
Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.
Udah?
Selamat membaca
.
.
.
Di pagi yang cerah itu keadaan di ruang kerja Eosi dalam keadaan tegang. Wonju putra pertamanya datang untuk menemuinya. Dengan keadaan sudah berseragam rapi sekolah menengah atas.
Eosi dengan santainya masih terlihat fokus pada koran yang dibaca olehnya. Belum ada pembiacaraan di antara anak dan ayah itu.
"Kemana mama pergi?" tanya Wonju memulai pembicaraan.
Eosi menghela napas kecil, seperti dugaanya anak itu pasti akan menanyakan pertanyaan tersebut. Melihat papanya tidak menjawab dan masih fokus membaca koran membuat Wonju mengepalkan tanganya kesal.
"Papa aku bertanya kemana mama pergi?" tanya Wonju sekali lagi dengan nada suara menahan emosi.
Akhirnya Eosi meletakan koran di tanganya lalu bersandar kesal pada kursi sofa menatap datar pada putranya.
"Kau sudah tahu mama mu akan pergi lalu sekarang apa?"
"Tapi kenapa secepat ini pasti ada sesuatu yang salah."
"Semunya sudah salah semenjak mama mu berselingkuh dengan pria itu!" Teriak Eosi sembari melonggarkan ikatan dasinya.
"Lagipula jika kau tahu mama mu akan pergi kenapa tidak ikut saja denganya? Kau sendiri yang sudah memutuskan."
Wonju menelan ludah pelan. "Aku tahu semuanya terjadi bukan hanya kesalahan mama karena bersama dengan pria itu."
Setelah mengatakan itu Wonju beranjak pergi meninggalkan ruang kerja ayahnya.
"Anak itu, pagi-pagi begini sudah membuat ku kesal," gumam Eosi mengambil koran-nya kembali.
Saat keluar ruangan ayahnya Wonju bertemu dengan pembantu baru itu. Dia memerhatikan pembantu baru itu seperti tidak asing baginya. Sepertinya dia pernah melihat wanita itu.
Merasa di perhatikan oleh Wonju pembantu itu tersenyum sopan. "Saya pembantu baru di sini tuan muda. Saya sedang ingin mengantarkan kopi untuk tuan besar."
Wonju hanya menganggukan kepalanya lalu berjalan pergi. Manda menatap sesaat pada anak sulung bos nya itu. Sepertinya anak itu agak dingin sikapnya di banding dengan adiknya.
Manda akhirnya masuk untuk mengantarkan kopi ke dalam ruangan tuan besar. Dia melihat tuan besar sepertinya sedang membaca koran.
"Saya mengantarkan kopi untuk tuan," ucap Manda lalu meletakan kopi tersebut di atas meja.
"Ah iya" seru Eosi masih sibuk dengan koranya.
Karena melihat Manda yang belum pergi akhirnya Eosi menatap pada pembantu itu.
"Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?"
Manda tersenyum gugup. "Begini, saya ingin berterima kasih karena tuan sudah menyekolahkan Suny."
"Sudah berapa kali kau berterima kasih padaku soal itu. Aku harap putrimu dapat belajar dengan baik."
"Semoga saja tuan, berkat kebaikan tuan putri saya bersekesempatan untuk sekolah. Saya tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan tuan," tutur Manda dengan wajah bahagia.
Eosi tersenyum tipis. "Bekerja dengan baiklah di sini. Aku akan sangat menghargai itu."
__ADS_1
"Baik tuan."
.
.
"Ibu aku terlihat cantik dengan seragam ini 'kan?" seru Suny yang sedang bercermin di depan kaca dengan seragam sekolahnya.
"Putri ibu memang gadis yang cantik. Sini ibu ikatkan rambutmu."
Suny mendekati ibunya untuk mengikat rambutnya. Suny terlihat sangat bersemangat pagi ini. Bagaimana tidak, impianya untuk bersekolah akhirnya jadi kenyataan.
Kini rambut Suny sudah terikat rapi kuncir kuda." Sekarang tinggal satu hal lagi yang kurang," ucap Manda tersenyum geli.
"Apa itu bu?" Mata Suny membesar penasaran.
"Taraaa!" Manda menunjukan sebuah kejutan. Yaitu sebuah pita berwarna pink yang kemarin-kemarin Suny idamkan.
"Ibuuu... kapan ibu membelinya?" jerit Suny kesenangan melihat pita itu.
"Kemarin saat pergi ke pasar ibu mampir ke toko waktu itu. Sekarang ayo ibu pasangkan ke rambutmu."
Manda memasangkan pita itu ke rambut Suny. Dia tersenyum lebar melihat putrinya yang bertambah cantik dengan hiasan pita di kepalanya.
Suny ikut tersenyum sampai akhirnya dia melihat ibunya meneteskan air mata seketika senyum Suny memudar dan berubah menjadi raut wajah heran.
"Ibu kenapa menangis?" tanya Suny ikut sedih.
Manda pun buru-buru mengusap matanya yang berlinang air mata. "Tidak apa-apa, ibu hanya terbawa perasaan. Selama ini ibu terus kepikiran dengan masa depanmu. Tapi sekarang ibu tidak perlu kuatir karena tuan besar sudah berjanji akan menyekolahkanmu hingga sekolah menengah atas nanti. Jadi, ibu berharap dengan begitu setidaknya akan mendapat pekerjaan yang lebih baik di banding ibumu ini."
