MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)

MY PRINCE FRIEND - KSJ (Selesai)
08. ** Ditolak Cewek Ya? **


__ADS_3

Sebelum baca, kasih like, tip & favorite dulu ya.


Udah?


Selamat membaca


.


.


.


Saat ini Suny dan cowok yang ditabraknya tadi Seokjin, sedang duduk di bangku taman. Seokjin mengerutkan keningnya melirik pada Suny.


"Ngapain kamu ngeliatin aku kayak gitu?"


Suny mengerucutkan bibirnya. "Siapa yang ngeliatin kamu? Lagian kenapa juga kamu nangis-nangis kayak tadi."


"Udah ngaku aja kamu ngeliatin aku 'kan! Denger ya, cowok nangis itu wajar tau. Cowok juga manusia."


"Iya-iya deh, tadi aku ngeliatin kamu. Cowok wajar kalo nangis tapi masalahnya cowok modelan kayak kamu yang nangis. Geli aja aku liatnya," jelas Suny tertawa.


Selama mengenal Seokjin, Suny tidak pernah sekalipun melihat cowok itu menangis. Suny mengenal Seokjin sebagai cowok yang kuat.


Ketika Suny sering diganggu oleh teman sekolahnya, Seokjin akan dengan sigap menindak murid-murid yang menganggunya.


Jika itu cowok, Seokjin tidak ragu-ragu untuk memberi pelajaran pada murid-murid itu agar tidak mengulangi perbuatanya. Bahkan jika itu Seokjin harus berurusan dengan guru BK.


Karena hal itu terkadang Seokjin harus menerima kemarahan dan hukuman dari tuan besar. Tuan besar taunya kalau Seokjin bandel dan berkelahi tidak jelas.


Suny merasa sangat bersalah ketika hal itu terjadi pada Seokjin. Setelahnya pasti Suny akan mengobati luka-luka memar di tubuh Seokjin.


Saat Suny bertanya diapakan dia oleh tuan besar sampai memar-memar seperti itu, Seokjin menjawab bersamaan dengan senyum riangnya kalau dia hanya di cambuk dengan ikat pinggang kok.


Suny bilang kalau seharusnya Seokjin bilang saja dia berkelahi dengan murid-murid itu karena menganggu Suny.


Tapi Seokjin tidak mau bilang seperti itu, karena tidak ingin melibatkan Suny dalam masalah. Seokjin bilang kalau Suny tidak menyuruhnya untuk berkelahi dengan murid-murid nakal yang mengangu Suny. Jadi itu tetap salahnya.


Saat melihat Seokjin menangis tadi, bagi Suny itu adalah pemandangan yang tidak biasa. Bagaimana bisa cowok kuat seperti Seokjin yang dia kenal, menangis di jalanan?


Ada dua kemungkinan yang Suny pikirkan. Pertama, ini semua ada hubungnya dengan kejadian semalam dan hilangnya Seokjin dari rumah.


Kedua, Seokjin ditolak oleh cewek yang dia sukai. Tapi ini kemungkinan yang lemah. Karena setau Suny, Seokjin tidak pernah terlihat sedang menanggumi seorang cewek.


Kalau Seokjin sedang suka seseorang pasti dia akan bercerita pada Suny. Seokjin pasti akan menceritkan itu semua pada Suny bahkan sampai sejak kapan bagaimana Seokjin bisa suka cewek itu.


Tapi Suny tidak pernah mendengar itu dari Seokjin. Meski bisa saja Seokjin menyebunyikan hal itu dari Suny.


Suny juga berpikir akhir-akhir ini Seokjin sering tidur larut malam. Saat dimana Suny sudah pergi ke kamarnya dan ibunya untuk tidur. Jangan-jangan bukan hanya bermain game tapi Seokjin juga berhubungan dengan cewek itu.


"Seokjin!"

__ADS_1


"Apa?" heran Seokjin saat mendadak Suny menatap padanya dengan raut wajah terkejud.


"Kamu tadi nangis karena ditolak cewek ya?"


Seketika kening Seokjin mengerut mendengar ucapan Suny lalu dia tertawa setelahnya. "Ngaco kamu ah, mana ada aku nangis cuma karena ditolak cewek. Cewek-cewek tuh yang ngejar aku."


"Kamu gak boong 'kan?" selidik Suny menyipitkan mata kurang percaya.


"Iya gak boong. Lagian percuma donk aku ganteng-ganteng gini kalau ditolak cewek. Malu sama muka."


Suny mendengus geli. "Ih kepedean kamu. Siapa yang bilang kamu ganteng emangnya?"


"Aku sendiri," jawab Seokjin dengan percaya diri.


Suny berakting seolah dia akan muntah. Sementara Seokjin hanya tertawa geli melihat tingkah cewek itu.


Suny sebenarnya agak lega mengetahui penyebab Seokjin menangis bukan karena ditolak cewek. Berarti Seokjin tidak sedang menyukai cewek lain.


