuatu. Ikan hias peliharaan Suny.
Dia harus memberi makanya. Karena Suny sedang diluar pasti tidak ada yang mengurus ikan itu. Suny sudah cerita kalau ibunya tidak mau ikut campur dengan urusan memelihara ikan hias itu.
Seokjin mengambil pelet ikan yang berada di dalam toples kaca itu lalu menaburkan butiran pelet ikan itu ke dalam aquarium mini tempat menampung ikan hias itu.
Kemarin juga saat Suny sedang sakit Seokjin yang mengurus ikan itu. Waktu dia datang Suny masih terlelap tidur. Jadi cewek itu tidak tahu kalau dia yang memberi makan ikan hias peliharaanya.
Kalau Seokjin perhatikan, memang benar kata Suny. Kalau ikan hias itu mirip denganya saat sedang mengunyah makanan. Mulutnya mengembung seolah penuh dengan makanan.
Seokjin tersenyum geli menyadari hal itu saat ini. Bisa-bisanya Suny menyadari hal tersebut saat berada di toko ikan waktu itu.
.
.
.
__ADS_1
MY PRINCE FRIEND