Mata Suny berair menatap wajah ibunya. Walaupun masih anak-anak dia dapat mengerti perjuangan ibunya agar dia dan ibunya tetap bertahan hidup. Pindah dari satu tempat ke tempat lainnya mengikuti dimana rejeki mereka berada.
Suny kemudian memeluk tubuh ibunya erat. Begitupun Manda balas memeluk dan mengusap kepala putrinya.
.
.
Saat di teras rumah itu Manda hendak mengantar Suny pergi ke sekolah. Namun tiba-tiba Eosi keluar dari dalam rumah.
"Kalian mau pergi ke mana?" tanya Eosi pada ibu dan anak itu. Dia melihat gadis kecil di samping Manda tersenyum manis dan Eosi balas tersenyum.
"Saya mau mengantar putri saya ke sekolah tuan."
"Lho kenapa tidak berangkat bersama Seokjin saja. Mereka 'kan satu sekolah. Jadi kau tidak perlu repot-repot mengantarnya."
"Tidak apa-apa tuan. Saya tidak enak jika harus merepotkan tuan besar lagi."
"Kau tidak perlu merasa tidak enak begitu. Aku justru senang bisa membantu kalian."
Eosi menatap pada Suny. "Sekarang ayo masuk ke dalam mobil."
Suny melihat wajah ibunya dan ibunya hanya mengangguk sambil tersenyum kecil tanda mengiyakan.
Akhirnya Suny masuk ke dalam mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh sang sopir. Di dalam sana ternyata sudah ada Seokjin.
" Hai, " sapa Seokjin pada Suny yang membuat rasa canggung Suny sedikit reda.
"Hai juga," balas Suny sembari duduk agak berjarak dari Seokjin.
Mobil yang mereka berdua tumpangi mulai berjalan meninggalkan halaman rumah besar itu.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kalau kita akan bersekolah di sekolah yang sama," seru Seokjin tersenyum kecil.
"Ibuku sudah memberitahuku tentang hal ini. Semuanya karena kebaikan tuan besar. Aku sangat berterima kasih pada ayahmu."
"Aku senang karena dengan begitu aku sudah punya teman di sekolah nanti."
"Teman? Maksudmu aku?"
Seokjin balas mengangguk dengan senyuman manis. "Iya kamu. Kamu mau 'kan berteman denganku?"
"Iya aku mau temenan sama kamu." Suny sangat senang karena teman pertama di sekolahnya adalah Seokjin anak dari orang yang menyekolahkanya.
.
.
Saat pulang dari sekolah Suny dan Seokjin berjanji untuk mengerjakan tugas sekolah pertama mereka di kamar Seokjin. Tadi saat di sekolah mereka di ajarkan cara berhitung dengan buku gambar aneka buah dan benda.
Tadi mereka mendapat tugas untuk mengisi lembar kedua yang telah ada beberapa soal pendek hitung-hitungan.
"Aku sudah selesai mengerjakanya!" seru Suny gembira.
Sementara Seokjin yang masih kebingungan sontak menatap pada Suny. "Bagaimana bisa kau sudah selesai?"
"Soalnya mudah kok cuma kurang sama tambah. Memangnya kamu belum selesai?" tanya Suny melirik ke buku Seokjin yang terlihat masih kosong.
"Aku lupa apa yang tadi ibu guru tadi ajarkan. Aku tidak mengerti bagaimana cara mengisi soalnya."
"Sini biar aku bantu," seru Suny langsung mendekati Seokjin.
"Tunjukan kedua tanganmu," perintah Suny pada Seokjin.
"Untuk apa?" heran Seokjin namun tetap menuruti apa yang Suny katakan.
"Soal nomer satu itu. Kamu punya dua buah apel lalu di tambah satu apel lagi jadii...."
"Dua...." Suny mengangkat satu persatu jari Seokjin.
"Di tambah satu apel lagi...." Lalu mengangkat satu jari lagi milik Seokjin.
"Coba hitung sekarang."
"Satu...." Suny dan Seokjin berucap bersama-sama memerhatikan jari-jemari milik Seokjin. Hingga sisa jari terakhir.
"Ti...ga..."
"Sisa tiga apel!" seru Seokjin bersemangat.
"Nah itu jawabanya. Jadi tinggal kamu gambar tiga apel di titik-titik kosong itu."
"Iyaa!" Seokjin pun mulai mengambar apel-apel berjumlah tiga di bukunya.
Seokjin melanjutkan mengerjakan tugasnya dengan bersemangat. Kali ini dia mencoba menghitungnya sendiri dengan metode yang di ajarkan oleh Suny. Ketika dia lupa Suny dengan senang hati akan membantunya.
Terkadang tawa mereka pecah saat melihat hasil gambaran Seokjin yang jelek dan terlihat lucu.
"Sepertinya aku tidak berbakat mengambar," celetuk Seokjin tertawa geli melihat hasil gambaranya.
.
.
__ADS_1
MY PRINCE FRIEND