.


.


.


Bim kehilangan jejak Suny, entah cewek itu atlet lari atau apa, larinya sangat gesit sekali. Percuma Bim mengikuti Suny sejak dari sekolah tadi.


Tiba-tiba telponnya berbunyi ada yang memanggil. Bim menjawab panggilan itu dengan nafas tersengal karena habis lari-larian.


"Aku lagi di luar, kenapa memangnya?"


"Kenapa suaramu tersengal-sengal begitu Bim?"


"Ah tidak, bukan apa-apa."


"Baiklah, kalau kamu bisa tolong cepat pulang ya. Aku ingin meminta bantuanmu."


"Aku akan segera pulang," jawab Bim sebelum telpon itu terputus.


Sebelum benar-benar pergi dari sana Bim sempat memerhatikan sekitar mencari Suny. Tapi tetap saja tidak terlihat cewek itu.


Saat sampai di depan pintu kamar itu Bim segera masuk. Nuansa kamar khas gadis remaja sangat terasa di ruangan yang cukup besar untuk ukuran sebuah kamar itu.


Cat dinding yang bewarna pink muda, serta berbagai tempelan hiasan dinding yang mempercantik, serta boneka-boneka yang tersusun di atas meja dan kasur tempat tidur.


Di sana, di depan meja rias ada seorang cewek yang sedang berhias fokus menatap cermin di depanya.


"Kamu ingin minta bantuan apa Loli?"


Setelah memakai lipstick bewarna merah muda itu Loli tersenyum menatap cermin. Lalu berdiri mengambil sebuah tas belanjaan yang tergeletak di kasur tempat tidur.


Loli mengeluarkan barang yang ada di dalam sana. Ternyata sebuah jaket cowok yang akhir-akhir ini sedang trend. Jelas harganya sangat mahal.

__ADS_1


Tapi itu bukan masalah untuk orang sekelas Loli. Dia memerhatikan jaket itu dengan raut wajah gembira.


"Coba kamu pake deh Bim."


Loli memberikan jaket itu pada Bim. Cowok itu tersenyum manis menerimanya. Apa Loli akan memberikan jaket itu padanya?


Bim memakai jaket itu. Benar-benar pas dia memakai jaket itu. Bim berkaca pada cermin dengan senangnya.


"Cocok bangettt... Bim," puji Loli memerhatikan Bim di cermin.


Bim merapikan kerah jaket itu sembari terus memerhatikan cermin. Memutar tubuhnya untuk melihat dari belakang. Jaket itu benar-benar cocok untuknya.


"Pasti ini juga pas dipake sama Seokjin!"


Ucapan Loli seketika membuat senyum Bim memudar. Apa maksudnya? Jadi Bim hanya dijadikan model untuk jaket yang akan diberikan pada Seokjin?


"Body kamu 'kan mirip sama Seokjin. Jadi kalo di kamu pas pasti cocok juga dipake sama Seokjin."


Bim mengepalkan tangannya kesal. Dia benar-benar tidak suka pada Seokjin. Apa istimewanya cowok itu? Kenapa Loli begitu tergila-gila padanya.


Tapi Bim tidak boleh menunjukan emosinya pada Loli. Dia melepaskan jaket itu lalu mengembalikanya kembali pada cewek itu.


"Iya, kayaknya jaketnya cocok sama Seokjin. Pinter kamu milihnya."


Loli memerhatikan jaket itu dengan seksama. "Iya donk. Aku pilih-pilihnya lama banget. Aku maunya yang terbaik buat Seokjin. Semoga aja dia suka deh."


"Yaudah kalo gitu aku balik ke kamar dulu ya," seru Bim hendak pergi.


"Eh Bim tunggu dulu! Aku mau ngasih ini sama kamu."


Loli buru-buru mengambil tas belanja bewarna coklat dari kasur tempat tidurnya yang tadi berada di sebelahan dengan tas belanja berisi jaket untuk Seokjin. Lalu dia memberikan tas belanja itu pada Bim.


"Itu jas mantel, bentar lagi musim dingin. Biar kamu gak kedinginan," ucap Loli tersenyum manis sembari memeluk dirinya sendiri seolah sedang kedinginan.


Bim memerhatikan ke dalam isi tas belanjaan di tanganya. Warna jas mantelnya merah maroon. Loli bilang Bim itu cocok memakai pakaian bewarna merah maroon.


Bim tersenyum pada akhirnya. "Terima kasih, aku akan memakainya dengan senang hati."


Bim meninggalkan kamar Loli. Setelah kepergian Bim cewek itu mengecek telponnya lalu menelpon seseorang.


"Halo?" jawab seorang cowok diseberang telpon sana.


Seketika kedua mata Loli terbuka lebar terkejud menyadari siapa yang menjawab telpon. Bukanya itu nomer telpon Suny? Kenapa Seokjin yang mengangkat telpon?


.


.


.


MY PRINCE FRIEND

__ADS_1


__ADS_2